Nada dan Putra saling beradu pandangan.
Putra tidak bermaksud bersikap romantis, dia hanya ingin bertanggung jawab.
Nada juga tidak menganggap romantis semua yang dilakukan Putra.
Mereka berdua hanya dua lawan jenis canggung tentang hubungan dan ingin bertanggung jawab terhadap anak yang belum lahir, meskipun cara untuk mendapatkannya salah.
Tin! Tin!
Nada dan Putra sama-sama menoleh ke sumber suara yang baru berhenti di samping mereka.
Sopir Taxi keluar dan bertanya. "Ibu Nada?"
Nada segera pergi ke arah Taxi. "Saya, pak."
Putra menarik tangan Nada. "Tidak jadi, pak. Biar dia pulang sama saya."
"Eh, nggak pak. Jangan, saya sama bapak saja."
Putra menatap tajam Nada. "Kamu serius pergi sama orang tidak dikenal?"
"Orang tidak dikenal gimana? Dia sopir taxi."
"Sopir taxi tapi orang asing sama saja bohong."
Sopir taxi menjadi tidak tahan lagi. "Maaf, kalau masih lama- saya kenakan charge menunggu lho." Ancamnya.
Nada menarik tangan lalu masuk ke dalam taxi.
Putra menatap sopir taxi. "Pak, tunggu saya. Saya ikuti dari belakang, ini uangnya."
Nada yang melihat itu, segera membuka kaca jendela mobil. "Heh! Ngapain kasih uang ke sopir taxi?"
Sopir taxi yang sudah mengantongi uang seratus ribu satu lembar, bertanya. "Ini di luar biaya perjalanan, kan?"
"Ya."
Sopir taxi tersenyum dan masuk ke dalam mobil, menunggu mobil Putra jalan di belakang.
Nada menjadi bingung.
Setelah sopir taxi menjalankan mobil ke luar parkiran dalam gedung hotel, langsung menceramahi Nada. "Mbak, jangan terlalu sering bertengkar sama suami. Gak baik, apalagi pasangan muda. Harus bisa menjaga komunikasi, kasihan juga suaminya."
Nada mengerutkan kening dengan bingung. Sejak kapan aku punya suami?
"Tuh lihat, suaminya saja sampai mengikuti dari belakang. Ngomong-ngomong alamatnya sesuai dengan pesanan, kan?"
"Ya." Jawab Nada lalu memutar kepalanya ke belakang. Mobil bmw X6 keluaran terbaru. Kata manager lainnya, harga mobilnya mencapai dua milyar.
Nada tidak terlalu tertarik dengan kehidupan orang lain tapi kadang kagum dengan Putra yang menjadi tangan kanan pemilik hotel. Sekalipun terlihat lelah di matanya, semangat bekerja masih ada. Sisanya, sifat orang itu sangat menyebalkan.
Setelah sampai rumah yang membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, Nada melihat mobil Putra berhenti di depan gang lalu pergi.
Kalau Nada tidak salah ingat, Putra tinggal di apartemen yang jaraknya cukup dekat dari hotel, yang berarti harus memutar kembali mobilnya.
Nada mendecak kesal, tidak terharu dengan perbuatan Putra. "Dasar sok kaya, buang-buang bensin saja!"
Begitu sampai di apartemen, Putra segera mandi dan tidur. Besok pagi harus sudah di rumah atasannya untuk memberikan sebagian dokumen sekaligus melapor.
-------
"Selamat pagi," sapa Nada dengan riang. Hari ini dia tidak perlu susah ataupun mual untuk makan apa pun, yah mungkin sedikit ingin makan sesuatu tapi lainnya tidak masalah.
Kakaknya pun heran saat melihat sang adik makan dengan lahap. "Kamu beneran hamilkan?"
Nada mengangguk dan segera menghabiskan semua makanan jatahnya di atas meja.
Ibu mereka tersenyum bahagia.
Nada pun jadi semangat bekerja, berbeda dengan Putra yang entah kenapa tiba-tiba merasa cepat lelah dan malas melakukan sesuatu.
General manager yang melihat itu menggelengkan kepala dan menegurnya ketika menunggu lift. "Pak Putra, tadi saya sudah lihat laporan security. Bapak lembur sampai jam sebelas malam, terus jam lima pagi bapak sudah di rumah tuan besar buat menyerahkan laporan. Hati-hati, jaga kesehatan."
Putra mengerutkan kening dengan bingung. "Kok tahu jam lima saya ditempat beliau?"
"Beliau menghubungi saya sebelum anda datang."
Putra mengangguk mengerti.
"Saya akan membuka kamar untuk anda supaya bisa istirahat saat jam makan siang, apakah pak Putra juga ingin makan siang dari hotel juga? Kebetulan koki hari ini sedang mengeluarkan menu baru, sekalian bisa diperiksa juga."
Putra mengangguk lagi. "Ya, boleh."
Ting!
Putra masuk ke dalam lift, general manager melambaikan tangan.
"Langsung telepon fo untuk buka kamar, saya akan segera beritahu mereka."
"Terima kasih banyak."
Pintu lift khusus tertutup dan segera naik ke lantai ruangan Putra.
General manager pergi ke ruang fo yang kebetulan Nada sedang berdiri di depan salah satu komputer sementara staff lainnya sibuk menangani tamu.
Nada yang sedang melihat daftar kamar dengan serius dan mencatat beberapa informasi yang ditinggalkan house keeping, terkejut ketika mendengar suara ketukan meja.
General manager tertawa kecil. "Bu Nada pagi ini sibuk ya?"
Nada yang sedang memegang dadanya karena terkejut, menjawab. "Ya, hari ini ada tamu grup datang dari luar negeri. Saya sedang memastikan kamar sudah ready dan tidak ada masalah. Tamunya ini agak cerewet."
General manager mengangguk. "Kamar khusus tidak ditempati, bukan?"
Kamar khusus yang dimaksud adalah kamar yang disediakan untuk manager yang harus lembur, kadang kala kamar juga dipakai untuk tamu jika ada overbooked.
"Ah, apakah ada manajer pusat yang akan lembur?" tanya Nada.
"Bukan, pak Putra mau istirahat sebentar nanti siang."
"Pak Putra?"
"Ya, kasihan. Tadi datang wajahnya sudah pucat begitu, saya baca laporan security, beliau pulang sekitar sebelas malam. Ah, kalau tidak salah bu Nada juga pulang malam. Apakah bertemu beliau?"
Nada hendak membantah tapi teringat dengan cctv hotel. "Iya, bertemu di depan pintu parkiran. Habis itu berpisah."
Untung saja semalam Nada menolak naik mobil sehingga jika mereka periksa tidak akan menimbulkan gosip aneh.
"Yah, resiko menjadi tangan kanan. Saya terbiasa bangun jam tiga buat sholat malam, biasanya sekitar jam empat atau lima, tuan besar menghubungi saya untuk menanyakan laporan di pagi hari."
"Lho? Kan bukan jam kerja."
"Ya, tapi tuan besar sudah memperingatkan saya dari awal mengenai laporan lebih pagi. Makanya saya bisa jadi atasan kalian semua hahahaha."
Nada tertawa canggung lalu berkata. "Untung anda info saya lebih awal, sebelumnya saya mau memakai kamar itu untuk tamu."
"Memangnya sekarang kita overbooked?"
"Tidak sih pak, cuma tamunya ingin kamar lebih dekat dengan restoran. Kamar khusus letaknya dekat dengan lobby dan restoran."
Jika tamu naik ke atas maka akan bertemu lobby, tapi jika menuruni tangga yang terbuka, akan bertemu restoran. Kamar khusus memang dibuat supaya para manager bisa mencapai langsung ruang kerja.
"Kalau begitu, booked buat pak Putra sekalian juga info pihak restoran untuk memberikan tes menu ke beliau," kata general manager.
Nada segera membuat catatan room di komputer supaya dibaca fo. "Ya, saya akan teruskan ke pihak f&b."
"Oke, terima kasih." General manager segera pergi ke ruangannya sementara Nada menatap heran komputer.
Apa orang itu masuk angin karena bersikeras mengikuti taxi semalam?