Udara pagi di depan gedung Moretti Tower terasa tajam dan dingin. Aria keluar dari taksi dengan langkah terburu-buru, tangannya sibuk menggeledah tas mencari kartu akses. Di sampingnya, Leo, putranya yang berusia lima tahun, melompat-lompat kecil dengan penuh energi.
"Mama, lihat! Gedungnya tinggi sekali sampai ke awan!" seru Leo, matanya yang bulat berbinar menatap arsitektur baja dan kaca di hadapannya.
"Iya, Sayang, tinggi sekali. Tapi ingat janji kita, oke? Leo tunggu di lobi sebentar sama Bibi Sarah, Mama hanya perlu mengambil dokumen yang tertinggal," ujar Aria cemas. Ia seharusnya tidak membawa Leo ke kantor, tapi pengasuhnya tiba-tiba izin sakit.
"Siap, Kapten!" Leo memberi hormat dengan lucu.
Namun, perhatian bocah itu teralih. Sebuah bola kasti berwarna kuning cerah yang ia pegang terlepas dari jemarinya yang mungil. Bola itu memantul di trotoar, menggelinding cepat menuju jalan raya yang padat.
"Bolaku!" teriak Leo.
Tanpa berpikir panjang, Leo mengejar bola itu. Ia berlari melewati pembatas trotoar tepat saat sebuah sedan hitam melaju kencang dari tikungan.
"Leo! Jangan! Berhenti!" jerit Aria, jantungnya seakan berhenti berdetak. Suaranya tercekat di tenggorokan saat ia melihat mobil itu mengerem mendadak dengan bunyi decitan ban yang memilukan telinga.
Aria menutup matanya, takut melihat apa yang akan terjadi. Namun, yang terdengar bukanlah benturan, melainkan suara berat yang membentak keras.
"Apa kau gila, Bocah?!"
Aria membuka matanya. Leo tidak tergeletak di aspal. Sebaliknya, putranya itu berada dalam dekapan seorang pria yang berlutut di jalanan. Pria itu telah menyambar kerah jaket Leo dan menariknya ke pelukannya tepat satu detik sebelum bumper mobil menyentuh tubuh kecil itu.
Pria itu adalah Dante Moretti.
Dante berdiri, masih memegangi bahu Leo dengan kuat. Napasnya memburu, wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi karena amarah dan keterkejutan.
"Di mana orang tuamu?" tanya Dante kasar pada anak itu. "Kau hampir mati demi sebuah bola plastik?"
Leo mendongak. Bukannya menangis ketakutan karena dibentak, ia justru menatap Dante dengan rasa ingin tahu yang besar. "Bolaku masuk ke bawah mobil, Tuan."
"Lupakan bolamu! Kau punya nyawa hanya satu!" gertak Dante. Ia kemudian mendongak dan melihat Aria yang berlari mendekat dengan wajah bersimbah air mata.
"Leo! Ya Tuhan, Leo!" Aria langsung merenggut Leo dari tangan Dante, memeluknya begitu erat hingga bocah itu mengeluh sesak. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama..."
Dante berdiri tegak, merapikan jasnya yang sedikit kotor terkena debu jalanan. Matanya menyipit saat melihat Aria. "Aria? Jadi ini anakmu?"
Aria mendongak, masih gemetar. "Tuan Dante... Aku.. terima kasih. Terima kasih banyak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Anda tidak..."
Dante tidak menjawab. Ia justru menatap Leo dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang mengganggunya—sesuatu tentang bentuk rahang anak itu, atau mungkin cara anak itu menatapnya balik tanpa rasa takut.
"Terima kasih sudah menangkapku, Tuan Hitam."
Dante mengernyit. "Tuan Hitam?"
"Karena baju Tuan hitam semua. Seperti pahlawan di komikku," lanjut Leo dengan polos.
Dante terdiam. Sebuah getaran aneh merayap di dadanya—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa seperti melihat cerminan dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih murni.
"Lain kali, perhatikan jalanmu, Leo," ujar Dante. Ia beralih menatap Aria dengan tatapan dinginnya yang biasa. "Dan kau, Aria. Kau sangat kompeten di kantor, tapi di jalanan kau hampir membiarkan aset berhargamu hancur. Jangan biarkan ini terjadi lagi."
"Aku tahu, Tuan. Aku minta maaf. Ini tidak akan terulang," ucap Aria lirih, wajahnya memerah karena malu dan lega yang bercampur aduk.
Dante merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra dan memberikannya pada Leo. "Hapus debu di wajahmu. Seorang laki-laki harus selalu tampil rapi."
Leo menerima sapu tangan itu dengan ragu. "Tapi ini bagus sekali. Nanti kotor."
"Anggap saja itu hadiah karena kau tidak menangis setelah hampir tertabrak," ucap Dante ketus, meski matanya tak lepas dari wajah Leo.
"Tuan Dante," panggil Aria saat Dante hendak berbalik menuju lobi. "Sekali lagi, terima kasih. Anda telah menyelamatkan hidupku.. maksudku, hidup anakku."
Dante berhenti sejenak, punggungnya menegang. "Aku hanya tidak ingin ada noda darah di depan kantorku pagi-pagi begini. Itu buruk untuk citra perusahaan."
Ia kemudian melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan Aria dan Leo di pinggir jalan.
Leo menarik-narik ujung baju Aria. "Mama, Tuan itu galak, ya?"
Aria menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih liar. "Dia... dia memang sulit dimengerti, Leo."
"Tapi baunya sama seperti parfum Mama yang sering Mama simpan di kotak kecil itu," gumam Leo sambil menghirup aroma dari sapu tangan sutra di tangannya.
Aria terpaku. Ia menatap punggung Dante yang kian menjauh, lalu menatap sapu tangan yang dipegang Leo. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat kecelakaan tadi.
"Ayo, Leo. Kita harus masuk," ajak Aria terburu-buru, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
Di dalam lift pribadi, Dante berdiri sendirian. Ia menatap tangannya yang tadi digunakan untuk mendekap Leo. Masih ada sisa kehangatan dari tubuh kecil itu yang tertinggal di sana.
"Leo," gumamnya pelan.
Entah mengapa, nama itu terasa akrab di lidahnya. Dan mata itu... mata cokelat madu itu sangat mirip dengan mata seseorang yang pernah ia kenal bertahun-tahun lalu. Dante menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran konyol yang mulai merasuki logikanya.
"Hanya kebetulan," bisiknya pada bayangannya di dinding lift. "Hanya kebetulan belaka."
Namun, di dalam hatinya, sebuah keraguan mulai tumbuh—sebuah benih kecurigaan yang mungkin akan mengubah segalanya.