Macaroon
Sayap Artemion yang kuat seakan mencengkeram udara. Aku tidak hanya merasakan gerakan otot di bawah tubuhnya, tapi juga hembusan angin ketika sayap Artemion mengepak. Seiring tiap kepakan perlahan-lahan mereka meninggalkan permukaan tanah. Naik-turun, naik-turun. Kami kini mengudara semakim tinggi. Hembusan angin begitu kuat menerpa tubuhku. Jantungku seketika mencelos ketika aku sudah berada diketinggian yang sangat tinggi. Saat aku mencoba melihat ke bawah, aku bisa melihat seluruh Quicksand dari atas. Tempat itu sangat hijau dan indah.
Aku begitu senang bisa merasakan terbang. Ini pertama kalinya bagiku. Artemion terus mengudara berkeliling di sekitar atas Quicksand.
"Ini luar biasa,"teriakku.
Aku merasakan usaha Artemion untuk membawaku di punggungnya. Aku memeluk lehernya. Tubuh Artemion terasa tegang karena bekerja keras. Otot paha dan perutku sepertinya tahu cara menjaga keseimbangan dengan sempurna di atas punggung Artemion. Seolah-olah aku pernah naik pegasus sebelumnya. Ketika Artemion berbelok dan menukik, aku semakin merapatkan tubuhku seolah menyatu dengan Artemion.
Artemion terbang kian tinggi, berputar-putar terus ke atas bagaikan gasing. Di bawah sana aku melihat istana menjulang tinggi diantara rimbunnya pepohonan dan di halam istana ada banyak pegasus.
"Istana siapa itu?"
"Itu istana Earlton. Di mana keluarga kerajaan pegasus tinggal. Tidak semua pegasus bisa datang ke sana. Istana Earlton sangat dijaga ketat."
Selagi semua berkelebat di bawah sayap Artemion, aku bisa melihat jauh ke depan. Di sana ada taman kota, bangunan berderet-deret, hutan. Begitu Artemion berbelok lagi, aku melihat istana lagi, kali ini agak kecil. Di halaman istana ada banyak pegasus tapi memiliki tanduk.
"Itu istana Calbridge. Tempat tinggal keluarga kerajaan Alicorn. Sekarang kita sudah berada di wiliyah Alicorn."
Artemion tidak terbang lebih tinggi lagi. Dia berbelok kembali. Tidak terasa hari akan mulai gelap. Warna jingga sudah mewarnai seluruh langit.
"Kita harus segera kembali sebelum penjaga melihat kita berdua."
Aku merasakan lecutan angin dan surai Artemion. Kami terbang sebentar melewati perkebunan, peternakan, dan desa-desa. Aku tidak tahu apa desa-desa itu dihuni oleh pegasus dan Alicorn atau tidak. Aku tidak melihat seorang manusia pun di sana. Mungkin manusia benar-benar dilarang masuk ke sini.
Artemion mulai menukik turun. Tanah menyongsong mereka. Sayap lebar terangkat serta melengkung. Keempat kaki Artemion menyentuh tanah dan mendarat dengan mulus. Aku segera turun dari punggungnya dan aku berdiri sempoyongan setelah terbang cukup lama.
"Apa kamu baik-baik saja?"tanya Artemion yang nampak cemas.
Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja. Terima kasih. Ini pangalaman yang paling menarik dalam hidupku."
"Sama-sama."
Aku memghampiri Artemion lebih dekat lagi dan dirangkulkannya lenganku ke leher Artemion sembari menyandarkan wajah ke bahunya yang masih panas berkeringat. Aku merasakan hidung Artemion di rambutnya dan menarik-narik rambutku dengan lembut. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah sebentuk ungkapan sayang kaum pegasus, seperti kecupan ala manusia.
"Sebaiknya kamu segera kembali."
"Sebenarnya aku masih ingin tinggal di sini."
"Tempat ini bukan tempat yang aman untukmu saat ini."
"Baiklah. Aku akan pulang. Sampai jumpa!"
"Kamu tidak akan pulang kemana pun,"kata suara berat dari arah belakang mereka.
Aku dan Artemion terkejut melihat seorang pria tinggi berjubah merah yang sedang menatap marah pada kami. Aku tidak salah lihat di depanku adalah seorang manusia, jadi bagaimana mungkin ada manusia di sini.
"Agatelos, aku mohon jangan marah dulu pada kami."
"Diam kau, Artemion. Wanita manusia ini sudah melanggar masuk ke sini, jadi dia harus dihukum." Suaranya begitu tegas dan menakutkan
Tubuhku sampai merinding ketakutan.
"Macaroon adalah temanku. Dia bukan manuska jahat. Aku mohon jangan hukum dia, hukum saja aku."
"Tentu saja aku akan menghukummu, karena kamu sudah membiarkan manusia ini ada di sini."
Tiba-tiba saja seluruh tubuhku tidak bisa bergerak seolah ada banyak tali yang mengikat tubuhku.
"Aku mohon jangan sakiti Macaroon. Dia tidak jahat."
"Pelanggaran tetaplah pelanggaran. Manusia yang datang ke sini tanpa izin harus dihukum."
Aku berusaha untuk bergerak, tapi tidak bisa.
"Hei lepaskan aku! Dan siapa kamu? Bukannya kamu juga manusia?"
"Macaroon sebaiknya kamu diam saja,"kata Artemion.
"Aku hanya ingin tahu siapa dia."
"Dia Agatelos, salah satu penjaga di Graymoor dan dia salah satu yang menjaga wilayah Quicksand dan sekitarnya,"ujar Artemion.
"Jadi dia adalah penjaga yang kamu maksud itu?"
"Iya."
"Aku kira penjaganya seekor pegasus juga ternyata manusia."
"Dia bukan manusia biasa. Dia adalah penyihir."
Ini pertama kalinya aku melihat penyihir tidak seseram yang digambarkan dan dibicarakan oleh orang-orang, jika para penyihir itu memiliki bintil-bintil di kulitnya, hidungnya bengkok, matanya besar seperti bola ping pong menonjol keluar, dan kuku-kukunya yang panjang. Penyihir yang aku lihat sekarang seperti manusia pada umumnya.
Penyihir itu menggerakkan jari telunjuknya ke arahku dan aku melesat terbang ke arahnya. Sekarang aku tepat berada di depannya dan jaraknya pun sangat dekat.
"Hei manusia seharusnya kamu tidak datang ke sini."
"Aku punya nama. Namaku, Macaroon."
"Aku tidak peduli siapa namamu. Kamu harus ikut denganku."
"Bukannya aku tidak mau ikut denganmu, tapi aku harus segera pulang. Keluargaku pasti akan sangat mengkhawatirkanku."
"Seharusnya kamu tidak main terlalu jauh."
"Aku juga tidak tahu kenapa aku datang ke tempat ini. Ini memang kedengarannya gila, tapi aku merasa ada ikatan dengan tempat ini. Aku bukan orang jahat. Aku hanya bermain sebentar di sini."
"Apa pun alasanmu kamu tetap masuk tanpa izin dan itu suatu pelanggaran."
Penyihir itu berjalan di depan dan aku melayangbdi udara seoalah ada tali yang menarikku.
"Dan kau, Artemion, kamu juga ikut,"kata sang Penyihir.
Artemion berjalan di belakangku. Aku tidak tahu kemana aku dibawa pergi. Setelah beberapa menit berjalan, aku melihat ada sebuah bangunan kuno berlantai empat. Di sana ada beberapa seperti Agatelo. Mereka semua melihatbke arahku dan juga Artemion. Mereka berbisik-bisik tentang diriku. Sebentar lagi gosip akan menyebar tentang seorang manusia yang berhasil menyusup masuk. Kami masuk ke dalam bangunan dan suasana di dalam sama dengan di luar. Mereka semua membicarakanku. Huh menyebalkan.
Agatelos membuka sebuah pintu kayu menjulang tinggi. Kami masuk dan pintu tertutup dengan keras di belakang Artemion. Di dalam ruangan terdapat meja kayu panjang yang berada di tengah-tengah ruangan dan jendela berjejer di tembok. Agatelos menurunkanku dan tubuhku bisa bergerak lagi.
"Duduk!"perintahnya.
Aku duduk sambil melihat-lihat. Ruangan itu tidak banyak perabotan hanya ada beberapa rak buku dan beberapa meja kecil. Penyihir itu pergi ke sisi lain ruangan.
"Hei Artemion, kira-kira aku akan dihukum seperti apa?"
"Biasanya di penjara."
"Apa?" Aku berteriak dengan sangat keras.
"Pelankan suarami! Jangan berisik!"
"Aku tidak ingin di penjara. Aku harus kembali ke rumah."
"Kamu bisa pulang, jika Agatelos membebaskanmu."
"Apa aku akan di penjara selamanya?"
Aku sudah sangat khawatir tidak akan pernah pulang lagi.
"Aku tidak tahu. Maaf."
"Jangan sampai aku dihukum mati, karena aku tidak ingin mati dulu. Aku ingin menikah dengan Chris."
"Siapa Chris?"
"Kekasihku."
"Jadi kamu sudah punya kekasih. Tadinya aku ingin menjadikanmu sebagai kekasih manusiaku."
Aku menatap Artemion. "Jangan bicara ngawur! Manusia dan pegasus tidak bisa menjadi kekasih. Itu sangatlah tidak mungkin."
"Kenapa tidak?"
"Apa maksudmu?"
"Asal kamu tahu saja. Ada seekor pegasus yang menikah dengan manusia dan mereka memiliki seorang anak."
"Benarkah. Aku baru tahu ada hal seperti itu. Aku tidak bisa membayangkannya, lalu apa yang terjadi pada mereka?"
"Hubungan mereka sangat terlarang."
"Tentu saja terlarang. Manusia dan pegasus adalah dua makhluk berbeda."
"Itu benar, tapi mereka saling mencintai."
"Apa mereka hidup bahagia?"
"Aku tidak tahu. Mereka diusir dari Quicksand ke dunia manusia tinggal."
"Pasti mereka merasa tidak nyaman tinggal di mana manusia tinggal, karena ada seekor pegasus."
"Sebenarnya pegasus bisa merubah dirinya menjadi manusia."
Aku terkejut mendengarnya.
"Itu tidak mungkin."
"Itu mungkin saja. Pegasus yang memiliki kekuatan sihir yang sangat kuat bisa merubah bentuk wujud mereka dalam bentuk manusia."
"Bagaimana denganmu?
"Aku bisa."
"Aku ingin melihatnya."
"Aku akan menunjukannya padamu."
Tubuh Artemion diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan dan ketika cahaya itu pudar, Artemion sudah dalam wujud manusia yang sangat tampan. Aku sempat terpesona oleh ketampanannya.
"Bagaimana?"
"Luar biasa. Aku aku tidak percaya ini. Kamu benar-benar menjadi manusia."
"Hanya wujudku saja yang manusia."
"Apa semua pegasus bisa melakukannya?"
"Tadi sudah aku katakan hanya pegasus yang punya kemampuan dan sihir yang kuat. Para penyihir itu yang mengajari kami untuk merubah wujud kami jadi manusia supaya kami bisa menyusup ke dunia manusia."
"Ini keren."
Artemion menyengir lebar dan merasa senang bisa menunjukkannya padaku, lalu terlintas di pikiranku, bahwa mungkin saja di antara orang-orang di dunia manusia ada beberapa pegasus yang menyamar jadi manusia.
"Lanjutkan ceritamu yang tadi tentang pegasus yang menjalin hubungan dengan manusia."
"Ah ya itu. Pegasus itu bernama Zeretrius, anak ketiga Raja Aelos. Dia sedang menyamar jadi manusia untuk membeli bibit tanaman dari para petani di sana. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita manusia dan jatuh cinta kepadanya. Secara diam-diam mereka menjalin hubungan. Akhirnya hubungan mereka diketahui. Raja pegasus, Aelos menyuruh Zeretrius membawa kekasihnya ke Quicksand dan menghadapnya.
Raja memerintahkan mereka untuk memutuskan hubungan, tapi Zeretrius menolaknya. Raja pun memberi dua pilihan pada Zeretrius. Dia tetap tinggal di Quicksand sebagai pangeran atau tinggal bersama kekasihnya dengan menanggalkan statusnya sebagai pangeran dan meninggalkan Quicksand selamanya. Kekuatan sihirnya pun dicabut dan Zeretrius tidak bisa berubah wujud lagi jadi manusia."
"Pangeran Zeretrius menjadi manusia selamanya?"
"Iya. Kami tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apa dia sudah meninggal atau masih hidup."
"Cerita yang sangat menarik."
Kami dikejutkan oleh kedatangan dua penyihir pria.
"Wah wah Artemion. Kamu merubah wujudmu jadi manusia. Apa kamu ingin pamer di depannya?"tanya Agatelos.
Artemion menyengir sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Begitulah."
Kedua penyihir itu duduk di depan Macaroon dan Artemion.
"Jadi bagaimana kamu bisa sampai di sini?"tanya penyihir yang duduk di samping Agatelos.
"Aku sebenarnya tidak tahu. Aku tiba-tiba sudah berada di sini. Beberapa saat yang lalu aku sedang berada di kamarku, lalu aku berada di sini. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi."
Kedua penyihir itu saling menatap tak percaya.
"Apa Artemion yang mengizinkan masuk ke Graymoor?"
"Bukan dia."
"Lalu siapa?"
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang mengizinkanku untuk datang ke sini. Aku sudah berada di sini begitu saja. Kalian harus percaya padaku."
"Sayangng kami tidak percaya padamu,"kata Agatelos.
Macaroon nampak sangat kesal dan samar-samar aku mendengar suara Helina yang memanggilku. Suara itu terasa jauh tapi begitu dekat.
"Apa kalian mendengar itu?"
"Apa?"tanya penyihir yang satunya lagi.
"Suara yang memanggilku. Itu suara Helina, pelayan di rumahku dan dia juga temanku."
"Kami tidak mendengar apa-apa."
"Bagaimana denganmu, Artemion?"
"Aku juga tidak mendengar apa-apa."
"Sampai kamu dibuktikan tidak bersalah, kami akan menahanmu."
"Apa?!"seruku. "Kalian tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Orang tuaku sudah menungguku."
"Sepertinya kamu harus menunda kepulanganmu."
"Aku tahu aku datang ke sini tanpa izin dan kalian menganggapku penyusup, tapi sungguh aku tidak ingin menyakiti siapa pun yang ada di sini. Aku tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya supaya kalian percaya padaku."
"Mereka tidak akan percaya tanpa ada bukti,"bisik Artemion.
Aku menatap kedua penyihir itu dengan menyingkirkan rasa takutku.
"Bagaimana aku harus membuktikannya pada kalian kalau aku tidak bersalah?"
"Kamu harus membawa saksi untuk membuktikannya."
"Aku tidak punya saksi."
"Kamu punya,"kata Artemion.
Aku menatap bingung padanya.
"Siapa?"
"Aku."
"Tapi mereka tidak percaya apa yang kamu katakan."
"Mereka akan percaya atau lambat, karena mereka akan mengorek pikiranku. Selain aku ada saksi lain."
"Siapa?"
"Para bunga di taman dan serangga-serangga di sana."
Aku melongo dan ingin tertawa. Bagaimana bisa para bunga dan serangga akan bersaksi. Mereka tidak bisa bicara.
"Yang benar saja. Jangan bercanda!"
"Nanti kamu akan melihatnya sendiri." Artemion tersenyum misterius.
"Kami akan akan memeriksa saksi-saksimu nanti dan kamu, Artemion, kenpa kamu menyembunyikan keberadaan manusia di sini?"
"Aku tahu kalian akan marah dan akan menghukum Macaroon, jadi aku diam saja, lagipula Macaroon bukan manusia jahat. Aku senang bisa bertemu dan berteman dengannya. Macaroon, teman manusia pertamaku."
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang manusia, Artemion. Mereka jahat,"ujar Agatelos.
"Tidak semua manusia jahat."
"Kamu masih muda dan polos. Kami akan memeriksamu lebih lanjut besok pagi. Malam ini kaliam berdua akan menginap di penjara."
"Aku mohon biarkan aku pulang saja."
Kali ini aku mendengar suara ibu dan ayahku yang menangis. Sepertinya hanya aku saja yang mendengar suara-suara itu.
Agatelos membawa kami berdua ke penjara yang berada di ruang bawah tanah. Di sana sangat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya obor. Aku di masukan ke sel penjara yang berbeda dengan Artemion. Pegasus itu berada di sel sebelahku. Aku tidak menyangka akan berakhir di penjara seperti ini. Untungnya penjaranya bersih. Aku sudah membayangkan penjara yang sangat kotor dan tidak layak untuk ditempati. Aku duduk di atas ranjang dan menimbulkan suara brrderit.
"Maaf!"kata Artemion.
"Ini bukan salahmu. Kita terlalu asik terbang tadi sehingga lupa waktu dan para penjaga itu sudah selesai beristirahat."
"Mereka akan segera membebaskanmu.
"Aku harap begitu. Orang tuaku sejak dari tadi memanggilku untuk segera bangun. Kasian mereka. Aku sudah membuat mereka menangis."
"Aku tidak mengerti kenapa kamu tidak cepat bangun dan kembali pulang?"
"Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa tertahan di sini. Biasanya aku akan langsung terbangun, tapi ini tidak."
"Mungkin para penjaga itu menahanmu pergi."
"Ya itu mungkin saja."
Aku tiba-tiba tersentak terkejut dan langsung brrdiri.
"Ada apa?"tanya Artemion?"
"Aku mendengar suara Chris. Dia memintaku untuk bangun dan dia terdengar sedih sekali."
Suara Chris yang memanggil namaku terngiang-ngiang di kepalaku dan aku ingin sekali terbangun dan memeluknya, lalu berkata kepadanya, bahwa aku baik-baik saja. Aku menghela napas.
"Seperti apa itu Chris?"
Aku menoleh pada Artemion.
"Eh."
"Pasti pria itu sangat istimewa sehimgga kamu mencintainya."
"Dia memamg istimewa. Dia, seorang tukang susu."
Artemion tertawa.
"Apanya yang lucu?"
"Aku kira Chris seorang pangeran ternyata hanya tukang susu."
Aku memasang wajah cemberut.
"Meskipun dia tukang s**u, tapi dia sangat baik dan perhatian."
"Andai aku menjadi Chris pasti akan dicintai olehmu."
Aku kembali mendengar suara sedih Chris memanggilku dan tanpa sadar aku menetaskan air mata, lalu cepat-cepat menghapusnya.
"Kamu tidak perlu menjadi Chris untuk disukai olehku. Sejak pertama kali kita bertemu di taman bunga, aku tahu kamu pegasus yang baik dan tidak sombong tidak seperti pegasus yang ada di mimpiku yang galak."
"Oh ya. Semua pegasus ramah-ramah."
"Tapi dalam mimpiku tidak. Aku tidak tahu apa sekarang pun disebut mimpi atau tidak, karena aku hanya bisa ke sini saat aku tertidur saja."
"Aku yakin kamu bukan manusia biasa mungkin saja kamu memiliki keturunan penyihir."
"Tidak mungkin. Keluargaku bukan penyihir. Mereka manusia biasa."
Aku langsung terdiam. Aku kan tidak tahu apa-apa tentang latar belakang hidup orang tuaku. Bisa saja mereka penyihir atau keturunan penyihir, tapi setah dipikir-pikir itu sangat tidak mungkin.
"Lalu dari mana kekuatan memisahkan tubuhmu dengan ruhmu?"
"Aku pun tidak tahu mungkin aku punya bakat."
Aku memberikan cengiran lebar pada Artemion, lalu teringat sesuatu tentang ramalanku.
"Apa kamu tahu tentang pangeran manusia yang dikutuk?"
"Tentu saja aku tahu. Semua pegasus dan Alicorn pun tahu tentang hal itu. Cerita itu sudah umum di sini. Hukuman yang diberikan Paman Zenolan sudah bagus. Mereka akan kena kutukan atas perbuatan yang mereka lakukan, karena sudah membunuh Zenolan."
Artemion terlihat menjadi kesal dan marah. Apa aku telah salah membahas hal ini?
"Paman Zenolan?"
"Dia adik sang Raja, tapi tidak termasuk kamu. Kamu manusia baik, makanya aku tidak mengusirmu dari sini."
"Terima kasih."
Aku pun menyadari sesuatu.
"Apa kamu seorang pangeran?"
Artemion kembali menyengir. "Ketahuan juga. Iya. Aku putra termuda."
"Jadi kamu benar-benar seorang pangeran Pegasus?"
Artemion hanya tersenyum lebar.
"Jika kamu seorang pangeran pegasus, kenapa para penyihir itu memenjarakanmu?"
"Karena aku sudah melanggar dan para penjaga itu berhak memberi hukuman padaku dan Ayah tidak akan marah pada mereka, karena sudah memasukanku dalam penjara."
"Tentang Pamanmu itu apa dia sudah meninggal?"
"Ya tentu saja. Dia dibunuh oleh Raja Phillipe. Dia mengambil kekuatan Paman, tapi syukurlah Paman mengutuknya terlebih dahulu sebelum dia meninggal."
"Rasanya tidal adil, jika manusia yang tidak tahu apa-apa harus menanggung kesalahan leluhurnya."
"Itu sudah resiko, tapi Pamanku sudah tahu akan ada manusia yang datang kepadanya dan mengambil kekuatannya."
"Dari mana Pamanmu tahu?"
"Karena Pamanku bisa melihat masa depan."
"Apa seperti seorang peramal?"
"Iya semacam itu. Suatu hari Paman Zenolan pernah memberitahu Ayah tentang akan adanya kelahiran manusia setengah pegasus. Aku mendengarnya saat aku masih kecil dan aku masih ingat hal itu. Apa yang dikatakan oleh Paman Zenolan waktu itu menjadi kenyataan. Kekasih manusia Zeretrius hamil."
Aku menatap Artemion.
"Pamanmu Zenolan hidup puluhan tahun lalu dan kamu sudah lahir saat itu."
"Benar. Apa ada yang salah dengan itu?"
"Seharusnya umurmu sudah tua."
"Umur pegasus lebih panjang dari manusia."
"Berapa umurmu sekarang?"
"60 tahun."
Aku terkejut dan memandangi Artemion dari dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa kamu memandangi seperti itu?"
"Kamu terlihat sangat muda dengan umur segitu, bahkan kamu terlihat lebih muda dariku."
"Umur 60 tahun bagi pegasus masih tergolong usia remaja menuju usia dewasa mungkin kalau di dunia manusia sekitar umur 18 tahun."
"Oh begitu."
Aku kembali duduk di atas ranjang. Di luar hari sudah gelap. Sekarang perutku sudah lapar.
"Sebentar lagi makan malam akan datang."
Aku berharap makan malamnya layak untuk dimakan.
"Hei Artemion, terima kasih sudah mau bercerita banyak tentang kaum kalian."
"Iya. Kamu sudah menjadi teman, meskipun aku ingin lebih dari teman."
"Oh ya kenapa kamu tidak mengubah wujudmu lagi jadi pegasus."
"Penjara ini akan sangat sempit kalau aku menjadi pegasus."
"Kamu benar juga."
Suara Chris kembali terdengar. Pasti dia sudah benar-benar putus asa dan sedih. Seseorang datang membawa makanan untuk kami. Nampan makanan diletakkan di lantai dan aku merasa lega, makanan itu masih layak dimakan. Aku segera memakannya, karena aku sudah sangat lapar. Tanpa diduga makanannya sangat lezat. Aku melihat Artemion yang sedang makan menggunakan tangannya. Bagiku itu pemandangan yang sangat ganjil. Aku sudah terbiasa melihat Artemion merumput.
Perutku sudah kenyang semoga saja malan ini aku bisa tidur nyenyak di sini.
"Suatu hari nanti aku ingin pergi ke dunia manusia dan bertemu denganmu dan keluargamu."
"Tentu saja. Kamu akan diterima di rumahku."
"Terima kasih. Sebaiknya kita tidur, karena besok pagi para penjaga itu akan menginterogasi kita lagi."
Aku terbangun sebelum matahari terbit. Di luar masih gelap. Aku menguap beberapa kali dan merenganggangkan tubuhku. Aku tidur tidak begitu nyenyak, tapi cukup untuk beristitahat. Artemion masih belum bangun. Ketika aku akan mencoba turun dari ranjang, lantai terasa sangat dingin. Aku tidak jadi turun. Aku menyandarkan kepalaku ke tembok menunggu matahari terbit. Aku ketiduran. Samar-samar aku mendengar suara Chris dan Artemion memanggilku. Aku terbangun dan aku melihat Artemion berdiri di balik jeruji besi.
"Akhirnya kamu bangun juga."
Aku masih mengumpulkan semua kesadaranku. Mataku masih mengantuk.
"Aku tadi sudah bangun dan aku ketiduran lagi."
Tidak lama kemudian, sarapan pagi datang. Artemion langsung mengambilnya. Aku oun mengambilnya. Sarapan paginya telur orak arik dan sosis. Setelah selesai makan, aku berbaring sambil menatap langit-langit penjara yang sudah agak rusak.
Aku mendengar seseorang datang lagi dan terdengar suara gemerincing kunci. Pintu penjara di buka.
"Kalian berdua keluarlah!"
Aku menatap Artemion dan pegasus itu mengangguk. Penjaga penjara yang juga seorang penyihir membawa kami ke ruangan kemarin. Aku dan Artemion duduk menunggu Agatelos. Penyihir itu kembali datang dengan temannya kemarin.
"Jadi bagaimana tidurmu di penjara?"
"Cukup nyenyak meskipun tidak senyenyak tidur di rumah."
Kalian ikut denganku!"
"Jangan ikat aku lagi dengan ikatan yang tidak terlihat. Aku janji tidak akan kabur.'
Aku lega, karena penyihir itu setuju. Entah dibawa kemana kami. Ternyata kami dibawa ke tempat pertama aku muncul. Rumah kayu yang memiliki taman bunga.
"Baiklah. Aku akan menanyai para saksi atas kedatanganmu."
Agatelos menyihir semua bunga-bunga di taman dan aku hampir terjatuh ketika mendengar suara imut dari bunga di belakangku.
"Selamat pagi semuanya!"sapa bunga itu.
"Pagi!"jawab semua bunga.
"Agatelos, ada apa membuat membuat kami bicara,"kata salah satu bunga.
"Aku ingin meminta kesaksian kalian tentang manusia ini."
Secara serentak para bunga itu menatap ke arahku. Aku takjub dan terpesona melihat bunga-bunga yang bisa bicara. Apa lagi sekarang bunga-bunga itu memiliki mata dan hidung.
"Oh dia."
"Kalian kenal?"
"Iya tentu saja. Dia sudah beberapa kali datang ke sini."
"Apa kalian tahu bagaimana dia datang?"
"Kami tidak yakin, karena dia suka muncul dan menghilang begitu saja."
"Apa yang manusia ini lakukan di sini?"
"Dia tidak melakukan apa-apa terkadang dia memciumi kami tanpa memetik kami."
"Apa menurut kalian manusia ini jahat?"
"Tidak,"jawab mereka serentak.
"Apa kalian yakin?"
"Iya."
"Apa dia datang ke sini sendirian?"
"Iya."
"Bagaimana dia tiba-tiba muncul?"
"Dia muncul begitu saja dan hilang saat pergi."
"Terima kasih."
Agatelos membuat para bunga itu tidak bisa bicara lagi dan sekarang bunga-bunga itu seperti bunga normal lainnya.
Agatelos memyihir seekor kumbang untuk bicara.
"Hai Agatelos!"sapa kumbang itu.
"Apa kamu kenal dengan manusia ini?"
"Tidak, tapi aku sering melihatnya datang."
"Seperti apa dia datang?"
"Sama seperti yang dikatakan oleh para bunga itu."
"Apa manusia ini jahat?"
"Tidak."
"Baiklah. Sekarang kamu boleh pergi."
Agatelos menyihir kumbang itu lagi menjadi tidak bisa bicara.
"Apa yang aku katak benar. Aku tidak jahat dan aku tidak bermaksud dengan sengaja datang ke sini."
Agatelos memanggil Artemion untuk mendekat padanya. Pegasus itu mendekat padanya. Jari telunjuk penyihir itu diletakkan di dahi Artemion. Jari itu mengeluarkan cahaya merah. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata. Entah apa yang mereka lakukan. Akhirnya Agatelos menjauhkan jarinya dari dahi Artemion.
"Apa yang terjadi?"
"Tadi dia melihat isi kepalaku."
"Keren."
Kedua penyihir itu tidak menjelaskan apa pun dan menyuruhkan kami untuk ikut dengan mereka lagi. Kami dimasuklan lagi ke penjara. Aku merasa kesal dan marah dan ingin segera pulang. Keluargaku dan Chris sudah mengkhawatirkan keadaanku.
"Bersabar sedikit lagi. Mereka sedang berdiskusi dan mempertimbangkan kamu akan bebas atau tidak."
"Aku harus bebas."
Jam demi jam telah berlalu, hari berlalu begitu saja, tapi belum ada keputusan dari mereka. Dengan sangat terpaksa, alu tidur di penjara lagi. Ini memang sungguh menyebalkan. Keesokan paginya setelah sarapan pagi, penyihir itu menemui kami di penjara dan mengeluarkan kami. Tiba-tiba aku merasakan seperti ada tetesan air yang jatuh ke pipiku.
Kami di bawa ke ruangan dan disuruh menunggu.
"Apa mereka akan memutuskannya sekarang?"
"Sepertinya begitu."
Agatelos kembali muncul kali ini tidak sendirian, tapi bersama ketiga pemyihir lainnya. Mereka duduk di depan kami.
"Setelah kami mempertimbangkan berdasarkan kesaksian yang ada, kami memutuskan untuk memulangkanmu ke rumahmu."
Aku tidak percaya apa yang aku dengar.
"Tapi dengan syarat, kamu tidak boleh datang ke sini dan apa yang kamu lihat dan alami di sini, kamu harus merahasiakannya."
"Hanya itu saja?"
"Iya."
"Apa yang membuat kalian yakin aku tidak bersalah?"
"Aku melihat apa yang ada dalam ingatan Artemion. Kamu datang ke sini tidak dengan tubuh fisikmu. Ini memang jarang ada manusia yang bisa melakukan hal ini dan yang bisa melakukan ini hanya Farina Witmore."
"Siapa dia?"
"Salah satu dari kaum kami. Dia memiliki kemampuan sepertimu."
"Oh. Ap artinya aku juga penyihir?"
"Kamu bukan penyihir hanya manusia yang kebetulan memiliki kemampuan ini."
Aku mengangguk mengerti.
"Jadi apa aku bisa pulang sekarang?"
"Tentu. Kapan saja kamu bisa pulang, tapi jangan pernah kembali lagi di sini."
"Berikan Macaroon izin khusus untuk bisa kembali lagi ke sini,"kata Artemion. "Aku mohon. Dia sudah menjadi temanku sekarang."
"Aku tidak bisa."
"Aku juga tidak bisa menjamin apa aku akan datang lagi ke sini atau tidak, karena kedatanganku tidak direncanakan."
Para penyihir saling berdiskusi lagi.
"Aku akan menjadi jaminan untuk Macaroon jika dia berbuat yang tidak baik di sini."
Agatelos menatap tajam pada Artemion.
"Baiklah, karena ini karena permintaanmu. Aku mengenalmu. Kamu tidak akan mumgkin menjadi seorang penjamin untuk manusia, jika kamu sangat tidak yakin pada manusia. Selama ini kamu tidak pernah mau menjadi penjamin baru kali ini saja."
"Itu artinya Macaroon dapat izin?"tanya Artemion.
"Iya. Wanita manusia ini mendapat izin yang diberikan oleh sang Pangeran."
"Terima kasih."
Artemion kemudian menghadapku. "Kamu bisa datang lagi ke sini. Kamu sudah mendapatkan izin khusus dariku. Simpan ini sebagai tanda izin selama kamu ada sini."
Artemion memberikan sebuah lencana emas lambang pegasus dan aku menggenggamnya. Aku mendengar suara Chris lagi. "Aku mencintaimu." Aku juga mendengar tangisan ibuku dan suara ayahku.
"Aku harus pergi sekarang."
Tiba-tiba saja aku terbangun. Aku berada di kamarku lagi. Chris dan orang tuaku sedang menatapku. Ibu langsung memelukku dan menangis. Ayah dan Chris juga menangis.
"Akhirnya kamu bangun juga,"kata ibuku.
"Maaf sudah membuat kalian semua khawatir."
"Kamu ini kenapa? Tidurmu lama sekali,"kata ayahku.
Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada mereka kalau aku habis berpetualang dan bermain bersama pegasus. Pasti mereka akan mengira aku sedang bermimpi.
"Aku tidak tahu. Aku merasa tidur sangat nyenyak. Sudah berapa lama aku tidur?"
"Tiga hari,"jawab Chris.
"Aku tidak bermaksud untuk membuat kalian khawatir. Sungguh."
"Kami tahu,"kata ayahku.
"Ibu akan menyiapkan makan untukmu. Ayah juga."
Orang tuaku meninggalkan aku dan Chris sendirian di kamar. Chris memelukku dengan sangat erat.
"Aku hampir saja kehilanganmu."
"Kamu tidak akan kehilanganku."
Chris mengecup keningku.
"Aku mendengar suara kalian memanggilku dan aku juga mendengar kamu mengatakan aku mencintaimu."
Wajah Chris merona merah dan kembali memelukku.
"Aku akan mengajakmu berkeliling kota dan membelikanmu coklat yang banyak."
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin melakukan itu denganku?"
"Aku sudaj berjanji jika kamu bangun, aku akan mengajakmu jalan-jalan dan membeli coklat."
"Baiklah. Kapan?"
"Besok?"
"Baiklah."
Kami berpelukan lagi.