Lina melempar semua barang yang ada di dekatnya dengan frustasi setelah mendapat teguran keras dari pihak keluarga suaminya. Oza yang baru masuk ke dalam kamar, menenangkan wanita yang dicintainya. "Lina, tenanglah. Kenapa kamu marah?" Lina tertawa sedih. "Bagaimana aku tidak marah? Kenapa semua rencana aku menjadi gagal?" Oza menghela napas panjang. "Sebaiknya kita harus menyerah, aku tidak mau melihat kamu terluka lagi." Lina frustasi. "Aku ingin anak, dan tidak bisa memberikannya kepada kamu. Nada adalah pilihan terbaik." "Kamu bisa melihat kemarahan kepala keluarga, bukan? Keluarga Radhika tidak bisa-" "Oza, aku berusaha sabar menjadi istri kamu. Tapi, tolong bantu aku-" "Lina." "Aku ingin kamu bahagia dan kita bersama." "Masih ada wanita lain, jangan ganggu dia." Geleng Oza.

