DELAPAN

1027 Kata
Putra akhirnya membawa parsel buah ini dengan beberapa pertimbangan, dia harus memberikan sendiri barang ini ke Nada dan menjadikannya sebagai alasan untuk permintaan maaf. Yah, Putra sendiri tidak tahu letak kesalahannya dimana tapi melihat Nada mau menerima semua makanan buatannya, mau tidak mau dia juga harus mengalah. Toh semua pekerjaannya selesai dengan cepat. Plak! Putra dan Choky mendengar suara tamparan keras begitu berjalan masuk ke lobby. "KAMU BILANG APA?!" Nada yang juga terkejut, menyentuh pipinya yang ditampar lalu tak lama dia berhasil menguasai keadaan. "KAMU TAHU TIDAK, SAYA SUDAH CAPEK-CAPEK PERJALANAN JAUH DAN KAMU MAU MENGUSIR SAYA?!" Nada menunjukkan senyum bisnis. "Maaf ibu, saya hanya menyarankan supaya ibu tidak merasa rugi. Saya juga akan mengembalikan uang sepenuhnya." Putra mengerutkan kening begitu mendengar keputusan seenaknya Nada. Aturan hotel adalah tidak mengembalikan dana dp jika masuk masa high season dan sekarang sudah masuk masa itu. Choky yang bodoh pun tahu aturan hotel. "Apakah mereka tamu dari agent." Ah, bisa juga seperti itu. Batin Putra. TA akan memberlakukan potongan lima puluh persen yang bekerja sama dengan hotel. "AKU BAWA ANAK KECIL DAN ORANG TUA DISINI, MASALAH PAKET YANG TIDAK TERPAKAI ITU SEHARUSNYA KESALAHAN KALIAN! AKU SUDAH MEMBAYAR PENUH PAKET ITU!" Nada membungkuk dan meminta maaf. "Sekali lagi saya minta maaf, kami sudah menginformasikan pihak agent dan mereka lupa mengganti paket yang ibu bayar, karena ini sudah masuk high season jadi tidak berlaku lagi. Sebagai gantinya kami akan memberikan paket terbaru dengan harga setengah kamar hotel dan berbagai fasilitas lainnya yang bisa digunakan secara gratis." "SAYA TIDAK BUTUH FASILITAS HOTEL! SAYA HANYA BUTUH FREE SATU KAMAR! MAU DITARUH DIMANA ORANG TUA SAYA? LORONG?!" bentak ibu itu sambil mendorong Nada. "GAK MASUK AKAL DONG BISA LUPA BEGITU!" Nada hampir terpeleset ke belakang. Putra yang melihat itu menyerahkan parsel buah ke Choky dan berjalan menuju mereka. "Ah." Choky hendak memanggil Putra tapi ditahannya karena Vivi sudah menggeleng dari kejauhan. "PANGGILKAN MANAGER KALIAN SEKARANG JUGA!" "Kebetulan manager operasional dan general manager sedang keluar, saya yang ada disini." Putra berdiri menjulang di hadapan pasangan suami istri itu. Para karyawan hotel ketakutan melihat Putra sudah datang. Ibu itu menunjuk Nada dengan marah. "Wanita ini sudah bertindak kurang ajar terhadap saya! Saya diusir padahal sudah membayar penuh paket di web!" "Agen mana tempat ibu mendaftar?" tanya Putra ke Nada. Nada segera menjawab. Setelahnya Putra menghubungi pihak travel agent. "Pak Handoko. Saya Putra Aditama, sekretaris bapak reza Aditama. Saya minta tolong anda dan salah satu staff anda yang bertanggung jawab menangani tamu kami yang masuk hari ini untuk datang. Saya berikan waktu lima belas menit." Putra memutus sambungan telepon dan bertanya ke staff senior marketing. "Ada bukti korespondensi mengenai perubahan paket ke TA? Berikan padaku sekarang!" Staff itu segera mengambil print out di atas meja dan memberikannya ke Putra. "Saya sarankan kita bicara baik-baik di ruang khusus sehingga anda merasa nyaman dan tidak perlu lelah menunggu." "TIDAK USAH MENJILAT KAMI! KAMI AKAN MENUNGGU!" bentak ibu itu yang mulai kesal. Putra menoleh ke Nada yang berdiri di belakangnya. "Kamu ambil kursi dan duduk disini." Nada terkejut. "Eh, enak saja kamu menyuruh dia duduk sementara saya hanya berdiri! Saya yang dirugikan, kenapa dia harus enak?" Putra menatap dingin tamu itu. "Tadi saya sudah menawarkan anda untuk ke ruang khusus supaya tidak lelah menunggu, sementara staff saya ini sedang tidak enak badan, jika sampai terjadi sesuatu pada staff saya, apakah anda mau bertanggung jawab?" Tamu itu terdiam dan mengalihkan wajahnya. Dia kesini untuk liburan keluarga, bukan membayar extra! Vivi dan Reza memutuskan masuk ke dalam ruangan sementara Choky menyerahkan parsel buah ke Putra dan mengikuti dua atasannya. Lima belas menit kemudian pemilik travel agent dan dua karyawan yang bertanggung jawab datang dengan tergesa-gesa, masalahnya yang mereka hadapi hotel yang dimiliki keluarga Aditama. Jika mereka menjadi musuh, bisnis mereka bisa hancur. "Pak Putra, saya meminta maaf dan menyesali masalah yang terjadi sekarang ini," kata pak Handoko sambil menjabat tangan Putra. Putra menarik tangannya dan berkata. "Jika anda ingin meminta maaf, seharusnya kepada para tamu ini. Mereka sudah membayar penuh paket yang ditawarkan, sementara paket itu sudah tidak berlaku di tempat kami. Saya juga punya suray korespondensi dan jawaban satu minggu sebelum perubahan paket." Kedua karyawan membungkuk dan meminta maaf ke Putra. "Mohon maaf, ini kesalahan kami. Kami pegawai baru sementara karyawan lama yang bertanggung jawab sudah resign." "Itu bukan alasan yang bisa saya terima, tamu sudah membayar penuh dan kalian tidak cek email korespondensi?" tanya Putra. "Ya, kami tidak cek karena mengira sudah selesai dan sudah serah terima." Putra menoleh ke Nada yang sedang duduk. "Apakah staff marketing tidak memeriksa secara berkala web?" Nada menjawab. "Kita bekerja sama dengan mereka dalam kondisi, web mereka yang tangani. Saat ada tamu masuk, mereka yang akan koordinasi ke kami. Masalah cek web, jika bukan kami yang memegang web, kami tidak akan menyentuhnya." "Kenapa bisa begitu?" tanya Putra. "Karena kami tidak akan bertanggung jawab bentuk kesalahan seperti sekarang ini," jawab Nada. Putra menatap lurus pemilik travel agent dan melipat tangan di depan d**a. "Hotel kami adalah hotel yang menjunjung tinggi profesional, jika ada tamu yang tidak puas, selama itu ada di ranah kami, kami akan bertanggung jawab. Lain halnya jika ini murni kesalahan dari pihak lain." Tamu yang merasa dirugikan menatap marah pemilik travel agent itu. "Anda sudah membuang waktu dan tenaga saya, kerugian saya sangat banyak, yang tadinya kami ingin melepas penat jadinya harus trauma karena kecerobohan kalian." Pak Handoko meminta maaf dan memberikan solusi untuk tamu. Putra berkata lagi. "Karena pihak tamu sudah bersikap kasar terhadap salah satu staff kami yang tidak bersalah, kami akan membatalkan kamar tanpa kompensasi yang itu berarti tanggung jawab sepenuhnya ada di pihak agent." Pak Handoko terkejut tapi tidak bisa membantah keputusan tangan kanan kepala keluarga Aditama. Dia yang akan mengambil alih tanggung jawab dan mencarikan hotel lain untuk tamu. Tapi tamu itu menolak karena ingin menginap di tempat ini, dia bersikeras ingin tinggal bersama keluarganya. Pihak travel agent kebingungan. Nada akhirnya memberikan solusi. "Jika anda bersedia membayar paket yang sudah saya info tadi, kami akan memberikan kamar dengan syarat tidak ada fasilitas gratis lainnya. Hanya kamar saja." Ibu itu merasa tidak adil dan mulai mengomel. "Kamu tadi bilang A dan sekarang bilang B?" Darah Putra serasa mendidih sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN