TIGA BELAS

1029 Kata
"Putraaaa!!!" Terdengar suara cempreng yang dikenal semua staff hotel ini. Yami Trisha. "Putra, lama tidak bertemu! Hari inu aku tidak membawa bekal karena seharian keluar sama mami tapi aku bawa oleh-oleh buat calon suami masa depanku." Putra mendadak pucat dan mual begitu menghirup parfum Yami. "Menjauh!" Yami cemberut manja. "Kenapa sih? Kamu masih saja begitu sama aku, padahal kita sudah berbagi ciuman." Wow, berita heboh! Pantas saja si Yami ini bersikeras mengejar Putra, ternyata bibirnya sudah ternoda. Putra menatap dingin Yami. "Saya hanya menolong anda karena tenggelam di kolam renang, saya tidak ingin ada kematian di hotel ini hanya karena pertunjukan bodoh seseorang." Saat itu Yami berkumpul bersama teman-temannya di hotel ini dan bermain akrobat di pembatas kolam renang untuk memamerkan kemampuannya. Tidak sengaja terpeleset lalu tenggelam, kebetulan pengawas sedang ke toilet sehingga Putra yang ada di sana menyelamatkannya. Sejak saat itu Yami jatuh cinta dan mengejarnya. "Menjauh, jangan dekati saya!" Perintah Putra. Yami cemberut. "Kamu jahat, aku selalu mengunjungi kamu tapi malah menghindar." Putra balik badan dan berdiri menunggu di depan lift khusus. Yami hendak mengejar tapi ditahan keamanan. "Tunggu! Kalian tidak bisa menghalangi aku bertemu suami! Pergi!" Putra segera masuk ke dalam lift. Keamanan segera menghindari Yami, Yami berlari di depan lift dan mengerutkan kening dengan bingung. Tidak ada tombol lift seperti tempat lain. Salah satu staff house keeping yang kebetulan lewat, menjelaskan. "Tidak ada yang bisa naik ke atas selain orang-orang penting. Sebaiknya menyerah karena pak Putra biasanya pulang malam." Yami melempar tatapan bermusuhan lalu pergi meninggalkan hotel. "Ck, ck, ck. Bahkan anak kecil kaya raya pun jatuh cinta- memang pak Putra itu tampan tapi ketampanannya itu menyeramkan," ujar general manager. "Sebaiknya kalian juga berhati-hati, jangan pacaran juga. Pak Putra sudah bersikap tegas seperti itu." "Apa hubungannya pak? Dia kan hanya anak dari pemilik cabang hotel yang bekerja sama dengan hotel kita." Sahut salah satu staff fo pria. "Lho? Kan ada aturan dilarang pacaran." "Tapi kan juga ada pasangan suami istri wajib pisah lokasi." "Ya, memang ada tapi sepertinya tidak akan mungkin ada." Sahut general manager dengan percaya diri. "Pak Putra sangat tegas dalam pekerjaan, kalau ada pasangan suami istri pasti takut adanya kebocoran data." "Kebocoran data?" "Ya, waktu itu sempat ada mata-mata nyonya sebelumnya untuk mengawasi tuan. Makanya meskipun belum diumumkan secara pasti, pak Putra pasti akan bertindak tegas." "Wah, sayang sekali ya- padahal hanya sedikit hotel yang mampu bertahan di saat pandemi." Nada yang mendengar di balik pintu, merasa risau. Jika semua orang tahu dirinya hamil anak Putra, apakah dia yang harus mengundurkan diri? Secara, Putra adalah tangan kanan bos. Tidak mungkin dipecat, pasti dirinyalah yang harus mengalah. Nada menepuk perut ratanya dengan sayang. --------- "Apalagi kali ini?" manajer sss pusat memijat keningnya dengan jengkel di depan Nada. Siang bertengkar dengan Putra, malamnya malah disemprot manajer sss pusat. Nada menundukkan kepala, kali ini dia tidak bisa membantah. Mau menjelaskan beberapa cara pun tetap saja dianggap salah. Karena ingin istirahat dari omelan sekaligus kepo dengan ceramah panjang lebar Putra yang tidak berhenti, Nada mematikan notifikasi pesan sehingga saat pesan masuk, tidak terbaca. Nada hanya menenangkan dirinya. Beberapa jam kemudian pihak manager sss pusat mengirimkan pesan ke Nada. Seperti biasa, dia segera mengerjakannya dan tidak membalas pesan. Tapi Nada lupa mengaktifkan pesan sehingga manager sss pusat marah dan menganggap lambat kinerja Nada. Saat dia tengah mencari data, manager sss pusat menghubunginya. Nada coba meluruskan via telepon. Setelah selesai dan konfirmasi ke pihak manager sss pusat mengenai data tamu yang sudah mencantumkan makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Manager sss marah besar di restoran yang masih sepi pengunjung. "Orang bisa dilihat sifatnya hanya berdasarkan status wa dan lainnya. Harusnya hadapi dengan berani." Nada jadi bingung, status wa yang bagaimana. Kalau di awal pekerjaan, dirinya memang suka mengeluh karena sering dimarahi hal yang bukan kesalahannya, tapi seiring berjalan waktu dia memutuskan diam dan konsentrasi bekerja sehingga bisa mendapatkan jabatan yang sekarang ini. Nada menghela napas panjang dan pasrah mendapat omelan-omelan. Meskipun dirinya menganggap tidak salah dan hanya teledor tidak mengaktifkan notifikasi sehingga pengirim bisa memastikan dirinya sudah membaca atau tidak. General manager yang masuk ke restoran untuk mengambil air, mengerutkan kening lalu bertanya ke salah satu waitress. "Ada apa? Kenapa bu Nada disini dan dimarahi?" "Tadi pagi ada tamu komplain dan marah-marah karena salah satu anaknya alergi makanan tertentu, sudah dicantumkan ke note pemesanan kamar. Manager sss tidak sengaja menghilangkan datanya, minta tolong kirim ulang ke bu Nada." "Nah, sebenarnya bu Nada sudah membaca pesan dari pak manager tapi notifikasi terbacanya di non aktifkan sehingga pak manager menganggap lambat kinerja bu Nada. Bu Nada sudah menjelaskan tapi pak managernya malah semakin marah dan ceramah." "Memangnya apa alasan bu Nada?" tanya general manager yang penasaran sekaligus kasihan. "Pak Putra mengirim bu Nada banyak pesan, dan bu Nada kepo tapi tidak mau membalas dulu. Eh, malah marah-marah bilang bu Nada gak gentle, status pesan dan perlakuannya bisa dilihat orang tuh ciri-cirinya bagaimana." General manager mendecak. "Dia juga belum menikah dan usianya hampir sama dengan pak Putra, sukanya emosi naik lebih dulu. Aih, kasihan bu Nada dimarahi dua laki single yang hobinya marah-marah." "Nah, itu. Kami juga kasihan sama bu Nada. Pak manager itu sifatnya keras dan tidak mau disalahkan, pak Putra sempat bertanya soal booking kursi untuk tamu saja malah melempar kesalahan ke bu Nada." "Hah? Bisa gitu?" "Iya, ada tamu booking resto untuk tiga puluh kursi, yang disediakan pak manager malah dua puluh lima kursi. Pak Putra mendapat komplain dari pihak front office soal itu lalu cek kebenarannya ke pak manager. Eh, malah yang disalahkan pihak marketing." "Katanya pihak marketing tidak memberikan instruksi jelas, padahal bu Nada selalu mengirimkan instruksi yang sama setiap hari, dan akhirnya dicari celah kesalahan bu Nada saat mengirimkan pesan." "Apa itu?" "Kami sudah dijelaskan tapi lupa, anak-anak marketing yang menjelaskannya ke kami. Pak manager memang begitu orangnya, banyak yang malas bergaul dengannya." "Iya, sedikit-sedikit tersinggung. Padahal bu Nada sudah melaksanakan pekerjaannya dan berusaha cepat, malah tetap dapat semprotan dan memperbesar masalah seperti ini. Padahal tidak mengganggu ritme kerja lho." Sahut yang lain. "Mood pak manager memang kurang baik gara-gara soal sepeda motor 'kan? Kena perbaikan banyak." "Ah, sepeda motor yang seperti laki itu?" General manager menekan kata 'laki' sambil menunjukan otot tangan berlemak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN