Tak jauh dari tempat Syeril, ada Reval yang tengah duduk menikmati jamuan sorenya sambil mengerjakan skripsi. Sebenarnya dia juga sedang menunggu Riri untuk tiba di kafe. Namun, tampaknya sang sahabat tak kunjung datang, sehingga Reval memutuskan untuk melanjutkan editing skripsi dari awal yang sudah masuk tahap revisi.
Tak lama setelah mengemas laptop, seorang wanita datang. Dia duduk setelah menyapa Reval.
"Udah selesai?" tanya wanita itu. Dia meletakkan tas jinjing di meja.
"Belum, masih banyak yang butuh revisi," jawab Reval dengan bahu mengendik. Terlihat jelas sekali ada kejenuhan di wajahnya. Bagaimana tidak? Selain dihadapkan dengan perjodohan yang sama sekali tak dia inginkan, Reval juga harus memikirkan skripsi. Lelahnya bertubi-tubi.
"Aku doain cepet selesai, biar cepet dapat gelar sarjana."
"Makasih, Ri. Tinggal nunggu sidang aja. Kemarin ditunda karena aku sibuk."
Reval menyeruput coklat hangat yang tadi dia pesan.
"Haus banget, Pak?" tawa Riri berderai melihat Reval menandaskan coklat hangat tersebut. "Kebiasaan banget, sekalinya minum langsung dihabisin. Kamu itu nggak cocok nongkrong-nongkrong, Val."
"Kenapa memangnya?" tanya Reval agak penasaran.
"Liat aja, masa sekali duduk langsung habis? Cowok-cowok itu kalo ngopi atau nongki sama temennya, minumnya dikit-dikit. Lah, kamu?" Riri kembali tertawa.
Reval justru memasang wajah muram.
Riri berhenti tertawa, dia menyadari teman karibnya itu sedang ada masalah.
"Sorry. Kamu lagi ada masalah, ya?" tanya Riri.
Reval tak menjawab. Dia hanya terus menunduk sambil memainkan pulpen.
"Aku lagi bingung, Ri."
"Bingung kenapa? Masalah perjodohan itu lagi?"
"Ini bukan soal perjodohannya. Masalahnya, dia sering bilang keluar sama aku, tapi faktanya enggak."
"Maksudnya gimana?" Riri menopang dagu.
"Dia jalan sama orang lain, tapi pamitnya pergi sama aku."
"Kok gitu? Jadi, sekarang kamu tertuduh?" Alis Riri menaut.
"Aku sih nggak masalah, cuma yang aku pikirin, gimana supaya dia nggak bohong."
"Memangnya dia jalan sama siapa? Kamu tau?"
"Aku nggak tau pastinya, sih. Cuma, aku taunya dia lagi deket sama Rafael."
"Rafael?" Riri terkejut. Dia ingat betul nama itu.
Reval kembali termenung. Dia masih belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
"Gimana hubungan kamu sama Reza?" Reval mengalihkan pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat Riri agak tak enak hati. Namun, dia berusaha terlihat sebiasa mungkin agar Reval tidak curiga.
"Aku sama dia baik-baik aja, sih."
"Sih?" Reval menautkan alis.
Riri menatap sang sahabat. " Iya, baik. Baik kok. Cuma dia lagi sibuk juga. Sama kayak kamu, skripsian."
Reval mengangguk-angguk. Dia paham bila sang sabahat telah berkata demikian. Itu artinya ada masalah, tetapi tak terlalu berarti.
Di meja lain, Syeril dan kawan-kawannya tampak menikmati sajian yang telah tersusun di meja. Salah satu yang menjadi daya tarik kafe ini adalah pelayanannya yang cepat. Pengunjung tak terlalu kelamaan menunggu makanan saat perut terasa lapar.
Syeril, Faivi, dan Adel saling melempar canda. Rasanya masa-masa yang hilang beberapa saat lalu mulai kembali.
"Thanks udah jadi sahabat gue, ya, Pinky!" kata Syeril.
Hal itu membuat Faivi tersentuh. "Nggak kerasa, sebentar lagi kita bakal kuliah."
"Iya, ya. Udah lima tahun kita selalu sama-sama. Semoga kuliah nanti kita juga bisa sama-sama terus kek gini," timpal Adel.
Suasana tiba-tiba menjadi haru.
"Gue bakal kuliah di luar negri, Del, Ril," kata Faivi sambil menunduk. Dia merasa sedih karena harus berpisah dari para sahabatnya.
"Jadi, kita nggak bakal satu kampus, Fai?" kata Syeril ikut terharu.
"Kalian kenapa bikin gue sedih, sih?" Adel sudah berlinang air mata.
"Biarpun gue jauh, kalian bakalan tetep inget gue, 'kan?" Faivi menatap Adel dan Syeril bergantian. Matanya berkaca-kaca.
"Pasti! Kita, kan, satu jiwa. Biar raga terpisah, persahabatan kita tak akan lekang oleh waktu. Kita akan terus sama-sama." Syeril menggenggam tangan kedua sahabatnya.
Mereka saling menguatkan, mempererat rasa persaudaraan di antara mereka.
"Lo benar, Ril. Persahabatan kita harus sampai nenek-nenek, ya," kata Adel masih dengan keterharuannya.
"Udah, ah. Kenapa jadi melow gini? Kita ke sini untuk bahagia, karena gue lagi bahagia. Pokoknya, apa pun yang terjadi, kita akan tetap menjadi sahabat." Syeril mengusap sudut matanya. "Mau Faivi kuliah di luar negri, kek, Adel di luar pulau, kek, atau di mana pun itu. Kita tetap sahabat. Nanti kita bisa jadwalkan pertemuan kalau sama-sama lagi senggang dan tempat yang bisa dijangkau."
Salah satu keistimewaan persahabatan mereka adalah, keterikatan batin antara satu dengan yang lainnya. Mereka bertiga memang sudah seperti saudara. Syeril menganggap Faivi dan Adel bukan hanya teman, tetapi lebih dari itu.
Mereka melanjutkan santap sore dengan canda dan obrolan ringan khas ABG. Adel curhat tentang cowok yang dia taksir. Faivi masih tetap pada pilihan pertama sejak SMP, tetapi hingga kini belum pernah jadian. Faivi lebih suka mengagumi dalam diam katanya.
"Kakak ganteng itu udah punya pacar belum, ya?" Adel menerawang.
"Siapa, Del?" Syeril ingin tahu.
"Kalian tau orangnya, kok. Tapi rahasia, ah. Malu gue." Wajah Adel merona, seperti kepiting rebus.
"Ih, bikin kepo aja ni bocah," kesal Faivi sambil menoyor pundak Adel.
Adel malah tertawa malu karena membayangkan cowok yang dia taksir.
"Ada di sekolah kita?" tanya Syeril sambil mencomot kentang goreng.
"Enggak, dong. Gue nggak level naksir yang satu sekolah. Nggak ada tantangannya," kata Adel sombong.
"Sialan lo!" tukas Faivi yang merasa tersindir.
"Ciye, ada yang tersindir, nih!" goda Syeril.
"Udah mau lulus loh, Fai. Nggak ada niatan ngungkapin gitu?" Adel menimpali omongan Syeril.
Seketika Faivi salah tingkah. "Masa gue harus nembak duluan, sih? Gengsi dong!"
"Ya elah, hari gini gengsi? Yang ada keduluan sama yang lain, Fai," kata Syeril. Dia mencoba mengompori sang sahabat. "Apalagi gue denger-denger, tu orang lagi deket sama someone."
"k*****t lo! Siapa? Lo tau dari mana?" kata Adel, kepo.
"Kok gue nggak tau, Ril?" tanya Faivi ikut penasaran. Tiba-tiba dadanya berdebar-debar.
"Gue cuma denger-denger, sih. Nggak tau juga kebenarannya gimana. Cuma emang gue pernah mergokin doi sama cewek, sih. Romantis banget lagi, pas hujan, tu cewek diboncengin."
Seketika hati Faivi kebat-kebit. Dia merasa cemburu mendengar cerita Syeril.
"Lo beneran, Ril?" tanya Adel. "Kasian Faivi kalo itu beneran terjadi. Dia udah ngarep lho sama tu cowok," lanjutnya.
Syeril tak menjawab, dia hanya terus memperhatikan gerak-gerik Faivi. Sang sahabat bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Syeril menduga, Faivi pasti sudah termakan cerita yang dia karang.
Dalam hati Syeril tertawa penuh kemenangan. Sudah bertahun-tahun menjalin pertemanan, tetapi para sahabatnya itu sama sekali belum mengenal Syeril soal mulutnya yang suka mengarang bebas.
"Ril, ditanyain malah diem aja. Lo tau dari mana semua itu?" Adel menjadi tak sabaran mendengar jawaban Syeril. Bahkan, dia mengulang kembali pertanyaannya.