Putri tidur

2100 Kata
Christophen Sesampianya di peternakan, aku bertemu dengan Elisa dan orang tuanya. "Mereka sudah menunggu Anda,"kata Hansel. Aku segera menemui mereka di kantorku. Mereka berdiri saat melihatku, lalu duduk lagi. "Apa kalian sudah lama menungguku?" "Beberapa menit yang lalu,"jawab Elisa. "Aku tidak tahu kalian akan datang ke sini." "Tidak apa-apa. Kami datang ke sini secara mendadak." "Ada apa?" "Aku dan orang tuaku sudah menemui Andreas Grueland." "Jadi kalian sudah bertemu dengannya?" "Iya. Di rumahnya. Kami juga bertemu dengan orang tuanya, tapi ami tidak bertemu dengan istri dan anaknya." "Apa tanggapan mereka tentang kehamilanmu?" "Mereka sangat marah dan mereka tidak mengakui bayi yang sedang aku kandung ini anak Andreas. Mereka menganggap ini bayi orang lain, karena mereka menuduhku telah tidur dengan banyak pria. Mereka menyangkalnya. Aku sudah menjelaskan pada mereka kalau aku tidak tidur dengan pria mana pun sejak aku tidur dengan Andreas, tapi mereka tidak percaya." "Mereka memgusir kami,"kata Mrs. Werly. Aku memandangi orang tua Elisa yang nampak sedih. "Kami tidak tahu harus berbuat apa lagi, bahkan mereka mengancam akan memberitahu semua orang kalau Elisa sedang hamil, jika kami terus memaksa Andreas untuk bertanggung jawab,"kata Mr. Werly. "Jika sampai orang-orang tahu, kami akan diusir dan orang tuaku akan menanggung malu. Aku tidak ingin hal itu terjadi." "Baiklah. Sepertinya pria itu tidak akan memgambil tanggung jawab, meskipu kalian memohon pada mereka berkali-kali. Aku akan mengirim Elisa ke Goldpoint demi menghindari gosip yang tidak menyenangkan. Dia akan tinggal dengan aman di sana." "Bagaimana dengan orang-orang di sana melihat Elisa hamil tanpa suami?"tanya Mr. Werly. "Aku akan mengarang cerita kalau suami Elisa sudah meninggal, karena kecelakaan. Mereka akan percaya, karena mereka tidak mengenal Elisa." "Baiklah. Semuanya aku percayakan kepadamu." "Elisa bisa pergi ke Goldpoint besok pagi-pagi sekali. Aku sudah menulis telegram pada pengurus rumah di sana tentang kedatangan kalian dan mereka sudah siap mengurus Elisa." "Chris, terima kasih banyak atas bantuanmu,"kata Elisa. "Aku hanya ingin menolongmu dan itu sudah tugasku." "Kamu pria baik. Beruntung sekali wanita yang dicintaimu dan aku masih berharap kamu mau mencintaiku." "Suatu hari nanti kamu akan menemukan pria yang benar-benar mencintaimu." "Semoga saja, tapi apa boleh aku menunggumu sampai aku mencintaimu?" "Kamu jangan menungguku, karena aku sudah menemukan wanita itu." Raut wajah Elisa meenjadi sedih, tapi aku harus memberitahunya agar dia tidak selalu menyimpan harapan bahwa aku akan mencintainya suatu hari nanti. "Siapa? Apa wanita itu Macaroon?" "Iya. Macaroon." "Aku sudah menduganya. Kamu memang memiliki perasaan padanya. Aku menyadari sejak dia melihat kita bermesraan di bawah pohon apel. Kamu begitu khawatir dan pandangan matamu begitu lembut dan ada cinta di sana. Kamu belum pernah memandangku seperti itu." "Maafkan aku!" "Macaroon sungguh beruntung memiliki cintamu. Aku ingin sekali menjadi dia." "Kamu tidak akan bisa menjadi dia. Kamu harus menjadi dirimu sendiri." "Aku tahu." "Besok pagi kereta kudaku akan menjemput kalian, jadi kalian sudah harus siap untuk pergi." "Aku sudah mengemas beberapa pakaianku, karena aku sudah yakin Andreas akan menolakku." "Ada yang kamu butuhkan lagi untuk kepergianmu ke Goldpoint?" "Tidak ada. Bantuanmu sudah cukup untuk kami." "Baiklah. Jika terjadi masalah di sana, kamu tidak perlu sungkan untuk menghubungiku." "Iya. Sudah waktunya kami pergi. Entah kapan kita bisa bertemu lagi." "Jaga dirimu baik-baik!" "Iya. Kamu juga. Semoga kamu berbahagia bersama Macaroon." "Terima kasih." "Selamat tinggal!" "Selamat tinggal!" Elisa dan orang tuanya keluar meninggalkan kantorku. Aku tidak mengantar mereka sampai gerbang depan. Aku merasa sedikit lega, karena masalah Elisa sudah selesai. Sekarang aku akan fokus pada masalahku, yaitu mematahkan kutukanku. Tidak lama setelah Elisa pergi, Agenis datang dan dia langsung duduk di kursi. "Sejak pagi aku tidak melihatmu." "Aku baru saja pulang." "Aku baru saja menemui Andrea di rumahnya. Rumahnya tidak terlalu sulit ditemukan. Orang-orang di sana mengenal Andrea." "Mrs. Hauston memang sudah dikenal penduduk sini, jadi tidak akan sulit mencari rumahnya. Jadi apa reaksi Mrs. Hauston ketika melihat Anda?" "Panggil saja aku, Paman Agenis!" "Baiklah, Paman Agenis." "Andrea sangat terkejut melihatku dan hampir pingsan andai saja kamu melihatnya." Aku menahan senyum. "Lalu apa yang terjadi?" "Dia tidak jadi pingsan dan kami mengobrol banyak hal. Seperti kehidupan masa lalu kami dan sekarang." Paman Agenis terdiam sebentar, lalu ia tersenyum. "Andrea masih tetap cantik seperti dulu meskipun tahun demi tahun sudah berlalu." "Apa Paman jatuh cinta lagi padanya?" "Tidak. Sekarang aku hanya merasa kagum kepadanya." "Jika Paman menjalin hubungan lagi dengannya kurasa tidak ada masalah. Bukannya kalian berdua sama-sama sudah tidak memiliki pasangan hidup lagi." "Itu benar, tapi tidak semudah itu. Aku tidak bisa menikah dengannya. Andrea tidak mencintaiku. Sejak dulu dia hanya menganggapku sebagai teman dan akan selalu begitu. Andrea masih mencintai Ayahmu." "Dari mana Paman tahu?" "Andrea sendiri yang mengatakannya." "Ah. Aku memgerti." "Sekarang aku tahu kenapa mereka berdua berpisah." "Kenapa?" "Selama ini aku mengira mereka berpisah karena aku, tapi hal lain. Andrea memutuskan hubungan dengan Richard, karena Andrea tahu Richard akan berselingkuh dengan seorang wanita yang seorang pendatang baru di Grasshallow. Pasti kamu sudah tahu siapa wanita itu." "Ibuku." "Benar. Andrea meramal Ayahmu dan itu akan terjadi, jadi dia lebih memilih putus hubungan dengan Ayahmu." "Aku tidak tahu itu. Seharusnya Andrea tidak memutuskan hubungan dengan Ayah hanya sebuah ramalan. Ramalan itu mungkin saja bisa diubah. Kalau seperti ini bukannya penyebab perpisahan Ayah dan Andrea bukan karena perselingkuhan Ayah, tapi ramalan Andrea sendiri sehingga Ayah mencari wanita lain." "Itu mungkin saja. Semua itu sudah terjadi dan sudah berlalu. Jika Ayahmu tidak bertemu dengan Ibumu mungkin kamu tidak akan lahir. Itu yang dikatakan Andrea padaku. Semuanya sudah berkaitan dengan erat, jika dia mencoba menghentikan ramalannya, semuanya akan kacau. Takdir yang sudah tersusun tidak akan pada tempatnya." Aku mengernyit. Sejak dulu aku memang tidak mengerti tentang ramalan. Apa ramalan itu begitu penting seolah-olah takdir manusia ditentukan oleh sebuah ramalan? Bagaimana jika seseorang berusaha mengubah takdir yang telah diramalkan, apa akan terjadi kekacauan besar? Dan yang jelas aku tidak ingin kutukan diriku bisa menghancurkan Harsengard. Aku akan mengubah ramalan masa depanku ke jalan yang berbeda. "Besok pagi aku akan pulang ke Greenhallow." "Aku kira Paman akan tinggal lebih lama di sini." "Andai saja bisa, tapi nanti siapa yang akan memgurus perkebunan. Kapan-kapan aku bisa datang lagi ke sini. Mungkin pada hari pernikahanmu." Agenis tersenyum lebar. "Mungkin pernikahanku masih lama." "Jangan terlalu lama melajang, cepatlah menikah!" "Aku juga menginginkan hal itu." "Baiklah. Aku mau beristirahat dulu." Agenis berdiri, lalu meninggalkanku sendirian. Aku memikirkan kata-kata Agenis untuk cepat menikah. Andai saja aku bukan pangeran yang dikutuk mungkin aku sudah melamar Macaroon untuk segera menikah denganku. Sekarang aku harus mencari waktu untuk pergi Graymoor, karena waktu yang aku punya sudah semakin sedikit dan aku harus mencari alasan yang tepat untuk memberitahu Macaroon atas kepergianku yang mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Angin tiba-tiba berhembus masuk dan aku kembali dikagetkan oleh kedatangan Helina. "Kamu?" "Selamat sore, Mr. Lutherford!" "Sejak kapan kamu berada di sini?" "Aku baru saja datang." Aku menatap bingung Helina, karena aku tidak mendengar wanita itu datang. "Ada apa kamu datang ke sini?" "Maaf jika kedatanganku sudah menganggu waktu Anda." "Tidak apa-apa. Katakan saja ada apa?" "Terjadi masalah." "Masalah apa?" Helina tidak langsung menjawabnya dan hal itu membuatku semakin gelisah. "Macaroon." "Ada apa dengan Macaroon?" Aku sudah mulai khawatir dan berpikiran macam-macam. "Kami tidak bisa membangunkan Macaroon." "Apa maksudmu?" "Macaroon tertidur di kursi goyangnya dan aku disuruh membangunkan Macaroon oleh Ibunya untuk menemani Mrs dan Mr. Lightbearer jalan-jalan di sekitar rumah, tapi Macaroon susah untuk dibangunkan. Biasanya tidak seperti ini. Macaroon selalu mudah untuk dibangunkan. Aku sudah meminta bantuan orang-orang di rumah, tapi mereka tetap tidak bisa membangunkannya. Seolah-olah Macaroon jatuh dalam tidur yang sangat nyenyak." "Macaroon baik-baik saja saat aku tinggalkan." "Macaroon memang baik-baik saja. Mr. Harrington tadi memanggil dokter. Kami benar-benar sangat mencemaskan keadaannya. Aku teringat oleh Anda dan Anda berhak tahu keadaan Macaroon." "Tindakanmu sudah benar datang padaku dan memberitahuku." Sekarang aku sudah benar-benar cemas dengan keadaan Macaroonku. Kami baru saja menjadi sepasang kekasih dan aku belum siap kehilangan Macaroon. Jika itu terjadi mungkin kewarasanku akan hilang. "Aku akan ke sana. Kita pergi ke sana sama-sama." "Baiklah." Aku memanggil Hansel dan menjelaskan apa yang terjadi pada Macaroon. "Anda bisa pergi, saya yang akan menjaga peternakan ini. Semoga Nona Macaroon baik-baik saja." Aku mengangguk. "Aku pergi." Aku naik kuda dan Helina duduk di belakang. Aku terus memacu kudaku agar cepat sampai. Perasaanku masih gelisah takut terjadi hal yang buruk pada Macaroon. Rumah keluarga Harrington sudah terlihat dan kami pun sampai. Aku turun dari kuda terlebih dahulu dan membantu Helina turun. Aku cepat-cepat masuk tanpa mengetuk pintu atau pun membunyikan bel. "Macaroon ada di kamarnya,"kata Helina. Alu segera naik ke lantai dua dengan tergesa-gesa. Di depan kamar Macaroon sudah ada banyak orang. Mereka terkejut melihat kedatanganku. "Chris,"seru ayahnya Macaroon. "Bagaimana kamu bisa ada di sini?"tanya ayahnya Macaroon. Aku melihat bibinya Macaroon dan Garren sedan duduk di kursi di depan kamar Macaroon. "Aku baru saja diberitahu oleh Helina tentang apa yang terjadi pada Macaroon. Bagaimana keadaan Macaroon?" "Sekarang dokter sedang memeriksanya. Istriku juga ada di dalam menemani Macaroon." "Sebenarnya apa yang terjadi?" "Kami juga tidak tahu. Macaroon jarang sakit keras. Biasanya dia hanya sakit alergi melihat orang bermesraan." "Semoga keponakanku baik-baik saja,"kata Hilda. "Maaf harus terjadi seperti ini di hari kedatangan kalian,"kata ayahnya Macaroon. "Apa yang terjadi sekarang kita tidak menduganya sama sekali, jadi kami bisa mengerti." "Kenapa dokter lama sekali memeriksanya,"kata Chris. "Sabarlah! Kami semua juga sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter." Pintu kamar Macaroon terbuka dan dokter keluar dari kamar. Kami langsung mendekati dokter. "Bagaimana keadaan Macaroon?"tanya ayahnya Macaroon. "Macaroon sakit apa?"tanyaku. "Macaroon sebenarnya baik-baik saja. Dia sama sekali tidak sakit." "Tapi kenapa Macaroon tidur terus?"tanya ayah Macaroon lagi. "Itulah yang aneh. Aku pun tidak mengerti. Aku sudah memeriksanya beberapa kali, tapi Macaroon tidak sakit." Aku masuk ke kamar dan melihat Macaroon yang sedang terbaring. Ibunya Macaroon sedang duduk di kursi di dekat tempat tidur. Dia menatap Macaroon dengan pandangan sedih sambil membelai kepala putrinya. "Macaroon, ini Ibu. Cepatlah bangun! Jangan membuat Ibu cemas begini." Mereka satu persatu masuk ke kamar untuk melihat keadaan Macaroon. Aku duduk di pinggir tempat tidur dan menggenggam tangannya. Hatiku terasa sakit melihat Macaroon yang tertidur seperti orang yang sudah meninggal. Mataku berkaca-kaca dan genangan air mata sudah menumpuk di kedua mataku. Aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata. "Macaroon akan baik-baik saja,"kata Hilda. Ibunya Macaroon mendekatiku dengan tatapan sedih. "Bicaralah padanya supaya bangun! Jika kamu yang bicara pasti dia akan mendengarmu." "Baiklah. Aku akan bicara dengannya." Mereka semua meninggalkam aku dan Macaroon sendirian di kamar. Aku duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh ibunya Macaroon. Aku menggenggam tangan Macaroon. "Macaroon, apa kamu mendengarku? Jika kamu mendengarku cepatlah kembali. Semua orang di sini sedang mengkhawatirkanmu termasuk diriku. Aku mohon bangunlah! Kamu jangan seperti ini. Ini membuatku sangat sedih." Sejenak aku memandang keluar jendela. "Macaroon, aku tahu kamu masih ada di sana, jadi cepatlah bangun, Sayang! Apa kamu tidak merindukanku? Kalau aku sudah merindukanmu, meskipun kita baru saja bertemu." Aku mengecup keningnya dengan semua perasaan cinta yang kumiliki, lalu aku mencium punggung tangannya berkali-kali, berharap Macaroon segera bangun. "Apa kamu ingin menjadi seorang putri tidur? Saat ini kamu memang seorang putri tidur yang cantik." Aku pernah membaca dongeng putri tidur dan sang Putri akan terbangun dari ciuman sang Pangeran. Apa aku harus melakukannya juga? Tanpa pikir panjang, aku mencium bibirnya agak lama, tapi Macaroon tidak terbangun juga. Ternyata itu hanyalah dongeng yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Hari demi hari berlalu, Macaroon tidak kunjung bangun juga. Setiap hari aku selalu menemaninya, menunggu Macaroon terbangun dari tidur panjangnya. Tiga hari telah berlalu, tapi belum ada tanda-tanda Macaroon akan bangun. "Macaroon, aku mencintaimu. Jadi cepatlah bangun! Kamu tega membuatku dan keluargamu sedih. Apa kamu tahu Ibumu menangisimu setiap hari? Sebenarnya kamu sedang bermimpi apa sampai kamu tidak ingin bangun?" Aku membelai-belai kepalanya dengan sayang dan aku menciumi pipinya berkali-kali. "Bangunlah, Sayang!" Aku terus mengucapkan itu berkali-kali berharap dia akan mendengarku sekali saja. "Jika kamu bangun, aku akan mengajakmu keliling kota dan kita main sepuasnya dan aku akan membelikanmu coklat yang banyak." Tiba-tiba aku merasakan gerakan jari Macaroon di tanganku. Aku kembali memperhatikan jari-jemarinya dan aku tidak salah lihat jarinya telunjuknya bergerak. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, karena tidak percaya apa yang aku lihat. "Macaroon. Macaroon." Aku kembali memanggilnya. Jarinya telunjuknya kembali bergerak. Aku segera keluar kamar mencari orang tua Macaroon dan memberitahu apa yang aku lihat tadi. Mereka berada di dapur. "Mr dan Mrs. Harrington, Macaroon baru saja menggerakkan jarinya." Mereka terkejut dan sangat antusias. "Apa kamu yakin?" "Iya." Mereka segera naik ke lantai dua. Mrs. Harrington langsung mendekati Macaroon begitu masuk ke kamarnya. "Macaroon, ini Ibu. Ayahmu juga ada di sini. Apa kamu bisa mendengar Ibu?" "Lihat jarinya bergerak!"seru Mr. Harrington. "Macaroon, bangunlah! Ini Ayah." Mereka berdua menangis dan aku pun jadi ikut meneteskan air mata. "Sepertinya masih ada harapan Macaroon akan bangun,"kata Mr. Harrington.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN