SEMBILAN

1018 Kata
Putra tidak suka melihat ibu dari anaknya dibentak di depan umum apalagi didorong dalam keadaan hamil. "Kami tahu pelanggan adalah raja tapi kami juga ingin mendapat timbal balik dari anda, hargai salah satu karyawan kami. Seandainya saja anda tidak emosi dan menuduh ini itu, mungkin kami akan memberikan kompensasi meskipun kesalahan bukan ada di pihak kami." Putra menatap dingin keluarga tamu itu. "Jika anda ingin menyebar luaskan kritikan anda, kami akan terima dengan senang hati dan membuka cctv di depan umum." Keluarga itu terdiam dan cemberut, akhirnya mereka pilih meninggalkan hotel dan menginap di tempat lain. Mereka juga tidak berani mengancam setelah mendapat ancaman terlebih dahulu. Sedari awal, Putra sudah menjabarkan masalahnya di depan mereka. Setelah mereka pergi, dan suasana mulai terkendali yang untungnya masih belum ada tamu yang mondar mandir di lobby. Putra berdiri di hadapan Nada dan membentak. "Saya sudah bilang tadi untuk tidak memakai sepatu hak tinggi, kenapa kamu masih pakai juga?" Nada terkejut, begitu juga yang lainnya. Komplain Putra tidak berhubungan dengan pekerjaan. "Perusahaan memang bertanggung jawab pada kesehatan karyawan tapi bukan berarti bertanggung jawab pada kematian seseorang!" Oke, bukankah ini sudah berlebihan? Nada hanya didorong dan dibentak di depan umum, orang bodoh pun tahu hal itu tidak akan membuat Nada meninggal di tempat. Lain halnya dengan pemikiran Putra yang pernah membaca ibu hamil harus kehilangan darah banyak ketika keguguran lalu belum lagi psikologis ibu jika kehilangan anak. Jika Nada paham jalan pikiran Putra, mungkin dia akan menertawakannya tapi ternyata air mata yang keluar. Semua orang yang menunggu jawaban Nada, lebih terkejut. Wanita yang suka melawan Putra demi kebenarannya, malah menangis di hadapan musuh. Nada segera menghapus air mata dengan kesal, tapi semakin dihapus semakin banyak yang keluar. "Aku- aku tidak tahu akan menjadi begini- padahal bukan salahku-" Manajer operasional pusat dan General manager terkejut melihat pemandangan itu ketika memasuki lobby. Nada duduk sambil menangis sementara Putra berdiri mengintimidasi. Mereka berdua segera menengahi. "Pak Putra, astaga. Sayakan sudah bilang jangan kasar terhadap wanita," ujar manajer operasional pusat. General manajer menggeleng dan menarik Putra supaya tidak berkelanjutan sementara Putra sendiri bingung dengan reaksi Nada. Nada ditarik teman-temannya masuk ke dalam kantor. Setelah Nada mulai tenang, salah seorang karyawan FO berkata. "Ini ada parsel buah untuk bu Nada, hanya tidak ada nama pengirimnya. Ada di atas meja, sepertinya ini dari pak Putra." Semua marketing menatap sedih Nada yang sedang mengeluarkan ingus dari tisu. Tersadar menjadi tontonan orang-orang, Nada meringis. "Bu Nada, mungkin ini permintaan maaf pak Putra buat ibu. Terima saja, jangan berantem lagi," saran senior marketing. Nada menghela napas panjang. Padahal Putra membelikannya buah untuk tujuan lain. Nak, kalau sudah besar jangan punya sifat seperti ayah kandung kamu itu ya. Batin Nada. ------- Putra yang sudah didorong ke dalam lift khusus oleh dua manajer, melangkah keluar ketika sudah sampai ke tujuan. Choky mengangkat kepala ketika Pitra keluar lift dengan wajah lesu, begitu juga dengan Vivi dan Reza yang sedang bahas masalah pekerjaan. Putra tersadar dari lamunan lalu bergegas jalan menuju kedua atasannya. "Maaf, sudah menunggu terlalu lama." "Apakah kamu buat menangis karyawan itu lagi?" tanya Reza. Putra tidak menjawab. Vivi melipat kedua tangan di d**a. "Jika kamu masih ingin menyelesaikannya kami akan berbaik hati menunggu." Putra ngeri dengan kalimat menunggu dari kedua atasannya ini. Menunggu berarti bisa membalas dendam dengan memberikan tugas menumpuk sementara mereka berdua asyik masyuk seperti pengantin muda. "Tidak, terima kasih. Saya sudah bisa mulai kerja." "Oke." Vivi menepuk dokumen yang sudah menumpuk di atas meja Putra. "Aku sama suami akan ke Australia untuk mengawasi proyek disana, jadi kamu harus menggantikan kami. Kalau bisa, sebelum kami berangkat, kamu harus bisa menyortir ini semua supaya kami bisa tanda tangan secepatnya." "Baik, nyonya." Jawab Putra yang tidak bisa membantah. Jika orang lain melihat betapa loyal dirinya pada perusahaan mungkin akan kagum atau menertawakan dirinya. Tapi tidak ada yang tahu betapa suram hidupnya sebelum masuk ke tempat ini dan diberikan kesempatan untuk keluar dari lingkungan setan. Sejak saat itu, Putra memutuskan setia dan akan tunduk pada Reza dalam kondisi apa pun. Setelahnya dia sibuk bekerja di kantor bahkan lembur sampai jam sebelas malam, itupun baru seperempat selesai. Putra sudah tidak kuat menahan kantuk. Penjaga keamanan sudah menghubungi telepon kantor Putra untuk memastikan dia masih ada di kantor atau sudah pulang. Tuan dan nyonya sudah pulang jam lima sore sementara Choky pulang satu jam setelahnya. Putra memutuskan untuk pulang dan istirahat, melanjutkan pekerjaan keesokan harinya. Ketika sudah di lantai bawah setelah naik lift, Putra belok menuju parkir mobil dan melihat Nada berdiri di depan pintu sambil bermain game di handphone. Nada yang menyadari ada seseorang mendekat, sontak mengangkat kepala dan menatap Putra. Dia juga terkejut melihat tukang bully pulang larut malam. "Anda lembur?" Putra yang bisa melihat arti sikap Nada, mengangguk kecil. "Ya, kamu sendiri belum pulang?" "Ah, sebentar lagi mau pulang. Tunggu taxi dulu." Putra menjadi bingung. "Tunggu taxi di tempat parkiran? Bukan di lobby?" Nada mengangguk. "Ya, di lobby sedang ada para tamu yang akan melakukan turnamen golf jadi saya tidak bisa lewat sana dan menyuruh pihak sana menjemputku disini. Ah, terima kasih atas buahnya. Enak." Putra mengabaikan ucapan terima kasih Nada. "Itu sudah menjadi tugas saya, kenapa kamu lembur jam segini?" "Ah, berkat kesalahan satu TA. Saya jadi minta semua marketing cek data hotel kita termasuk soal paket liburan, sekarang baru selesai." "Kamu buat yang lain lembur?" "Ya, tapi hanya sebatas jam delapan malam. Awas kalau saya tidak boleh minta uang lemburan untuk mereka." Ancam Nada. Putra mengerutkan kening. "Hal itu bisa dilakukan besoknya, tidak perlu buru-buru." "Apakah anda tidak setuju dengan ideku? Saya hanya ingin kita tidak kecolongan lagi, lebih cepat lebih baik." "Bukan begitu, saya tidak suka ada orang yang tidak bisa menjaga kesehatan." Nada menatap sinis Putra. "Lalu anda sendiri bagaimana?" "Ini dan itu beda, saya menyelesaikan banyak hal, bukan satu hal." "Ya, ya." "Nada, saya serius. Lain kali jangan lembur." Nada menatap tidak percaya Putra. "Apakah sekarang anda sedang kritik kinerja saya? Tidak layak di mata anda sehingga tidak perlu lembur? Tenang saja, ada cctv di ruangan kami sehingga kamu bisa mencari kesalahan." "Saya tidak membahas soal itu, saya mengkhawatirkan kamu dan anak kita." Kedua mata Nada mengerjap. "Apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN