Kesepakatan Raja manusia, Raja pegasus, dan Alicorn

2476 Kata
Macaroon Rasanya aku ingin sekali menari-nari saat ini juga ketika Chris menyatakan cintanya padaku. Aku masih merasa ini seperti mimpi dan jika ini mimpi aku tidak ingin bangun. Aku juga masih tidak percaya kalau kami sekarang sudah menjadi sepasang kekasih. Kami berjalan menuju rumah sambil bergandengan tangan. Rasanya aku ingin menjerit karena terlalu gembira. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Kami masuk melalui pintu dapur. Di atas meja sudah banyak tersedia hidangan untuk makan siang dan meja satunya lagi banyak sekali macam-macam kue. Aku mendengar suara percakapan dibagian depan rumah dan tamu keluarga sudah tiba. Mereka melihat kedatanganku dan Chris. Aku cepat-cepat melepas genggaman tangan Chris. Di samping ibu ada seorang wanita yang seumuran dengan ibu dan kesan pertama yang aku lihat, wanita itu terlihat ramah dan keibuan. Aku merasa lega, dia bukan wanita galak dan dingin. Wanita itu tersenyum saat melihatku. "Ini pasti putri kalian, Macaroon." "Benar,"jawab ibuku. "Macaroon, perkenalkan ini Hilda Lightbearer, Kakak sepupu Ibu dan ini putranya, Garren Lightbearer." Aku baru melihat seorang pemuda yang duduk dekat ayahnya. Pria itu terlihat ramah, memiliki rambut coklat, dan mata coklat sama seperti ibunya. Tubuhnya juga cukup tinggi dan wajahnya tampan, tapi bagiku Chris lebih tampan. "Senang bertemu denganmu, Macaroon." Aku bersalaman dengan Garren dan genggaman tangan pria itu sangat erat sampai Chris berdeham cukup keras. Mereka melihat ke arah Chris dan sepertinya mereka baru menyadari keberadaannya di sana. Ayah cepat-cepat memperkenalkan Chris pada Hilda dan Garren. "Ini Christophen Lutherford, teman Macaroon yang sedang datang berkunjung." Aku ingin sekali memberitahu pada mereka kalau Chris bukan temannya lagi, tapi kekasihnya. "Sebaiknya aku pulang dulu. Permisi!"kata Chris. Aku cepat-cepat menahannya supaya tidaj pergi terburu-buru. "Tunggu Chris! Bagaimana kalau kamu gabung bersama kita saja di sini untuk makan siang? Kamu sudah datang ke sini, jadi sekalian kita makan siang bersama." Aku meminta persetujuan orang tuaku. "Kenapa tidak? Chris bergabunglah dengan kami untuk makan siang!"kata ayah. "Kalau begitu aku menerima undangan kalian." Aku senang. Chris akan tinggal lebih lama lagi denganku di sini. "Macaroon, ayo bantu Ibu menyiapkan meja makan!" Aku pergi bersama ibu ke dapur dan meletakkan peralatan makan di meja. "Apa yang terjadi diantara kalian berdua?" "Apanya?" "Tentu saja antara kamu dan Chris." "Ah ya itu. Aku dan Chris sudah resmi menjadi sepasang kekasih." "Apa?!"seru ibuku terkejut. Ibu menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Bukannya kamu bilang Chris menolak cintamu?" "Itu benar, tapi hari ini Chris menyatakan cintanya padaku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya." "Ini di luar dugaan. Kenapa Chris tiba-tiba berubah pikiran?" "Mungkin dia ingin bersamaku." Aku menyengir lebar. Sebenarnya aku ingin menanyakan apa benar ibu ingin menjodohkan aku dengan Garren. Jika mereka membicarakan tentang perjodohan di saat makan siang, aku merasa tidak enak pada Chris. Aku meletakkan piring di meja dan baru menyadari, aku belum melihat Helina lagi. "Helina di mana?" "Tadi sedang membersihkan gudang." Aku melihat ke arah jendela dan melihat Helina baru keluar dari sana dengan membawa ember di tangannya. Aku langsung keluar dapur. "Macaroon, kamu mau kemana?" "Aku akan segera kembali." Aku berjalan tergesa-gesa menyusul Helina yang berjalan ke belakang gudang. Dia sedang membuang air kotor di antara semak-semak dan rumput liar. Helina melihatku. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"tanya Helina yang terkejut melihatku. "Aku ingin bicara denganmu sebentar." "Kita bicaranya nanti saja. Bukannya sekarang sedang ada tamu dan sebentar lagi waktunya makan siang bersama?" "Iya. Baiklah. Kita akan bicara nanti, tapi kamu jangan menghilang lagi." "Tidak. Sebaiknya kamu juga segera makan siang." "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu." Aku pergi dan angin dingin berhembus dengan kencang. Aku terburu-terburu masuk ke dapur dan makanan sudah benar-benar siap dihidangkan. "Panggil mereka untuk makan!" Aku pergi ke ruang tamu. Mereka sedang asik mengobrol. Chris terlihat sudah akrab dengan mereka. "Makan siang sudah siap." Chris memberikan senyuman untukku yang membuat hatiku berbunga-bunga. Senyumannya sungguh menawan. Kami semua pergi ke ruang makan yang bersatu dengan dapur. Kami duduk di kursi masing-masing. Chris duduk di sebelahku. "Kamu yang memasak semua ini?"tanya Hilda pada ibu. "Iya. Aku khusus memasak semua ini untuk kalian." "Semua makanan ini terlihat sangat lezat." Ibu mulai membagi-bagi makanan pada mereka dan bibi Hilda langsung memakannya. "Ini sangat lezat." "Ini memamg sangat lezat,"timpal Garren. Ibu tersipu malu dan merasa senang masakannya dipuji oleh bibi Hilda dan Garren. Selama makan mereka tidak bicara apa pun, tapi setelah makanan mereka habis bibi Hilda mulai membuka pembicaraan lagi. "Terima kasih atas makan siang yang lezat ini. Ini luar biasanya. Kamu memang pintar memasak." "Aku setuju dengan Ibuku,"kata Garren. "Rumah kalian juga nyaman dan bagus,"kata bibi Hilda. "Kami harap kalian akan merasa nyaman tinggal di sini." "Itu sudah pasti." Mata bibi Hilda menyapu seluruh ruangan makan dan dapur. "Aku senang kalian bisa tinggal dengan sangat nyaman di sini dan hidup kalian sudah mapan. Kalian sudah mempunyai peternakan ayam petelur dan yang aku dengar telur-telur ayam kalian sudah terkenal di Grasshallow." "Itu benar. Kami sangat mensyukuri apa yang kami punya sekarang." "Aku masih ingat ketika kalian masih tinggal di Goldpoint. Kehidupan kalian sungguh memprihatinkan, tapi sekarang aku juga merasa senang melihat kehidupan kalian yang sekarang ini." "Ini semua karena bantuan darimu. Kamu sudah membantu kami." "Aku senang bantuanku dapat berguna bagi kalian." Tiba-tiba Bibi Hilda mengarahkan pandangan matanya pada Chris. "Besok pagi aku ingin minum s**u dari sapi-sapimu, Mr. Lutherford." "Aku akan membawanya untuk Anda." "Kalian beruntung memiliki tetangga tukang s**u terkenal di sini." Chris hanya tersenyum menanggapi komentar bibi Hilda. "Apa kalian berdua sepasang kekasih?"tanya bibi Hilda yang membuat kami semua terkejut. Ayah baru saja akan menjawab, tapi Chris lebih cepat. "Iya. Macaroon adalah kekasihku." Chris kembali mengenggam tanganku dan ayah terlihat sangat terkejut dan menatap kami berdua meminta penjelasan. "Wah sebentar lagi akan ada pernikahan,"kata bibi Hilda dengan suara riang. Aku dan Chris saling menatap. Ayahku tersenyum sambil melirik ke arahku. "Sayang sekali aku sedikit terlambat. Tadinya aku ingin menjodohkan Macaroon dengan Garren." "Ibu,"seru Garren yang wajahnya sudah bersemu merah. "Siapa tahu kan kalian saling menyukai, tapi sayang Macaroon sudah punya kekasih." "Jangan dengarkan Ibuku!" Chris menggenggam tanganku semakin erat. Sebenarnya topik ini yang tidak ingin kami bahas. "Sebaiknya aku mengantar kalian ke kamar untuk beristirahat,"kata Ayah. "Benar. Kami ingin beristirahat dulu." Ayah mengantar mereka berdua ke kamar. Aku dan ibu membereskan meja makan. Chris juga membantu mengangkat piring-piring kotor ke bak cuci piring, kemudian Helina masuk dapur. "Biar aku saja yang mencuci piring. Kaliam berdua bisa berjalan-jalan sebentar." Aku menatap Chris dan pria itu mengedipkan salah satu matanya. Aku mengelap tanganku dan pergi bersama Chris. Kami berjalan-jalan di halaman belakang rumah. "Apa tidak apa-apa meninggalkan peternakan terlalu lama?" "Aku sudah menyerahkannya pada Hansel, jadi tidak apa-apa." "Bagaimana dengan Elisa? Apa dia akan marah tentang hubungan baru kita?" "Kenapa dia harus marah, dia akan segera tahu tentamg kita nanti aku akan memberitahunya." "Kadang aku merasa bersalah telah merebutmu dari Elisa." "Kamu tidak merebutku dari siapa pun karena aku bukan milik siapa pun sebelum aku menjadi milikmu." Chris tersenyum jahil padaku dan menatapku begitu dekat sehingga aku bisa merasakan hangat napasnya di wajahku. Kami berjalan lagi tanpa bicara, lalu kami duduk di bangku kayu di depan gudang berhadapan langsung dengan dapur. Aku bisa melihat ibu dan Helina di sana. "Sepertinya aku berterima kasih padanya,"kata Chris. "Apa?" "Pada Helina. Jika bukan karena dia mungkin aku akan kehilanganmu dan sudah dijodohkan dengan Garren." Aku melihat ke arah dapur dan menatap Helina dari kejauhan. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Helina saat ini. Apa yang dikatakan Chris memang benar, karena Helina, Chris menjadi kekasihku. Wajahku kembali terasa hangat tiap kali ingat itu. "Jika aku sudah pulang nanti, kamu jangan terlalu dekat dengannya dan sering-sering berduaan dengannya." Aku menahan senyum. "Apa kamu cemburu?" "Wajar kalau aku cemburu." "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku. Selama ini aku sudah melakukannya." "Aku percaya kepadamu." "Sebaiknya aku pulang sekarang. Besok jika ada waktu aku akan menemuimu lagi." "Iya. Pergilah!" Sebelum pergi Chris mencium pipiku. Aku terkejut Chris melakukannya. Senyuman jahil mengembang di wajahnya yang tampan. Dia pergi, lalu dia menoleh ke belakang dan melakukan ciuman jarak jauh. Aku memandangi kepergiannya. Sebenarnya aku sedih Chris pergi. Aku ingin dia tinggal lebih lama, tapi apa boleh buat, Chris mempunyai kesibukannya sendiri. Dia tidak mungkin akan terus bersamaku selama dua empat jam. Setelah sosoknya menghilang dari pandanganku, aku kembali masuk ke rumah. Di dapur hanya ada Helina yang sedang mengelap piring. "Ibu mana?" "Mungkin ada di depan. Apa Mr. Lutherford sudah pulang?" "Iya. Baru saja. Aku ingin bicara denganmu." "Tentu." "Tidak di sini. Bagaimana kalau kita bicara di kamarku saja?" "Sebentar lagi aku akan ke sana setelah selesai mengelap semua piring ini." "Aku akan menunggumu." Aku naik ke lantai dua dan masuk ke kamar. Aku duduk di depan meja rias sambil memandangi wajahku. Aku hampir tidak mengenali wajahku yang sekarang, karena aku jarang merias wajahku. Aku menyisir rambutku dan ketukan keras di pintu terdengar. "Masuk!" Helina muncul dibalik pintu, lalu masuk. Aku berdiri dan kami duduk di pinggir tempat tidur. "Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" "Kenapa kamu berbohong padaku?" "Soal apa?" Helina balik bertanya. "Soal kejadian kemarin. Kamu memgatakan kamu pergi ke rumah teman yang sakit, tapi nyatanya kamu pergi menemui Chris dan memberitahu dia bahwa aku akan dijodohkan dengan Garren." Helina nampak merasa bersalah. "Aku tidak akan marah, jika kamu mau menjelaskannya padaku. Aku tahu mungkin kamu melakukannya, karena alasan tertentu." "Maafkan aku! Seharusnya aku tidak berbohong dan memberitahu yang sebenarnya. Aku berpikir kamu akan segera mengetahuinya dari Mr. Lutherford." "Apa yang membuat mendorongmu menemui Chris diam-diam?" "Aku tidak ingin kamu dijodohkan dengan Garren dan hidup tidak bahagia. Aku ingin melihatmu bahagia dan kebahagiaan itu ada di tangan Mr. Lutherford. Aku hanya ingin membantumu. Iti saja." "Aku mengerti dengan niat baikmu itu hanya saja aku tak menyangka, kamu akan menemui Chris." "Aku memintanya untuk membatalkan perjodohan ini dan membujuknya untuk datang." "Apa mendengar pembicaraan orang tuaku tentang perjodohan itu?" "Iya. Mereka memiliki niat itu, tapi lihatlah kalian sekarang! Kamu dan Mr. Lutherford sekarang sudah bersama." "Ya. Itu karena dirimu. Sepertinya aku harus berterima kasih padamu." Helina tersenyum. "Aku melakukannya karena aku ingin melihat kalian berdua bahagia sebelum aku pergi." "Apa maksudmu pergi?" "Sudah lupakan saja apa yang aku katakan." Helina berdiri. "Aku harus kembali bekerja." Helina keluar kamar tanpa menjelaskan apa pun lagi. Pintu kamar tertutup. "Ada apa dengannya? Aneh sekali." Aku mengambil rajutan di atas kursi goyang, lalu duduk di atasnya. Kali ini aku bertambah semangat untuk segera menyelesaikan rajutanku ini agar aku segera memberikannya pada Chris. Saat aku sedang asik merajut, tiba rasa kantuk yang berat itu kembali muncul. Beberapa kali aku menguap dan dalam hitungan detik aku tertidur. Aku kemudian terbangun di depan rumah kayu yang dikelilingi oleh taman bunga yang sama seperti sebelumnya. Harum bunga menusuk hidungku. Di sana sepi. Aku menyentuh tubuhku dan tubuhku terasa padat. "Aku bukan hantu. Syukurlah!" Aku mencari-mencari keberadaan pegasus dan berjalan-jalan di sekitar taman bunga. Udara terasa begitu sangat segar. Angin sepoi-sepoi berhembus. Aku mendengar suara ringkikan seekor kuda. Aku mengintip di balik semak-semak. Di lapangan hijau terbuka aku melihat dua ekor pegasus yang bermandikan cahaya matahari. Mereka begitu menawan. Aku tidak pernah bosan melihat binatang yang satu itu. Mereka memiliki kecantikan dan ketampanan yang tidak manusiawi. Aku begitu terpesona melihat para pegasus itu. Aku mengenali salah satunya, yaitu Artemion yang sedang makan rumput. Aku ingin dia melihatku ada di sini. Salah satu pegasus terbang dari sana dan Artemion sendirian di sana. Aku keluar dari semak-semak dan berjalan mengendap-endap mendekatinya. "Artemion." Aku memanggilnya dengan suara setengah berbisik. Pegasus itu menoleh dan terkejut. "Apa yang kamu lakukan di sini?" "Aku tiba-tiba berada di sini lagi." Artemion terlihat cemas melihatku. Matanya bergerak ke segala arah untyk memastikan hanya ada kami berdua di sini. "Ayo ikuti aku!" Aku mengikutinya dan aku tidak tahu kemana Artemion akan membawaku, tapi aku percaya padanya dia tidak akan berbuat jahat padaku. Setelah beberapa menit berjalan, kami berada di sebuah kandang yang sangat besar dan bagus. "Ini rumahku,"katanya. Aku masuk dan kandang Artemion sanhat bersih dan harum bunga. "Maaf aku tidak punya kursi." "Tidak apa-apa. Aku duduk di lantai saja." "Aku tidak ingin kamu berada di tempat terbuka. Nanti mereka akan menangkapmu." "Siapa?" "Para penjaga." "Siapa mereka?" "Tentu saja yang menjaga tempat ini. Aku memanggilnya seperti itu. Bisa dikatakan kalau kamu adalah seorang penyusup di sini." "Aku tidak bermaksud menyusup di sini." "Aku tahu." "Tempat ini sangat indah. Aku suka." "Tapi bisa berbahaya untukmu." "Teman-temanmu yang lain kemana?" "Mereka menyebar di Quicksand. Jumlah kaumku sangat banyak." "Kenapa kalian bersembunyi di sini?" "Itu demi keamanan kami. Sebenarnya dulu kami tidak perlu bersembunyi seperti ini." "Apa maksudmu?" "Baiklah aku akan sedikit bercerita. Ratusan tahun yang lalu, kaum pegasus dan alicorn sudah dikenal luas oleh kaum manusia. Kami berbaur dan hidup berdampingan bersama manusia. Kami hidup damai, tapi hubungan kami menjadi sangat buruk setelah kesepakatan dilanggar oleh manusia." "Kesepakatan apa?" "Di dalam perjanjian yang dibuat oleh Raja manusia, Raja pegasus dan alicorn membuat kesepakatan yang isinya kaum manusia tidak boleh menyakiti ataupun membunuh pegasus, jika itu terjadi hubungan mereka akan berakhir untuk selamanya. Selama ini hubungan kami saling menguntungkan. Seperti kami bisa menerbangkan kaum manusianke banyak tempat dalam waktu singkat." "Kalian dijadikan kendaraan." "Ya semacam itulah. Kami juga membantu manusia dalam berbagai macam pengobatan, tapi semua hubungan baik kami yanh sudaj dijalin selama puluhan tahun harus berakhir begitu saja, karena ulah kaum manusia yang serakah. Mereka memperbudak dan membunuh kami demi keuntungan mereka. Kaum pegasus (kuda bersayap) dan kaum Alicorn (kuda bertanduk dan bersayap) dijadikan tahanan kaum manusia dan diperjual belikan. Kami dijadikan kendaraan mereka dan sering menyiksa kami. Nasib alicorn lebih menyedihkan lagi, tanduk mereka diambil secara paksa sampai mereka mati dan dijadikan barang dagangan. Sejaj saat itu Raja pegasus dan Alicorn memutuskan hubungan dengan kaum manusia dan memilih bersembunyi di Quicksand. Tempat ini sangat dilindungi dari kaum manusia. Hampir sebagian dari kaum kami tidak percaya lagi pada manusia." "Tapi tidak semua manusia jahat." "Aku tahu itu makanya aku bicara denganmu. Kamu manusia yang baik." "Terima kasih sudah mau mempercayaiku." "Sepertinya kamu memiliki kemampuan istimewa bisa masuk ke sini tanpa diketahui oleh siapa pun." "Sebenarnya aku juga tidak tahu apa aku mempunyai kemampuan istimewa atau bukan. Aku hanya wanita biasa, anak dari seorang peternak telur ayam, tapi aku bukan hantu. Tubuhku padat." Aku berdiri dan meerapihkan rok, lalu aku mendekati Artemion. "Kamu bisa menyentuhku kalau mau." Artemion menatapku. Warna mata ungunya sangat indah. Aku seperti terhipnotis olehnya. "Aku percaya kamu bukan hantu." Aku sudah tidak tahan ingin membelai surai Artemion. Tanpa sadar aku sudah membelainya dan Artemion tidak keberatan dengan hal itu. Sepertinya dia suka aku membelai surainya. "Bagaimana kalau aku mengajakmu berkeliling Quicksand?" "Itu sangat menarik, tapi apa tidak apa-apa?" "Aku rasa tidak apa-apa." Bagaimana kalau para penjaga itu mengetahuinya?" "Aku rasa mereka tidak akan tahu, karena jam segini mereka sedang beristirahat." "Baiklah. Ayo!" "Naiklah ke punggungku!" Artemion merendahkan tubuhnya dan aku naik ke punggungnya. Aku takut terjatuh, karena tidak ada tali untuk dijadikan pegangan. "Apa kamu sudah siap?" "Iya." Artemiom keluar dari kandangnya, lalu membentangkan sayapnya dan terbang. Aku berteriak karena kaget sekaligus merasa senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN