Farina dan sikap aneh Helina

3723 Kata
Macaroon Aku baru saja selesai membantu Helina di kebun. Tanganku sangat kotor penuh dengan tanah dan aku sudah mulai merasakan gatal-gatal di tanganku. "Aku mau mencuci tanganku dulu." "Iya. Biar sisanya aku selesaikan." Aku mengangguk dan pergi dari kebun. Di dapur aku langsung mencuci kedua tanganku, lalu aku menyadari suasana rumah sangat sepi dan ibu tidak terlihat di dapur. Aku mencarinya ke seluruh ruangan, tapi ibu tidak ada di mana pun. Ada satu ruangan yang belum aku periksa, yaitu ruangan menjahit. Aku menuju ke sana. Di depan pintu, aku mendengar suara bibi Hilda dan Garren. Pintu ternyata tidak tertutup rapat masih ada celah sedikit sehingga suara mereka terdengar meskipun suaranya kecil, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Mereka berada di ruang menjahit bagiku itu sesuatu yang aneh. Entah apa yang sedang mereka lakukan di sana. Jika hanya sekedar bicara seharusnha dilakukan di ruang tamu atau di ruang keluarga. Aku bermaksud untuk menyapa mereka, tapi tidak jadi aku lakukan ketika mereka menyebut Goldpoint dan George. Jantungku mulai berdebar kencang. Aku tidak ingin mencuri dengar pembicaraan orang lain, tapi kata George dan Goldpointlah yang menarik perhatianku. Aku tetap diam di sana mendengarkan apa yang mereka bicarakan. "Seharusnya Ibu tidak pernah melakukan ini pada George dan keluarganya." "Kalau bukan karena mereka, kita tidak akan hidup enak dan nyaman seperti ini. George adalah sumber keuangan kita selama ini. Aku dan kamu tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Selain itu mereka berhutang budi pada kita. Saat mereka dalam kesusahan, Ibu yang membantu mereka, jadi mereka harus membayarnya berkali-kali lipat." "Itu benar, tapi apa kita akan selamanya memanfaatkan George?" "Jika itu masih menguntungkan kita, kenapa tidak?" "Terserah Ibu saja." Aku berdiri mematung di depan pintu. Tidak mempercayai yang aku dengar. Aku tidak menyangka bibi Hilda memanfaatkan George demi uang. Ini tidak bisa dimaafkan. Bibi Hilda yang baik sudah tidak ada lagi. Apa ibu dan ayah tahu soal ini? "Bagaimana kalau George tidak ingin lagi memberi kita uang lagi?" "Kita akan memberitahu semua orang siapa George yang sebenarnya. Seperti yang dulu kita lakukan." Aku menutup mulutku. Jantungku berdebar semakin kencang dan kedua kakiku terasa semakin lemas. Ternyata bibi Hilda yang menyebarkan gosip itu. Itu artinya bibi Hilda tahu di mana George berada. "Ibu tidak pernah memberitahuku kenapa Ibu bisa tahu kalau George itu adalah pegasus dan Ibu menyimpan rahasia itu sendirian selama puluhan tahun." "Mungkin sudah waktunya kamu tahu. Ibu tahu secara tidak sengaja saat mendengar pembicaraan George dan Mr. Conrad. Waktu itu Ibu mau berkunjung ke rumah mereka." "Jadi seperti itu." Aku tidak tahu harus berkata atau bersikap seperti apa pada mereka sekarang. Apa aku harus bersikap pura-pura tidak tahu? "Kamu tahu kan, kita datang ke sini bukan hanya sekedar menemui saudaraku yang tercinta saja, tapi juga mengambil uang dari George." Aku kembali dibuat terkejut kalau George ada di Grasshallow. "Sudah waktunya kita makan siang,"kata bibi Hilda. Aku cepat-cepat pergi sebelum mereka melihatku. Aku bersembunyi dibalik dinding. Aku mengembuskan napas lega. "Hampir saja." Aku keluar dari tempat persenbunyian dan pergi ke halaman belakang lewat pintu samping. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus memberitahu Ayah dan Ibu? Apa mereka akan percaya apa yang aku katakan kepadanya?" Disaat aku sedang gelisah, aku dikejutkan oleh suara ayahku yang memanggilku. "Macaroon, apa yang sedang kamu lakukan di sana?"teriak ayah dari arah seberang halaman. "Aku sedang tidak melakukan apa-apa." "Ayo kemarilah!" Aku setengah berlari ke arah ayahku. "Apa kamu baik-baik saja?" "Aku baik. Memangnya kenapa?" "Tadi Ayah melihatmu berjalan mondar-mandir di sana. Ayah kira ada masalah dan sepertinya kamu juga terlihat gelisah." "Aku hanya sedang bingung saja tadi, tapi sekarang sudah tidak bingung lagi." Aku memberikan cemgiran lebar. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita makan siang!" Aku mengangguk. "Tadi aku tidak melihat Ibu di dapur." "Mungkin Ibumu sedang keluar sebentar dan mungkin Ibumu sudah kembali." Apa yang dikatakan Ayah memang benar. Ibu sudah kembali dan dia ada di dapur. "Ibu dari mana saja? Tadi aku tidak melihat Ibu ada di sini?" "Oh tadi Ibu ke kandang ayam untuk mengambil telur. Duduklah! Makan siang sudah siap." Aku mengangguk. Di meja makan sudah ada bibi Hilda dan Garren. Saat aku melihat mereka, perasaanku pada mereka berubah menjadi jijik. Wajah ramah dan baik yang ditunjukkan pada kami adalah palsu. Aku juga baru menyadari Ayah dan Ibu terlihat sangat lelah seolah-olah sari pati hidup mereka tersedot banyak. Aku jadi mencemaskan mereka berdua. Sebelumnya mereka tidak seperti ini. Aku tahu ayah dan ibu selalu banyak pekerjaan dan pasti mereka lelah, tapi tidak selelah sekarang. Apa mereka sakit ya? Mereka juga seperti memiliki beban berat. Kami makan tanpa ada satu pun yang bicara. Suasana makan siang menjadi dingin dan tidak nyaman. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi sini? Kalau aku sudah jelas, aku sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran bibi Hilda dan Garren setelah aku tahu mereka tidak baik. Aku menatap mereka satu persatu. Raut wajah mereka terlihat serius. Tidak ada rasa hangat kekeluargaan lagi. Ibuku terlihat sangat kesal akan sesuatu. Bibi Hilda yang biasanya banyak bicara, mendadak jadi pendiam. "Apa ada sesuatu diantara kalian?" Aku bertanya dengan rasa enggan. Mereka semua menatapku. "Ada apa? Apa kalian sedang bertengkar?" "Kami tidak bertengkar,"jawab ibuku cepat-cepat. "Yang dikatakn Ibumu benar. Kami tidak bertengkar,"kata bibi Hilda. Mereka saling melirik satu sama lain. Aku yakin telah terjadi sesuatu diantara mereka atau jangan-jangan ayah dan ibu sudah tahu tentang bibi Hilda. "Baiklah. Kalau kalian tidak ingin mengatakan apa pun." Aku cepat-cepat menghabiskan makan siangku, lalu membereskan piringku dan mencucinya. "Aku akan pergi menemui Chris." "Hati-hati di jalan!"teriak bibi Hilda. Aku berjalan sendirian menuju peternakan Chris. Sekarang ini hanya Chris yang bisa membantuku. Aku tidak bisa mengajak Helina, karena dia sedang sibuk mengurus kebun sayur, jadi aku terpaksa pergi sendiri. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, akhirnya aku sampai di peternakan Chris. Aku melihat asisten pribadi Chris, Hansel. Dia melihatku datang. "Mr. Lutherford ada di kantornya." "Terima kasih." "Apa perlu aku antar?" "Tidak. Terima kasih. Aku tahu di mana kantornya berada." Di kantor, Chris sedang sibuk mencatat sesuatu. Dia belum menyadari kedatanganku dan dia terlihat sangat serius. Aku berdeham dan Chris menoleh. Dia terkejut melihat kedatanganku. "Macaroon, kenapa kamu ada di sini?" "Ada sesuatu yang ingin aku beritahu kepadamu." "Aku juga. Ayo masuk dan duduklah!" Aku masuk dan duduk. Chris duduk di sampingku. "Ada apa?" "Ini tentang bibi Hilda." "Ada apa dengannya?" "Dialah yang sudah menyebarkan gosip tentang George." Chris nampak terkejut. "Benarkah?" Aku menggangguk, lalu aku bercerita pada Chris apa yang terjadi di rumah. Selama aku bercerita, Chris menganggukan kepalanya beberapa kali. "Ini sulit dipercaya bibi Hilda memeras George. Kasihan sekali dia." "Aku sangat kecewa pada bibi Hilda." "Sudah jangan sedih." "Aku tidak bisa memberitahu Ayah dan Ibu soal ini. Mereka tidak tahu apa-apa tentang pegasus." "Tindakanmu sudah benar. Sebaiknya orang tuamu tidak tahu sikap buruk saudaranya itu." "Aku juga mencemaskan orang tuaku sepertinya mereka sakit, karena mereka terlihat terlalu lelah. Ini rasa lelah yang tidak biasanya. Mereka juga nampak murung dan sedoh. Mereka berusaha menyembunyikannya dariku dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa." Aku juga bercerita apa yang terjadi di meja makan tadi saat makan siang. "Aku rasa terjadi sesuatu diantara mereka, meskipun aku tidak diberitahu oleh mereka, aku bisa merasakannya. Ayah dan Ibu tidak ingin aku tahu mungkin mereka tidak ingin aku tahu." "Semuanya akan baik-baik saja." "Oh ya, aku hampir lupa. George ada di Grasshallow." Chris terkejut mendengarnya. "Grasshallow?" Suaranya bergetar dan rasa ingin tahunya begitu besar. "Bibi Hilda yang mengatakannya." "Apa kamu menanyakan di mana alamat George tinggal?" "Tidak." Chris nampak kecewa. "Seharusnya kamu menanyakannya." "Waktu itu aku bingung. Nanti setelah pulang dari sini, aku akan menanyakannya pada bibi Hilda. Sampai sekarang aku masih tidak percaya, bibi Hilda adalah pelakunya." "Aku juga." "Apa kita harus memberitahu Mr. Conrad?" "Jangan memberitahu apa-apa dulu,"jawab Chris. "Baiklah. Jadi apa yang ingin kamu katakan padaku?" Chris seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk memberitahuku. "Hei, ada apa? Katakan saja!" "Mungkin kamu tidak akan percaya hal imi." "Coba katakan saja dulu." "Kemarin malam ketika aku hendak tidur, aku melihat Helina di halaman rumahku malam-malam." "Itu tidak mungkin. Apa kamu tidak salah lihat?" "Aku tidak salah lihat. Aku yakin dengan kulihat semalam, tapi ketika keluar rumah, Helina sudah berada tidak ada di luar. Aku sudah mencarinya, tapi tidak ada." "Itu aneh." "Ini memang aneh. Hal yang tidak lazim untuk seorang wanita berkeliaran saat larut malam." "Nanti aku akan menanyakannya pada Helina." "Selain Helina, aku juga melihat sesuatu yang lagi." "Apa?" "Seekor pegasus." "Itu tidak mungkin." "Aku juga keluar rumah, tapi pegasus itu menghilang sama halnya dengan Helina. Kejadian itu membuatku agak sedikit merinding. Aku sampai tidak bisa tidur." Chris berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Dia membuka laci dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sebuah bulu putih yang terlepas. "Aku rasa bulu ini berasal dari pegasus." "Mungkim saja dari burung." "Aku tidak tahu, tapi aku yakin itu bulu sayap pegasus." Aku memperhatikan bulu itu. Saat disentuh, bulu itu terasa sangat lembut. Sepertinya aku mengenali bulu ini. Tubuhku tersentak kaget dan baru menyadari kalau bulu itu bisa saja milik Artemion. Aku menciumi bulu itu dan ada harum wangi yang masih tertinggal di bulu itu. Bau wangi yang mirip dengan Artemion. Pegasus itu tidak mungkin datang ke rumah Chris dan jika itu benar, tapi untuk apa Artemion ke sini? "Ini memang seperti bulu sayap pegasus." "Kemarin malam adalah hal yang paling aneh dalam hidupku." "Aku tidak bisa berlama-lama ada di sini, meskipun aku ingin tetap tinggal lebih lama di sini." "Aku akan mengantarmu pulang dengan kudaku." "Baiklah. Setidaknya aku tidak harus berjalan kaki." Hansel muncul membawa kuda Chris dan aku naik ke atasnya dengan mudah. Chris menyusul naik. Dia nengantarkanku sampai pintu rumah, sebelum pergi, Chris mengecup bibirku. "Sampai jumpa lagi, Sayang!" Aku masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, aku langsung menuju dapur. Ibu sedang mengupas kacang polong dan ibu sudah terlihat agak segar. Aku merasa lega. "Kamu sudah pulang." "Iya." Aku duduk dan membantu ibu. "Ibu kira kamu akan sampai sore bersama Chris." "Tidak. Aku hanya sebentar saja menemuinya. Ayah, dimana?" "Seperti biasa ada di kandang ayam." Rumah terasa sepi hanya terdengar detak jarum jam. "Bibi Hilda dan Garren, apa mereka ada di kamar?" "Tidak." "Mereka berdua sedang pergi jalan-jalan lagi?" "Tidak." "Lalu mereka kemana?" "Mereka sudah pulang." "Apa?!"seruku terkejut. "Kenapa mereka tiba-tiba pulang?" "Mereka ada urusan mendadak." Aku senang mereka sudah pulang, tapi aku juga merasa menyesal, karena aku belum sempat menanyakan tempat tinggal George. Aku menatap ibuku. Apa ibu nerasa senang atas kepergian mereka? Sejak mereka pergi, ibu jadi terlihat segar. Mungkin ini hanya kebetulan saja. Aku sudah selesai mengupas kacang polong, lalu pergi ke kamar. Aku berbaring di tempat tidur memikirkan apa yang sudah terjadi selama ini di rumah ini. Di saat aku sedang brrpikir, pintu lemariku terbuka dan dari balik pintu muncul Artemion. Aku bangun dan hampir tidak mempercayai apa yang aku lihat. "Artemion?" Dia menyengir. "Hai!"sapanya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Mata Artemion bergerak-gerak melihat ke sekelilimg kamarku. "Aku datang untuk mengunjungimu. Ya ampun Macaroon, kamarmu kecil sekali." "Kamarku memang kecil, tapi nyaman." "Jika kamu tinggal denganku, aku akan memberikanmu kamar yang luas." "Pelankan suaramu! Bagaimana kalau ada yang mendengar." Artemion kembali melihat-lihat kamarku dan menyentuh setiap perabotan yang ada di kamarku. Aku melihat ke dalam lemari dan di sama memang ada jalan. "Apa Agatelos tahu kamu datang ke sini?" "Tentu saja aku tahu. Dia yang membuatkan jalan pintas ini untukku." "Baik sekali dia." "Aku yang memintanya." "Dan dia menuruti permintaanmu." "Iya." "Aku tidak percaya pdnyihir segalak dan sedingin Agatelos mau saja menuruti permintaanmu." "Sebenarnya dia tidak segalak yang kamu pikirkan. Dia hanya bersikap tegas untuk melindungi, Graymoor, Quicksand, dan kaum pegasus." "Baiklah. Bagaimana masa hukumanmu? Apa sudah selesai?" "Iya." "Kamu dihukum apa?" "Menjadi tukang bersih-bersih." Aku membayangkan Artemion menjadi tukang bersih-bersih, menyapu dan mengepel lantai. Aku menahan tawaku, lalu teringat dengan pegasus yang dilihat oleh Chris. "Artemion, apa kamu pernah datang ke rumah Chris?" Dia langsung menatapku dan duduk di kursi goyang. "Iya,"jawabnya santai. "Jadi itu kamu?"tanyaku terkejut. "Iya." "Bagaimana kamu bisa ada di sana dan untuk apa?" "Aku ingin melihat seperti apa pria yang kamu cintai itu dan ternyata aku lebih tampan dari dia." Aku menghela napas. Artemion memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi. "Kamu datang dari pintu sebelah mana saat pergi ke rumah Chris?" "Dari pintu portal yang dibuat oleh Agatelos." "Dan kamu menemuinya dalam wujud pegasusmu." "Iya. Kamu banyak sekali bertanya. Aku datang ke sini bukan untuk kamu wawancarai." "Maaf. Itu karena aku hanya ingin tahu saja." Aku lalu bercerita tentang Mr. Conrad dan bibi Hilda pada Artemion. Aku bercerita padanya, karena aku percaya, Artemion bisa dipercaya seperti halnya dia mempercayaiku. Artemion tidak terkejut dengan ceritaku. "Aku sudah tahu di mana dulu Zeretrius tinggal, karena sepupuku yang memberitahuku dan pegasus yang menemui Zeretrius di rumahnya adalah sepupuku itu. Ayah memintanya untuk menyerahkan anaknya, tapi dia menolaknya." "Kenapa ingin mengambil anak Zeretrius?" "Anak itu menjadi aib terbesar di kaum kami. Ayah bermaksud akan mengasingkannya jauh di dalam hutan Quicksand dengan penjagaan yang sangat ketat." "Jika itu terjadi kasihan sekali anak itu yang tidak tahu apa-apa atas apa yang terjadi pada orang tuanya, lagipula mereka sudah hidup dengan tenang seharusnya jangan diganggu lagi." "Sejak saat itu kami tidak menganggunya lagi." "Apa kalian tahu di mana Zeretrius berada sekarang?" "Tidak. Kami sudah tidak peduli lagi kepadanya, meskipun kami tahu di mana dia, kami tidak akan menemuinya lagi. Ayah sudah menganggap Zeretrius bukan anaknya lagi." "Apa kamu peduli kepadanya?" "Iya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Artemion menggoyang-goyangkan kursi goyangnya. "Tanpa ada kamu, di sana terasa membosankan." "Jadi kamu datang ke sini?" "Iya. Sebenarnya Agatelos tidak setuju aku datang menemuimu, tapi aku memaksa. Kenapa kamu tidak datang lagi ke Quicksand? Aku kan sudah memberikanmu izin." "Bagaimana aku bisa datang ke sana, jika aku tidak tahu bagaimana aku bisa datang kesana, kecuali saat aku tidur, tapi itu juga tidak bisa sering aku lakukan." "Baiklah. Nanti aku akan bicara pada Agatelos untuk memberikan jalan pintas untukmu." "Itu ide yang bagus. Artemion berdiri dan membuka pintu lemari. "Aku akan pulang. Aku sudah berjanji pada Agatelos tidak pergi terlalu lama. Apa kamu mau ikut sebentar?" Aku melongok ke dalam lemar dan aku tergoda untuk pergi lagi ke sana. "Baiklah, tapi hanya sebentar saja. Aku harus sudah pulang sebelum makan malam tiba." "Tentu." Artemion mempersilahkan aku masuk duluan. Dalam sekejap, aku berada di Quicksand. Kali ini kami bisa berjalan-jalan dengan bebas tidak perlu bersembunyi lagi. Para penyihir pun tidak melihat ke arahku lagi. Aku sekarang bukan manusia asing lagi yang baru mereka lihat. Agatelos menghampiri kami. Dia menatapku dengan dingin. "Karena kamu ada di sini, aku ingin kamu menemui Farina." "Siapa Farina?" "Salah satu dari kami." Aku menatap Artemion. "Apa bisa nanti saja bertemunya? Aku mengajak Macaroon datang ke sini untuk bermain." "Setiap hari kamu selalu bermain." Artemion menyengir lebar. "Ayo ikut aku!"kata Agatelos. Kami mengikutinya ke halaman belakang bangunan para penjaga Quicksand. Di sana di dekat taman bunga ada seorang wanita yang sedang berkebun, memasukkan tanah ke pot-pot. Wanita melihar kedatangan kami. "Ini manusia yang pernah aku bicarakan denganmu." "Oh jadi ini. Aku, Farina." "Macaroon." "Agatelos sudah bercerita banyak tentangmu." Wanita itu melepas kedua sarung tangannya. "Aku ingin sekali bertemu dengan sejak aku mendengar cerita tentang dirimu." "Sepertinya aku sudah menjadi orang terkenal di sini." Farina tidak seperti Agatelos. Wanita itu ramah dan bersahabat. Penampilannya pun tidak menyeramkan. Sepertinya aku mulai menyukainya. Kami masuk ke ruangannya yang cukup berantakan dan dipenuhi oleh tumpukan buku. "Silahkan duduk dimana saja!" Aku tidak melihat adanya sofa atau pun kursi, jadi aku duduk di atas tumpukan buku begitu juga dengan Artemion. "Jadi apa yang bisa aku lihat darimu." Farina menatapku seperti sedang mencari sesuatu di dalam diriku. "Aku bisa melatihmu untuk mengendalikan kemampuan yang kamu miliki." "Hah? Apa aku benar-benar memiliki semacam kekuatan supranatural?" "Bukan seperti itu. Kamu mungkin sama sepertiku memiliki kemampuan melepas ruh dari tubuhmu dan berjalan-jalan ke berbagai macam tempat. Aku bisa mengajarimu agar kamu bisa mengendalikannya. Bagaimana?" "Baiklah, jadi Anda akan menjadi guruku?" "Tepat sekali." Aku tidak menyangka akan menjadi murid seorang penyihir. Selama hidupku aku tidak pernah berpikiran untuk menjadi murid penyihir. "Kamu datang menemuiku dua kali seminggu di sini." "Sebaiknya buatkan jalan pintas ke sini untuk Macaroon. Dia tidak mungkin berjalan jauh dari rumahnya ke Quicksand." "Akan membuatkannya,"kata Agatelos. "Apa kalian sudah selesai? Aku ingin mengajak Macaroon jalan-jalan lagi. " "Kalian boleh pergi." Pintu terbuka dengan sendirinya. Aku dan Artemion keluar. "Kita akan jalan-jalan kemana?" "Disekitar sini saja. Maaf. Aku belum bisa membawamu lebih jauh lagi dari sini." "Tidak apa-apa. Aku mengerti." "Aku juga tidak bisa membawamu ke istana Calbridge. Itu tempat terlarang untuk dikunjungi manusia hanya kaum pegasus dan para penjaga yang boleh masuk." "Kenapa kamu menyebut para penyihir itu dengan sebutan para penjaga?" "Supaya tidak seram saja. Sebutan para penyihir terasa seram. Kapan-kapan aku akan mengajakmu terbang lagi." "Iya." "Apa kamu suka tempat ini?" "Aku suka. Tempat ini indah. Aku merasakan kedamaian dan ketenangan di sini." "Kamu bisa saja tinggal di sini." "Aku ingin, tapi tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan orang tuaku." "Dan Chris. "Iya." "Aku rasa Chris pria yang baik setelah aku melihatnya." "Dia pria yang baik." "Kalau dia sampai menyakitimu dan membuatmu sedih. Dia harus berhadapan denganku." "Artemion, aku segera pulang sebentar lagi makan malam." "Aku akan mengantarmu pulang." Kami berjalan menuju sebatang pohon besar dan sudah tua. Di sana ada pintu. Begitu pintu dibuka, aku bisa langsung melihat kamarku. Aku masuk. "Sampai jumpa lagi!" Artemion menutup pintu dan lemariku menjadi lemari biasa saja. Aku turun ke bawah. Ibu dan Helina sedang menyiapkan makan malam. Aku segera membantu mereka. Ayah baru saja masuk dapur dan naik ke lantai dua. Selama makan malam, aku tidak membahas tentang bibi Hildan dan Garren juga. Aku tidak ingin merusak suasana makan malam. Aku rasa ayah dan ibu sedang bermasalah dengan bibi Hilda. "Besok akan ada tukang untuk membuatkan tempat tidur barumu." "Akhirnya aku akan memiliki tempat tidur baru. Terima kasih, Ayah!" Aku merasa sangat senang, karena setelah bertahun-tahun, akhirnya aku akan mendapatkan tempat tidur baru. Keedokan harinya, dua tukang kayu datang ke rumah dan mereka membuatkan aku tempat tidur. Tiga hari kemudian, tempat tidur baruku sudah jadi dan aku sangat senang. Kali ini tempat tidurku lebih besar dan aku tidak aman terjatuh lagi. Aku langsung mencobanya dan aku menyukainya. Aku bisa bergerak dengan bebas. "Bagaimana tempat tidurnya?"tanya Ayah. "Bagus. Aku suka." "Ayah senang kalau kamu suka." Aku berguling-guling di atas tempat tidur. Ayah pergi meninggalkan kamar. Aku ingin memuaskan diri di tempat tidur yang baru. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Lemari pakaianku terbuka dan Agatelos muncul tiba-tiba membuatku terkejut. "Ada apa?"tanyaku dengan nada suara ketus. "Ini waktunya kamu menemui Farina." "Aku tahu." Aku kesal harus pergi padahal aku ingin menikmati tempat tidurku yang baru. Aku ikut masuk ke dalam lemari dan Agatelos langsung membawaku ke ruangan Farina. Wanita itu sudah menungguku. "Senang bertemu denganmu lagi, Macaroon." Agatelos meninggalkan kami berdua, bahkan aku belum sempat bertanya di mana Artemion berada. "Apa kamu sudah siap?" "Iya." Farina duduk bersila di lantai yang sudah diberi alas. "Kamu juga ikut duduk di sini bersamaku." Aku duduk bersila. "Pejamkan matamu! Dan kosongkan pikiran." Aku menuruti apa yang dikatakannya. Entah berapa lama kami duduk seperti ini. "Rasakan kekuatan yang mengaliri tubuhmu." Aku tidak merasakan adanya kekuatan yang mengaliri tubuhku. "Sampai di sini dulu latihan pertama kita." Aku membuka mata. "Hanya ini saja latihannya?" "Iya." "Aku kira aku akan diajarkan semacam sihir tertentu." Farina tertawa. "Aku tidak akan mengajarkan itu padamu. Kamu boleh pulang sekarang. Sampai ketemu lima hari lagi." "Aku pergi." Aku menutup pintu ruangan Farina. Aku melewati banyak penyihir dari yang muda sampai yang tua sebelum mencapai pintu keluar. Di depam pintu keluar, aku melihat Artemion. "Bagaimana latihan pertamamu?" "Biasa saja." "Nanti juga tidak biasa saja." "Aku tadi tidak melihatmu." "Aku berada di istana Calbridge. Apa kamu mau pulang sekarang?" "Iya. Aku tidak ingin membuat orang tuaku cemas melihat anaknya menghilang." "Sepertinya kamu menyanyangi orang tuamu." "Tentu saja aku menyayanginya." Kami sudah mencapai pohon besar di mana ada pintu menuju kamarku. Aku membukanya. Artemion melongok ke dalam. "Kamu mempunyai tempat tidur baru ya?" "Iya." "Tadinya aku ingin memberikan hadiah tempat tidur untukmu, tapi sekarang tidak jadi." "Aku masuk dulu. Sampai jumpa!" "Sampai jumpa!" Artemion menutup pintunya. Aku terkejut melihat ayah yang sudah berada di kamarku. Jantungku berdetak kencang. Apa ayah tahu apa yang aku lakukan? "Macaroon, kenapa kamu keluar dari lemari?" "Ah tadi aku sedang iseng aja dan mencoba lemariku apa aku bisa masuk ke dalamnya atau tidak." "Kamu ini ada-ada saja. Kamu bukan anak-anak lagi untuk bermain petak umpat dan bersembunyi di dalam lemari." "Orang dewasa masih bisa melakukannya. Oh ya ada apa Ayah mencariku?" "Oh itu, Ayah tidak mencarimu, tapi Ayah mau mengambil sarung tangan Ayah di kamarmu." Ayah mengambil saru tangannya di atas meja riasku. "Kamu jangan melakukan hal-hal aneh." Ayahku tersenyum "Tidak. Aku tidak pernah melakukan hal-hak aneh." Ayah menutup pintu dan aku berada sendirian lagi di kamar. Aku duduk di atas tempat tidur, lalu keluar kamar. Dari jendela dapur aku melihat Hector dan Helina sedang bicara di depan kandang ayam. Aku memperhatikan mereka dari kejauhan. "Kamu sedang melihat apa?"tanya ibu. "Tidak ada yang menarik." Aku melanjutkan cuci piring. "Macaroon,"panggil ibuku. "Ada apa?" "Ibu tidak ingin kamu sedih." Aku tidak tahu kenapa ibu berkata seperti itu. "Ada yang ingin Ibu beritahukan kepadamu." Aku menunggu ibu bicara lagi. "Ini tentang Helina." "Ada apa dengan Helina?" Aku menatap ibuku yang belum menjawab pertanyaanku. "Ibu, ada apa dengan Helina? Apa dia sedang tidak baik-baik saja?" Aku bertanya lagi. Ayah kemudian muncul. "Tidak ada apa-apa." "Tadi Ibu mau mengatakan apa tentang Helina." "Sudah lupakan saja!" Aku mengernyit menatap bingung pada ibuku. "Ayolah katakan ada apa?" "Tidak ada apa-apa. Helina baik-baik saja." Aku memandang ayahku untuk meminta penjelasa atas sikap aneh ibuku. Ayah hanya menggelengkan kepalanya. Aku pun tidak bertanya lagi. Aku kembali meneruskan cuci piring. Hector dan Helina sudah tidak ada lagi di depan kandang ayam. Aku menoleh ke belakang, ibu sedang memasak dan aku tidak berani bertanya lagi. Aku mengelap tanganku dan keluar dapur untuk menjemur lap yang basah. Aku melihat Hector lagi masuk ke kandang ayam dan memutuskan untuk menyusulnya. Hector sedang mengganti air minum untuk ayam-ayam. Aku berjalan mendekatinya. "Hector,"panggilku. Dia menoleh. "Nona Macaroon, ada apa? Apa ada yang bisa aku bantu?" "Tadi aku melihatmu bicara dengan Helina. Apa Helina baik-baik saja?" "Dia baik-baik saja. Memangnya kenapa?" "Tidak apa-apa. Apa ada yang aneh dengan sikapnya belakangan ini?" Hector mencoba mengingat. "Tidak ada, tapi aku selalu melihat dia berdiri di depan pintu. Dia diam saja berdiri seperti patung." Aku mengernyit lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN