"Semoga aja nenek sihir itu udah tidur," gumam Amel, berucap sangat pelan. Pokoknya pelan banget, supaya tidak ada yang mendengarnya. Terutama wanita yang berstatus ibu di atas kertas itu.
Amel berjalan mengendap-endap menuju kamarnya. Dirinya persis maling yang hendak mencuri ayam warga. Padahal, Amel berada di rumahnya sendiri.
"Baru pulang kamu?" Seseorang bertanya dengan keras dari arah belakang. Amel baru saja bernapas lega, kini ia harus menutup gendang telinganya, bersiap menerima segala omelan yang datang.
"Iya." Amel berbalik badan. Wanita yang dianggapnya seperti nenek sihir itu, sedang membusungkan wajahnya, berkacak pinggang dan menatap tajam.
"Udah jam berapa ini? Tumben, pulangnya malem banget," cecarnya penuh selidik.
"Kamu, pasti habis main ya? Keluar sama teman-teman kamu yang enggak jelas itu ya?" tuduhnya kemudian.
Amel melihat jam dinding di sana. Rupanya sudah jam sepuluh malam. Pantas saja nenek sihir itu, nyap-nyap tidak karuan. Dia menghela napas berat. Di rumahnya sendiri, ia seperti orang asing saja.
"Enggak, Bu. Hari ini aku lembur," jawab Amel berbohong.
Sangat tidak mungkin, ia mengatakan kalau tadi habis makan malam bersama Nalendra di warteg. Bisa-bisa masalah ini, melebar kemana-mana. Mengingat ibu tirinya itu, sangat tidak menyukai Nalendra.
"Beneran kamu lembur? Kamu enggak lagi bohongin Ibu kan?" tanyanya penuh curiga. Sampai-sampai kedua matanya menyipit, menelisik lebih jauh.
Amel mengangguk cepat. "Aku ke kamar dulu ya. Mau mandi. Habis itu tidur. Udah ngantuk banget."
Lain ditanya, lain juga jawabannya. Amel mengalihkan topik pembicaraan dan pura-pura menguap, menunjukkan kesan bahwa dirinya sudah mengantuk. Ingin buru-buru tidur dan mengakhiri interogasi yang melelehkan ini.
Semakin dia berkilah, semakin ibunya itu curiga.
"Tunggu dulu!"
Amel kembali berbalik badan, lalu membuang napas panjang. Dia sudah kehabisan kata-kata dan malas menanggapi pertanyaan demi pertanyaan dari ibu tirinya itu.
"Apa lagi, Bu? Aku udah capek banget. Pengen istirahat," keluh Amel seraya memasang wajah memelas.
"Kalau kamu lembur, itu artinya dapat uang lembur dong. Mana uangnya! Sini berikan kepada ibu!"
Wanita yang akrab dipanggil Susi itu, menadahkan tangan kanannya. Meminta uang hasil lembur, seperti yang biasa Amel berikan ketika mendapat jatah lembur.
Gadis mungil itu menghela napas panjang lagi dan lagi. Kalau soal uang, ibu tirinya itu memang tidak pernah ketinggalan. Padahal, Amel sengaja pulang larut malam, supaya masalah seperti ini tidak terjadi. Nyatanya, tetap saja diminta.
"Mana uang lemburnya! Sini kasih Ibu dulu. Baru setelah itu, kamu boleh mandi."
Alih-alih bertanya, apakah sudah makan atau belum? Atau pertanyaan yang sering dilayangkan seorang ibu kepada anaknya yang baru saja pulang bekerja, Ibu tirinya malah menanyakan soal uang lembur, yang malas banget Amel bahas.
"Aku pikir, tidak akan ada yang menanyakan soal uang ini. Awalnya, aku ingin membeli sesuatu, tapi sepertinya pupus sudah keinginanku," gumam Amel lemas.
Dia mengeluarkan uang pecahan seratus ribu dari dalam saku celananya. Sebenarnya uang itu, ia dapatkan dari Nalendra. Amel tidak menginginkannya. Namun, Nalendra memaksa dirinya untuk menerima uang tersebut.
Jika dipikir-pikir lagi, Amel sangat berhutang pada Nalendra. Seandainya Nalendra tidak memberi uang seratus ribu ini. Entah apa yang akan diperbuat ibu tirinya, mengingat saat ini ia tidak lagi bekerja di restoran itu?
"Mau protes kamu?" sungut Susi sedikit meninggikan suaranya.
Amel menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, Bu. Ini uangnya. Ibu habiskan saja. Besok aku cari yang baru."
Percayalah! Tiga bulan terakhir, Amel harus menjalani kehidupan yang monoton dan seperti di dalam sangkar setiap harinya. Setelah sepeninggalan sang ayah. Amel harus menjadi tulang punggung keluarga. Untungnya, ia tidak memiliki adik maupun kakak.
Setiap hari, selalu ada saja yang Susi inginkan. Entah itu membeli make up, baju atau yang lainnya, membuat kepala Amel seolah ingin pecah saja.
"Ya sudah sana, pergi! Tadi katanya mau mandi. Gih mandi sana. Lama-lama deket kamu, bikin Ibu mau pingsan," ungkap Susi, mencibir putri dari mendiang suaminya.
Biarpun usia Susi tidak lagi muda, empat puluh lima tahun. Akan tetapi, Susi tidak memiliki anak. Padahal sebelum menikah dengan Ayahnya Amel, Susi berstatus janda.
Susi memang menjaga dirinya untuk tidak hamil. Dia takut bentuk tubuhnya berubah, setelah melahirkan atau saat mengandung anak.
***
Dua hari berikutnya. Amel datang ke hotel Sky Blue, seperti yang Nalendra sarankan.
Sesampainya ia di sana, Amel langsung diperintahkan atasan untuk melayani para tamu undangan.
Hari ini, ada acara besar yang diselenggarakan oleh Anggara Group. Banyak konglomerat dan pengusaha besar, menjadi tamu undangan dalam acara besar ini.
Amel membawa baki yang di atasnya ada beberapa gelas minuman yang berbeda-beda isinya.
Amel berjalan santai menelusuri ruangan ini, menawarkan minuman kepada setiap tamu yang hadir.
Dia tidak sendirian di sana. Ada banyak muda mudi yang diperkerjakan, melihat adanya banyak tamu yang hadir dalam acara ini, membuat penyelenggara menyiapkan banyak pelayan untuk melayani tamu.
"Amel?" Tiba-tiba ada yang menegur gadis mungil dua puluh lima tahun itu.
"Iya." Amel menoleh. Tangannya masih membawa baki, tersisa dua gelas minuman. Dia hendak mengambil yang baru.
"Enggak nyangka, bakalan ketemu kamu di sini. Ternyata, kamu masih sama saja seperti dulu ya ... Miskin." Hinaan itu, keluar deras dari mulut wanita berparas cantik dan sexi itu.
"Memangnya kenapa kalau aku masih miskin, ah? Apa kehidupanku yang miskin ini, sangat mengganggu pemandanganmu, ah?" sungut Amel, seakan balik menantang lawan bicaranya itu.
Amel ingin menunjukkan, biarpun miskin, setidaknya dia tidak miskin harga diri.
Mengetahui Amel bisa membalas hinaannya, lantas membuat wanita itu tersulut emosi. Dia meriah gelas dari baki yang Amel bawa.
BRUSSHHHH ...
Dia menyiramkan minuman itu sekaligus ke wajah Amel, sehingga rambut serta wajahnya basah.
Amel terkejut bukan main. Begitu juga orang-orang yang ada di sana. Acara yang seharusnya berjalan lancar dan elegan, malah terjadi sebuah insiden yang menarik perhatian.
"Itu, balasan setimpal untuk cewek yang enggak punya moral seperti kamu." Wanita itu melipat kedua tangannya di d**a, lalu tersenyum miring. Dia tidak menutupi rasa ketidaksukaannya kepada Amel.
"Seharusnya kamu beruntung, bisa kerja di sini. Bukannya malah bersikap arogan. Memangnya kamu tidak tahu ah, aku ini siapa?"
Amel mengusap wajahnya dengan kasar. Tatapannya nanar dan sangat kesal. Dia menggenggam gelas yang tersisa di bakinya itu.
BRUSSHHHH ....
Kemudian, Amel menyiramkan minuman tersebut ke lawan bicaranya. Persis seperti yang ia terima sebelumnya.
"Kamu ...." Wanita itu mengerang kesal. Wajahnya merah padam. Malu plus geram ia rasakan dalam satu waktu.
PLAAAKKKKKK ...
Satu tamparan keras diterima Amel. Wanita itu bukan hanya menampar, tetapi mendorong tubuh Amel, sehingga dia jatuh tersungkur.
Orang-orang semakin memfokuskan perhatian kepada Amel dan wanita berpenampilan sexi itu.
Tidak ada yang tidak berbisik. Mereka membicarakan soal pertikaian antara dua wanita di sana, yang dari segi penampilannya saling bertolak belakang.
"Ada apa ini!" teriak seseorang dari kejauhan. Teriakan itu, langsung memecah keheningan di ruangan yang sedang memanas itu.