Namun, bukannya menjawab, Syeril malah menajamkan penglihatannya ke depan. Ada seseorang yang sepertinya dia kenal. Mata Syeril semakin menyipit untuk memastikan apa yang dia lihat. Dugaan Syeril tepat, cowok yang duduk berdua sambil bercanda ria di depan sana Reval, cowok yang dijodohkan dengannya.
Melihat Reval berduaan seperti itu, membuat hati Syeril kesal seketika.
'Berengsek! Dia banyak juga, ya, ceweknya. Tapi kenapa mau-maunya dia dijodohin? Kenapa dia nggak nolak aja, sih?! Bikin hidup gue susah aja! Awas aja kalo ketemu. Gue bakal bikin perhitungan!' batin Syeril penuh kekesalan. Giginya mengerat, ingin sekali dia memaki atau bahkan memukul wajah Reval sekuat-kuatnya.
'Bilangnya nggak punya cewek, taunya gonta-ganti! Awas aja lo!' Syeril masih terus membatin dan mengumpat-umpat dalam hati.
Bagaimana tidak mengumpat? Melihat Reval tanpa sengaja bergurau dengan seorang gadis itu sangat menjengkelkannya.
Riri memang sahabat Reval, hal lumrah apalabila mereka bercanda atau apa sajalah yang wajar. Namun, di mata Syeril tidak seperti itu. Apalagi gadis itu tidak menahu kehidupan Reval yang sebenarnya. Syeril mengira, Riri adalah kekasih Reval. Setiap cewek yang dekat dengan Reval, selalu disangka pacar Reval oleh Syeril. Dasar bocah!
"Lo kenapa, sih, Ril?" tanya Adel sembari mengikuti arah pandang sang sahabat.
"Eh, enggak. Bukan apa-apa, kok," dusta Syeril. Dia pura-pura tak melihat apa pun.
Namun, Adel pun turut terkejut dengan apa yang dia lihat. Pasalnya, dia tengah melihat Reval bersama cewek. Reval adalah cowok yang dia suka, tetapi dirahasiakan dari para sahabatnya.
'Kak Reval sama siapa itu? Kok kayaknya akrab banget, sih?' batin Adel. Hati gadis itu terasa nyeri melihat keakraban Reval dengan Riri. Hal itu membuatnya iri, karena jangankan dekat dan bercanda seperti itu, menyapa saja tak pernah. Adel jatuh cinta kepada Reval saat pertama kali bertemu, di sekolahnya waktu ada kegiatan praktikum.
"Eh, itu bukannya Kak Reval, ya?" tanya Faivi memastikan. Sebab, dia merasa tidak asing dengan wajah pemuda yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Reval siapa?" Syeril pura-pura tak menahu.
"Kak Reval yang pernah ke kampus kita. Kan, elo dulu pernah pingsan ditolong sama dia. Masa lupa?" kata Adel.
"Yang mana, sih? Gue agak-agak lupa sama orang yang gak penting gitu." Syeril masih pura-pura tak tahu.
"Itu dia sama siapa, sih?" tanya Adel penasaran.
"Mana gue tau, pacarnya kali," celetuk Faivi sekenanya.
Hal itu membuat Adel gemetar. Dia merasa cemburu dengan apa yang dibilang oleh Faivi. Lain Adel, lain juga dengan Syeril. Justru dia geram melihat Reval seakan-akan mempermainkan hati banyak wanita. Pertama Vania, kedua cewek di depan sana, dan parahnya lagi malah akan menikah dengan Syeril. Gadis itu tampak mengaduk-aduk minuman dengan kesal. Ingin sekali menyemburkan cairan cokelat itu ke wajah Reval sekarang juga.
'Untung aja perjodohan gue sama dia bakalan berakhir," kata batin Syeril senang.
"Gue ke toilet bentar, ya," pamit Adel yang tak kuasa menahan sakit hatinya. Dia berlari meninggalkan Syeril dan Faivi begitu saja.
"Adel kenapa?" tanya Syeril penasaran.
Faivi hanya mengendikkan bahu. Tanda tak tahu.
Syeril tak menaruh curiga sama sekali pada Adel, karena gadis itu pun tak pernah cerita siapa yang dia suka. Adel memang bukan orang yang suka membeberkan isi hatinya. Dia akan menyimpannya sendiri sampai rasa bahagia itu menyapa dengan nyata.
*
Hari itu telah tiba. Hari di mana keluarga Syeril benar-benar memantapkan keputusannya untuk segera mengikat sang anak dengan Reval.
Papa Johan sudah mengatur waktu untuk menemui Pak Bratha. Oma Wening juga sudah datang sehabis dikabari Pak Bratha kemarin.
Rasa deg-degan menyelimuti hati Mama Ana, karena ini adalah keputusan paling penting dalam hidup sang anak semata wayangnya. Berkali-kali Mama Ana dan Papa Johan memikirkan hal ini. Namun, keputusan yang diambil tetaplah sama. Yaitu segera menikahkan Reval dengan Syeril.
"Selamat datang, Han!" sambut Pak Bratha.
Papa Johan dan Mama Ana langsung masuk dan duduk setelah dipersilakan tuan rumah.
Mama Sonya ikut menyambut kedatangan keluarga calon besannya. Namun, raut wajahnya tak terlihat senang sama sekali. Memang beliau tidak setuju dengan rencana ini. Selain sudah menetapkan Riri sebagai calon menantu terbaik, Reval juga belum memiliki pekerjaan untuk menghidupi istrinya kelak. Jangankan pekerjaan, kuliah saja dia belum lulus. Mama Sonya sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran Oma Wening dan sang suami.
"Gimana?" tanya Oma Wening to the point. Sebab, beliau memang kurang suka basa-basi.
"Begini, Oma. Kami mau pernikahan Syeril dengan Reval disegerakan."
Mata Mama Sonya membelalak mendengar penuturan Papa Johan. Dia tak terima.
"Tidak bisa begitu, dong!" protes Mama Sonya. Namun, dia sudah ditatap oleh Oma Wening, sehingga tak berani melanjutkan kalimatnya.
"Apa yang membuat kalian ingin menyegerakan pernikahan ini?" tanya Oma Wening lagi.
"Begini, Oma. Sebelumnya saya minta maaf bila lancang. Akhir-akhir ini Reval sering mengajak Syeril keluar. Tapi, Reval tidak menjemput atau mengantar Syeril. Parahnya, mereka selalu pulang hingga larut malam. Saya tidak bisa membiarkan ini terus-terusan terjadi. Sebab itulah saya memutuskan agara pernikahan mereka disegerakan saja.
Mengingat betapa kejamnya bergaulan zaman sekarang. Itu juga yang menjadi pertimbangan kami."
Mendengar hal itu, Oma Wening mengangguk paham. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi tidak baik. Pasti semua orang tua ingin anaknya menjadi orang baik, bermanfaat, dan berguna bagi sesama. Bukanlah mencoreng nama baik orang tua.
"Jadi, keputusan kalian sudah bulat?" tanya Oma Wening.
"Iya, Oma. Sebagai orang tua, kami khawatir terjadi sesuatu dengan mereka."
"Tidak bisa begini. Reval belum bekerja, bagaimana dia bisa menghidupi istrinya nanti?" kata Mama Sonya. Biar bagaimana pun, dia akan tetap menyuarakan ketidaksetujuannya itu, meskipun secara tidak terus terang.
"Itu sudah menjadi urusan kami. Insya Allah kami akan membantu, karena Syeril juga belum lulus sekolah. Jadi, biar semuanya menjadi tanggung jawab kami," kata Papa Johan mantap.
Mama Ana hanya menyimak obrolan mereka, karena sejak di rumah dia sudah menyerahkan semuanya ke Papa Johan untuk mengambil alih pembicaraan ini.
"Baik, kalau begitu. Saya setuju saja. Tetapi bagaimana dengan Syeril dan Reval?" tanya Oma Wening. "Sudahkah mereka diberitahu?"
"Syeril biar menjadi urusan kami, Oma," jawab Papa Johan.
"Bagaimana, Yud?" tanya Papa Johan ke Pak Bratha.
"Aku setuju, Han. Lebih baik mereka segera dinikahkan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan," terang Pak Bratha menyetujui usulan Papa Johan. Mendengar cerita Papa Johan, juga membuat Pak Bratha tidak suka dengan cara Reval yang kurang ajar itu.
Pak Bratha tidak pernah mengajarkan kepada anaknya untuk berlaku berlebihan di luar sana. Reval memang diberi kebebasan, tetapi tetap dalam hal wajar dan dalam pantauan. Sebab itulah Pak Bratha setuju dengan keputusan Papa Johan.
Mama Sonya menekuk wajah, sama sekali tak setuju dengan semua ini. Reval adalah anak laki-laki satu-satunya yang dia miliki, pewaris tunggal perusahaan Pak Bratha, tidak mungkin menikah semuda itu. Yang paling membuat Mama Sonya khawatir adalah mental Reval. Mengurus istri barbar dan menjengkelkan seperti Syeril pasti akan membuat anaknya cepat tua. Belum lagi risiko-risiko lain, seperti jantungan atau bahkan darah tinggi. No! Mama Sonya tak mau anaknya mati muda. Memang berlebihan, tetapi itulah rasa khawatir seorang ibu terhadap anaknya.
Namun, lagi-lagi Mama Sonya tidak bisa berbuat apa pun selalin menerima keputusan sang suami dan ibu mertuanya. Pasrah.Hanya itu yang dilakukan Mama Sonya.