DUA BELAS

1046 Kata
Koki utama dan timnya bingung dengan pertanyaan Putra. "Pak-" manager operasional pusat menatap ngeri Putra yang menyesap sari lemon dengan santai. General manager berusaha mencairkan suasana. "Wah, pak Putra ternyata suka makan yang asam-asam ya." "Ya, kadang kala jika nafsu makan saya menurun. Saya makan sayur asam dan sambal untuk meningkatkan nafsu makan." Putra menjawab dengan santai lalu bertanya ke koki utama. "Apakah ini salah satu menu yang diminati tamu?" Semua orang tercengang mendengar penjelasan Putra. Sayur asam dan sambal? "Pak Putra, ternyata anda juga orang Indonesia seperti kami," cengir manager engineering pusat yang langsung dapat sodokan sikut dari manager keuangan pusat. Putra mengerutkan kening. "Nama saya saja Putra, Indonesia banget. Bagaimana bisa bukan orang Indonesia?" Nada hampir mengeluarkan isi perutnya ketika melihat Putra makan pudding kue itu dengan lahap. "Pak, mulutnya tidak terasa sesuatu atau gimana?" Putra menggeleng polos. "Tidak, enak kok. Mau coba?" Nada menggeleng ngeri. "Tidak, saya sudah coba tadi." Putra mengangkat kedua bahu dengan santai. "Kalau pak Putra mau, bisa bawa semuanya. Masih ada lima lagi, saya pikir kita tidak bisa menjualnya." "Boleh." Nada menjadi heran dengan ide konyol koki utama. "Pak, punya ide darimana buat pudding cake asam?" "Ah, saya sempat melihat sekumpulan keluarga yang tidak terlalu memperhatikan aturan menu soal pembuka, utama dan penutup. Lalu saya juga perhatikan kebanyakan lebih suka makan penutup dulu. Di samping itu saya teringat dengan seorang anak yang harusnya merayakan hari bahagia dengan makan enak jadi tidak menikmati karena sakit, kebetulan asam bisa meningkatkan nafsu makan." Nada tersenyum getir. "Pak, setahu saya sih makanan asam untuk meningkatkan nafsu makan bukan menu penutup seperti ini." "Benarkah?" tanya koki utama dan timnya yang terkejut. "Saya pikir waktu itu merupakan ide brilian." Ide brilian? "Yah, tapi mengingat pak Putra sudah bersedia menghabiskan makanan ini, bahan makanannya jadi tidak terbuang sia-sia," ucap general manager yang berusaha mencairkan suasana canggung. Putra mengangguk. "Ingatkan saya untuk membawa pulang semua." "Pak Putra makan asam-asam saja? Tidak mau mencoba menu utama ini?" tanya koki utama sambil menyodorkan sebuah piring tepat di depan wajah Putra. Putra mundur dan merasa mual. "Mungkin karena saya masuk angin jadi tidak bisa makan makanan berat." Koki utama menatap bingung Putra. "Pak Putra pria tulen, kan?" "Tentu saja." Jawab Putra yang menurunkan tangan koki utama. Koki utama meletakan piring di atas meja lalu memiringkan kepalanya dengan heran. "Dulu istri saya saat hamil juga seperti pak Putra, rewelnya pun mirip." Nada yang sedang menikmati menu utama karena tergoda dengan penampilannya yang mengundang selera, otomatis berhenti mengunyah. Putra mengerutkan kening dengan bingung lalu menatap Nada. Semua orang otomatis menatap Nada. Nada tergagap bingung. "A- kenapa jadi melihat saya?" "Ah, kalau diingat kembali. Bu Nada tidak terlalu suka makanan berlemak makanya saya buat itu juga, tapi sepertinya bu Nada menyerah ya." Koki utama menepuk dadanya dengan bangga. "Berarti saya telah berhasil membuat makanan enak." Nada melihat piring mungil di tangannya. "Ini berlemak?" tanyanya tidak percaya. "Ya, bu Nada. Itu banyak lemaknya." Jawab manager fo pusat. Nada langsung menghabiskan makanan di piringnya. Sayang sekali kalau diletakan begitu saja karena gengsi, mending sekalian dihabiskan sama seperti si Putra. Dua orang tidak tahu malu yang hanya Tuhan tahu kenapa mereka berdua menjadi rakus. Setelahnya pihak dapur membagikan makanan ke divisi f&b dan fo atas perintah Vivi supaya mereka bisa memberikan rekomendasi ke tamu. Minus pudding cake buah asam tentunya, Putra pun bahagia karena bisa makan tanpa harus menunggu kelaparan. Sayangnya karena terlalu bergantung pada pudding cake, nafsu makan Putra kembali menurun bahkan lebìh ke pemilih sementara Nada makan apapun dengan lahap tanpa peduli pada berat badan. Hanya butuh satu minggu, berat badan mereka berubah cepat. Semua orang memperhatikan itu ketika Nada dan Putra kembali bertengkar di lobby saat sepi tamu. General manager mengerutkan kening. "Sepertinya ada yang aneh disini." Semua orang mengangguk setuju. "Apakah pak Putra semakin stres karena bu Nada sehingga berat badannya menurun hanya dalam satu minggu?" tanya general manager. Manager operasional pusat juga memperhatikan itu. "Bu Nada berat badannya meningkat, apa mungkin bahagia dimarahi pak Putra? Secara, banyak orang disini yang diam-diam menjadi fans beliau." General manager terkejut. "Bu Nada sengaja membuat kesalahan supaya dimarahi pak Putra?" Lalu mereka yang mendengar terdiam dan merenung, beberapa saat kemudian menggeleng bersamaan. "Tidak mungkin." "Iya, tidak mungkin." "Mana mungkin." Sementara suasana di sekitar Nada dan Putra semakin memanas. "Pak Putra, apa maksud anda merubah tempat tanpa izin saya?" "Lokasinya terlalu mahal dan mewah, jangan berikan mereka hal seperti itu. Nanti keterusan." "Bukannya bapak sendiri yang memberikan ide supaya saya memakai milik kantor sekaligus memperkenalkan tempat kita?" "Meeting di tempat sederhana dan memberikan foto-foto sudah cukup." Nada tidak percaya dengan pendengarannya. Tidak dituruti salah, dituruti juga salah. "Saya hanya ingin memperkenalkan tempat itu supaya mereka bisa menjabarkan keindahan dan kemewahannya, tim di Bali juga bekerja sama dan selesai memberikan proposalnya. Kenapa baru sekarang anda minta berubah, tanpa izin saya pula!" Putra menatap dingin Nada. "Saya sudah memperhitungkan semuanya, tidak ada kerugian signifikan. Anda saja yang terlalu malas merubah semuanya!" Nada menyipitkan mata. "Apa? Saya apa? Pemalas? Anda menambah beban kerja saya dan saya komplain karena anda sudah membuang waktu saya!" Akhir-akhir ini Nada membatasi hubungannya dengan Putra sampai kembali bicara formal ke pria gila ini! "Pak, tidak mau dilerai mereka berdua?" tanya salah satu staff fo. "Biarkan saja, anggap ini hiburan kita. Mereka berdua sama-sama keras kepala, nanti kalau dilerai malah saling dendam." Bukannya mereka sudah dendam lebih dulu? Lagipula pasti bapak takut menghadapi mereka berdua. Bu Nada marketing manager top cer, mampu membawa tamu di tengah guncangan dunia pariwisata sementara pak Putra tangan kanan tuan dan nyonya besar. Daripada kehilangan pendapatan hotel sekaligus pekerjaan, mungkin memang lebih baik menjauhi ranjau. Nada berteriak histeris, terlalu emosi menghadapi Putra lalu pergi menjauh dari pria gila itu dan masuk ke ruangannya sambil membanting pintu kantor. Putra memijat kening. Satu minggu ini dia tidak bisa makan dengan tenang, tuan dan nyonya sudah pergi ke luar negeri bersama Choky. Otomatis tanggung jawab pindah ke dirinya. "Wanita itu selalu saja membantah semua perkataan saya, padahal saya melakukan itu demi kebaikan bersama!" gerutu Putra pada dirinya sendiri lalu teringat dengan anak di dalam kandungan Nada. Tanpa sadar kaki Putra hendak melangkah ke ruangan Nada, sontak para staff dan manager yang berkumpul, menghalanginya. "Pak Putra, sebaiknya jangan diperpanjang lagi. Berikan waktu buat bu Nada." Putra merenung, masih tidak menyadari salah paham orang luar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN