Jam sebelas siang, Putra memutuskan istirahat lebih awal dan minta izin ke Vivi.
Vivi mengangguk kasihan. "Wajah kamu pucat, yakin tidak ke dokter?"
"Mungkin hanya masuk angin, istirahat lebih awal sudah cukup."
"Oke."
Putra menutup pintu ruang kerja dan pamit ke Choky. "Aku istirahat sebentar."
"Pulang ke rumah saja, nyonya pasti mengizinkan."
"Tidak perlu."
Putra segera turun dengan lift lalu berjalan menuju lobby.
"Pak Putra, ini kartunya lalu makanan mau diantar sekarang?" tanya staff fo sambil memberikan kartu kamar ke Putra.
"Telepon saya satu jam lagi untuk info makanan yang mau dikirim," kata Putra.
Nada yang baru keluar dari ruang marketing, melihat Putra sudah berjalan menuju kamar. Dia segera menghampiri staff fo. "Pak Putra sakit?"
"Tidak tahu, bu. Tapi wajahnya pucat sekali."
Nada menghela napas panjang lalu memberikan laporan ke fo. "Berikan ini ke manager fo pusat ketika sudah datang, tamu kamar 108 komplain mengenai lampu kamar yang mati, hk sudah membantu ganti lampu tapi ternyata tidak mau nyala. Mungkin ada masalah dengan listrik, jika tidak bisa diperbaiki dan butuh waktu lama, pindahkan tamunya dan berikan menu khusus sebagai permintaan maaf."
"Baik, bu."
"Lalu jika sudah selesai, suruh pihak engineering tanda tangan dan tulis alasan kenapa bisa muncul masalah ini, dan bahas dengan manager kalian."
"Baik, bu."
Setelah memastikan pihak fo paham, Nada segera masuk ke ruangannya.
Semoga orang itu tidak sakit.
-----
Satu jam kemudian.
Nada yang baru saja menerima makanan pesanannya dari online, melihat wajah cemas salah satu staff fo yang sedang menghubungi seseorang. "Ada apa?" tanyanya.
"Pak Putra tidak angkat telepon di kamar. Apa beliau pingsan ya?"
Nada mengambil alih telepon dengan sopan dan menekan angka kamar khusus. Setelah menunggu lama deringan telepon, dia menghubungi general manager.
"Pak, Pak Putra minta reminder satu jam lagi tapi ketika dihubungi tidak diangkat, sudah bolak balik telepon staff fo."
Tidak lama general manager lari ke lobby dengan kecepatan maksimal bapak-bapak usia empat puluh awal dan perut setengah buncit. "Mana kartu global."
Staff fo segera memberikan ke general manager, Nada mengikuti dari belakang.
Sebelum membuka pintu, general manager mengetuk pintu. "Pak Putra."
Tidak ada jawaban.
"Pak Putra, anda baik-baik saja?"
Pintu kamar terbuka, Putra yang habis berendam dan memakai kimono mandi, menjadi bingung. "Ya?"
General manager dan Nada menghela napas lega.
Tanpa sadar Nada mengintip perut Putra yang kotak-kotak. Kapan orang ini olah raga? Gak masuk akal banget sih pulang kerja malam dan berangkat pagi.
Putra yang menyadari arah pandangan Nada menutup kimononya dengan rapat dan melempar tatapan jijik. "Ibu Nada, apakah anda sadar sekarang sedang melakukan pelecehan seksual kepada saya?"
Nada terkejut dan menatap bingung Putra. "Hah?"
General manager tertawa geli. "Bu Nada dari tadi lihat perut pak Putra, tidak sopan bagi pemiliknya."
Nada mengerutkan kening dan bicara jujur. "Saya hanya bingung, bagaimana anda bisa punya perut seperti itu sementara hampir dua puluh empat jam kerja, apakah di kantor anda ada ruang gym? Ah, pak Choky juga sama."
Putra menutup pintu dengan kasar.
Nada menatap bingung general manager. "Apa saya salah?"
General manager mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
Putra membuka pintu dan bicara ke general manager. "Kirimkan trial menu itu ke nyonya, saya nanti ke dapur." Setelah itu menutup pintu lagi.
Nada mendengus keras. "Rugi saya sudah khawatir!"
"Yang sabar, Bu."
Hanya itu hiburan yang bisa diberikan general manager. Kalimat sabar!
--------
Setengah jam kemudian, para manager pusat berkumpul di dapur bersama general manager, Putra dan koki.
Siang ini dapur mengeluarkan menu buffe dan tidak membuka pesan antar ke kamar selama dua jam ke depan. Putra memanfaatkan ini untuk mencoba trial menu.
Koki utama dan timnya mengeluarkan menu baru untuk pergantian season, menu ini dikeluarkan secara terbatas untuk menunggu reaksi tamu dan juga komentar para manager.
Semua menyicipinya dalam porsi kecil. Ada dua minuman, tiga menu utama dan lima penutup.
Nada menghindari menu utama yang terdiri dari daging-dagingan supaya tidak mual dan muncul kecurigaan orang-orang.
"Menu penutup bisa juga dijadikan sebagai camilan, ada cake mini rasa Tiramisu dan red Velvet lalu pudding cake yang dibentuk lucu untuk high season, sedikit terlambat tapi setidaknya bisa dikejar. Kami terlambat mengeluarkan menu baru karena masih ada banyak permintaan untuk menu lama." Koki utama mulai menjelaskan dengan hati-hati ke Putra dan manager lainnya. "Yah, mengingat restoran kita juga bisa dipesan secara online karena itu saya-"
"Huek!"
Semua orang di dapur terkejut.
"Huek!"
Putra tanpa sadar menjadi mual begitu menghirup bau makanan menu baru.
Koki utama menjadi salah paham. "Pak Putra, kami hanya mengeluarkan menu halal sehingga anda tidak perlu khawatir."
"Huek!"
General manager mulai khawatir. "Apakah anda masih sakit?"
Putra yang menutup mulut dan hidung untuk menahan mual, menggeleng. "Tidak, entah kenapa baunya agak sedikit membuat saya mual."
Para manager lain kecuali Nada mencoba membaui makanan menu utama termasuk koki utama dan timnya, mereka takut melakukan kesalahan.
"Ah, mungkin saya hanya bisa makan jadinya tidak bisa membedakan," kata manager accounting pusat. "Baunya enak kok."
Putra menatap jijik menu itu. "Kalau begitu, biar koki dan lainnya mencatat komentar para manager. Saya pass."
Nada menatap aneh Putra yang sudah menutup hidungnya dengan sapu tangan. Bilang saja ini tidak masuk selera kamu. Gerutunya di dalam hati.
Putra melihat buah-buahan di atas pudding cake. "Boleh saya coba itu?"
Koki utama segera memotong dan memberikannya ke Putra.
Dalam sekejap potongan habis dimakan Putra.
Nada jadi tertarik dan ingin menyicipinya setelah dibantu potong oleh koki utama, lalu terkejut saat menggigit sedikit pudding itu. "Astaga, ini asam sekali."
Koki utama cemberut melihat makanan itu dan menjelaskan dengan tatapan tidak bersalah. "Saya mencoba buat pudding dari buah asam termasuk buah hiasannya, saya pikir di high season akan ada orang yang tertarik dengan menu ini."
Yang lain menyicip sedikit lalu meringis.
"Ini jadi menu penutup sekaligus camilan? Saya rasa orang lebih tertarik menu penutup manis daripada Asam," kata manager f&b pusat.
Putra memotong sendiri pudding itu, meletakan potongan di atas piringnya dan menikmati dengan khidmat. Nafsu makannya jadi meningkat setelah tadi pagi mengalami serangan mual hebat dan tidak sanggup sarapan.
"Enak kok." Komentar Putra sambil menghabiskan potongan terakhir.
Semua orang menatap tidak percaya Putra.
Putra mengedarkan pandangan ke sekeliling dan bertanya. "Apakah tidak ada yang mau menghabiskannya? Buat saya saja. Sepertinya saya masuk angin karena lembur semalam dan tidak sanggup menghabiskan sarapan, begitu makan ini, nafsu makan saya meningkat atau saya harus membayar pudding ini?"