Macaroon
Aku sekarang berada di kamarku dan aku menangis lagi setiap kali teringat dengan Helina dan Chris. Andai saja Chris ada di sini, setidaknya aku terhibur. Aku berbaring dan menatap langit-langit kamarku sambil memeluk bantal. Sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti kenapa hanya aku yang masih mengingat keberadaan Helina di sini selama satu bulan. Semakin aku memikirkannya, kepalaku semakin pusing.
Bagiku rasanya ini seperti mimpi dan aku baru saja bangun dari tidur panjang. Mungkin para penyihir itu tahu jawabannya. Aku bangun dan membuka lemari. Tidak ada apa-apa. Tidak ada jalan menuju Quicksand. Aku kembali menutup lemariku. Pertemuanku berikutnya dengan Farina, esok lusa dan jalan menuju ke sana baru terbuka. Sepertinya aku memang harus bersabar dulu. Suara ketukan di pintu mengejutkanku.
"Masuk!"
Ibu muncul dari balik pintu.
"Boleh Ibu masuk?"
"Iya. Masuklah!"
Aku memberikan tempat untuk duduk di tempat tidur.
"Ibu mencemaskanmu soal Helina. Ibu tahu, kamu marah pada kami, karena sudah merahasiakannya. Ibu tidak ingin melihatmu sedih."
"Aku mengerti alasan Ibu, tapi mengungkap kebenaran itu lebih baik, meskipun menyakitkan."
"Mungkin kamu benar."
Aku menatap ibuku.
"Apa Ibu yakin sama sekali tidak ingat tentang Helima satu bulan terakhir ini?"
"Ibu yakin. Bagaimana Helina bisa hidup kembali dan tinggal bersama-sama seolah-olah dia masih hidup?"
"Entahlah. Aku tidak tahu. Kalau dipikir kembali hal itu memang tidak masuk akal."
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Semuanya akan baik-baik saja."
Aku mengangguk.
"Sebaiknya kamu tidur. Ini sudah malam."
"Selamat malam!"
"Malam!"
Ibu keluar dari kamar dan aku mematikan lilin. Keesokan paginya, aku bangun ketika matahari baru saja terbit. Aku masih agak mengantuk, tapi aku tidak ingin tidur lagi. Aku bangun dan membasuh wajah dengan air dingin. Rasa kantukku sudah mulai hilang. Udara pagi yang segar masuk ke kamar ketika jendela dibuka. Aku menghirupnya banyak-banyak dan merenggangkan tubuh. Seseorang sudah mengantarkan s**u ke rumah. Aku kira itu Chris ternyata bukan.
"Sekarang kamu sedang apa?"
Aku mengganti pakaian, lalu turun ke lantai bawah. Seperti biasa ibu sedang sibuk memasak dan ayah sudag berada di kandang ayam bersama Hector.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?"
"Iya."
"Itu bagus."
Aku duduk termenung di kursi makan dan menopangkan wajah di meja sambil melihat keluar jendela. Biasanya aku melihat Helina bolak-balik membawa ember dan alat-alat kebersihan, tapi sekarang pemandangan itu sudah tidak ada lagi. Aku menghela napas.
"Apa Bibi Hilda sudah sampai di Goldpoint?"
"Aku rasa iya. Mumgkin sekarang mereka sudah berada di sana. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?"
"Mungkin saja Chris mau mengunjunginya."
"Tapi Chris tidak tahu alamat rumahnya."
"Iya. Sayang sekali. Jika saja Chris tahu mungkin bisa saling mengunjungi."
Aku membantu ibu menyiapkan piring, gelas, dan peralatan makanan lain, lalu mengaturnya di meja makan. Aku baru saja akan ke belakang rumah mencari sapu, terkejut dengan gedoran di pintu. Aku dan ibu saling menatap. Ibu menyuruhku membukakan pintu.
"Iya tunggu sebentar,"teriakku.
Aku membuka pintu dan ternyata Hansel yang datang. Dia terlihat gelisah dan panik.
"Maaf datang ke sini tiba-tiba."
"Ada apa?"
Jantungku kembali berdetak kencang takut ada hal yang buruk terjadi.
"Aku baru saja mendapat telegram dari Goldpint. Telegram itu dikirim oleh kusir yang mengantarkan Tuan Chris ke Goldpoint."
Hansel kembali terdiam.
"Apa terjadi sesuatu pada Chris?"tanyaku yang sudah mulai cemas. "Ayo cepat katakan!"
GG
Ibu yang mendengar aku berteriak, menyusulku ke depan.
"Ada apa, Macaroon? Siapa yang datang?"
Ibu tiba di pintu depan dan melihat Hansel.
"Ada apa ini? Kenapa tadi kamu berteriak?"
"Hansel membawa berita tentang Chris, tapi aku belum tahu apa, karena Hansel belum memberitahuku."
Ibu menatap tajam Hansel.
"Apa yang terjadi pada Chris?"tanya ibu.
"Tuan Chris menghilang."
Kami berdua terkejut.
"Apa maksudmu hilang?"tanyaku.
"Ada kawanan penjahat yang menghadang kereta kuda Tuan Chris. Para penjahat itu memukul kusir sampai tidak sadarkan diri, dan ketika kusir itu tersadar kembali, dia tidak melihat Tuan Chris dan juga kawanan penjahat itu. Ada kemungkinan Tuan Chris diculik."
Aku shock mendapat kabar itu. Aku merasa separuh jiwaku pergi begitu saja.
"Itu tidak mungkin,"kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Air mataku mulai merebak. Aku baru saja selesai menangis, karena kematian Helina dan sekarang aku harus menangis lagi karena Chris. Aku mengkhawatirkan keadaan Chris takut telah terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
Ibu menyuruh Hansel untuk masuk dan mempersilahannya untuk duduk, kemudian ibu pergi ke dapur. Ibu membawakan teh dan beberapa kudapan lezat. Aku masih terus menangis.
"Ibu, bagaimana ini ? Aku tidak ingin kehilangan Chris."
"Tenangkan dirimu! Mungkin saja Chris baik-baik saja."
"Bagaimana kalau tidak baik-baik saja?"
"Berdoa saja demi keselamatan Chris."
Aku mengangguk dan ibu kembali mengajukan pertanyaan.
"Apa tidak ada kabar lagi tentang Chris?"
"Sayangnya tidak ada."
Aku kembali menangis.
"Bagaimana kalau mereka membunuhnya?"tanyaku.
"Tidak akan terjadi apa-apa pada Chris, jadi jangan berpikiran buruk dulu."
"Sebaiknya aku pulang dulu. Siapa tahu ada kabar lain yang dikirimkan ke rumah,"kata Hansel.
"Baiklah kalau begitu, jika ada kabar terbaru segera hubungi kami."
"Pasti."
Tiga hari terakhir ini, aku selalu mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan. Pertama Helina dan kedua Chris. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi. Ibu mengusap-usap lenganku.
"Kamu harus berpikiran positif dan harus tetap semangat."
"Aku mengangguk.
Ayah yang baru muncul merasa bingung dengan apa yang terjadi di ruang tamu, lalu ibu menjelaskan apa yang terjadi. Ayah sangat terkejut mendengarnya.
"Aku tidak ingin Chris mati."
Aku menangis sesegukan.
"Ibu kan sudah bilang tadi, jangan berpikiran negatf terus."
"Pikiranku entah kenpa selalu terarah ke sana."
"Ya sudah. Tidak akan terjadi apa-apa pada Chris,"kata Ibu.
"Apa dia akan segera ditemukan?"
"Iya. Mungkin akan membutuhkan waku yang agak sedikit lama."
"Andai saja Chris tidak datang ke sana mungkin sekarang dia akan baik-baim saja."
Ibuku merangkulku. Aku ingin sekali pergi ke Goldpoint dan mencari Chris di sini. Rasanya tak tahan jika hanya menunggu kabar darinya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Goldpoint?"
Ayah dan ibu terkejut dan ayah langsung menolak.
"Percuma saja kita datang ke sana, karena kita tidak akan bisa melakukan apa-apa di sana.".
Aku memasang wajah cemberut.
"Ayahmu benar."
Aku berdiri dan pergi ke kamar. Di dalam kamar, aku berbaring dan menangis lagi. Sekarang aku butuh teman bicara, tapi disaat aku sedang membutuhkannya, teman yang ingin aku ajak bicara tidak ada. Artemion pun tidak ada kabarnya. Apa dia sudah melupakan aku sebagai temannya?
Aku mencoba menebak kira-kira siapa pelaku penculikkan Chris. Apa mereka iri dengan kesuksesan keluarga Chris, sehingga memunculkan rasa iri dan akhirnya Chris diculik? Tapi selama ini Chris tidak punya musuh, jika punya sudah sejak dulu hidup Chris tidak akan tenang. Aku mengaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Aku bangun dan berjalan mondar-mandir di kamar. Aku tidak bisa menghilangkan rasa gelisah di hatiku ini. Aku tidak bisa membayangkan Chris kembali tanpa nyawa. Aku bisa jadi gila beneran padahal kami belum sempat menikah. Aku duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidur. Apa aku harus diam-diam pergi ke Goldpoint? Tapi aku tidak punya perbekalan yang cukup untuk tinggal sementara di sana. Aku jadi kesal dengan diriku sendiri merasa diriku tidak berguna sekali. Mataku kembali berkaca-kaca dan terasa panas oleh sengatan air mata.
"Chris, cepatlah kembali?"gumamku.
Aku memandangi lemari pakaianku berharap Artemion atau Agatelos keluar dari lemari itu. Sekarang ini aku butuh bantuan mereka. Ibuku berteriak lagi memanggilku. Aku berdiri dan turun lagi ke bawah. Ibu sedang menungguku di depan tangga.
"Ada apa?"
"Ada kabar dari Chris."
"Benarkah?"
Ibu mengangguk.
"Kabar apa? Apa Chris sudah ditemukan?"
"Chris belum ditemukan, tapi dia masih hidup."
"Aku merasa agak lega mendengar dia masih hidup. Ibu dapat kabar dari mana?"
"Dari Mrs. Hauston."
"Mrs. Hauston?"
"Ibu tadi memintanya untuk mencari keadaan Chris melalui ramalannya dan Mrs. Hauston dapat melihat Chris masih hidup dan baik-baik saja. Dia dibawa oleh seseorang."
"Ramalan belum tentu benar."
"Ramalan Mrs. Hauston bisa dipercaya."
"Ibu terlalu percaya pada ramalannya, tapi Ibu tidak percaya ramalan tentang diriku."
"Maaf. Ibu hanya tidak ingin kehilanganmu."
Aku mengerti dan kembali ke kamar.