LIMA BELAS

1010 Kata
Nada memijat keningnya begitu tiba di kantor, kejadian semalam benar-benar menguras tenaganya hingga terpaksa sarapan di kantor. Untung saja hari ini menunya tidak terlalu berat sehingga masih bisa dimakan. Nada terlalu emosi jika bertemu dengan ibunya. Kenapa sih masih bukakan pintu untuk mereka? Biarlah orang lain menilai hati mereka sempit, toh juga tidak minta makan dari mereka. Kriiiing. Salah satu staff marketing mengangkat telepon. "Hallo?" Nada makan dengan tidak semangat. "Ah, sebentar. Saya sambungkan dulu ke atasan saya." Staff marketing memencet sambungan telepon Nada lalu menutupnya. "Ada yang ingin bicara dengan ibu." Nada mengerutkan kening lalu mengangkat telepon dengan ramah. "Hallo, selamat pagi saya bagian marketing, Nada. Ada yang bisa saya bantu?" "Saya manager aktor Oza Radhika, ingin memesan tempat untuk ulang tahun pernikahan. Apakah anda bisa mengirimkan harga paket untuk kami?" "Oh, tentu saja. Apakah ada alamat email untuk koresponden? Saya akan segera mengirimkannya." Nada segera mencatat email yang diinfo sang manager. "Saya ingin dapat harganya pagi ini ya, karena ingin menyesuaikan jadwal juga untuk atasan saya." "Tentu saja," jawab Nada lalu memutus sambungan telepon dengan heran. Entah kenapa dia merasa ada yang salah disini. Sementara Putra yang duduk sendirian di ruangannya, mengerutkan kening dengan heran ketika membaca laporan dari manager keuangan pusat. General manager yang duduk berhadapan dengannya sambil membaca laporan pagi bersama Putra, juga heran. "Saya pikir lebih baik beritahu ke pak Putra secepatnya daripada terlambat, apakah kita akan mengirim bu Nada?" "Ini hotel milik keluarga Yami." "Apakah anda ingin menanganinya sendiri?" "Kenapa mereka meminta Nada?" "Hanya satu bulan untuk training marketing mereka, katanya akhir-akhir ini penjualan menurun dan mereka ingin meningkatkan divisi marketing." "Kirimkan marketing lain." "Tapi yang mereka minta bu Nada." "Menurut anda, kenapa mereka meminta Nada?" "Mampu?" "Hanya itu?" "Apakah ini menyangkut masalah pribadi?" Putra meletakkan pena di atas meja dan mulai merenung. Jika dirinya menahan permintaan ini, tentu akan menimbulkan gosip dan menguatkan pemikiran si Yami ini. Yami juga selalu keluar masuk hotel ini dengan mudah jadi pasti sudah mendengar perseteruan dirinya dengan Nada. Putra tidak tahu apa tujuan Yami ini untuk merayu keluarganya memanggil Nada stay di sana selama satu bulan. Tapi Nada saat ini sedang mengandung anaknya dan dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak ini. Putra mencari alasan yang lebih masuk akal. "Jangan lupa dengan perkataan tuan besar. Tugas para manager pusat hanya mengurus para manager hotel milik Aditama Group, di luar itu bukan pekerjaan mereka. Nada adalah salah satu dari tim manager pusat, tidak mungkin melepasnya hanya untuk training mereka." "Saya juga sudah memikirkan itu, tapi mereka bersikeras dan menunjukkan hasil penjualan hotel yang semakin menurun. Mereka ingin memakai bu Nada yang jauh lebih kompeten." Putra tidak suka mendengar hal itu, rupanya mereka mulai berani mengancam. "Anda sudah memeriksa dengan teliti penyebab menurunnya penjualan hotel mereka?" "Ya, dan memang manajemen marketing sangat buruk." "Seburuk apa?" "Mereka tidak paham teknik marketing, basic mereka hanya penjualan yang menjual barang bukan jasa seperti kita." "Apa?" "Anda tidak salah dengar, pak Putra. Hotel ini kebanyakan yang bekerja masih di ruang lingkup keluarga jadi yah- mereka tidak bisa maksimal." Putra bersandar di kursi dan menatap rumit dokumen di atas mejanya. "Awalnya saya juga heran tapi saya biarkan saja karena memang sudah lama bekerja di sana dan menghasilkan pendapatan bagus untuk hotel kita, belakangan saya akhirnya mengerti ternyata selama ini mereka menggunakan marketing hanya untuk sebatas menjalankan web atau media sosial hotel." "Tetap saja saya tidak setuju mengirim manager pusat ke sana. Lebih baik kirimkan staff marketing di sini, kemampuannya setara dengan supervisor hotel lain. Jika mereka tidak setuju, abaikan saja." "Apakah anda benar-benar ingin mengabaikannya? Saya tidak setuju, kita sudah bekerja sama dan menjaga komitmen untuk mereka." "Selama ini kita selalu menjaga komitmen untuk mereka tapi sepertinya mereka hanya ingin mencari keributan, ingin meminjam manager pusat hanya untuk mengatur hotel mereka? Apakah mereka seistimewa itu?" "Itu-" "Mereka berusaha mengancam kita dengan memberikan laporan penurunan pendapatan, justru semakin membuat saya curiga. Buat apa mereka melakukan itu?" "Mereka ingin kita membantu." "Bantu? Sekarang saya ingin balik bertanya, kenapa mereka bisa tahu akar masalah penurunan pendapatan hotel karena divisi marketing? Padahal seperti yang anda bilang, mereka juga memiliki hubungan keluarga dengan pemilik hotel." General manager mulai mengerti sekarang. "Jika mereka merasa ada yang tidak beres, harusnya minta dikirimkan tim audit untuk melihat kondisi hotel mereka. Mereka sudah bertahun-tahun kerja sama dengan pihak kita jadi tidak mungkin tidak tahu keberadaan tim audit." General manager menghela napas panjang. "Anda benar, harusnya saya memikirkan hal itu juga." "Saya berpikiran seperti ini hanya untuk berhati-hati, ini Indonesia, kawan pun bisa menjadi lawan jika menyangkut masalah uang. Jika mereka tidak mau kerja sama dengan kita, kita bisa persiapkan pemutusan kontrak." General manager menghela napas ironis. "Apakah kita akan mengirim tim marketing yang lain dulu? Untuk berjaga-jaga." Putra mengangguk. "Ya, lebih baik melihat situasi daripada bersikap agresif." General manager mengangguk. Putra menulis catatan lalu memberikannya ke general manager. "Jangan kirimkan para manager pusat tanpa persetujuan saya atau tuan besar." "Baik, saya mengerti." "Awasi juga hotel itu dan batasi Yami keluar masuk hotel, selama ini kita tidak melarang karena hotel keluarganya bekerja sama dengan kita, tapi kalau mereka bersikap seperti ini. Kita harus berhati-hati, ini bukan masalah sepele." "Baik, saya tahu apa yang pak Putra khawatirkan." Putra menatap lurus general manager. "Saya ingin tahu reaksi mereka ketika mendengar penolakan, tapi saya rasa mereka tidak akan mau menyerah." General manager mengangguk setuju. Ini adalah dunia bisnis, jika ingin bertahan, hal kotor pun pasti akan mereka lakukan. Di kantor Nada. "Apa? Hotel Trisha ingin saya ke sana untuk training tim marketing?" tanya Nada setelah mengirim email ke manager aktor. "Kalian dengar berita itu darimana?" "Manager operasional pusat, katanya bu Nada harus siap-siap. General manager sedang diskusi dengan pak Putra." Nada semakin tidak suka dengan situasi ini. "Menurut kalian, apakah pak Putra akan setuju? Jujur saja saya malas training orang, lebih baik lembur satu bulan." "Saya rasa pak Putra tidak akan setuju, tugas awal manager pusat hanya menangani supervisor hotel grup Aditama bukan hotel." "Menurut kalian begitu?" tanya Nada untuk memastikan. "Ya." Jawab para staff marketing bersamaan. "Semoga saja ya," kata Nada yang berdoa di dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN