Nada berhasil lepas dari manager sss pusat dan menangis di kamar mandi diam-diam. Setelah puas menangis, ia berdiri di depan wastafel dan menghapus air matanya.
Begitu keluar dari kamar mandi, tanpa sengaja melihat pria yang paling tidak dia inginkan bertemu.
Putra menatap dingin Nada, mengetahui perseteruan antar departemen. "Kamu menangis ketika mendapat teguran dari orang lain tapi begitu saya yang menegur, kamu membantahnya setengah mati."
Nada mengerutkan kening tidak mengerti.
"Apa? Bingung?"
Nada menghapus sudut mata dan menatap bingung Putra. "Oh, jauh-jauh mengejar saya ke toilet hanya untuk hal seperti ini?"
"Percaya diri sekali." Putra menyodorkan satu kotak besar ke Nada. "Ini, jangan langsung dihabiskan. Dark chocolate, bagus buat ibu hamil tapi jangan makan banyak sekaligus, ini juga bisa menurunkan emosi kamu yang tidak stabil. Tapi makan terlalu banyak juga tidak baik untuk ibu hamil, kamu sudah dewasa jadi pasti bisa menjaga diri dengan baik."
Nada menatap bingung kotak di tangannya. Orang ini ingin membantu atau membunuhnya?
Putra melihat beberapa orang di belakang Nada dari kejauhan hendak melewati mereka, dia bergegas jalan melewati wanita itu.
Nada belum sempat mengucapkan terima kasih ketika balik badan, menyadari ada orang yang mendekat. Dia mengurungkan niatnya.
Putra sudah berjalan menjauh, orang-orang yang dilewati mengangguk sopan.
-----
Perasaan Nada sudah membaik di tempat kerja, tapi begitu di rumah harus dibanting dengan fakta ayah dan keempat istrinya datang ke rumah dengan alasan berkunjung.
Jika Nada dan Nanda di rumah, tidak akan pernah membukakan pintu rumah untuk sang ayah. Lain halnya dengan ibu mereka yang masih berpikir hubungan anak - ayah harus dijaga seberapapun parahnya.
Ibu mereka berdua memang memutuskan pisah rumah setelah mengetahui perselingkuhan suaminya tapi itu dilakukan setelah mendapat tekanan pembunuhan, lebih tepatnya karena sang suami punya masalah dan hutang banyak jadinya banyak ancaman dimana-mana. Itupun masih tetap keras kepala menjaga hubungan baik.
Padahal kerugian jelas ada di pihak ibu Nada dan Nanda yang membesarkan kedua anaknya sendirian.
"Ayah mau apa kesini?" tanya Nada setelah duduk di sofa ruang tamu dengan santai.
"Apakah itu sopan santun yang diajarkan ibu kamu? Tidak mencium tangan ayah?" sindir istri ketiga.
Nada menatap muak keempat istri ayahnya lalu melipat kedua tangan di depan d**a dengan tatapan meremehkan. "Aku harus menghormati kalian? Hah! Apa kalian juga menghormati ibuku yang merupakan istri kedua ayah?"
Keempat wanita yang tadinya bersikap bossy, mengubah sikapnya.
Nada menatap ayah. Dari dulu dia diajarkan bersikap hormat ke ayah, tidak dengan keempat pelacurnya. Menutup aib dengan agama lalu dijadikan untuk menghina orang lain?
Lihat saja dengan postur bossy mereka berlima. Pasti sudah menyindir habis-habisan ibunya yang hidup di luar rumah, bisa dibilang istri pembangkang.
Nada sudah hapal dengan kelakuan b***t mereka.
"Kamu hamil, ayah mencarikan suami untuk kamu. Dia butuh anak setelah lama tidak punya anak dengan istrinya."
Nada terkejut begitu mendengar lelucon yang dilontarkan ayahnya. "Aku bisa menjaga anakku sendiri!" geramnya.
"Mau jadi wanita seperti apa kamu? Hidup tanpa suami! Kamu mau menghina ayah kandung kamu?!"
Nada tertawa suram.
"Ayah melakukan ini karena peduli padamu! Lebih baik kamu patuh dan menikah dengannya, dia seorang aktor terkenal jadi masa depan kamu bisa aman tanpa harus bekerja keras."
Nada menatap tidak percaya ayahnya. "Ayah, apakah ayah ingin aku menjadi istri kedua?"
"Ya."
"Ayah bahkan tidak berdiskusi terlebih dahulu?" Suara Nada mulai meninggi.
Ibu Nada berusaha menyabarkan putrinya. "Nada, tenanglah."
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?!" jerit Nada ke ibunya.
Ibu Nada terkejut. "Nada, ibu hanya tidak ingin kamu emosi."
"Jangan ikut campur urusanku!" bentak Nada. Ayah yang egois dan ibu yang selalu menundukkan kepala, Nada mulai frustasi, kedua orang tuanya bagaikan pelumas, tinggal menunggu semua terbakar.
"Cara bicara macam apa itu?" ayah Nada menyipitkan matanya. "Apakah kamu tidak pernah diajarkan ibu?"
Ibu Nada menunduk, tidak berani membantah.
Nada membencinya. Mungkin ini juga salah satu alasan dia tidak pernah bisa membantah sang ayah.
Sakit
Benci
Ingin menangis
"Besok luangkan waktu kamu untuk bertemu dengannya, ayah tidak mau kamu mengurus anak itu sendirian. Memalukan."
"Memalukan bagaimana?"
"Tentu saja, memalukan bagi seorang wanita untuk mengurus anaknya sendirian."
"Lebih memalukan mana dengan ayah yang tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk kami?"
"Sekarang kamu ingin menyalahkan ayah?"
Nada tidak menjawab, hanya menatap tajam ayah kandungnya.
"Aku sudah bilang dari awal, jika ingin hidupnya dibiayai, jangan keluar rumah. Kalian bertiga keluar dari rumah, bukan tanggung jawab aku lagi."
"Kalau memang aku bukan tanggung jawab ayah, kenapa memaksakan pernikahan? Aku tidak ingin menikah."
"Nada, dosa anak masih ditanggung ayahnya selama dia belum menikah. Kamu hamil di luar nikah dan masih ingin membebankan dosa ke ayah kandung kamu ini?"
"Oh, ayah ingat dosa ternyata. Bukankah sudah memutus tanggung jawab merawat kami bertiga? Jadi, kenapa dosa tidak terputus juga?" sindir Nada.
Istri kelima ayahnya membentak Nada. "Jangan bicara tentang dosa sembarangan! Makanya kamu belajar yang benar, jangan mengandalkan open minded makanya jadi meremehkan dosa!"
Nada benar-benar ingin membuka otak mereka berlima. "Kalian semua mengingat dosa aku, ibu dan kakak tapi apa kalian tidak mengingat dosa sendiri?"
Ayah Nada mulai kesal. "Inilah makanya aku susah kasih tahu anak yang tidak bisa diatur, lebih baik aku mengurus dan mengeluarkan anak-anak yang mau diatur."
"Ya, silahkan. Aku juga tidak peduli." Nada menjawab dengan santai.
Ibu Nada menurunkan nada suara dan berbicara ke putrinya. "Jangan seperti itu, dia masih ayah kandung kamu."
"Ayah kandung?" tanya Nada ke ibunya. "Apakah ibu masih percaya ke orang ini? Dia menjanjikan ribuan hal ke ibu dan tidak pernah dilaksanakan, ibu masih percaya? Sudah berapa tahun ibu tidak belajar juga?"
"Nada!" bentak ayah.
Nada menggelengkan kepala. "Aku menolak dijodohkan, aku masih bisa mengurus anak ini sendirian tanpa bantuan ayah. Masalah dosa, begini saja bagaimana? Aku akan memutus hubungan ayah-anak dengan tidak menghubungi ayah, setidaknya dosa berpindah padaku, bukan ayah."
Ayah Nada mengalihkan tatapan ke istri keduanya. "Ini yang kamu bilang anak-anak tidak membenciku? Kamu yang mengajarinya seperti itu."
Nada menghela napas panjang lalu mengirimkan pesan ke kakaknya. "Aku ingin mandi, teruskan saja percakapannya."
"Nada, pembicaraan kita belum selesai!" Ayah berdiri dan menghalangi Nada.
Nada yang tidak ingin merusak moodnya, memutuskan pergi ke luar rumah, duduk di lapangan dekat rumah sambil menunggu kakaknya datang.
Nada harus menjaga kehamilannya. Rugi emosi jika berhadapan dengan mereka.