Dalam angan Syeril, dia membayangkan kebahagiaan dan kebebasan menanti di depan mata. Namun, kenyataan akan membuat angan-angannya porak poranda seperti diterpa badai. Hatinya pun akan merasa seperti diiris sembilu. Betapa tidak, kedua orang tuanya tak akan berhenti menjodohkannya dengan Reval. Meskipun Syeril telah berubah nantinya, tetapi pernikahan telah terjadi. Dia tak bisa lari atau bahkan pergi sekalipun.
Sepulang sekolah, Syeril langsung izin ke Mama Ana untuk pergi bersama Faivi dan Adel. Mama Ana mengizinkan, tetapi tidak pulang sampai Magrib. Tentu hal itu membuat Syeril bahagia. Dia bisa keluar dengan Adel dan Faivi seperti biasanya.
"Yes, makasih, Mama cantik!" ujar Syeril penuh kebahagiaan. Dia menutup panggilan teleponnya, lalu bersorak sorai.
Jujur saja, Syeril sangat merindukan hari-harinya sebelum dijodohkan dengan Reval. Pertemuan di distro itu membuat Syeril geram. Bisa-bisa cowok yang dia hina justru akan menjadi suaminya.
"Idih, jijay!" Syeril bergidik seperti orang jijik.
'Untung aja ada Kak Rafael yang bisa bikin aku nggak sebal,' batin Syeril kemudian. Pandangannya menerawang entah ke mana, yang pasti saat ini dia bahagia dengan beberapa list tujuan untuk masa depannya setelah dicetuskannya pembatalan perjodohan itu. Perjodohan yang memang tak dia inginkan.
"Lo bahagia kenapa sih, Ril? Cerita dong ke kita," kata Adel.
Syeril, Adel, dan Faivi mulai menaiki mobil. Tentu saja disetir oleh sopir pribadi Faivi.
Sejak kejadian penilangan Syeril waktu itu, Faivi dan Adel dilarang membawa mobil oleh kedua orang tuanya. Berita Syeril ditilang sudah didengar beberapa orang tua wali murid, karena polisi langsung menegur kepala sekolah. Untung saja Syeril tidak dipanggil ke kantor. Namun, biar begitu Syeril tetap diberi tanggung jawab agar tidak semaunya lagi, pun agar hal itu tak diulang kembali. Keputusan hukuman diserahkan langsung ke orang tua Syeril. Menegur kedua orang tua Syeril dirasa sudah cukup bagi pihak sekolah, karena mereka termasuk lalai dalam memperhatikan anaknya.
"Rahasia, deh. Pokoknya gue bahagia banget."
"Lo jadian sama Kak Rafael, ya?" tebak Faivi. Dia sangat tahu kalau Syeril dekat dengan Rafael.
Tentu tebakan Faivi membuat Syeril salah tingkah. Mendengar nama Rafael disebut, selalu membuat jantungnya berdebar.
"Doain aja, deh, ya. Gue masih PDKT."
"Kemarin lo kok bisa, sih, dijambret, Ril? Gimana ceritanya?" tanya Adel yang teringat kejadian nahas sang sahabat.
Syeril menatap lengannya yang masih ada kapasnya. Untung saja kepalanya tidak parah, hanya memar dan sedikit berdarah karena kena kerikil.
"Gue denger-denger yang nolong Kak Rafael, ya? Ya ampuuun, lo pasti seneng banget," timpal Faivi sambil membayangkan wajah tampan Rafael.
Ingin menjawab, tetapi Syeril ragu. Dia tidak yakin kalau Rafael yang telah menolongnya. Dasar Syeril!
"Iya, dong! Dia itu my hero. Udah ganteng, pahlawan lagi," dusta Syeril yang masih diselimuti keraguan. Namun, dia berakting sedemikian rupa agar teman-temannya percaya.
"Ceritanya gimana, sih, Ril?" Adel sangat ingin tahu.
"Panjang banget, sih. Gue sendiri agak lupa. Yang gue inget itu ada jambret ngambil tas gue, terus gue jatuh dan pingsan. Nah, abis itu Kak Rafael datang nolongin gue. Gue dibawa ke rumah sakit deh."
Faivi tampak aneh. Dia kurang percaya dengan apa yang Syeril tuturkan.
"Elo pingsan, tapi lo bisa tau gitu kalo yang nolong Kak Rafael?" tandas Faivi.
"Eh, iya juga, ya. Lo gimana, sih, Ril?" timpal Adel yang baru menyadari. Dia memukul lengan Syeril dengan kipas karakter manual.
"Ya-ya-ya, kan, buktinya yang ada di rumah sakit Kak Rafael. Dia juga bilang gitu, kok."
"Tapi kan lo bilang waktu itu lagi nungguin Kak Rafael karena dia belum datang. Gimana bisa dia nolong elu kalo gak ada di sana?"
Skak mat! Syeril tak bisa lagi berkutik. Namun, banyak cara dia gunakan agar tidak menjatuhkan image-nya, apalagi image orang yang dia cintai.
"Ya, bisa aja, dong. Kenapa enggak? Sesuatu di dunia ini apa saja bisa terjadi, 'kan? Bisa jadi waktu gue pingsan, Kak Rafael dateng."
Sungguh, rasanya tak enak berbohong, malah semakin menumpuk kebohongan-kebohongan baru demi menutup kebohongan yang telah tercipta sebelumnya.
"Terserah lo deh, Ril," kata Faivi menyerah. Dia malas adu argumen dengan Syeril. Gadis itu kembali duduk seperti semula—menghadap lurus ke depan, karena posisinya ada di samping sopir.
"Aneh juga, sih. Kalo Kak Rafael tiba di sana pas lo pingsan, seharusnya dia nggak ninggalin lo sebelum orang tua lo datang, 'kan?" Adel mencoba menganalisa. "Nah, kenapa dia malah pulang, padahal orang tua lo belum tau kalo lo kecelakaan?"
"Nah, itu juga maksud gue, Del." Faivi kembali menimpali tanpa menoleh karena kesal. "Nggak tanggung jawab banget, 'kan?"
"Ih, kenapa kalian malah bahas itu, sih? Udah, ah. Gue lagi seneng, nih. Masa kalian tega sih ngerusak kebahagiaan gue?"
"Gue cuma gak mau lo sakit hati aja, Ril. Kita semua taulah sepak terjang Kak Rafael," kata Faivi.
"Benar, Ril. Jangan terlalu berharap, sih, kalo kata gue," timpal Adel.
"Iya, iya, makasih udah ingetin gue. Gue bakal baik-baik aja, kok."
Tak lama kemudian, sampailah ketiga sahabat ini di sebuah kafe langganan mereka. Suasana di sini anak muda banget, sehingga mereka betah berkunjung ke kafe ini. Makanan dan minumannya juga bervariatif, murah, dan enak. Sangat cocok untuk nongkrong anak-anak muda. Jadi, wajar saja bila kafe ini selalu ramai pengunjung. Apalagi pegawainya ramah dan santun.
"Pesen sesuka kalian, deh. Gue yang bayarin?" kata Syeril penuh semangat. Dia juga sedang memilih makanan terbaru di kafe ini.
"Gue minumnya boba aja, deh. Makannya kentang goreng, sama scallop bakar," kata Adel.
"Elo apa, Fai?" tanya Syeril yang masih sibuk dengan buku menunya.
"Gue es teler, seblak toping lengkap, sama nuget."
"Itu doang?" kata Syeril.
Adel dan Faivi mengangguk.
"Oke, karena gue laper, gue mau nasi bakar aja deh, sama camilannya kentang goreng, minumnya jus alpukat."
Adel menulis pesanan di kertas, kemudian memanggil pelayan dan memberikan kertas tersebut.
Pelayan itu mengulang menu yang diberikan Adel. Setelah selesai membacanya, sang pelayan pria itu membawa kertas tersebut untuk diserahkan ke bagian dapur.
Syeril, Faivi, dan Adel kembali mengobrol. Sudah lama mereka tidak hangout bareng seperti ini. Banyak waktu yang Syeril lewatkan bersama kedua temannya. Dia juga melarang Adel dan Faivi ke rumah, karena takut kalau kedua orang tuanya membicarakan tentang perjodohan itu.
"Eh, tau nggak sih?" Adel memulai membuka pembicaraan.
Faivi dan Syeril jadi fokus ke Adel, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.
"Pas kejadian Syeril dijambret itu, temen kita share video gitu. Pas gue tonton, ternyata Kak Reval lagi berantem gitu sama preman. Ih, ngeri banget. Dia sempet kena pukulan di perutnya. Untung aja tu preman kabur karena takut dihajar masa," terang Adel penuh rasa kagum.
"Sumpe lo?" Faivi ikut larut. "Di mana kejadiannya?"
"Kurang jelas, sih. Cuma kejadiannya pas banget sama Syeril dijambret," jawab Adel.
Syeril berpikir ulang, teringat kembali ketika dia menemukan jam milik Reval di nakas rumah sakit waktu itu, yang dia duga milik Rafael. Dugaan penolong Syeril adalah Rafael semakin mengabur, justru dugaannya kalau Reval lah yang menolongnya semakin kuat.
"Temen lo nggak ngasih liat Kak Reval berantem gara-gara apa?" tanya Faivi. Syeril masih menyimak.
Adel menggeleng, "Enggak, sih. Videonya cuma bentar doang soalnya. Kalo kata temen gue sih, Kak Reval nolong orang kecopetan gitu."
Nah lho! Semakin jelas saja bukti mengatakan kebenarannya.
Obrolan tiga sekawan ini berlanjut ke mana-mana. Kadang tertawa, kadang mengolok. Betapa rasa rindu benar-benar bersarang di hati mereka.