Setelah melihat Nada dicari seorang wanita cantik, insting tajam Putra mengatakan wanita itu pasti punya rencana di belakangnya. Putra sontak minta tolong ke general manager dengan alasan mengawasi jika dia salah satu suruhan hotel Trisha.
General manager pun menurut dan tidak bertanya apa pun. Putra menghela napas panjang, jika terjadi sesuatu pada putrinya, dia akan menuntut balasan.
Eh, ngomong-ngomong kenapa dirinya yakin sekali bahwa anak yang dikandung Nada perempuan? Bisa saja laki-laki.
Putra membuka bekal makannya dan mendengus nikmat ketika melihat makanan ini. Pagi ini dirinya ingin makan rawon daging khas Malang ditambah nonton drama China.
Kenapa suka drama China dibanding Korea? Karena Putra jatuh cinta dengan kekonyolan tokoh utama wanita, persis dengan Nada yang kadang suka marah sendiri atau licik.
Ketika serius nonton sambil sarapan, telepon di mejanya berdering dan Putra mengangkatnya. "Ya?"
"Pak Putra, saya sudah membuatkan asinan mangga dan juga ikan goreng asam manis. Gorengnya pakai minyak rendah kolestrol jadi aman untuk orang-orang berdarah tinggi."
Putra memijat keningnya. Dia memang minta tukang masak kantin karyawan buat menu khusus, untuk dirinya dan Nada lalu mempertimbangkan minyak khusus supaya tidak kena kolestrol tapi rupanya mereka salah paham kalau dirinya kena penyakit darah tinggi?
"Terima kasih, kirimkan ke ruangan saya lewat security."
"Baik."
Putra menutup telepon dan kembali menikmati makan setelah sebelumnya mengirimkan pesan ke Nada.
Tepat jam dua belas, istirahat makan siang. Nada naik ke lantai atas dengan tangga darurat. Gila! Orang ini benar-benar menyiksanya! Naik ke lantai paling atas dari sepuluh lantai?!
Untung saja hari ini dirinya memakai sepatu flat, jadinya tidak akan dimarahi atasan gilanya.
Nada terkejut ketika melihat Putra berdiri di ujung tangga, memperhatikan dirinya dengan tatapan menilai.
Nada melihat ke bawah untuk memastikan pakaiannya tidak ada masalah.
Putra mengulurkan tangan. "Ayo."
Nada menjadi bingung.
Putra mengangkat salah satu alis. "Ada apa? Kamu tidak terbiasa pegang tangan pria?"
"Bukan begitu, tapi ini tangan Tuhan."
"Apa?"
"Mak- maksud saya, ini tangan atasan. Bawahan tidak mungkin bisa pegang tangan seperti ini." Koreksi Nada.
Putra menjadi tidak sabar. "Pegang tangan saya atau kamu turun lagi dari lantai sepuluh?"
Nada otomatis memegang tangan Putra. Enak saja disuruh turun dengan perjuangan seperti ini!
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan kantor yang cukup mewah, lalu Nada melihat masakan di atas meja ruang tamu.
Nada bisa menghirup bau makanan yang enak dan menggugah selera, tanpa terasa perutnya berbunyi.
Putra menarik lembut Nada dengan hati-hati supaya duduk di sampingnya.
Kedua mata Nada mengedip bingung ketika melihat tangan Putra mulai bergerak mengambil piring tanpa bertanya ataupun basa basi. Ini kali pertamanya dia diperlakukan seperti ini oleh lawan jenis, Nanda di luar hitungan.
Nada melihat handphone Putra yang tergeletak dan melihat adegan film drama China, kedua matanya membulat ketika melihat adegan ciuman kedua tokoh utama. "Wah, aku juga lagi lihat ini. Aku suka sama tokoh utama cowoknya."
Tangan Putra berhenti sejenak lalu melanjutkan mengambil makanan dan bertanya. "Suka kenapa? Diakan masih berusia dua puluh tiga tahun."
"Kamu tahu aktor ini?"
"Ya, dia tampan."
Nada mengerutkan kening dengan jijik.
Putra yang menyadari kesalahannya, berdehem. Lalu menyerahkan piring ke Nada. "Dia tampan dan juga cerdas, aku tertarik dengan kalimat-kalimat tokoh utamanya."
Putra mulai bersikap non formal pada Nada, Nada yang cerdas menanggapinya dengan cara sama.
"Ya, kaisar harus memiliki Harem banyak dan juga pandai politik untuk menjaga kestabilan negara. Kadang aku benci pada kaisar tampan yang ternyata hanya menambah Harem untuk mengamankan politik. Aku jadi berpikir, hanya orang bodoh yang bisa melakukan itu," kata Nada sambil menyuap makanannya. "Hmm, enak."
"Aku minta tolong tukang masak di kantin buat menu khusus, sedikit mengeluarkan uang tapi worth it untuk kamu dan anak kita."
Nada mengangguk mengerti. "Ya, terima kasih. Aku jadi tidak sabar melihat calon istri masa depan kamu."
"Calon apa?"
"Calon istri."
"Aku tidak berniat menikah."
"Hah?"
"Aku tidak suka menikah dan terikat dengan wanita asing, mereka berisik. Kamu sendiri?"
"Aku juga tidak berniat menikah."
"Oh ya?" tanya Putra tidak percaya lalu melihat handphonenya kembali yang sudah diletakkan di stand holder.
"Ya, aku tidak terlalu suka menjalin hubungan dengan pria menjijikan. Aku takut suatu hari mereka akan pergi seperti ayahku, tapi aku juga sadar- untuk punya anak harus ada pria, makanya waktu itu aku melakukan hal nekat."
"Kamu tidak takut?"
"Tidak."
"Membesarkan anak sendirian itu tidak mudah."
Nada tidak menjawab dan hanya makan.
Putra yang mengaktifkan tombol pause, tanpa sengaja mendengar suara kedua tokoh utama berciuman.
Nada menunduk malu dan konsentrasi makan.
Putra sudah terlanjur melihat video jadi hanya bisa meneruskan saja.
Suara ciuman kedua tokoh terdengar jelas dan lama. Putra dan Nada terbatuk malu.
Tidak lama muncul keinginan aneh Putra. "Rasanya aku juga ingin melakukan itu."
"Ha- hah?" Nada menoleh dengan cepat. "Apakah tujuan kamu menyuruh aku ke sini hanya untuk ini?"
"Tidak. Aku bisa mencari wanita lain yang lebih cantik dan seksi untuk sekedar berciuman- tapi entah kenapa melihat adegan ini- aku jadi ingin berciuman."
"Ah-"
"Lupakan. Kamu pasti tidak akan mau." Putra segera mematikan video itu.
"Aku mau."
"Apa?"
"Hanya ciuman bukan? Aku mau."
Tubuh Putra berubah kaku. Memang akhir-akhir ini dia suka drama China dan juga ketagihan melihat adegan-adegan mesra dan ciuman, serasa dia ingin melakukan itu. Jujur saja, dia tidak ingin melupakan rasa ekstasi di malam tahun baru.
Pantas saja atasannya bertindak tidak tahu malu, ternyata memang benar-
"Tapi dengan satu syarat."
Putra menegakkan tubuhnya. "Apa?"
"Kamu harus masak untuk aku."
"Masak?"
"Ya, sebenarnya aku masih ingin makan masakan kamu waktu itu. Rasanya enak dan aku suka."
Putra mengangguk. "Boleh, aku akan menyiapkan bekal dan meletakkannya di atas meja makan kamu. Supaya tidak ketahuan yang lain, aku kirim lewat ojek online."
Nada mengerutkan kening tidak setuju. "Tapi itu malah buat uang kamu berkurang."
"Tidak apa, demi kamu."
Dan anak kita. Tambah Nada di dalam hati.
Putra memindahkan piring di pangkuan Nada ke atas meja lalu mereka duduk saling berhadapan, layaknya sepasang kekasih yang akan melakukan ciuman pertama.
Nada memejamkan kedua matanya, lumayan sih ciuman dengan pria tampan. Dia sendiri juga gak munafik karena ketagihan.
Putra mendekatkan bibir perlahan lalu mencium kecil bibir wanita yang sedang mengandung anaknya.
Tidak lama ciuman kecil berubah menjadi ganas dan menyenangkan, rasanya tidak ingin melepas bibir satu sama lain.
Sorenya, Oza muncul bersama manager untuk melihat gedung yang akan mereka sewa.
Nada terpaksa memakai masker setelah makan siang, dengan dalih hampir kena flu. Ciuman tadi benar-benar ganas dan membuat bibir mereka agak bengkak.