Leo memasuki kamar tempat Alana dirawat. Kamar itu didominasi warna emas. Dindingnya terbuat dari kristal berkilauan. Di atasnya ada aurora seolah melayang-layang di udara. Lantainya dari kaca dan dibawahnya adalah aliran sungai. Sangat cantik. Seolah berjalan di atas air. Leo mendekati Alana yang sekarang masih belum sadarkan diri. Ia melihat luka di d**a Alana sudah membaik. Hanya menyisakan luka kering akibat tusukan dari jarum kalajengking. Keadaan Leo sendiri sudah membaik. Lukanya sudah sembuh total. Ia tidak tahu bagaimana caranya bangsa Pixie itu melakukannya. Yang Leo tahu ketika ia sadar, ia tidak merasakan apa pun di tubuhnya. Lelah pun tidak dan Leo menyadari bahwa lukanya sudah benar-benar sembuh. Leo menarik kursi dan mendekatkannya ke tempat Alana berbaring lalu ia duduk. Dilihatnya wajah tertidur ratu muda yang cantik jelita di depannya. Wajahnya tidak seperti kemarin yang sangat pucat. Sekarang aliran darahnya sudah normal. Bibirnya kembali memerah. Wajahnya kembali cerah bersinar. Lama Leo memandanginya. Pikirannya berkecamuk sampai sesuatu menyadarkannya dan membuatnya bisa sedikit bernapas.
Leo kembali menatap Alana yang masih belum sadarkan diri. Saat ini pikirannya berkecamuk lagi. Perkataan demi perkataan itu melintas di kepalanya. Leo tahu semuanya sangat berat untuk Alana melakukannya. Namun, Alana harus melakukannya jika dunia mereka ingin kembali tentram. Meskipun sekarang ia sudah tahu bagaimana cara menghadapi pemimpin raja-raja tamak, tetapi tetap saja bukan dia yang sepenuhnya memiliki kekuasaan. Semua kekuasaan ada di tangan Alana Culver dan ia hanya bertugas membantu.
Alana mulai sadar dan membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah aurora yang melayang-layang di langit kamar berwarna kehijauan. Lalu Alana mengarahkan matanya ke samping kiri. Wajah Leo langsung menyambutnya. Alana membulatkan matanya dan dengan cepat ia terduduk. Ia terkejut dan masih belum sadar dengan semuanya.
“Apa yang kaulakukan di sini? Mengapa kau ada di kamarku?” teriak Alana antara rasa kesal dan marah. Leo menatap Alana dengan tatapan tidak mengerti.
“Menjagamu. Ini bukan kamarmu,” jawab Leo seadanya.
Alana mengernyit lalu ia mengelilingi matanya mengitari ruangan. Benar, itu bukan kamarnya dan istananya tidak seperti ini. Lalu di mana ia sekarang pikir Alana.
“Istana Breen?” tanya Alana masih dengan sisa keterkejutannya. Leo mengangguk. “Mengapa bisa aku ada di sini. Bukankah kita sedang berperang? Apa yang terjadi? Bagaimana dengan perang? Apakah kita menang?” tanya Alana bertubi-tubi. Mata birunya penuh dengan pertanyaan.
“Kau terkena racun makhluk sialan itu. Kau hampir mati jika aku tidak cepat membawamu ke sini. Perang sudah usai. Kita menang,” jawab Leo seadanya. Alana langsung mengembuskan napasnya lega.
“Hah! Benarkah aku disengat oleh ekor kalajengking itu?” tanya Alana yang baru sadar. Ia tampak tidak memercayainya.
“Lihatlah bekas di dadamu itu. Bukti kau hampir saja mati,” jawab Leo. Alana melihat bekas sengatan yang cukup besar, tetapi sudah mengering. Berwarna sedikit kemerahan dan sedikit berkerut. Menandakan bekas yang sepertinya akan hilang dalam beberapa hari lagi.
“Jika kau sudah sehat ayo kita kembali ke istana. Banyak hal yang akan aku beritahu kepadamu.” Leo bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu kamar.
“Tunggu!” Alana berhasil mencegah Leo untuk keluar. “Bagaimana dengan lukamu? Sembuh? Mereka bisa menyembuhkan luka,” sambung Alana. Leo mengangguk dan ia melanjutkan langkahnya lagi.
“Hei tunggu aku. Aku belum benar-benar pulih!” Alana mulai merengek. Leo membalikkan tubuhnya dan menatap Alana dengan tatapan tidak peduli.
“Kau sudah sehat. Para putri yang memberitahuku,” jawab Leo sambil membalikkan tubuhnya lagi dan melanjutkan langkahnya.
“Hei tunggu dulu! Aku belum selesai berbicara!” kesal Alana. Leo menghela napasnya perlahan. Sifat menyebalkannya kembali lagi. Sangat berbeda ketika mereka bekerjasama sewaktu berperang kemarin.
“Apa lagi?” tanya Leo dengan malas-malasan.
“Terima kasih, untuk semuanya,” ucap Alana sambil berdiri dan mendekati Leo. Alana membungkuk memberikan penghormatan kepada Leo. Namun, Leo dengan cepat menangkap tubuhnya dan menegakkan Alana kembali.
“Jangan memberi hormat kepadaku. Akulah yang seharusnya memberi hormat kepadamu, Yang Mulia.” Alana menatap Leo dengan pandangan bertanya-tanya. Leo memanggilnya seperti itu. Bukankah Leo paling anti menganggapnya sebagai ratu.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil aku dengan namaku. Ayo cepat kita harus pulang ke istana!” Alana mengalihkan pandangannya dan berjalan lebih dulu keluar dari pintu. Leo menghela napasnya. Ia yakin Alana sudah benar-benar sehat. Terbukti dari ucapannya yang seperti biasa.
“Berhati-hatilah di jalan. Perjalanan kalian tidak akan mulus. Banyak yang telah mengintai kalian.” Ivan mengantar keduanya yang bersiap untuk pulang.
“Jangan khawatir, dia ada untuk melindungiku,” jawab Alana seadanya sambil menunjuk Leo.
“Ya, aku percaya jika kau bersamanya. Ramalan itu benar sekali ternyata,” ucap Ivan sambil tersenyum tipis kepada Alana dan Leo. Alana menatapnya curiga. “Jangan mencurigaiku. Itu bukan ramalan yang buruk. Kau akan tahu nanti,” sambung Ivan dengan tawa pelannya.
“Yang Mulia, kami harus segera pamit. Terima kasih atas semua bantuan Anda. Saya tidak akan melupakannya dan saya akan menjaga ratu sialan ini dengan sebaik-baiknya,” pamit Leo sebelum ia menaki kudanya. Ivan tersenyum tipis dan mengangguk. Ia memaklumi ucapan Leo yang kadang-kadang kurang sopan.
“Tidak masalah, datang saja ke sini jika perlu bantuan. Pintu Breen terbuka lebar untukmu,” jawab Ivan.
“Ayo naiklah.” Leo membantu Alana menaiki kuda. Baju terusan panjangnya tidak membuatnya kesulitan dalam berkuda. Setelah Alana naik, Leo naik dan duduk di belakangnya.
Setelah berpamitan Alana dan Leo berjalan keluar menuju gerbang. Leo menunggangi kudanya dengan pelan. Ia menikmati setiap pemandangan dan juga pandangan semua makhluk kepadanya. Semua yang ada di sana memberikan penghormatan kepada keduanya.
“Mengapa kau tidak memperbolehkanku memanggil kudaku?” tanya Alana. Ia melihat bunga-bunga bermekaran dengan warna-warna yang cantik di depannya. Ingin rasanya Alana menyapa teman-temannya yang dari bangsa Flora, (bunga dari bahasa Latin) tetapi ia sendiri harus cepat kembali ke istana.
“Sudah kukatakan berbahaya jika kau sendirian. Aroma tubuh sialanmu itu sudah dikenali.”
“Jadi maksudmu aku dan kau harus tetap dalam posisi seperti ini! Aku harus memelukmu setiap saat? Aku harus selalu bersamamu? Aku harus selalu berinteraksi denganmu?” tanya Alana panjang lebar. “Aku seperti mempunyai dua tubuh. Heh, aku terlihat seperti sudah memiliki anak yang siap mengekoriku kapan saja,” keluh Alana.
“Tidak ada pilihan, kau harus menerima kenyataan,” jawab Leo seadanya.
“Kenapa kau tidak sekalian menikahiku saja maka semua orang tidak akan bertanya-tanya mengapa nanti aku selalu memelukmu dan selalu berada di dekatmu.”
Alana tampak kesal. Wajahnya yang cantik bertekuk-tekuk beberapa lipatan karena kesal.
“Kau menginginkannya?” tanya Leo. Alana menolehkan kepalanya menghadap Leo. Jarak wajah mereka terlalu dekat. “Aku belum siap untuk melamarmu. Lagi pula itu sepertinya tidak mungkin. Kau ratu dan aku prajurit biasa. Aku tidak ingin serakah,” lanjut Leo sebelum Alana sempat membalas perkataannya. Leo membalas tatapan mata Alana dengan sendu. Ia menatap mata biru Alana yang dapat menyihir siapa saja yang melihatnya.
Wajah Alana tiba-tiba merah padam. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari batas normal. Tubuhnya panas dingin. Aliran darahnya seolah berhenti mengalir. Napasnya tertahan. Bibirnya terkatup sempurna. Apa yang terjadi? Apa yang Leo katakan? Apa maksudnya? Itu benar-benar Leo yang mengucapkannya atau bangsa Pixie yang sedang menyamar menjadi diri Leo pikir Alana. Alana dengan cepat mengalihkan wajahnya dan kembali menatap ke depan. Jantungnya masih tidak teratur.
“Aku hanya bercanda. Jangan menganggapnya serius,” ucap Alana dengan suara yang ia buat seangkuh mungkin.
“Aku tahu. Makanya sudah kukatakan tidak mungkin. Aku juga hanya bercanda,” jawab Leo. Alana tidak tahu harus bertindak seperti apa jadi ia memutuskan untuk mengambil tali tunggangan kuda dan memacunya sehingga kuda mereka berjalan lebih cepat.
Leo hanya diam menanggapinya. Ketika mereka sudah dekat dengan gerbang, kembali daun-daun bunga semanggi mengantar mereka untuk keluar. Setelah mereka berhasil keluar dari istana, pacuan kuda mereka bertambah cepat. Mereka harus segara sampai di istana karena di dalam hutan oak cukup berbahaya.
“Aku akan meminta bantuan teman-temanku agar perjalanan kita aman!” ucap Alana di antara suara angin yang melewatinya.
Tidak lama setelah itu rombongan bangsa Wulf datang. Mereka adalah serigala-serigala putih dengan ukuran super besar. Pemimpin mereka dua bersaudara yang bernama Farkas dan Vilkas. Mereka peri predator atau lebih dikenal dengan bangsa Thireftís. Mereka mengawal Alana dan Leo untuk sampai keluar dari hutan oak. Alana juga meminta tolong kepada teman-temannya dari bangsa Xylon, (hutan dalam bahasa Yunani) bangsa Xylon adalah bangsa yang membantu Leo ketika membawa Alana yang tidak sadarkan diri dari serangan Liger dan Tigon tempo hari.
“Bagaimana caranya kau berteman dengan mereka semua?”
“Sewaktu kecil aku pernah sakit dan ketika itu aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bisa mendengar semua suara aneh. Ternyata suara itu berasal dari hutan pohon oak ini. Para pohon berbicara kepadaku dan mengundangku masuk ke hutan. Itulah awalnya aku bisa mengenal bangsa Pixie dan bangsa-bangsa lainnya.”
Leo diam. Ia teringat pembicaraannya dengan para putri Pixie mengenai Alana. Sekarang Leo tahu alasan mengapa Alana bisa berbicara dengan semua bangsa aneh tersebut. Karena dia adalah seorang ratu yang akan menyatukan semuanya. Perjalanan mereka sejauh ini berjalan mulus kerena perlindungan dari teman-teman Alana. Leo mengeratkan tangannya di perut Alana dan ia mengambil alih menunggang kuda. Alana kembali merasakan detak jantungnya yang sama cepat seperti langkah kuda.
TBC...