Berita Putra tidak setuju pengiriman general manager pusat ke hotel cabang, sudah tersebar keesokan harinya. Semua orang menjadi lega.
"Tidak mungkin pak Putra akan setuju."
"Benar, dari awal tugas manager pusat berbeda dari yang lain."
"Tapi, apa mungkin pak Putra melakukannya demi bu Nada?"
"Apa hubungannya?"
"Hei, apakah kalian lupa perseteruan antara pak Putra dan bu Nada? Siapa tahu jika bu Nada satu bulan di sana, pak Putra akan kesepian sehingga mengeluarkan perintah larangan."
"Ngaco kamu!"
"Pak Putra dan bu Nada jelas-jelas bermusuhan."
"Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin melihat hubungan cinta di kantor."
"Iya, siapa tahu pak Putra merubah aturan dilarang pacaran di kantor."
"Bukannya pak Putra ada fans juga di kantor?"
"Memang ada, tapi mereka juga bersikap realistis. Tidak mungkin memaksakan diri hahahaha-"
Semua orang ikut tertawa. Ya, pak Putra hanyalah pangeran impian yang sulit mereka gapai, jadi hanya sebatas mengagumi ketampanannya saja.
Nada jika mendengar hal ini pasti akan membantah dengan keras, sayangnya saat ini dia harus bertemu dengan seorang wanita cantik.
Wanita itu memakai barang bermerk dari atas kepala sampai bawah.
Wanita itu bersikeras menemui Nada dan pada akhirnya mereka duduk berhadapan di restoran dengan secangkir kopi disajikan.
Sialnya yang mengantar adalah manajer sss pusat yang kepo dan memberikan kode lewat mata. Siapa?
Nada mengangkat kedua bahunya dengan singkat.
Manajer sss pusat meninggalkan meja dengan tatapan curiga ke Nada lalu tatapan menilai ke wanita cantik itu.
Wanita yang sedari tadi mengetik sesuatu di handphonenya, meletakan di atas meja lalu menatap lurus Nada. "Anda pasti terkejut, saya mendadak datang ke sini."
Nada berusaha bersikap ramah. "Tidak masalah, tamu yang harus diutamakan terlebih dahulu."
Wanita itu tersenyum tulus lalu mengalihkan perhatian ke handphonenya yang bergetar. "Ah, maaf. Saya harus angkat telepon sebentar, tidak apa?"
Nada mengangguk sopan. "Silahkan."
Wanita itu segera mengangkat telepon dan bicara dengan lembut. Bahkan suaranya pun bisa membuat pria bertekuk lutut. Nada tersenyum lalu mengalihkan tatapannya di belakang punggung wanita itu.
Nada melotot ketika melihat general manager dan manager sss pusat sedang menonton dirinya di balik meja bar. Tangan mereka pura-pura sibuk tapi matanya masih penasaran dengan wanita cantik itu.
Nada merasa aneh, kenapa mereka seperti itu. Padahal saat dirinya menerima agen perjalanan, tidak ada yang sekepo ini.
Dari balik meja bar, manager sss pusat bertanya pada general manager.
"Pak."
"Hm?"
"Kenapa kesini?"
"Kamu juga, kenapa disini?" tanya general manager sambil sesekali memperhatikan Nada.
"Saya khawatir, wanita itu agent dadakan yang membawa tamu. Saya sebagai orang restoran pasti harus sigap. Bapak sendiri?"
General manager bingung harus menjawab apa, dia tidak mungkin menjawab disuruh pak Putra yang curiga begitu mendengar wanita cantik itu menyebut nama Nada. Jual atasan namanya. "Hm-"
"Apakah ada ta baru yang ingin kerja sama dengan kita?" tanya manager sss pusat.
General mengangguk pasrah. "Ya, anggap saja begitu."
"Ya?"
General manager meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Lebih baik kita lihat saja."
Manager sss pusat mengangguk setuju.
Wanita itu sudah meletakan handphone dan berkata. "Saya adalah istri Oza, yang akan menyewa tempat untuk merayakan ulang tahun pernikahan."
Nada menghela napas lega. "Ah, begitu. Apakah anda ingin melihat lokasinya? Saya jamin anda akan-"
"Tidak perlu, saya percaya sama kamu. Saya disini hanya ingin kita sedikit berbincang supaya lebih nyaman."
"Ya?"
"Apakah kamu tidak ingin menikah?"
Prang!
Crang!
Manager sss dan general manager tanpa sengaja menjatuhkan gelas.
Nada tersenyum.
Semua orang tahu, Nada sangat membenci hubungan romantis. Bertanya mengenai hubungan romantis sama saja menghina dirinya, hal yang sama berlaku untuk Putra, Choky dan pak Reza dulu sebelum menikah. Makanya para staff lama tidak menyinggung hubungan di depan orang-orang sensitif.
"Kenapa anda tiba-tiba bertanya?" tanya Nada dengan sopan. "Apakah anda tidak percaya dengan staff yang belum atau akan menikah?"
"Oh, maaf. Apakah kamu tersinggung?"
"Tidak, saya hanya bertanya demi kenyamanan profesionalisme."
"Profesionalisme ya-" wanita itu mengangguk setuju. "Saya yang tidak sopan, maafkan saya."
Nada mengangguk kecil tanpa menjawab. Yang mengartikan telah menerima permintaan maaf wanita itu dan membangun tembok juga.
"Saya sudah tiga tahun menikah dan tidak memiliki anak, berbagai cara sudah saya lakukan untuk program hamil dan tidak berhasil. Akhirnya saya memutuskan mengizinkan suami saya mencari wanita lain tapi harus saya lihat terlebih dahulu."
Nada menyesap kopinya dengan anggun lalu meletakkan cangkir kopi. "Apakah suami anda yang meminta itu? Berarti dia tidak menerima anda apa adanya."
"Dia sangat mencintai saya tapi saya tidak tega jika keluarga menekan dia."
Nada mengerutkan kening. "Keluarga menekan suami anda? Bukankah biasanya akan menyalahkan sang istri?"
Wanita itu menjawab sambil tersenyum. "Karena mereka tidak ingin menyakiti hati saya, mereka tahu perjuangan saya selama ini tapi suami saya memang terlalu sibuk untuk mencari uang. Posisi kami menjadi dilema."
"Jika memang posisi salah di pihak suami, seharusnya tidak perlu memasukan pihak ketiga. Cukup minta tolong suami untuk mengurangi waktu bekerja."
Wanita itu tersenyum lemah. "Suami memiliki kewajiban bekerja, jika saya menegur- saya khawatir akan menyakiti hatinya."
Nada mengerti sekarang. Suami wanita ini tidak hanya pekerja keras tapi workaholic, sama dengan yang dilakukan Putra.
"Karena itu di hari ulang tahun pernikahan kami, saya ingin merayakannya secara mewah dan anggun untuk menghargai kerja kerasnya selama ini."
Nada menjadi tidak mengerti. "Apakah anda juga ingin menyerahkan acaranya di tempat kami?"
"Ya."
Nada menjadi tidak paham. Biasanya para tamu membawa EO sendiri sementara pihak hotel hanya menyediakan tempat. "Anda yakin?"
"Ya."
"Akan ada biaya tambahan, apakah anda tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak, saya yakin dengan kerja keras kamu."
Nada benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita yang duduk di hadapannya ini. Percaya pada orang asing begitu saja?
"Kamu keberatan?" tanya wanita itu ke Nada.
Nada menggeleng dan segera mencatat di handphonenya. "Apakah anda sudah menentukan tema? Saya akan bicara ke pihak EO yang bekerja sama dengan tempat kami untuk mengabulkan keinginan anda."
"Terserah kamu."
"Ya?"
"Saya percayakan pada kamu, saya yakin kamu akan bekerja semaksimal mungkin, jika ada perlu bisa menghubungi saya." Wanita itu menyerahkan kartu nama ke Nada.
Nada menerima dan membacanya, terkejut dengan nama wanita ini. Kenapa dia tidak sadar? Wanita ini juga merupakan salah satu artis terkenal yang sudah keluar dari dunia artis dan memilih menikah.
Sekarang Nada ingat. Aktor Oza tidak terlalu suka ada wartawan atau fans yang mengulik kehidupan pribadinya, sehingga belum ada yang tahu siapa istri Oza. Wanita itu pun juga tiba-tiba hilang dan tidak ada beritanya.
Kedua mata Nada melebar, jika mereka merayakan ulang tahun secara mewah, bukankah akan publish hubungan pernikahan mereka? Yang berarti akan ada iklan gratis untuk hotel?
Wanita itu tersenyum penuh arti ke Nada dan berkomentar. "Akhirnya kamu paham tujuan saya."