Macaroon
Chris masih memelukku dengan erat dan aku merasakan tubuhnya gemetar. Aku mengusap-usap punggungnya.
"Aku baik-baik saja."
Chris hanya diam. Dia hanya terus memelukku. Aku merasakan ada tetesan air hangat di pundakku. Chris menangis.
"Maaf sudah membuatmu sedih."
Chris melepaskan pelukannya dan menatapku. Kedua matanya memerah dan tatapannya melembut.
"Aku tidak bisa membayangkan, jika kamu tidak pernah bangun lagi. Bagaimana dengan hidupku?"
"Aku tidak ingin mati dulu. Aku baru tiga hari menjadi kekasihku."
"Kalau begitu jangan tidur terlalu lama lagi. Kami kira kamu sedang sakit keras dan hampir mati."
Aku menyentuh dan mengusap lembut wajab Chris.
"Tidak akan terulang."
Chris meraih tanganku dan menciumi jari-jemariku.
"Sekarang aku sudah lega. Kamu baik-baik saja. Selama tiga hari ini, kami begitu panik."
Aku menjadi merasa bersalah. Ini semua gara-gara Agatelos, jika tidak aku tidak akan tidur selama tiga hari. Huh menyebalkan.
"Apa ini?"tanya Chris yang melihat sebuah lencana emas yang memiliki lambang pegasus.
"Oh itu. Aku diberi oleh seorang teman."
"Ini sangat indah."
"Aku tidak memperhatikannya. Coba aku lihat!"
Aku memandangi lencana emas itu dan memang sangat indah. Pegasus yang berada di lencana berbentuk bulat itu berkilau jika terkena sinar matahari.
"Bukan pria kan yang memberikannya padamu?"
Aku memasang senyum jahil. "Apa kamu cemburu?"
"Kalau iya memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Dia hanya seorang teman tidak lebih."
Pintu kamar terbuka membuat kami terkejut. Helina masuk dengan napas terengah-engah.
"Syukurlah kamu sudah sadar."
Mata Helina berkaca-kaca.
"Maaf sudah membuatmu cemas juga."
"Helina yang memberitahuku soal keadaanmu. Dia begitu sangat mengkhawatirkanmu,"kata Chris.
"Sekarang aku baik-baik saja. Kamu memang teman yang baik."
"Baiklah. Aku akan kembali bersih-bersih lagi, jika kamu membutuhkan sesuatu panggil saja aku."
"Iya."
Helina keluar kamar dan kami ditinggal lagi. Aku turun dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ingin ke lantai bawah. Aku bosan berada di kamar terus dan jangan suruh aku beristirahat lagi, karena aku sudah tidur selama tiga hari."
"Baiklah. Tuan putri."
Chris merangkul pinggangku dan kami keluar kamar. Ibu terkejut melihatku turun ke bawah. Perutku sudah mulai keroncongan. Tiga hari aku tidak makan dan minum, tapi selama di sana aku makan. Ibu memberiku dan Chris secangkir teh hangat. Begitu teh itu mengalir ke tenggorokkanku terasa begitu nikmat. Aku langsung menghabiskan semuanya dan nambah lagi.
Ibu memberiku makanan berat untuk aku makan. Kentang tumbuk dan tumis daging. Aromanya sudah membuatku semakin lapar.
"Apa kamu juga mau makan, Chris?"tanyaku.
"Kamu saja yang makan. Aku sudah makan."
"Baiklah."
Aku makan dengan sangat lahap dan tidak sampai sepuluh menit makananku sudah habis tak berbisa. Chris senyum-senyum terus melihatku makan.
"Apa ada yang aneh dengan caraku makan?"
"Tidak ada yang aneh hanya saja kamu terlihat cantik dan lucu."
Semu merah langsung menyebar di wajahku. Pujian kata cantik dari Chris membuatku melambung bahagia sampai ke awang-awang. Tubuhku menegang ketika Chris mengelap sisa makanan di sudut bibirku oleh jarinya. Setiap sentuhan Chris selalu membuatku tegang sekaligus memunculkan eforia.
"Jika aku pulang sekarang, apa tidak apa-apa?"
Aku menatap Chris yang masih terlihat cemas.
"Tentu saja tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Apa kamu yakin?"
"Iya. Aku yakin. Pergilah! Pasti kamu sudah menunda banyak pekerjaanmu selama menemaniku di sini."
"Iya."
"Sebenarnya aku engga meninggalkanmu di sini. Aku takut kamu akan menjadi putri tidur lagi."
Aku menggenggam tangannya yang berada di atas meja. "Aku tidak akan menjadi putri tidur lagi. Kamu bisa tenang mengerjakan pekerjaanmu lagi."
"Baiklah. Aku pergi."
"Kami akan menjaga Macaroon,"kata ibuku.
"Jika kalian butuh bantuan tidak perlu segan menberitahuku."
"Pasti,"kata ibuku.
"Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok!"
Chris mengecup pipiku sebelum pergi dan aku malu dilihat oleh ibu.
"Chris sangat mencintaimu,"kata ibuku setelah Chris pergi.
"Iya."
"Pasti kamu senang."
"Tentu saja masa aku tidak senang."
Aku baru menyadari sejak dari tadi aku tidak bertemu dengan bibi Hilda dan Garren.
"Di mana bibi Hila dan Garren?"
"Mereka sedang pergi ke kota mungkin sebentar lagi mereka datang."
Baru saja kami membicarakan mereka, suara kereta kuda berhenti di depan rumah. Mereka begitu terkejut saat melihatku telah bangun.
"Macaroon, kamu sudah bangun,"serunya senang.
Bibi Hilda langsung memelukku, lalu menatapku. "Syukurlah kamu sudah bangun dari tidurmu. Bibi sangat senang bisa melihatmu lagi."
"Aku juga Bibi Hilda."
"Aku juga senang bisa melihatmu bangun lagi,"kata Garren.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir."
"Tidak apa-apa yang terpenting kamu baik-baik saja. Oh ya di mana Chris?"
"Dia baru saja pulang."
"Dia sungguh setia menemanimu, bahkan dia hampir tidak beranjak dari kamarmu."
Aku tersenyum dan senang mendengar itu.
"Aku sudah tidak sabar menunggu berita pernikahan kalian. Nanti jangan lupa mengundang kami."
"Tentu saja. Aku tidak akan lupa."
Aku melihat bibi Hilda belanja begitu banyak ketika kusir kuda membawa masuk barang belanjaan.
"Kalian habis belanja banyak ya."
"Iya. Kami tadi keliling kota dan mampir di beberapa toko butik. Kami membeli beberapa gaun dan topi. Harga gaun dan topi di sini lebih murah, jadi aku beli banyam sekalian. Kami juga membeli beberapa sepatu. Modelnya sangat bagus-bagus."
"Aku senang kalian senang dan menikmati waktu kalian di sini."
"Aku juga membelikan satu topi untukmu."
Aku melirik ibu dengan wajah senang.
"Di mana ya topi untukmu."
Bibi Hilda mencari-carinya diantara tumpukan kotak gaun dan topi.
"Ini dia."
Bibi Hilda mengambil kotak bulat berwarna coklat tua, lalu menyerahkannya padaku. Aku masih tidak percaya mendapat hadiah topi.
"Bukalah!"
Pelan-pelan aku membukanya dan aku terpesona dengan keindahan topi itu. Topi lebar yang terbuat dari kain beludru warna krem dan di sekelilinginya dihiasi oleh pita berwarna merah dan hiasan bunga. Aku tidak mengira akan mendapatkan topi sebagus ini pasti harganya mahal. Tanganku sampai gemetaran saat akan mengambilnya.
"Coba pakailah!"
Aku mengambilnya dan memakainya.
"Topi itu sangat cocok untukmu. Aku tidak salah pilih dan kamu tambah semakin cantik,"puji bibi Hilda.
Aku pergi ke depan cermin dan yang dikatakan olrh bibi Hilda benar. Topi ini sangat bagus.
"Apa topi ini benar-benar untukku?"
"Iya. Itu untukmu."
Aku benar-benar terharu. "Terima kasih banyak Bibi Hilda. Ini topi terbagus yang pernah aku miliki. Aku akan memakainya besok saat aku akan jalan-jalan di kota bersama Chris."
"Selama ini aku belum pernah membelikan apa-apa padamu."
"Sekali lagi terima kasih. Aku akan menjaga topi ini dengan baik sebagai kenang-kenangan pemberian darimu. Aku mau menyimpan topi ini di kamar."
Aku pergi ke kamar dengan riang gembira. Aku mencari tempat terbagus di kamarku. Kamarku kecil jadi tidak banyak tempat. Akhirnya aku memutuskan menyimpan topi di atas lemari. Sejenak aku memandangi topi itu sebelum keluar dari kamar. Aku sudah tidak sabar ingin segera memakainya besok.
Baru saja dia akqn menutup pintu kamar, pintu lemari pakaianku terbuka dan aku sangat terkejut melihat Agetalos keluar dari dalam lemari.
"Bagaimana kamu bisa keluar dari lemari pakaianku?"
"Aku membuat jalan pintas menuju rumahmu."
Aku cepat-cepat menutup pintu kamar dan melihat ke dalam lemariku dan di sana ada halaman hijau yang luas.
"Bagaimana kamu tahu di mana rumahku?"
"Itu hal yang mudah bagi kami. Kami mempunyai banyak informan di Grasshallow jadi tidak sulit di mana rumahmu berada."
"Jadi ada keperluan apa kamu datang ke rumahku?"
"Di mana lencana pangeran Artemion yang diberikan kepadamu?" Agatelos balik bertanya.
"Ada. Apa kamu ingin meminta dikembalikan?"
"Serahkan dulu lencana itu!"
Aku sangat kesal dengan sikap penyihir itu yang suka seenaknya memerintah dan bersikap dingin. Penyihir itu pintar menyembunyikan emosinya. Aku membuka laci meja riasku dan mengambilnya dari dalam kotak.
"Ini."
Agatelos mengambilnya dariku dan lencana itu menjadi sebuah liontin kalung, karena ada rantai kalung yang terpasang. Dia memberikanya lagi padaku.
"Jaga itu baik-baik! Jangan sampai hilang!"
"Jika hilang bagaimana?"
"Kamu tidak bisa masuk Graymoor. Kamu, manusia terpilih yang mendapatkan lencana ini sebagai tanda izin masuk langsung dari sang Pangeran. Dengan lencana itu kamu bisa keluar masuk Graymoor. Aku harap kamu tidak menyalahgunakan lencana itu. Pangeran Artemion sangat percaya padamu. Sebaiknya kamu pakai saja sebagai kalung dan jangan pernah dilepas. Itu sebabnya aku datang ke sini."
"Jadi kamu datang ke sini hanya untuk memakaikan rantai kalung pada lencana ini?"
"Salah satunya itu dan ada hal lain. Aku juga mau memberikan ini padamu."
Agatelos memberikan aku sebuah bungkusan kain beludru berwarna merah hati.
"Apa ini?"
"Itu hadiah dari pangeran Artemion."
"Seharusnya dia sendiri yang memberikannya. Di mana dia sekarang?"
"Dia sedang dihukum dan tidak bisa menyerahkannya secara langsung padamu."
"Apa hukumannya berat?"
"Itu bukan urusanmu."
"Dia temanku, jadi urusanku juga."
"Macaroon,"panggil ibuku dari bawah.
"Sebentar lagi aku akan turun." Aku membalasnya dengab berteriak kembali.
"Sebaiknya aku pergi."
Agatelos masuk ke lemari dengan cepat.
"Hei tunggu!"
Jalan menuju Quicksand sudah tertutup dan lemariku menjadi normal kembali. Aku meraba-raba belakang lemariku hanya ada dinding. Aku segera memakai kalung yang diberikan Agatelos, lalu membuka bungkusan yang diberikan olehnya.
Aku melihat sebuah gaun berwarna kuning yang sangat indah. Mataku sampai tak berkedip. Kain gaun itu sangat halus dan terasa dingin di kulit. Sisi-sisi gaunnya di lapisi oleh benang emas. Aku tidak tahu ini benang emas asli atau bukan. Aku memasang gaun itu di depan tubuhku sambil bercermin. Gaun ini sangat indah dan aku semakin terlihat cantik.
Aku memutuskan untuk mencobanya dan gaun itu sangat pas di tubuhku. Aku berputar-putar di depan cermin. Orang tuaku pasti mempertanyakan dari mana aku mendapatkan gaun ini. Kira-kira aku harus menjawab apa ya. Aku melepas kembali gaunnya dan menyimpannya di dalam lemari. Di dalam bungkusan ternyata ada sebuah amplop yang indah. Aku membukanya dan membaca pesan yang tertulis di sana.
Untuk Macaroon temanku,
Gaun ini aku berikan kepadamu sebagai hadiah dariku atas jadinya pertemanan kita. Aku harap kamu menyukainya. Sebenarnya aku ingin memberikannya langsung padamu saat kamu berada di Quicksand, tapi gaunnya belum selesai dibuat dan baru selesai saat kamu sudah pergi.
Temanmu yang imut,
Artemion.
Ps: jika sudah membacanya dibakar saja.
Aku tersenyum saat membacanya. Aku jadi terharu dan ingin menangis. Aku membakar pesan itu. Setelah apinya padam dan kertas itu sudah hancur terbakar, aku memasukannya ke tempat sampah, sedangkan kain yang membungkusnya, aku menyimpannya di dalam lemari.
"Macaroon."
Ibuku kembali berteriak memanggilku.
"Aku segera datang."
Aku keluar kamar dengan terburu-buru dan mencari ibuku yang berada di ruang keluarga.
"Kamu lama sekali. Tadi kamu habis melakukan apa dulu?"
"Mungkin Macaroon sedang memuaskan diri memakai topi barunya,"kata bibi Hilda dengan tersenyum.
Aku tersipu malu.
"Ada apa tadi Ibu memanggilku?"
"Kami menyisihkan kue strawberry kesukaanmu dan segeralah makan sebelum kue itu dimakan oleh semut."
Aku duduk di sebelah ibu dan mengambil piring kecil berisi sepotong besar kue. Aku memakannya pelan-pelan dan rasanya benar-benar sangat enak. Aku belum pernah memakan kue strawberry seenak ini.
"Tadi aku yang membeli di toko kue Wallflour,"kata bibi Hilda.
"Toko itu sudah terkenal dengan kue-kuenya yang sangat lezat, tapi kue Macaroon buatan Ibuku lebih enak dan belum ada yang bisa mengalahkannya."
"Benar sekali,"timpal bibi Hilda.
Ibuku tersipu malu. "Kamu jangan memuji Ibu seperti itu."
Kami pun tertawa. Ayahku baru saja muncul dan ikut bergabung lagi dengan kami. Hari ini ayam-ayam bertelur sangat banyak.
"Wah itu bagus. Oh ya aku ingin membawa beberapa telur ayam untuk dibawa nanti ketika kami pulang."
"Tentu saja. Aku akan menyiapkan telur-telur terbaik untukmu."
Bibi Hilda tersenyum dan kembali menyeruput tehnya.
"Oh ya aku hampir lupa memberitahu kalian sesuatu,"kata Ayah.
Kami semua menjadi sangat penasaran.
"Besok lusa aku akan dinobatkan sebagai peternak ayam petelur di Grasshallow oleh Pak wali kota."
"Wow. Itu benar-benar hebat. Selamat untukmu, Ayah!"
"Terima kasih, Nak. Aku barua saja menerima surat pemberitahuannya tadi."
"Itu kabar yang sangat bagus,"kata bibi Hilda.
"Selamat untukmu, Sayang!"kata ibuku sambil mencium pipi ayah dan lagi-lagi tubuhku jadi gatal lago gara-gara melihat oramg tua terlihat mesra.
"Kalau kalian ingin bermesraan, jangan dihadapanku. Tubuhku jadi gatal-gatal."
"Maafkan Ayah! Tapi kamu tidak apa-apa, kan?"
"Hanya sedikit gatal."
"Ayah akan mengambilkan obat untukmu."
Aku mengangguk.
"Apa yang terjadi pada Macaroon?"tanya Garren.
"Ah itu. Macaroon terkena alergi jika melihat orang bermesraan,"jelas ibuku.
"Oh jadi begitu."
"Dan anehnya aku tidak akan alergi jika aku bermesraan dengan Chris."
Aku tersipu malu saat mengatakannya.
"Itu alergi yang aneh."
"Iya memang aneh."
Ayahku kembali dengan membawa obat dan menuangkan obat ke sendok. Aku meminumnya.
"Terima kasih, Ayah."
"Apa tubuhmu masih gatal?"
Aku menggelengkan kepala.
"Bagus."
"Oh ya Helina di mana?"
"Ayah lihat tadi dia sedang di kebun.
"Aku akan menemuimya. Ada yang ingin aku tanyakan kepadanya."
"Pergilah!"kata ibuku.
Aku pergi mencari Helina di kebun dan dia memamg ada di sana sedang membersihkan rumput.
"Helina,"panggilku.
"Macaroon, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku mencarimu."
"Ada apa?"
"Kalau tidak salah Minggu depan adalah hari ulamg tahun adikmu, bukan? Aku lupa dan baru teringat tadi."
"Iya benar."
"Kita sama-sama ke rumahmu Minggu depan."
Helina nampak terkejut. "Tapi untuk apa pergi ke rumahku?"
"Aku ingin memberikan hadiah ulang tahun kepadanya."
"Biarkan saja aku yang memberikan hadih darimu pada adikku."
"Tidak apa-apa. Sekalian aku ingin bertemu dengan keluargamu. Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka."
Helina tiba-tiba jadi pendiam dan dia seperti tidak suka aku bertemu dengan keluarganya.
"Apa kamu tidak suka aku bertemu dengan keluargamu?"
"Bukan begitu."
"Kalau begitu tidak ada masalah kan? Kita sama-sama pergi menemui keluargamu."
Helina mengangguk. "Iya."
"Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu lagi."
Aku kembali masuk ke rumah. Bibi Hilda dan Garren sedang beristirahat di kamar mereka. Aku membantu ibu mencuci camgkir dan piring kue.
"Ibu, Minggu depan aku dan Helina akan pergi menemui keluarga Helina."
Ibu sangat terkejut hampir menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Aku tidak tahu kenapa ibu begitu terkejut.
"Untuk apa kamu pergi ke sana?"
"Tadi kan aku sudah mengatakannya untuk bertemu dengan keluarganya. Aku sudah lama tidak bertemu mereka dan adik perempuannya. Sekalian aku ingin memberikan hadiah kepadanya."
"Jika kami ingin pergi ke sana silahkan saja, tapi berjanjilah pada Ibu, jika terjadi sesuatu di sana, kamu jangan panik. Apa kamu mengerti?"
"Iya,"kataku sambil mengganggkukkan kepalaku."
Sejenak aku menatap ibu dan merasa ada hal yang aneh terjadi sini. Ibu sepertinya mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. Ada apa sebenarnya? Apa mereka berdua memyimpan rahasia dariku?
Kepalaku pusing tidak ingin memikirkan hal itu. Mungkin ini hanya perasaanku saja mereka berdua memiliki rahasia. Aku kemudian mengelap piring dan cangkir, lalu menaruhnya di dalam lemari. Ayam-ayam sangat ribut begitu aku memasuki kandang.
"Hei ayam-ayam! Apa kalian merindukanku? Beberapa hari ini aku tidak melihat keadaan kalian di sini."
"Ayam-ayam di sini sepertinya merindukanmu,"kata Hector yang membuatku terkejut. Pemuda itu tiba-tiba muncul dari bawah.
"Hampir saja jantungku lepas."
"Aku tidak bermaksud mengejutkanmu."
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Seperti biasa aku sedang membersihkan lantai dari kotoran yang menempel."
"Ya sudah lanjutlan pekerjaanmu."
Aku kembali pergi ke kamarku dan aku membuka lemari berharap ada jalan pintas menuju Quicksand. Aku kembali menutup pintu lemari dan duduk di atas kasur.
Sisa hariku aku lalui dengan tenang. Tidak ada kejadian aneh lagi. Hari pun sudah larut malam. Aku menyimpan rajutanku di atas kursi goyang, lalu pergi tidur. Malam itu aku tidur tanpa mimpi dan aku juga tidak pergi ke Quicksand lagi. Aku bangun masih dengan mata yang masih mengantuk. Setelah berganti pakaian, aku langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Suasana pagi itu begitu cerah dan riang gembira.
Setelah sarapan pagi, Chris datang menjemputku. Aku pergi ke kamar mengambil topi. Chris sudah menungguku ketika aku turun ke bawah. Dia tersenyum yang membuat hatiku menjadi hangat. Chris meraih tanganku dan mengecup pipiku.
"Selamat pagi, Sayang! Apa kamu sudah siap untuk pergi?"
"Aku sudah siap. Ayah, Ibu, aku pergi dulu."
"Jangan pulang terlalu malam!"seru ayah.
"Nanti sore kami sudah pulang,"kata Chris.
"Tolong jaga Macaroon!"
"Tentu, aku akan menjaga Macaroon dengan sangat baik."
Chris membukakan pintu kereta kuda untukku. Dia juga membantuku masuk ke kereta. Chris kemudian menyusul masuk. Kami duduk saling berhadapan. Kereta kuda mulai melaju.
"Chris, bagaimana dengan topi baruku?"
"Bagus dan cocok denganmu. Apa kamu yang membeli topi itu?"
"Tidak. Bibi Hilda yang memberikannya padaku sebagai hadiah."
"Bibimu itu sangat baik."
"Iya. Awalnya aku ragu kalau bibi Hilda akan menjadi bibi yang baik, tapi aku salah telah meragukannya. Ternyata bibi Hilda adalah bibi yang baik."
"Kamu memiliki perasaan itu, karena kamu belum mengenalnya. Setelah bertemu dan mengenalnya, perasaan ragu itu hilang seketika."
"Iya."
Jalanan yang tidak rata membuat dudukku tidak nyaman. Inilah yang tidak aku suka saat naik kereta kuda. Aku memandang keluar jendela. Di luar sana terlihat gelap dan hutan-hutan masih diselimuti kabut. Kereta melewati lubang yang besar dan menyebabkan kepalaku terbentur atap kereta. Aku meringis kesakitan. Chris menatapku cemas.
"Aku baik-baik saja. Kepalaku tidak benjol."
"Seharusnnya jalanan segera diperbaiki jika musim hujan nanti pasti akan penuh dengan genangan air dan akan sulit dilalui."
Aku mengangguk. Kereta kuda terus melaju. Pandangan mataku kembali ke arah luar. Aku merasakan, aku berada di bawah tatapan Chris. Aku ingin sekali memberitahu rahasiaku tentang pertemuanku dengan Artemion pada Chris, tapi aku sudah berjanji akan merahasiakannya. Jika aku pergi ke Quicksand lagi, aku aku akan meminta izin untuk memberitahu Chris. Aku merasa bersalah pada Chris. Aku seperti berselingkuh dengan menyimpan rahasia ink, meskipum Artemion hanyalah teman biasa.
"Jangan terus-terusan menatapku!"
"Aku suka menatapmu dan tidak pernah bosan."
"Aku jadi merasa malu ditatap terus-terusan olehmu."
Chris menahan tawa. "Aku tidak akan menatapmu lagi.
Chris memejamkan matanya sampai kami tiba di kota. Suasana kota menjelang siang sangat ramai, bahkan menurutku selalu ramai. Kota akan sepi ketika menjelang malam hari. Jalanan agak macet. Kereta kuda berhenti menunggu kereta di depannya berjalan.
"Kita akan pergi ke mana? Kita sudah sampai di kota."
"Kita akan turun di depan toko es krim."
"Baiklah. Bagaimana kalau kita beli es krim?"
"Kamu makan es krim?"
"Iya sudah lama aku tidak memakannya."
"Kita akan beli es krim."
Kereta kuda kembali berjalan dan kali ini jalanan agak lancar meskipun harus berjalan pelan. Chris menyuruh kusir untuk berhenti di depan toko es krim. Kereta kuda kami berhenti dan Chris membantuku turun. Aku memandangi toko es krim. Sudah sejak lama aku ingin masuk ke toko ini. Di dalam baru ada sedikit pembeli. Bel berbunyi ketika kami masuk. Seorang pelayan toko menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang!"
Aku melihat berbagai macam es krim dengan berbagai banyak rasa. Aku bingung mau memilih es krim yang mana.
"Apa kamu sudah memutuskan mau es krim yang mana?"
"Aku mau yang rasa coklat saja."
"Aku vanilla,"kata Chris.
Aku juga ingin mencoba rasa yang lain dan Chris pun berkata, "Jika kamu ingin rasa yang lainnya, minta saja pada pelayan toko."
Aku pun meminta rasa strawberry dan aku mendapatkan satu gelas penuh es krim. Setelah Chris membayarnya, kami duduk di kursi dekat jendela. Aku memandangi es krimku dengan takjub.
"Aku tidak tahu. Kamu sangat bahagia hanya dengan satu gelas penuh es krim."
"Aku suka es krim selain coklat, tapi Ayah dan Ibu jarang membelikanku es krim. Ketika aku sudah bisa membeli es krim sendiri, aku selalu tidak sempat membelinya."
"Cepatlah makan sebelum es krimnya mencair."
Aku memakannya dan mulutku terasa dingin. Rasanya sangat enak. Aku menghabiskannya sangat cepat.
"Apa aku ingin tambah lagi?"
"Tidak. Terima kasih. Ini sudah cukup."
"Jika kamu suda selesai, kita pergi ke tempat lainnya lagi."
Aku mengangguk. Bel pintu berbunyi lagi ketika kami keluar.
"Kita akan kemana lagi?"tanyaku.
"Kita jalan-jalan di taman kota saja dulu."
"Ayo!"
Aku mengapit lengan Chris. Kami berjalan-jalan di taman kota. Banyak pasangan yang sedang menikmati suasana taman kota, meskipun udara cukup dingin. Kami pun sudah menjadi pasangan sekarang. Aku pun baru menyadari, cuaca di Quicksand dan di sini berbeda. Seolah di sana mempunyai cuacanya sendiri. Cuaca di sana hangat dan banyak bunga tumbuh. Bunga-bunga dan pohon-pohon di sini sudah mulai berguguran.
Sebelumnya taman kota yang dipenuhi olrh bunga, sekarang hanya terlihat ranting-ranting pohon saja dan banyak daun yang berserakan di tanah.
"Kita duduk di sana,"ajak Chris.
Kami duduk di bangku di samping lampu taman.
"Tanganmu dingin. Apa kamu tidak membawa sarung tangan?"
"Aku lupa membawanya."
Tanpa banyak tanya lagi, Chris memasukkan tanganku ke dalam saku mantelnya dan tanganku menjadi hangat. Aku sangat senang dengan perhatian Chris padaku. Aku seperti wanita yang paling bahagia di dunia.
"Ketika kamu tidur tadi malam, apa kamu tidur secara normal?"
Aku mengernyitkan dahi atas pertanyaan Chris.
"Aku tidur seperti biasa saja. Memangnya tidur secara tidak normal itu seperti apa?"
"Maksudku ketika kamu tidur tidak ada yang aneh."
"Tidak ada yang aneh."
"Syukurlah!"
Aku mengerti sekarang Chris masih merasa cemas kalau tidurku tidak akan biasa lagi kalau aku akan tertidur lama lagi.
"Maaf. Aku tidak bisa menjaga selama 24 jam."
"Kamu tidak perlu selalu menjagaku. Kamu bukan pengasuhku, lagipula aku tidak perlu selalu dijaga. Aku akan baik-baik saja. Percayalah!"
"Sepertinya aku memang harus percaya padamu."
"Tentu saja harus."
"Kita jalan lagi."
Chris mengenggam tanganku di dalam saku manteknya dan terasa sangat hangat. Aku benar-benar sangat menyukainya. Kami berjalan mengelilingi taman kota dan terkadang melihat anak-anak bermain. Semakin siang banyak orang yang datang.
"Kita makan siang dulu,"kata Chris.
Aku mengangguk. Chris membawaku ke restoran yang tidak jauh dari taman kota. Restoran itu berada diseberangnya. Restoran itu sudah didatangi oleh banyak orang. Kami mendapatkan meja di luar dan tidak masalah bagiku. Aku bisa makan sambil menikmati suasana kota. Kami dudum sambil menunggu makanan yang sudah kami pesan.
"Setelah makan, aku ingin membeli hadiah ulang tahun untuk adik perempuan Helina."
"Kapan ulang tahunnya?"
"Minggu depan. Aku akan ke rumah Helina. Apa kamu mau ikut?"
"Aku imgin ikut, tapi sepertinya aku tidak bisa."
"Tidak apa-apa. Aku akan pergi berdua bersama Helina."
Pelayan memberikan makanan yang kami pesan. Makanan yang aku makan sangat lezat dan habis tidak bersisa. Kami kemudian mencari hadiah.
"Menurutmu kira-kira hadiahnya apa?"tanyaku.
"Aku tidak tahu."
Chris berpikir sejenak, lalu dia kembali berkata, "Bagaimana kalau sepasang sarung tangan dan syal untuk musim dingin. Mungkin dia sudah punya semua itu, tapi setidaknya dia punya yang baru."
"Aku akan membeli itu saja."
Kami masuk ke toko pakaian yamg menjual perlengkapan musim dingin. Setelah mendapatkannya, aku meminta pelayan toko untuk membungkusnya dengan rapih. Aku senang hadiah ulang tahun sudah aku beli. Kami melewati toko buku antik dan Chris masuk. Aku memgikutinya. Chris mulai melihat-lihat buku.
"Kalian sedang mencari buku apa?"tanya pelayan toko.
"Kami belum tahu."
"Baiklah. Silahkan dilihat-lihat dulu."
Chris masuk lebih dalam lagi. Sekarang kami berada di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi.
"Sebenarnya buku apa yang kamu cari?"
"Aku tidak tahu,"jawab Chris. "Ketika aku lewat toko ini, aku ingin masuk saja. Sudah lama aku tidak membeli buku untuk dibaca."
Aku ikut melihat-lihat buku di yang disusun rapih di rak-rak. Tidak ada yang menarik perhatianku. Aku melihat ke rak di sebelahnya dan aku melihat buku tentang pegasus.
"Aku ingin membeli buku ini."
Chris melihat buku yang aku pegang.
"Pegasus."
"Iya. Sepertinya menarik."
"Aku tidak tahu kalau kamu tertarik dengan pegasus."
"Aku hanya ingin tahu saja cerita tentang mereka, karena zaman dulu sebelum ada konflik antara manusia dan pegasus, mereka hidup berdampingan dengan damai, bahkan salah satu diantara pegasus ada yang menikah dengan manusia."
"Apa kamu bilang menikah dengan manusis?"
"Iya."
"Apa memiliki anak?"
"Sepertinya iya."
Aku menatap Chris dengan heran. "Apa kamu juga tertarik dengan kisah para pegasus itu?"
"Aku jadi tertarik setelah cerita tentang pangeran terkutuk yang dikutuk oleh pegasus."
"Oh begitu."
"Oh ya dari mana kamu tahu ada pegasus yang menikah dengan manusia?"
"Dari seorang teman dan temanku itu tahu dari cerita orang tuanya. Cerita pegasus sudah menjadi sebuah legenda yang diceritakan secara turun-temurun. Diantara cerita-cerita yang beredar entah mana yang benar, karena ceritanya sudah ditambah-tambahkan."
"Itu bisa saja, tapi aku rasa cerita pangeran terkutuk itu cerita nyata."
"Iya kalau itu cerita nyata. Semua orang juga tahu."
Chris mengambil buku dari tanganku, lalu memberikannya pada pelayan toko.
"Tolong bungkus ini!"
"Tentu. Pilihan Anda sangat tepat. Ini buku yang bagus. Orang-orang banyak yang membeli buku ini. Aku hampir kehabisan stok buku ini."
"Oh ya?"
"Sejak cerita pangeran yang dikutuk pegasus masih hidup, cerita tentang pegasus menjadi ramai."
"Apa Anda tahu tentang cerita pegasus?"
"Tidak banyak."
"Apa Anda mengetahui cerita tentang manusia keturunan pegasus? Kekasihku ini mendengar cerita tentang seorang pegasus yang menikah dengan manusia, lalu mereka memiliki anak."
"Tentu saja aku tahu cerita itu. Anda orang pertama yang bertanya hal itu. Kebanyakan orang-orang menanyakan keberadaan pangeran yang dikutuk kalau itu tentu saja aku tidak tahu."
Pelayan toko yang seorang pria tua berjenggot putih dan memiliki tubuh agak gemuk itu tersenyum.
"Kalau Anda waktu dan tidak berkeberatan, bisakah Anda menceritakannya pada kami?"
"Tentu. Kalian bisa tetap tinggal di sini. Aku akan membuatkan teh untuk kalian."
"Bagaimana kalau ada pembeli yang datang?"
"Itu tidak jadi masalah, biar asistenku yang melayani para pembeli."
"Terima kasih. Oh perkenalkan, aku Christophen Lutherford."
"Ah aku tahu siapa Anda. Anda pemilik peternakan sapi perah Lutherford itu, bukan?"
"Iya itu aku."
"Senang bisa bertemu dengan Anda, Mr. Lutherford. Aku salah satu pembeli setia s**u Anda."
"Terima kasih. Ini kekasihku, Macaroon."
"Kekasih Anda sangat cantik."
Aku tersipu malu saat dipuji.
"Aku, Felipe Conrad."
Pria itu memberikan buku yang dibeli pada Chris, lalu Chris memberikannya padaku.
"Jadi kamu membelikanku buku ini?"
"Iya. Terima kasih. Kamu bisa membacanya nanti, tapi setelah selesai aku baca."
"Kamu baca saja sepuasnya dulu. Aku bisa membacanya nanti."
"Ayo ikut denganku!"
Felipe adalah orang yang ramah dan dia sepertinya pria yang baik. Dia mengingatkanku pada kakek yang tidak pernah aku kenal. Kami di bawa ke belakang toko di sana ada ruangan yang sangat nyaman dengan perapian yang menyala.
"Silahkan duduk! Aku akan mengambil teh hangat untuk kalian."
"Terima kasih."
Kami duduk di sofa dan melihat-lihat suasana ruangan. Tidak jauh dari kami duduk ada pintu terbuka menuju balkon. Tidak lama, Felipe muncul membaws nampan yang berisi teko teh, cangkir, dan kue kering. Nampan diletakkan di meja, lalu dia duduk di kursi yang memiliki sandaran tinggi.
"Sebelumnya aku minta maaf tiba-tiba kami ingin Anda bercerita tentang manusia keturunan pegasus."
"Tidak apa-apa. Aku senang ada yang mau mendengar cerita ini."
"Menurutku cerita ini lebih menarik dari pangeran yang dikutuk,"kataku.
"Aku akan memulai ceritanya sekarang. Sebenarnya cerita ini aku dapatkan dari orang tuaku ketika aku masih kecil. Mereka sering menceritakannya sebagai dongeng pengantar tidur. Puluhan tahun yang lalu, ada sebuah keluarga petani di Goldpoint mendapatkan tetangga baru yang menempati sebuah rumah di sebelahnya. Rumah itu sedang disewakan dan yang menyewanya adalah keluarga kecil yang baru saja memiliki bayi.
Mereka hidup rukun dan saling membantu. Kedua keluarga itu sudah seperti saudara sendiri. Mereka tidak segan-segan untuk menolong apabila salah satu diantara mereka sedang ada masalah, bahkan para tetangga lainnya yang tidak jauh dari rumah mereka sangat senang melihat keharmonisan mereka. Keluarga petani tidak tahu dari mana asal tetangga barunya itu, tapi itu tidak dipermasalahkan oleh mereka. Keluarga petani pun tidak ingin menanyakannya, karena mereka sudah percaya, tetangga barunya adalah orang-orang baik. Satu tahun telah berlalu, kehidupan mereka masih harmonis tanpa ada masalah. Anak perempuan tetangganya itu tumbuh dengan sehat. Orang tua anak itu memberikan nama Khrysante.
Pada suatu hari, si Petani secara tidak sengaja melihat tetangganya itu sedang bicara dengan seekor pegasus. Oh ya aku lupa nama tetangganya dikenal dengan nama George. Si petani pegasus itu menyebut nama George dengan nama Zeretrius. Keberadaan pegasus berada di tengah-tengah manusia tidak lazim. Itu sebabnya si Petani merasa penasaran. Dia akhirnya mendengar pembicaraan itu.
Si petani terkejut kalau George sebenarnya Zeretrius, seekor pegasus yang diusir dari kaumnya, karena menikah dengan manusia. Kedatangan pegasus ke rumahnya meminta Zeretrius untuk menyerahkan Khrysante pada ayahnya untuk diasingkan, karena anak itu seharusnya tidak boleh lahir, karena dari dua ras yang berbeda. Zeretrius menolaknya dan anaknya akan tetap bersamanya sampai kapan pun. Pegasus itu pergi dan si Petani pun cepat-cepat masuk ke rumahnya."