Kebenaran yang mengejutkan

1769 Kata
Macaroon Entah sudah keberapa kalinya aku memandangi surat dari Chris yang diberikan Hansel kemarin lagi. Aku sedih Chris pergi jauh untuk beberapa hari. Aku sudah sangat merindukannya. Aku memeluk surat darinya dan kembali menangis. Chris huaaaa. Aku menangis tersedu-sedu, bahkan aku tidak menghiraukan panggilan Ayah dan Ibu untuk makan siang. Aku sedang tidak berselara makan sejak kemarin. "Chris, kenapa kamu tiba-tiba pergi?" Aku menangis dengan sangat keras. Aku tidak peduli, jika aku disebut wanita cengeng. Aku hanya ingin meluapkan kesedihanku saja. Ibu masuk ke kamarku, karena pintu kamarku tidak ditutup. Ibu duduk di sampingku dan merangkul pundakku. "Mau sampai kapan kamu menangis terus?" "Aku merindukan Chris." "Chris kan tidak pergi untuk selamanya ke Goldpoint. Dia hanya pergi beberapa hari untuk urusab bisnis, jadi jangan menangis lagi ya." Aku mengangguk. "Hanya saja ini pertama kalinya aku ditinggal pergi jauh oleh Chris." "Ya sudah. Sekarang kita makan dulu ya." "Aku tidak lapar." "Ayolah Macaroon! Jangan seperti ini. Kalau kamu sakit bagaimana? Nanti Chris akan sedih jika dia kembali kamu sakit." Apa yang dikatakan ibu benar juga. Aku akhirnya ikut turun bersama ibu untuk makan siang. Ayah tersenyum saat melihatku turun. Ibu menyiapkan makan siang untukku dan aku memandangi makanan di atas piringku. Selera makanku belum kembali, tapi aku terpaksa makan, karena aku tidak ingin membuat khawatir ayah dan ibu. Aku makan tanpa aku nikmati. Hatiku masih sedih, bagaimana aku bisa menikmati makan. Ayah dan ibu memperhatikanku makan. "Kalian makan juga." "Iya,"jawab mereka serentak. Akhirnya makananku habis juga meskipun aku susah menelannya. "Macaroon, kamu jangan sedih lagi ya,"kata ayahku. "Aku tidak sedih,"kataku bohong. "Kamu harus tetap semangat,"kata ibuku. Aku mengangguk dan berusaha bersikap seperti biasanya. Aku membantu mencuci piring dan teringat Chris lagi. Kira-kira sekarang dia sedang apa ya? "Jika kamu sudah selesai mencuci piring, bantu Ibu membuat kue Macaroon ya." "Iya." Tidak biasanya ibu mengajakku membuat kue dan biasanya aku tidak boleh ikut membantu, karena aku bisa mengacaukan semuanya, tapi kali ini tidak. Apa mungkin ibu ingin mengalihkan pikiranku dari Chris supaya aku tidak sedih lagi? Tidak ada salahnya membuat kue, lagipula aku sudah lama tidak membuatnya. Wajahnku dan tanganku dipenuhi oleh tepung terigu. Ibu tidak berkomentar apa-apa dan membiarkanku membuat kue sesuka hatiku. Setelah beberapa jam membuat kue, akhirnya aku selesai juga. Aku memandangi kue Macaroon dengan rasa bangga, meskipun bentuknya tidak seperti kue Macaroon. Aku mencobanya dan rasanya tidak terlalu buruk. Ibu pun menyukai rasanya. Ayah yang barus saja masuk ke dapur tercengang melihat kue Macaroon buatanku yang berbentuk tidak bulat sempurna. Ayah menahan tawa, lalu mencicipi kue buatanku. "Rasanya cukup enak. Kue ini masih bisa dimakan." Aku berpuas hati mendengar pujian ayah. "Kamu harus lebih banyak belajar membuat kue. Jangan malas!" "Iya." Aku pun sadar selama aku membuat kue, aku tidak memikirkan Chris. Perhatianku teralihkan. Aku sudah memutuskan akan membuat kue setiap hari sampai Chris pulang dan aku juga mau membuatkanya kue. Semoga dia suka kue buatanku. Dua hari pun telah berlalu dan aku menghabiskan waktuku untuk membuat kue, tapi hari ini aku libur membuat kue, karena hari ini aku dan Helina akan pergi ke rumah orang tuanya. Tidak lupa aku membawa hadiah ulang tahun untuk adiknya Helina. Setelah aku puas dengan penampilanku, aku keluar kamar. Ayah dan ibu nampak cemas lagi. "Aku pergi." "Hati-hati di jalan!" Ibu memelukku. "Semuanya akan baik-baik saja." Meskipun aku tidak mengerti apa maksudnya, aku tidak akan bertanya lebih lanjut, karena aku sudah terlambat. Aku dan Helina masuk ke kereta kuda. Di perjalanan, aku memperhatikan, Helina nampak sedih. Seharusnya dia bahagia, karena akan segera bertemu dengan keluarganya dan merayakan hari ulang tahun adiknya. "Helina, kamu baim-baik saja, kan?" "Aku baik." "Aku merasa kamu kurang sehat. Wajahmu juga terlihat semakin pucat, jika kamu merasa tidak enak badan, sebaiknya kita pulang saja. Kita undur perjalanan kita." Helina menatapku dengan tatapan yang agak aneh. Matanya terlihat hampa dan kosong. "Itu tidak perlu. Aku baik-baik saja." "Baiklah kalau begitu." Selama beberapa menit dalam perjalanan menuju Aynor, kami tidak banyak bicara. Akhirnya kami sampai di rumah Helina yang sangat sederhana. Helina dan aku dibantu turun oleh kusir. Sebelum masuk, aku merapihkan gaunku. Aku mengetuk pintu dan tak lama seorang wanita membukakan pintu. Wanita itu adalah ibunya Helina dan terkejut melihatku. "Macaroon." "Selamat siang! Aku datang untuk memberikan hadiah ulang tahun untuk Antonia. Hari ini hari ulang tahunnya, bukan?" "Benar. Ayo silahkan masuk!" Aku masuk dan di dalam rumah ramai seperti biasanya. Aku menyapa mereka semua." "Kami tidak merayakan ulang tahun Antonia secara besar-besaran hanya anggota keluarga saja." "Silahkan duduk!" Aku duduk dan menyadari Helina tidak ada. Apa mungkin dia sudah masuk rumah untul bertemu dengan saudara-saudaranya? Antonia membawakan teh dan kue untukku. "Terima kasih dan selamat ulang tahun ya. Ini hadiah untukmu." Antonia terlihat senang. "Terima kasih. Aku akan menyimpan hadiah ini dulu di kamar." Aku mengangguk. "Kamu datang dengan siapa?" "Aku datang dengan Helina." Ibunya Helina terkejut. "Tadi dia bersamaku, tapi dia menghilang mungkin ada di dalam." Raut wajah ibunya Helina menjadi nampak muram seolah awan gelap menyelimutinya. Aku merasa ada yang tidak beres. "Sebenarnya apa yang terjadi?" "Sebenarnya aku tidak boleh memberitahumu tentang Helina." "Helina kenapa? Dia baik-baik saja kan? Tadi diperjalanan dia terlihat kurang sehat." "Macaroon, sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya. Aku tidak bisa menyembunyikan hal ini padamu lagi. Kamu adalah teman baiknya Helina dan kalian sudah seperti saudara sendiri." Ibunya Helina meneteskan air mata. "Sebenarnya ada apa?" "Helina sudah meninggal." Aku bagaikan disambar petir dan telingaku seolah-olah menjadi tuli. Dunia seperti menyempit. Tubuhku menjadi kaku seketika. Aku tidak ingin mempercayai apa yang aku dengar tadi. "Macaroon. Macaroon." Ibunya Helina memanggilku berkali-kali. Aku mengerjapkan mataku. Sekarang aku sudah bisa menguasai keterkejutanku. "Iya." "Apa kamu baik-baik saja?" "Iya." Aku terdiam sebentar berusaha untuk mencerna informasi tadi. "Anda sedang tidak bercanda, kan?" "Tidak. Aku serius." Aku tertawa. Aku menganggap mereka sedang melakukan suatu lelucon denganku. "Aku menyerah aku tidak ingin mengikuti lelucon ini lagi. Kalian sungguh hebat berakting." "Macaroon, kami sedang tidak melakukan lelucon apa pun. Kami serius." "Bagaimana mungkin Helina bisa meninggal? Selama ini dia ada bersamaku dan tinggal di rumah kami." Sekarang giliran mereka yang bingung. "Kalau kalian tidak percaya tanya saja pada kusir yang mengantar kami ke sini dan pada Ayah dan Ibuku." "Aku juga memiliki banyak saksi Helina sudah meninggal." Orang-orang di rumah Helina pun mengatakan Helina sudah meninggal satu bulan yang lalu karena sakit tipes. "Itu tidak mungkin. Helina masih hidup dan dia sudah sembuh dari sakitnya." "Kami tidak bohong. Kami bisa memperlihatkan buktinya padamu." "Tadi aku datang bersama Helina. Apa kalian melihatnya." "Tidak,"jawab mereka semuanya." Aku berdiri dan mencari Helina keseluruh rumah. "Helina, kamu di mans?"teriakku. "Sudah cukup bercandanya. Ini tidak lucu." Helina tidak ada di mana pun di rumahnya. "Sudahlah Macaroon, Helina sudah meninggal." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Tidak. Helina masih hidup." "Percayalah pada kami!" Aku berlari keluar menemui kusir. "Tadi kamu melihat Helina, kan?" "Maaf Nona Macaroon, aku tidak melihat Helina." Aku menatap kusir itu dengan tatapan bingung. "Tadi Helina ikut denganku dan kamu membantunya turun dari kereta." "Maafkan aku! Tapi sungguh aku mengatakan yang sebenarnya. Nona pergi sendirian dan di dalam kereta, Nona juga sendiri." Aku tidak mempercayai yang aku dengar. Seolah semua orang sedang membohongiku. Ibunya Helina sampai mengundang tetangga untuk memberikan kesaksian dan semuanya mengatakan Helina sudah meninggal. Aku menangis sejadi-jadinya. Jika Helina sudah meninggal satu bulan yang lalu, lalu siapa Helina yang ada di rumahku selama ini. Apa dia hantu? Tapi Helina tidak terlihat seperti hantu. Semua orang di rumahku melihatnya, bahkan Chris. Ibunya Helina kemudian bercerita. "Helina meninggal di rumah, karena sakit. Nyawanya tidak tertolong lagi. Aku memberitahu orang tuamu dan Ibumu segera datang ke sini." "Ibu dan Ayah tidak mengatakan apa pun." "Karena mereka tidak ingi kamu tahu. Mereka memintaku untuk tidak mengatakan apa pun padamu." "Lalu siapa Helina yang bersamaku selama ini?" "Kami tidak tahu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Aku mengangguk dan ikut bersama mereka. Ternyata mereka mengajakku ke kuburannya Helina dan di batu nisan tertulis jelas namanya. "Apa sekarang kamu percaya?" Aku mengangguk dan kembali menangis. Sekarang aku mengerti dengan semua sikap Helina selama ini, meskipun diawal-awal, aku tidak mengerti. Kami pun pulang. Tubuhku masih terasa lemas dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku shock Helina sudah meninggal. "Sebaiknya aku pulang sekarang." "Apa kamu tidak apa-apa jika pulang sendirian?" "Aku tidak sendirian kan ada kusir." "Baiklah. Terima kasih kamu sudah datang ke sini." Aku mengangguk. "Terima kasih juga atas hadiahnya,"kata Antonia." Aku mengangguk lagi. "Aku pergi." "Hati-hati di jalan!" Aku memeluk mereka satu persatu. "Sampai jumpa!" Aku masuk ke kereta. Rasanya benar-benar sangat aneh. Perjalanan pergi ditemani Helina dan sekarang sendiri. Tidak ada Helina. Tubuhku menjadi merinding. Satu jam kemudian, aku sudah sampai di rumah. Aku segera mencark ayah dan ibu. "Macaroon, kamu sudah pulang?' "Iya. Di mana Ayah?" "Ada di kandang ayam." "Aku ingin bicara dengan kalian berdua." Aku pergi ke kandang ayam memanggil ayah. Dia ada di sana sedang memberi makan ayam-ayam bersama Hector. "Aku ingin bicara dengan Ayah di dapur dan kamu juga, Hector." Mereka berdua saling menatap. Tanpa menanyakan apa-apa mereka pergi ke dapur bersamaku. Setelah semuanya berkumpul, aku memulai pembicaraan. Tiba-tiba ibu menyela bahkan sebelum aku memulai pembicaraan. "Ini tentang Helina, bukan?" "Dari mana Ibu tahu?" Aku balik bertanya. "Ketika kamu memutuskan datang ke rumah orang tua Helina, kamu akan segera mengetahui kebenarannya, jadi Ibu sudah bisa menebaknya." "Jadi kaliam sudah tahu kebenarannya?" Satu-satunya orang yang terlihat bingung adalah Hector. Sepertinya dia tidak tahu apa-apa. "Iya. Maafkan kami. Kami tidak ingin kamu sedih." Aku menghela napas. Aku merasa kesal karena orang tuaku membohongiku. "Seharusnya kalian memberitahuku yang sebenarnya." "Maaf,"kata ayah. "Maafkan Ibu juga." "Apa kalian tahu siapa Helina yang selama ini bersama kita?" Mereka semua nampak bingung dan aku pun ikut bingung. "Apa yang kamu bicarakan, Macaroon?" "Sebelum aku tahu Helina sudah meninggal, Helina ada bersama kita. Dia bekerja membersihkan rumput di halamam, mencuci pirinbg, mencuci baju dan membantu Ayah berkebun." "Selama ini tidak ada Helina." Lagi-lagi jawaban ayah dan ibu sama dengan orang tuanya Helina. Tubuhku terasa lemas lagi dan hampir terjatuh. Aku cepat-cepat menahan tubuhku di meja. Ayah dan ibu cepat-cepat menghampiriku. "Macaroon,"teriak mereka. "Aku tidak apa-apa." Aku kemudian menanyakan pada Hector. Apa kamu melihat Helina?" "Siapa Helina?"tanya Hector dengan wajah bingung. Aku baru mengerti. Hector bekerja di sini ketika Helina pulang ke rumahnya, karena sakit dan Helina tidak pernah kembali lagi ke sini karena sudah meninggal. Aku pernah melihat Hector bicara dengan Helina. Dia juga ada bersamaku di rumah. Apa ini hanya mimpi? Tapi aku yakin itu bukan mimpi. Entah hantu Helina atau bukan, dia pernah ada di sini dan yang tidak aku mengerti, kenapa semua orang yang kenal dengan Helina seolah tidak ingat lagi. Mereka seperti kehilangan ingatan. Jangan-jangan ingatan tentang Helina satu bulan terakhir ini dihilangkan, kecuali aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN