TUJUH

1004 Kata
Nada menepuk perut dengan kenyang. Setelah menyelesaikan makan dengan Putra, dia segera melarikan diri ke ruangan. Tidak lama rekan-rekannya datang dari kantin dan melihat Nada yang sudah menepuk perut. 'Sudah makan?" Nada mengangguk. "Makan apa?" "Hanya salad." "Segitu kenyang?" "Ya." "Pantas saja badan bu Nada kecil terus." Sahut teman lain sambil duduk. Nada tidak tahu apakah itu hinaan atau pujian. Yang terpenting kebutuhan makan jabang bayi terpenuhi. Tring Nada membuka handphone dan terkejut. [Mau dibelikan buah? Kebetulan aku harus keluar bersama Choky.] Nada segera membalasnya. Tidak ada, terima kasih. Nada segera meletakan handphone dan hendak bicara. Tring. Nada membuka handphonenya lagi. [Saya belikan parsel buah yang cocok untuk wanita hamil.] Nada hampir saja melempar handphonenya, dia jijik dengan perhatian Putra. Sejak kecil Nada melihat perselingkuhan ayah jadi wajar tidak terlalu mengutamakan perjalanan cintanya. Karena beranggapan pria hanya mengumbar janji. Setelah dipikir kembali, Putra tidak pernah mengumbar janji kepada dirinya bahkan saat melakukan hubungan pun tidak mengucapkan cinta sama sekali, hanya ucapan menenangkan. Nada menjadi malu sendiri ketika mengingatnya kembali. "Bu, ada apa? Kenapa wajahnya memerah begitu?" Nada memegang kedua pipinya. "Benarkah?" "Apakah ada hal yang menyenangkan? Akhirnya anda berkencan?" "Tidak." Geleng Nada. "Wah, sayang sekali. Saya ingin melihat pasangan bu Nada, soalnya gagah sekali melawan pak Putra. Yang terpenting jangan sama pak Putra, bisa-bisa seumur hidup ibu akan merana." "Ha- hah?" "Bayangkan, setiap hari dimarahi di tempat kerja hanya masalah sepele, lalu diperbesar dan diungkit, saya rasa pak Putra orang yang pendendam." Kata salah satu karyawan marketing yang ditugaskan menghubungi travel. "Kamu jangan bilang begitu!" sahut yang lain. "Tapi memang benar lho, berapa usia pak Putra? Tiga puluh tujuh tahun kalau tidak salah, usia segitu belum menikah pasti emosinya meledak-ledak. Aku juga dulu punya teman seperti begitu, usia tidak terlalu jauh dengan pak Putra, lebih tua malah tapi sedikit-sedikit marah, jika kesal juga marah." "Pria seperti itu apakah butuh kepuasan fisik?" Nada menyimak pembicaraan mereka. "Apakah mereka juga akan memukul jika emosi?" "Yah gimana ya bu, kita sih tidak bisa menyamaratakan semua pria tapi terkadang memang ego pria itu tinggi, jika kalah dengan wanita, mereka akan dipermalukan atau malu sendiri." Nada terkejut. "Kakakku tidak seperti itu, dia baru saja berusia tiga puluh tahun tapi peduli sama aku dan ibu." "Itu kalau sama keluarga, bagaimana dengan yang lain? Mungkin juga sama, pria seperti ini banyak lho yang tidak ingin disalahkan, maunya sempurna terus padahal semua orang tidak akan sempurna." "Apa karena terlalu banyak bergaul dengan pak Reza?" "Bisa jadi." "Bukannya pak Reza dingin dan misterius?" tanya Nada yang tidak mengerti. "Ya, tuan besar sangat dingin dulu tapi sejak bersama nyonya, entah kenapa kepribadiannya berubah," kata senior marketing yang bertugas mendata tamu yang akan datang. "Aku heran, ada yang memanggil mereka bapak-ibu, ada juga yang memanggil tuan besar dan nyonya," kata Nada. "Kalau saya karena keluarga bekerja di rumah keluarga Aditama, jadi kebiasaan. Staff lama di hotel juga ada yang memanggil tuan dan nyonya, kebiasaan aturan lama sebelum tuan besar menjadi kepala keluarga. Sekarang karena rumah kebanggaan keluarga Aditama sudah runtuh, otomatis tuan besar merubah panggilan itu menjadi bapak dan ibu di lingkungan hotel. Kami sendiri juga tidak terlalu keberatan dan mereka juga tidak terlalu memikirkannya." Nada mengangguk mengerti. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Nada melihat gambar yang dikirimkan Putra dengan terkejut. Dia sungguhan beli buah? Astaga! Jika Nada cerita sekarang mengenai Putra, mungkin tidak ada yang percaya tapi menunjukan bukti foto juga tidak mungkin. Nada memutuskan kembali bekerja. Sementara Choky terkejut melihat Putra mengamati serius bungkusan parsel dan catatan di handphone. "Memangnya ini mau diberikan ke siapa?" tanya Choky yang penasaran. "Teman," jawab Putra. "Memang kamu punya teman?" Putra memutar bola mata. "Punya, kenapa?" "Kita bekerja hampir dua puluh empat jam dan kamu masih sempat bergaul?" "Bisa tidak ikut campur urusan orang lain?" "Tidak bisa, karena aku penasaran. Aku benci ada kecurangan!" Putra memutar kepala dan menatap Choky yang lebih tinggi darinya. "Curang?" "Ya, kamu curang dengan mencuri waktu. Apa kamu tidak kasihan padaku yang tidak memiliki teman sekaligus pasangan? Hidupku hanya di seputar tuan besar dan nyonya." Putra tertawa sinis. "Kamu kira aku tidak tahu kalau kamu sering mengirim bunga untuk nona Erika?" "Ini dan itu beda, aku hanya memberikan hiburan karena berkali-kali dia ditipu lawan jenis. Aku hanya kasihan padanya." "Oh ya?" Putra tidak percaya. "Tentu saja karena dulu dia sempat menjadi simpanan om-om dan melakukan ini itu dengan banyak pria semasa muda." "Kamu tidak kasihan padanya?" tanya Choky. "Aku akan kasihan jika dia tidak pernah memiliki rencana busuk, pada kenyataannya orang yang sejak kecil memiliki rencana busuk pasti akan berbuat kejahatan ketika dewasa." "Benarkah itu? Berarti aku akan ditipu olehnya?" "Ya, tentu saja." "Tapi aku merasa tidak ditipu olehnya." Putra menerima nota pembelian dan segera mengantri. "Tidak sekarang, tapi nanti. Dulu dia sempat akan menjatuhkan nyonya, sebaiknya kamu berhati-hati." Choky menjadi kesal dan meninggalkan Putra mengantri sendiri. "Aku tunggu di mobil!" Putra melihat punggung Choky yang sudah menjauh lalu melihat handphone pribadi, pesan yang dikirim sudah dibaca Nada tinggal menerimanya. Sementara di kantor, Nada melihat pesan yang dikirim sang ayah yang membuat darahnya mendidih. Aku akan dijodohkan lalu dijadikan istri kedua?! Nada membaca pesan lanjutan ayahnya. Si pria tidak masalah jika Nada sedang dalam keadaan hamil, itu membuktikan bahwa rahimnya masih subur dan bisa memiliki anak. Apakah ayahku sudah gila?! Nada segera mengirimkan teks pesan ayahnya ke sang kakak. Biar, berantem saja sekalian mereka berdua. Tok tok tok "Bu Nada, ada yang memanggil anda." Nada segera berdiri tanpa bertanya lalu berjalan menuju tempat front office dan menyambut ramah tamu yang ditunjuk salah satu staff yang memanggilnya. "Ada yang bisa saya bantu?" "Saya mendaftar lewat travel agent dan membayar pakai diskon, begitu tiba disini ternyata diskon sudah tidak berlaku lagi dan saya harus membayar penuh satu kamar." Seorang wanita menunjukkan handphone ke Nada. Nada melihat diskon yang seharusnya tidak aktif lagi masih tertera di web travel agent. "Saya bicara dulu ke pihak ta, anda bisa duduk menunggu dengan wellcome drink." "Terima kasih." Dengan sigap Nada menelepon travel agent sekaligus memastikan tamu dilayani dengan baik. Setelah deringan kelima, pihak travel agent mengangkat telepon, Nada mulai berdiskusi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN