Pernyataan cinta Chris

1778 Kata
Christophen Kemarin sore aku kedatangan tamu tidak terduga. Saat itu aku sedang mengurus semua sapi-sapiku setelah menyambut kedatangan saudara Ayah. Aku dikejutkan oleh kedatangan pelayan yang bekerja di rumah Macaroon dan aku lupa siapa namanya. "Aku, Helina." Wanita itu memperkenalkan dirinya padaku. Akhirnya aku ingat siapa namanya. Aku mencari-cari keberadaan Macaroon, tapi dia tidak ada. Biasanya Helina akan selalu terlihat bersama Macaroon kalau sedang bepergian. "Macaroon tidak ikut denganku." Helina seperti sudah tahu apa yang ada di dalam pikiranku, lalu aku bertanya-tanya ada apa Helina tiba-tiba menemuiku di sore hari terlebih lagi raut wajahnya terlihat khawatir. "Ada yang bisa aku bantu? Kamu datang ke sini bukan disuruh membeli s**u, kan? Karena keluarga Harrington tidak pernah membeli s**u di sore hari hanya di pagi hari saja." "Benar. Aku datang ke sini untuk hal lain. Apa kita bisa bicara di dalam saja?" "Tentu." Aku membawanya ke ruangan kantorku yang tidak begitu besar. Helina masuk dengan ragu-ragu, lalu duduk di kursi." "Sekarang katakan ada apa?" Aku melihat kedua tangannya di atas pangkuan wanita itu terkepal dengan kuat dan dia masih terlihat ragu untuk mengatakannya. "Apa ada masalah dengan Macaroon?" "Dia baik-baik saja." Aku lega mendengarnya. "Begini Mr. Lutherford, aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya." "Katakan saja!" "Tidak ada seorang pun tahu aku datang ke sini. Aku datang ke sini secara diam-diam. Tadi pagi menjelang siang setelah aku selesai membersihkan halaman rumah Macaroon secara tidak sengaja aku mendengat pembicaraan antara Ayah dan Ibunya Macaroon. Aku tidak bermaksud untuk mencuri dengar. Sungguh. Aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya." "Aku percaya. Apa yang kamu dengar?" "Mereka membicarakan tentang diri Anda yang menolak perasaan Macaroon. Nona Macaroon selalu bercerita apa saja pada orang tuanya. Dia sangat terbuka pada orang tuanya termasuk soal perasaannya pada Anda, lalu Ibunya Macaroon berkata bahwa saudata jauhnya akan segera datang. Macaroon sudah tahu hal ini, karena Ibunya sudah memberitahunya sebelumnya dan yang membuatku terkejut adalah Ibunya Macaroon akan menjodohkan Macaroon dengan putra dari saudara jauh Ibunya." "Apa?!"seruku terkejut. "Padahal sebelummya Mrs. Harrington sepertinya tidak ada pembicaraan tentang perjodohan itu." "Apa kamu yakin apa yang kamu dengar?" "Iya. Nona Macaroon sama sekali tidak tahu dengan rencana perjodohan ini. Seperti yang Anda tahu, Nona Macaroon tidak mencintai pria lain selain diri Anda dan aku tahu Anda juga mencintainya, kan?" "Aku tidak mungkin bisa bersamanya saat ini." "Tapi Anda mencintainya, kan?" Helina menatapku dengan tajam dan agak memaksa. "Aku ingin mendengarnya dari mulut Anda sebelum aku pergi dari sini dengan tenang untuk selamanya." Helina masih menatapku, lalu pandangan matanya berubah menjadi tatapan memohon. "Aku mencintainya." Helina tersenyum. "Hanya itu yang perlu aku dengar. Syukurlah Anda memiliki perasaan yang sama dengan Nona Macaroon, meskipun aku tidak tahu kenapa Anda menolak perasaannya pasti ada alasan yang kuat yang melatarbelakanginya." "Kamu benar." "Aku ingin Anda mengagalkan perjodohan mereka. Aku mohon. Jika Anda membiarkan hal itu terjadi, Anda akan kehilangan Nona Macaroon selamanya." Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Helina membuat jantungnya memcelos dan perasaannya tiba-tiba merasakan sakit. Itu adalah resiko yang harus aku tanggung ketika aku menolak cinta Macaroon. Pria mana pun bisa mengambilnya setiap saat dan apa yang aku takuti akhirnya terjadi juga. Aku harus sudah siap akan hal itu. Selama ini aku selalu merasa ragu apa aku bisa melihat Macaroon menjadi milik orang lain. Kutukan ini benar-benar menyiksaku. Andai saja aku tidak terkena kutukan, aku sudah pasti akan menerima perasaan Macaroon dan langsung melamarnya menjadi istriku. Dia adalah cinta pertama dalam hidupku. Aku sudah mencintai Macaroon sudah lama sebelum aku mengenal orang tuanya. Aku masih ingat ketika aku baru saja pulang dari Goldpoint untuk membantu peternakan sapi di Grasshallow. Selama ini aku tinggal di Goldpoint membantu memgurus perkebunan Ayah. Pada hari pertama aku pindah tinggal di Grasshallow, aku melihat Macaroon dan pelayannya lewat di depan peternakan sapi sedang memdorong gerobak berisi telur. Saat itu Macaroon masih sangat muda dan baru menginjak usia remaja. Keesokan harinya, Macaroon dan pelayannya lewat lagi sambil membawa gerobak telur. Aku pikir gadis itu seorang pedagang telur. Hari-hari berikutnya dia lewat lagi di depanku. Lama kelamaan aku selalu menanti Macaroon lewat di depan peternakan. Itu sudah menjadi salah satu kegiatanku setiap pagi. Diam-diam aku selalu memperhatikannya. Saat itu aku belum menyadari aku telah jatuh cinta kepadanya. Tidak melihatnya sekali berasa ada yang kurang. Akhirnya aku mengenal orang tuanya setelah Ayah menyuruhku mengantarkan s**u ke rumah Macaroon. Aku kembali melihatnya di kandang ayam. Tubuh gadis itu dipenuhi oleh bulu ayam dan kotor. Setiap kali aku ingat itu, aku ingin tertawa, meskipun tubuhnya kotor sekalipun, Macaroon tetap cantik di mataku. Akhirnya setelah kami berkenalan dan menjadi teman, aku pun menyadari, aku sudah jatuh cinta kepadanya. Aku hanya bisa memendam perasaanku selama beberapa tahun. Saat tahu Macaroon mencintaiku juga, aku sangat senang dan ingin memeluknya, mencurahkan semua rasa cintaku kepadanya. Jauh di lubuk hatiku, aku tidak akan rela melihat Macaroon berada di pelukan pria lain. Tempatnya adalah berada dalam pelukanku. "Apa Macaroon akan benar-benar dijodohkan?" "Iya. Itu yang aku dengar. Mereka akan datang besok siang dengan menggunakan kereta api dan Mr. Harrington akan menjemputnya di stasiun. Aku ingin melihat kalian bersama-sama. Jika Anda benar-benar mencintainya, datanglah besok dan jangan perjodohan itu terjadi." Di luar langit sudah sangat gelap. Peternakan sudah sepi dan Hansel datang membawa tambahan beberapa lilin untuk menambah penerangan. "Aku harus pergi. Ini sudah malam." "Sebaiknya Anda menginap di sini saja. Besok pagi Hansel akan mengantarmu pulang." Helina kembali terlihat ragu. "Baiklah, tapi mereka akan mengkhawatirkanku, aku pergi tanpa memberitahu mereka." "Besok pagi saja kamu menjelaskan pada mereka." Helina mengangguk setuju. Hansel mengantar Helina ke kamarnya yang berada di sisi lain rumah utama dimana aku tinggal sekarang. Besok harinya, Hansel mengetuk pintu kamar dengan sangat keras. "Ada apa?"tanyaku kesal dengan mata yang masih mengantuk. "Helina tidak ada di kamarnya." "Tidak ada?" "Sepertinya dia sudah pergi semalam." "Ini tidak mungkin." "Apa dia sudah pulang ke rumah keluarga Harrington?" "Itu mungkin saja. Sebentar lagi aku akan ke sana." "Baiklah. Sarapan pagi Anda sudah siap." "Terima kasih." Setelah sarapan pagi, aku pergi ke rumah Macaroon dan suasana rumah Macaroon masih terlihat sepi. Tamu yang mereka tunggu mungkin belum datang. Aku masuk ke rumah dengan terburu-buru. Di ruang tamu, aku melihat Macaroon yang sudah berdandan rapih dan terlihat sangat cantik. Seketika aku semakin terpesona kepadanya. Aku belum pernah melihat Macaroon berdandan secantik ini apa lagi memakai gaun yang sangat bagus. "Chris." Macaroon memanggilku. Suaranya yang entah bagaimana hari ini terdengar sangat merdu di telingaku." Suasana rumah masih sepi. Itu artinya tamu yang ditunggu mereka belum datang. Macaroon datang menghampiriku. "Ada apa? Sepertinya kamu datang terburu-buru ke sini?" "Aku ingin bicara denganmu. Apa kita bisa bicara berdua saja?" "Tapi aku sedang menunggu tamu." Macaroon melirik ibunya meminta persetujuan. "Pergilah! Biar Ibu saja yang menyambut kedatangan mereka." Macaroon mengangguk dan pergi bersamaku ke halaman belakang. "Maaf aku datang tiba-tiba seperti ini." Macaroon menyunggingkan senyumannya dan aku selalu suka dengan senyumannya itu yang membuat hatiku terasa hangat. Sepertinya aku memang tidak sanggup jauh-jauh darinya. "Bukannya kamu selalu datang tiba-tiba ke sini?" "Kamu benar." "Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Kami duduk di bangku kayu di bawah pohon apel di dekat gudang. Ini memang bukan tempat yang romantis untuk berduaan, tapi bagiku asal bersama Macaroon, dimana pun akan menjadi tempat yang romantis termasuk di kandang ayam tempat pertama kali kami bertemu. "Hari ini kamu sangat cantik." Macaroon terlihat malu-malu. "Apa datang ke sini hanya untuk mengatak ini?" "Bukan itu, tapi itu juga." Aku tersenyum lebar. "Seharusnya aku menemui kemarin, tapi ada urusan yang aku kerjakan, jadi aku tidak sempat datang ke sini dan baru hari ini aku bisa datang." "Tidak apa-apa jika kamu tidak jadi datang." "Yang ingin aku bicarakan denganmu adalah aku ingin kamu tidak menerima perjodohan ini." "Perjodohan apa?" Macaroon sangat terkejut dan bingung. "Sebenarnya kemarin sore Helina datang ke peternakannku." "Helina?" "Iya. Helina, pelayan di rumahmu." "Tapi kenapa dia menemuimu kemarin sore? Ah pantas saja kemarin sore Helina sempat menghilang. Aku tidak bisa menemukannya di mana pun di sini, jadi pergi menemuimu?" "Iya. Dia bilang pergi secara diam-diam dan tidak memberitahu kalian." "Kata orang tuaku, Helina pulang sekitar jam sepuluh malam dan aku saat itu sudah tertidur dan kata Helina kemarin sore dia pergi ke rumah seorang teman yang sedang sakit. Kenapa Helina berbohong pada kami?" "Aku tidak tahu. Sebaiknya kamu tanyakan saja nanti padanya." "Aku akan bertanya padanya nanti, jadi untuk apa Helina menemuimu?" "Kalau hari ini kamu akan dijodohkan." "Kenapa dia berkata seperti itu kepadamu? Kami hanya menyambut kedatangan saudara jauh Ibuku dan anaknya." "Helina secara tidak sengaja mendengar percakapan orang tuamu kemarin sore bahwa mereka menjadi memiliki rencana untuk menjodohkanmu dengan anak saudara Ibumu itu." Alis Macaroon bertaut, matanya mengerjap dan terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. Rasanya aku ingin sekali menutup mulutnya dengan menciumnya. Aku membayangkan bibir kami saling menempel dan membelai satu sama lain. Ya Tuhan rasanya saat ini aku ingin sekali menyentuh Macaroon dan merasakan kehangatan tubuhnya di tubuhku. Saat ini aku hanya bisa menahannya. "Ibu dan Ayahku tidak mungkin menjodohkanku dengan anak saudara Ibuku. Itu tidaklah mungkin. Helina mungkin salah dengar." "Sepertinya Helina tidak salah dengar." "Tapi bagaimana bisa mereka mau menjodohkanku tiba-tiba begitu saja dengan pria yang tidak aku kenal, meskipun itu pria itu anak dari saudara jauh Ibuku." "Aku tidak ingin kamu menerimanya." "Kenapa kamu tidak mau aku menerima perjodohan ini?" Aku mengembuskan napas panjang. "Karena aku tiba bisa melihatmu bersama pria lain." "Hah? Kenapa?" Macaraoon bertanya dengan tatapan polos. Aku sangat gemas padanya masa dia tidak memgerti apa maksudku. "Aku tidak ingin kamu dimiliki oleh pria lain." Macaroon menatapku. "Baiklah. Sepertinya aku sudah tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Aku cemburu jika kamu dekat dengan pria lain. Aku mencintaimu, Macaroon." Akhirnya kata cinta terucap juga dari mulutku ini. Aku sudah membutuhkan keberanian besar untuk menyatakan cinta pada Macaroon. Gadis itu terdiam dan mulutnya kembali sedikit terbuka. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku membungkamnya dengan mulutku dan selama beberapa detik bibirku menempel di bibirnya yang mungil. Bibirku mulai membelai bibirnya dan membujuknya untuk membuka. Tidak disangka Macaroon membalas ciumanku dan membuka mulutnya. Kami saling mencecap satu sama lain dan bibir kami saling memagut. Tanganku yang bebas memeluk pinggang Macaroon dan merapatkannya pada tubuhku. Suara erangan demi erangan keluar dari mulut kami. Kami melepaskan ciuman kami dan napas kami terengah-engah. Macaroon menatapku malu-malu. "Aku mencintaimu,"bisikku di telinganya. "Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu menolakku?" "Maafkan aku! Saat itu aku tidak ingin membuatmu tersakiti, tapi sekarang aku akan selalu melindungimu. Aku mohon jangan menikah dengan pria lain." Macaroon tertawa. "Aku tidak akan menikah dengan pria yang tidak aku cintai." Aku tersenyum dan senang mendengarnya. "Terima kasih. Jadi apa sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih?" "Jika itu yang kamu inginkan, baiklah." Aku mengenggam tangan Macaroon dengan erat, lalu nenciumnya. "Aku harus segera masuk ke dalam mungkin mereka sudah datang." Aku mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN