Nada menatap marah Choky. "Pak Choky, saya bisa menuntut anda atas kasus penghinaaan! Bagaimana bisa saya tidur dengan pria kejam dan gila kerja seperti dia?"
Choky menepuk mulutnya lalu menatap maaf Nada. "Maafkan saya, lidah terselip."
Putra menaikkan kaca mata dan tersenyum sinis. "Tenang saja, bu Nada juga bukan tipe saya. Wanita kasar yang tidak bisa dikasih tahu dan harus dimarahi dulu supaya mengerti."
"Oh bagus, jika saya bukan tipe bapak. Tipe kaku yang bahkan mungkin saja patut dipertanyakan saat melakukan seks di atas tempat tidur," ucap Nada sambil menaikan kedua bahunya.
Putra tersenyum sinis mengingat malam tahun baru, Nada bersikap pasrah bahkan menjerit nikmat. "Apakah anda seyakin itu, ibu Nada terhormat?"
Nada mengangguk tegas. "Ya."
Reza bertanya. "Sudah selesai?"
"Ya!" jawab Putra dan Nada bersamaan.
"Saya tidak keberatan dengan pekerjaan kalian berdua, setidaknya kalian harus bisa menjadi tim kerja yang baik. Untuk kasus sekarang saya anggap sudah selesai dan tidak perlu dibahas lagi tapi untuk selanjutnya lebih baik aktifitas marketing ditinjau pihak general manager dan Putra, sebagai perwakilan saya."
Putra menunjukan senyum sombong ke Nada.
Nada yang kesal, kembali ke tempat duduk.
Divisi lain mulai presentasi.
------
Selesai meeting, tepat jam makan siang. Semua manager pusat memutuskan pergi ke kantin dulu.
Sambil memegang nampan, Nada melihat menu makanan khusus karyawan yang berlemak, sayuran ada pun itu mulai habis dan digoreng dengan lemak.
Rasanya ingin mual.
Nada mengembalikan nampan ke tempatnya.
"Lho? Tidak makan siang?"
Nada tersenyum canggung. "Ah, sepertinya saya tidak begitu lapar."
Nada keluar dari kantin sambil melihat menu makanan di handphone. "Entah kenapa aku ingin yang asam-asam sama pedas, apa aku pesan ayam sambal matah ya? Beli dua sekalian dan gak perlu pakai nasi," gumamnya.
Tanpa sadar, seseorang menariknya masuk ke dalam ruangan lalu dikunci.
Nada terkejut dan melihat tersangka.
Putra menarik Nada supaya duduk di sebuah kursi.
Tidak lama terdengar teriakan.
"PUTRAAA!"
"PUTRAAA!"
"Eh, kamu lihat Putra nggak?"
"PUTRAAA!"
Perlahan panggilan itu mulai menjauh.
Putra menghela napas panjang lalu duduk di kursi berhadapan dengan Nada.
Nada melihat sekeliling ruang yang kosong dan hanya diisi dua kursi yang mereka pakai. "Bukannya ini ruang data?"
"Ya, dikosongkan sementara untuk dibersihkan." Jawab Putra lalu mengambil tas ransel di dekat kakinya.
Nada terkejut begitu melihat Putra mengeluarkan dua bekal makanan.
Putra menyerahkan salah satu bekal makanan berwarna merah muda ke Nada dan bergambar lucu, tidak sesuai dengan citra garangnya.
"Ini?"
"Udang asam manis, kebetulan pagi tadi saya ingin makan asam-asam." Cemberut Putra lalu melirik perut rata Nada. "Jangan pakai rok ketat, mulai sekarang juga jangan pakai sepatu hak tinggi, pakai sepatu kets saja tidak apa."
Nada menatap bingung Putra. "Tunggu, tunggu. Kenapa kamu jadi perhatian begini?"
"Kenapa lagi? Tentu saja demi bayi."
Nada menutup perut untuk melindungi bayinya. "Aku tidak minta kamu bertanggung jawab terhadap bayi ini, kamu yang memaksa untuk tes kehamilan."
Putra menatap tidak percaya Nada. "Kamu ingin membesarkan anak ini sendirian?"
"Ya."
Putra mulai mengerti jalan pikiran Nada. "Kamu sebenarnya ingin hamil dan membesarkan anak itu sendirian? Kamu ingin menjadi single parent?"
"Ya."
Putra memijat keningnya. "Untung saja ayah si bayi adalah saya, bagaimana jika pasangan kamu adalah pria jelek dan-"
"Tentu saja aku akan pilih-pilih."
"Apa?"
"Di pesta topeng tubuhmu bagus dan juga sebagian wajahmu yang tidak tertutup itu membuat aku berasumsi kamu tampan." Nada senyumannya lalu senyum menghilang ketika teringat siapa pasangannya. "Tak kusangka itu kamu."
"Jadi dari awal kamu memang ingin hamil?"
"Tentu saja, buat apa aku sengaja menyerahkan keperawananku?" Nada mendadak menutup mulutnya, menyadari kesalahannya.
"Jadi kamu memang perawan?"
"Itu tidak penting dibahas." Nada mengibaskan tangan. "Pokoknya kamu tidak perlu terlalu dibebani mengenai anak ini, aku tidak akan menuntut kamu."
Putra menggelengkan kepala. "Tidak, saya tidak bisa."
"Kalau begitu nikahi saja anak pengusaha yang ngejar-ngejar kamu itu, siapa tahu-" Nada terdiam begitu melihat tatapan dingin Putra. "Aku minta maaf jika membuat kamu marah, tapi aku tidak ingin kamu merasa terbebani dengan kemunculan anakku."
"Dia juga anak saya."
"Tapi-"
"Berhenti bicara dan segera makan!" perintah Putra.
Nada mulai makan sekaligus menatap Putra dengan heran. "Apakah kamu benar-benar akan bertanggung jawab?"
"Tentu saja."
"Kalau aku tidak mau kamu ikut campur bagaimana?"
"Saya akan menuntut kamu."
Mulut Nada menganga lebar. "Apa? Menuntut?"
"Saya akan melakukan berbagai upaya supaya hak asuh bayi itu jatuh ke tanganku, kamu kira saya tidak menginginkan anak?"
Nada mengangguk cepat lalu cepat-cepat menggeleng. "Aku yang punya ide, aku juga yang melahirkan. Tidak adil tiba-tiba kamu merebutnya!"
"Makan!"
Nada ingin mengatakan sesuatu lalu tiba-tiba Putra memasukan selada yang sudah diisi ke dalam mulutnya.
Nada terkejut dan memakannya.
Putra mengamati Nada yang sedang mengunyah. "Bagaimana? Mual tidak?"
Nada menatap kagum Putra dan menutup mulutnya yang sedang mengunyah. "Bagaimana bisa- enak banget."
"Tentu saja, saya yang masak. Sebelum pak Reza menikah, saya dan Choky bergantian memasak. Kami bertiga tidak terlalu percaya makan di luar."
"Kenapa? Takut beracun? Aku punya sepupu yang orang tuanya terlalu berhati-hati memberikan makan ke anak tunggal mereka."
"Sayangnya kami bertiga tidak hidup sebahagia itu saat kecil." Putra kembali menyuap Nada.
Nada menerima dan makan dengan tenang.
"Kami sangat berhati-hati dan menjaga diri untuk bertahan hidup." Kata Putra sambil menyuap bagian dirinya.
"Apakah sejak kecil kalian tumbuh bersama?" tanya Nada penasaran.
Putra menggeleng, setelah menelan dia mulai menjawab. "Kami bertemu setelah dewasa, berpisah lalu bertemu lagi. Mungkin ini takdir."
Putra kembali menyuap Nada. Setelah bagiannya habis, dia menyuap lagi dengan bekal di tangan Nada.
Entah kenapa Nada tidak merasa mual sama sekali, setelah berhasil menelan makanan, dia kembali bertanya. "Apakah kalian menghindari lemak?"
"Ya."
Kedua mata Nada berbinar. "Di rumah aku juga menghindari lemak, soalnya ibu punya riwayat darah tinggi. Sayangnya di kantor masak banyak lemak jadi aku tidak terlalu suka, ditambah saat ini lagi hami-"
Putra kembali menyuap Nada dengan sendok lalu dia makan bagiannya. Mereka berdua berbagi bekal.
Seandainya saja mereka tidak bermusuhan di kantor, mungkin Nada akan menganggap Putra melakukan hal romantis, tapi kenyataan tidak semanis khayalan.
Nada juga memilih menaikan bendera putih supaya bisa makan, jika dia mengikuti ego dan harga diri, kasihan anak yang dikandungnya sekarang sementara harus bekerja dalam kondisi fit.
"Jika kamu ingin sesuatu, hubungi saya."
"Saya bisa menjaga diri."
"Jangan membantah!"
Nada menjadi kesal dibuatnya, dia tidak suka diperintah pria tidak dikenal.