Kawanan penjahat

2349 Kata
Christophen Aku sedang memerah s**u sapi ketika Helina datang. "Ada apa?" "Aku hanya ingin menyerahkan surat dari Macaroon pada Anda. Dia tadi menyuruhku untuk memberikannya pada Anda secara langsung." Aku berdiri dan mengambil surat dari tangan Helina. "Terima kasih." "Aku permisi dulu." Aku langsung membuka surat dari Macaroon. Isi suratnya tidak panjang. Dia hanya memberitahuku kalau bibi dan sepupunya sudah pergi dan Macaroon tidak sempat menanyakan di mana George tinggal. Aku melipat kembali suratnya dan memasukkannya ke dalam saku celana. Mau tidak mau aku harus berusaha sendiri untuk mencari Zeretrius, tapi masalahnya aku tidak tahu harus memulai mencarinya dari mana. s**u sapi yang aku perah sudah satu ember penuh. Aku mengambil ember yang lain dan melanjutkan memerah s**u sambil memikirkan bagaimana mencari orang di Grasshallow. Kota ini bukan kota besar seharusnya tidak sulit untuk mencarinya. s**u yang aku perah baru dapat setengah ember ketika sesuatu terlintas di pikiranku. Tadi aku sama sekali tidak kepikiran untuk mencari orang di kantor kependudukan Grasshallow mungkin saja ada alamat George di sana. Aku menyudahi pekerjaanku dan menyuruh pegawai lain untuk meneruskannya. Aku terburu-buru pulang ke rumah dan berganti pakaian. "Anda akan pergi?"tanya Hansel. "Iya. Aku akan pergi dan segera kembali." "Apa Anda akan menemui Macaroon lagi." "Tidak. Bukan dia, tapi urusan lain. Aku akan pergi ke kota sendirian." Aku mengambil kudaku dari istal setelah disisir dan dibersihkan oleh petugas istal. Petugas itu melihat kedatanganku. "Siapkan kudaku!" Petugas itu membawa kudaku dan memasang sadel. Setelah semuanya siap, aku menaiki kudaku dan keluar dari istal. Aku memacu kudaku dengan kecepatan tinggi tidak ingin kesorean pada waktu pulang nanti. Hanya butuh lima belas menit aku sampai di kota. Kota masih terlihat ramai saat menjelang sore seperti biasanya. Kudaku berhenti di depan kantor kependudukan dan masuk ke dalam. Aku dilayani oleh seorang wanita dan menanyakan keperluanku. "Aku sedang mencari alamat rumah bernama George." "Nama keluarga?" Aku terdiam. Aku sama sekali tidak tahu nama keluarganya. "Aku tidak tahu." "Tidak ada nama keluarga akan sulit mencarinya, karena di sini banyak sekali yang bernama George." "Baiklah. Terima kasih." Aku pergi dengan perasaan kecewa. Kemana lagi aku harus mencarinya, lalu aku teringat dengan Mr. Conrad. Aku segera pergi ke toko buku antiknya yang jaraknya tidak jauh dari sini, jadi aku memilih untuk berjalan kaki saja. Kurang dari lima menit berjalan aku sudah berada di depan toko bukunya. Bel berbunyi ketika aku masuk. "Selamat datang!" Mr. Conrad terkejut saat melihatku. "Mr. Lutherford, bagaimana kabar Anda?" "Aku baik. Dan Anda?" "Aku juga baik." "Apa Anda sedang nencari buku?" "Tidak. Aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu pada Anda." "Baiklah. Tentang apa?" "Aku ingin tahu nama keluarga George yang Anda ceritakan pada kami tempo hari." "Ah ya. Nama keluarganya kalau tidak salah Henryton. Untuk apa Anda menanyakan itu?" "Aku sedang mencari alamat rumahnya dan ingin bertemu dengannya. Aku tidak memiliki niat jahat padanya. Aku hanya ingin tahu lebih banyak cerita tentang pegasus untuk bahan tulisanku." Mr. Conrad mengangguk mengerti. "Aku tahu Anda bukan orang jahat." "Baiklah. Terima kasih. Aku permisi dulu." Aku buru-buru keluar dari tokonya dan kembali ke kantor kependudukan lagi. Aku memberitahu nama keluarganya dan aku disuruh menunggu. Petugas itu kembali lagi dan aku menghampirinya. "Di Grasshallow tidak ada nama George Henryton." "Apa Anda yakin?" "Iya." "Terima kasih." Lagi-lagi aku dikecewakan dan tidak mendapatkan hasil apa pun. Apa mungkin George tidak terdaftar sebagai penduduk Grasshallow? Mungkin karena dia sering berpindah-pindah tempat dan tidak ingin ada orang yang tahu di mana dia tinggal. Mau tidak mau aku harus pergi ke Goldpoint dan bertanya-tanya pada penduduk di sana mungkin diantara mereka ada yang tahu. Aku teringat dengan Hilda, bibinya Macaroon yang tinggal di sana. Apa aku langsung menanyakan pada mereka? Tapi nanti aku harus memberikan alasan apa pada mereka mencari George. Sebaiknya aku pulang saja. Aku naik ke kudaku dan memacunya dengan cepat. Aku tiba di rumah tepat saat jam makan malam. Hansel sudah menyiapkan makan malam untukku, lalu aku memberitahu Hansel soal rencanaku pergi ke Goldpoint. "Kenapa Anda pergi ke sana tiba-tiba sekali?" "Aku ada urusan penting di sana." "Berapa lama Anda akan tinggal di sana?" "Beberapa hari. Aku tidak akan lama-lama tinggal di sana. Nanti jika kamu bertemu dengan Macaroon, aku pergi ke Goldpoint untuk urusan bisnis. Nanti aku akan menulis surat padanya." "Kenapa tidak disampaikan sendiri secara langsung kepadanya?" "Aku tidak sempat, karena sebelum matahari terbit aku sudah pergi ke Goldpoint." "Baiklah." Aku segera menyelesaikan makan malamku, lalu membereskan barang-barang yang akan aku bawa secukupnya. Sebelum tidur aku nenulis surat untuk Macaroon tentang kepergianku ke Goldpoint secara mendadak. Aku juga memutuskan untuk tidur lebih awal tidak ingin terlambat bangun. Aku terbangun pada pukul empat pagi dan langsung bersiap-siap. Hansel sudah mempersiapkam semuan di dalam kereta kuda. Dia juga memberikanku bekal makanan. "Tolong berikan surat ini pada Macaroon." "Aku akan memberikannya." "Terima kasih." "Anda harus segera memberi kabar jika sudah sampai." "Tentu. Aku pergi, jaga baik-baik peternakan selama aku pergi." "Semuanya serahkan padaku." Aku masuk ke dalam kereta kuda dan menyuruh kusir untuk segera jalan. Selama dalam perjalanan aku melanjutkan tidur. Aku terbangun saat matahari sudah tinggi dan tidak tahu sudah jam berapa ini. Aku melihat keluar jendela. Kereta melewati perkebunan jeruk. Aku membuka kaca jendela dan bertanya pada kusir. "Ini di mana?" "Di Hullow Loch. Satu jam lagi kita sampai Goldpoint." Aku menutup kembali jendela. Di sepanjang perjalanan terhampar perkebunan jeruk. Hullow Loch terkenal dengan hasil panen jeruknya. Aku menulis jadwalku selama di Gold point di jurnalku. Di hari hari kedua di sana, aku menuliskan jadwal bertemu Elisa, setelah itu kembali ke penginapan. Selama ada Elisa di rumah perkebunan, aku tidak bisa tinggal di sana. Suasana rumah nanti akan terasa cangggung. Elisa dan aku mungkin akan sama-sama merasa tidak nyaman, jadi aku lebih memilih tinggal di penginapan saja. Kereta kuda sudah memasuki gerbang kota Goldpoint. Kota ini sudah banyak berubah. Terakhir kali aku datang ke sini bersama ayahku dua tahun sebelum ayah meninggal. Rasanya sudag sangat lama. Aku kembali membuka jendela. "Kita langsung ke Coastline Motel." "Baik, Tuan." Suasana kota terlihat ramai dan seperti biasa banyak pedagang di pinggir jalan. Suasanya tidak beda jauh dari Grasshallow. Suara sepatu kuda menimbulkan suara nyaring di jalanan yang berlantaikan batu. Akhirnya aku tiba di Coastline Motel dan segera memesan kamar. Untung saja masih ada kamar kosong. Pelayan membantuku membawa koper dan bawaanku lainnya ke kamar. Aku langsung berbaring di tempat tidur sebelum aku pergi ke rumah bibinya Macaroon. Aku memang tidak tahu di mana alamat rumahnya. Mungkin dengan bertanya-tanya pada orang, aku bisa menemukannya. Perutku mulai keroncongan. Aku bangun dan pergi keluar mencari makanan. Di lobi motel, aku bertemu dengan petugas resepsionis dan bertanya restoran atau kedai makanan terdekat. "Jade Oriental, restoran terdekat dari sini. Anda jalan lurus saja dari sini, jaraknya tidak begitu jauh." "Terima kasih." Aku berjalan kaki menuju restoran. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantek supaya hangat. Seperti yang dikatakan oleh petugas motel tadi, Jade Oriental jaraknya tidak jauh. Aku masuk ke dalam restoran. Setelah memilih menu yang tersedia, aku memesan makanan. Sambil menunggu makanan datang, aku melihat-lihat suasana restoran yang terlihat ramai mungkin karena sudah memasuki jam makan siang. Makanan yang aku pesan, akhirnya datang juga. Ketika aku sedang makan, aku melihat bibi Hilda dan Garren masuk ke restoran. Aku senang bisa bertemu mereka di sini dan tidak perlu lagi mencari alamat rumah mereka. Aku langsung menyapanya. Mereka berdua terkejut saat melihatku. Aku tersenyum pada mereka. "Bukannya kamu, Chris, kekasih Macaroon." "Benar." "Wah kebetulan sekali kita bertemu di sini." "Iya. Kalian duduk di sini saja." "Aku tidak tahu kamu ada di sini." "Aku baru saja tiba di Goldpoint." "Oh kamu baru datang ya." "Iya. Kalian mau makan apa? Silahkan pesam saja! Aku akan mentraktir kalian makan." "Benarkah? Terima kasih. Kamu baik sekali. Macaroon sungguh beruntung memiliki kekasih sepertimu." Aku hanya tersenyum saja. "Apa yang kamu lakukan di sini?"tanya Garren. "Aku sedang ada urusan bisnis di sini." "Oh begitu,"kata bibi Hilda. Pelayan datang dan mereka memesan makanan. Selama makan kami membicarakan tentang kota Goldpoint dan setelah makan, aku memberanikan diri untuk menanyakan tentang George dan aku harus mengarang cerita supaya mereka tidak curiga. "Mrs. Lightbearer, aku ingin menanyakan sesuatu pada Anda." "Katakan saja, kamu mau bertanya tentang apa?" "Begini ketika aku sedang membereskan surat-surat kontrak bisnis Ayahku, aku menemukan nama George Henryton dan dia tinggal di Goldpoint beberapa tahun yang lalu, apa Anda kenal dengannya?" Mereka berdua terkejut, tapi mereka segera menutupi rasa terkejutnya itu. "Aku bertanya pada kalian, karena kalian sudah lama tinggal di sini." "Aku tahu, tapi tidak begitu mengenalnya. Dulu dia memang tinggal di sini, tapi aku tidak tahu di mana dia tinggal sekarang." "Aku kira kalian tahu." "Kami tidak tahu sebelumnya kalau Ayahmu melakukan kontrak bisnis dengan George." "Aku juga tidak tahu." "Sebaiknya kamu jangan berurusan dengan pria itu." "Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengannya?" "Ada gosip dia itu bukan manusia." "Aku tidak mengerti. Bukan manusia maksudnya bagaimana?" "Dia itu jelmaan pegasus." Aku pura-pura terkejut. "Apa? Anda serius?" "Itu gosip yang beredar dulu. Penduduk lama Goldpoint pasti tahu, tapi penduduk pendatang tidak ada yang tahu. Lagipula itu sudah lama sekali. Mungkin saja dia sudah meninggal." "Aku sudah berharap kalian tahu dimana dia tinggal sekarang. Aku ingin sekali menyelesaikan kontrak bisnis antara Ayahku dan Mr. Henryton. Sepertinya aku harus bertanya pada penduduk di sekitar sini." "Itu percuma saja, karena tidak ada yang tahu." "Sayang sekali. Tadinya aku ingin sekali bertemu dengan Mr. Henryton di sini, karena kebetulan aku sedang ada urusan pekerjaan di sini." "Maaf. Kami tidak bisa membantumu." "Tidak apa-apa. Jika kalian tahu tentang kabar Mr. Henryton, tolong kabari aku." "Baiklah. Tapi jangan terlalu berharap kami akan mendengar kabar darinya." "Aku mengerti. Terima kasih sudah mau bergabung makan siang bersamaku dan pembicaraan yang menyenangkan." "Seharusnya kami yang berterima kasih pada Anda, karena sudah mentraktir kami makan siang." "Sama-sama. Setelah ini kalian akan pergi kemana?" "Kami keluar untuk makan siang saja, jadi kami akan pulang." "Kalau begitu kita berpisah di sini, karena aku harus pergi masih ada urusan yang harus diselesaikan." "Tentu." Aku berdiri dan keluar dari restoran. Setelah agak menjauh, aku mengembuskan napas panjang. Mrs. Lightbearer dan putranya telah berbohong. Jelas-jelas mereka tahu di mana George berada. Mereka memerasnya. Jika mereka tidak ingin memberi tahu, aku akan menanyakannya pada orang-orang. Aku kembali berjalan tanpa arah tujuan dan melihat ada kedai minuman. Tiba-tiba suara hatiku berkata,"Masuk ke sana!" Aku masuk ke sana sambil mencari informasi. Segelas bir disodorkan kepadaku. "Terima kasih." Aku meminumnya. Kedainya tidak banyak tamu. Pelayan yang melayaniku, seorang pria tua dan menunjukkan sikap ramahnya. Dia sedang mengelap gelas. "Apa aku boleh bertanya, apa Anda mengenal George Henryton?" Aku tidak berharap pelayan itu tahu. "Aku tahu dia." Aku menjadi sangat antusias. "Benarkah?" "Iya. Kenapa Anda mencarinya? Apa Anda temannya?" "Sebenarnya ini urusan bisnis antara Ayahku dan Mr. Henryton. Kami sudah tidak mendengar kabar darinya sampai Ayahku sudah meninggal, jadi aku sedang mencarinya." Pelayan itu mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ayah Anda." "Terima kasih." "Dulu Mr. Henryton pindah ke sebelah apartemenku. Dia pria yang baik begitu juga dengan istrinya. Kami berdua langsung akrab. Awalnya aku tidak tahu apa yang sudah terjadi dengannya. Akhirnya aku tahu dari koran. Dia digosipkan sebagai manusia pegasus. Sudah lama sekali, aku tidak melihat pegasus." "Apa Anda percaya dengan gosip itu?" "Tidak. Pegasus tidak mungkin berubah jadi manusia. Gosip itu keterlaluan. Aku merasa kasihan kepadanya. Mr. Henryton tidak lama tinggal di apartemen. Dia memutuskan untuk pindah." "Apa Anda tahu dia pindah kemana?" "Grasshallow." "Grasshallow?"tanyaku terkejut. "Iya." "Aku juga tinggal di sana." "Pantas saja ini pertama kalinya aku melihat Anda di sini." "Aku datang ke sini hanya sekedar berkunjung." Aku memberikan senyuman padanya. "Terima kasih." Pria itu mengangguk. Aku menghabiskan birku. "Anda mau tambah lagi?" "Tidak. Terima kasih." Aku membayarnya dan pergi dari kedai minuman. Aku menghirup udara sejuk sore hari. Keputusanku datang ke kedai ini memang tepat. Suara hatiku selalu benar. Zeretrius ada di Grasshallow, tapi dia tidak terdaftat di kantor kependudukan. Apa mungkin dia berganti nama? Itu bisa saja demi menghindari orang-orang yang ingin tahu tentangnya. Aku kembali ke motel untuk beristirahat. Keeseokan harinya, aku mengunjungi rumah perkebunananku dan Elisa terkejut melihat kedatanganku. "Chris, aku tidak percaya ini. Kamu datang ke sini." "Aku sedang ada urusan di sini, jadi sekalian aku memgunjungimu di sini." "Oh begitu. Kapan kamu datang?" "Kemarin siang. Apa kamu merasa nyaman tinggal di sini?" "Iya. Rumah ini sangat nyaman. Terima kasih atas semua bantuanmu. Oh ya berapa lama kamu akan tinggal di sini?" "Rencana satu Minggu, tapi sepertinya besok lusa sudah pulang." "Kenapa sebentar sekali?" "Aku tidak ingin meninggalkan peternakanku terlalu lama." "Atau kamu tidak ingin lama-lama berjauhan dengan Macaroon?" Elisa berusaha menggodaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Itu artinya iya." "Salah satunya itu." "Apa segala kebutuhanmu di sini terpenuhi?" "Iya. Semuanya terpenuhi." "Bagus. Selama kamu tinggal di sini tidak ada masalah kan?" "Tidak ada." "Aku senang melihatmu terlihat sehat dan baik-baik saja." "Itu karena kamu." "Aku hanya membantu sebisa mungkin. Jaga dirimu baik-baik." "Kamu juga, Chris. Sampaikan salamku pada Macaroon." "Tentu. Sudah waktunya aku pergi." "Aku akan sangat merindukanmu." Aku tersenyum. "Selamat tinggal!" Aku meninggalkan rumah perkebunan dan masuk ke kereta kuda. Di dalam perjalanan, tiba-tiba kereta kuda berhenti mendadak. Aku terlempar ke depan. Aku mendengar suara keributan dari luar. Aku membuka pintu dan aku langsung mendapatkan todongan senjata. "Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan?" Pria yang menodongkan senjata tidak menjawab. Dia hanya menatapku. "Apa kalian perampok?"tanyaku lagi. "Hati-hati jangan sampai kamu melukainya apa lagi membunuhnya. Kita diperintahkan untuk membawanya hidup-hidup,"kata salah satu kawanan penjahat itu. "Aku tahu,"jawab pria yang menodongkan senjatanya kepadaku. "Jadi kalian ingin menangkapku? Siapa yang memerintahkan kalian?"teriakku. "Diam!" Pria itu balas berteriak. "Sebaiknya kamu ikut dengan kami. Ayo cepat!" Aku tidak ada pilihan lain selain mengikuti mereka. Aku berjalan sambil mengangkat tangan. Kusir kudaku tidak sadarkan diri di tanah. Tiba-tiba saja sesuatu yang tidak terduga terjadi. Salah satu kawanan penjahat itu tiba-tiba tersungkur jatuh tanpa ada sebab. Kami semua terkejut dan ketakutan. Mereka mencari-cari orang yang sudah mencelakai temannya itu. Aku mengambil kesempatan untuk kabur, tapi penjahat itu memukul kepalaku dan aku tersungkur jatuh. Aku setengah sadar. Samar-samar aku melihat seorang pemuda berdiri depanku dan melawan mereka semua dengan begitu mudah, lalu dia membalikan tubuhnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia menatapku dan tiba-tiba kegelapan menyelimutiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN