Dante Moretti membanting pintu kantornya dengan keras, membuat sekretarisnya tersentak di luar. Rapat darurat dengan investor asing tadi berlangsung alot, tapi pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat. Pikirannya tertahan di tempat tidur penthouse-nya, pada wanita misterius dengan mata penuh api yang ia tinggalkan beberapa jam lalu.
Ia segera mengendarai mobilnya kembali ke rumah, mengabaikan semua rambu lalu lintas. Ada dorongan aneh di dadanya—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia ingin melihat wanita itu lagi. Ia ingin tahu namanya.
Namun, saat Dante melangkah masuk ke kamarnya, keheningan yang dingin menyambutnya.
Tempat tidur itu sudah rapi, tapi hampa. Dante mendekati nakas dan menemukan cek yang ia tinggalkan masih berada di tempatnya. Ia membalikkan kertas itu dan menemukan tulisan tangan yang rapi namun tajam:
"Simpan saja uangmu."
Dante meremas kertas itu hingga hancur. Rahangnya mengeras. Sepanjang hidupnya, tidak ada wanita yang menolak uangnya, dan tidak ada yang berani meninggalkannya begitu saja tanpa izin.
"Kau pikir kau bisa lari dariku?" gumamnya dengan suara rendah yang berbahaya.
Dante mengambil ponselnya dan menghubungi kepala keamanannya. "Cek rekaman CCTV lift pribadi lima jam terakhir. Aku ingin identitas wanita yang keluar dari sana. Sekarang!"
Dua Minggu Kemudian...
Aria duduk di sebuah kafe kecil di pinggiran kota, jauh dari kebisingan pusat bisnis tempat keluarganya berada. Ia telah memutus semua kontak dengan Nathan dan ayahnya. Ia tidak ingin mendengar permintaan maaf palsu atau pembelaan untuk Chloe.
Namun, ada masalah yang lebih besar.
Aria menatap tangannya yang gemetar saat memegang sebatang plastik kecil. Dua garis merah di sana tampak begitu nyata, begitu kejam.
"Hamil..." bisik Aria, air mata mulai menggenang di matanya. "Hanya satu malam... bagaimana mungkin?"
Ia teringat wajah pria misterius itu. Pria yang hanya ia kenal sebagai "D". Pria yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan dan melindunginya secara bersamaan. Jika pria itu tahu tentang anak ini, apa yang akan terjadi? Mengingat kemewahan penthouse-nya, pria itu pasti orang yang sangat berpengaruh.
Aria mengusap perutnya yang masih rata. Ia tahu hukum di kota ini. Jika pria itu adalah seorang miliarder yang egois, dia mungkin akan mengambil bayinya dan membuang Aria. Atau lebih buruk lagi, menyuruhnya menyingkirkan janin ini.
"Tidak," Aria bergumam tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh anakku. Tidak Nathan, tidak Chloe, dan tidak ayah biologisnya."
Aria berdiri, meninggalkan kopinya yang sudah dingin. Ia memiliki tabungan yang cukup untuk membeli tiket pesawat. Ia akan pergi ke London, tempat ibunya dulu dibesarkan. Ia akan memulai hidup baru sebagai arsitek anonim, membesarkan anaknya di tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenal nama "Aria Watson".
Moretti Group Headquarters
"Maafkan saya, Tuan Moretti." Kepala keamanan Dante menundukkan kepala. "Rekaman CCTV di lift pribadi Anda disabotase secara profesional dari jarak jauh pada jam tersebut. Sepertinya ada seseorang yang tidak ingin wanita itu dilacak."
Dante menghantam meja mahagoninya dengan tinju. "Sabotase? Di gedungku sendiri?"
"Kami hanya menemukan satu petunjuk, Tuan. Sebuah mobil taksi yang menjemputnya di depan lobi utama. Tapi sopirnya mengaku menurunkannya di stasiun kereta yang sibuk. Setelah itu, dia menghilang seperti ditelan bumi."
Dante berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota. Ia merasa seolah-olah sepotong dari dirinya telah dicuri.
"Terus cari," perintah Dante, suaranya sedingin es. "Gunakan semua sumber daya. Sewa detektif terbaik di dunia jika perlu. Aku tidak peduli berapa biayanya. Temukan dia, meskipun dia bersembunyi di lubang terkecil di planet ini."
Dante menatap pantulan dirinya di kaca. Ia terobsesi. Bukan hanya karena harga dirinya yang terluka karena ditinggalkan, tapi karena malam itu terasa berbeda. Wanita itu adalah teka-teki yang harus ia pecahkan.
Ia tidak tahu bahwa pengejaran ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Dan saat ia akhirnya menemukan wanita itu kembali, segalanya tidak akan pernah sama lagi.
5 Tahun Kemudian...
Seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata abu-abu gelap yang tajam sedang berlari di bandara.
"Mommy! Lihat pesawat besar itu!" teriak anak itu dengan semangat.
Aria Watson, yang kini tampil lebih matang dan anggun dengan setelan kantor yang tajam, tersenyum dan mengejar putranya. "Leo, jangan lari terlalu cepat! Kita harus segera menemui perwakilan klien."
Aria menarik napas dalam saat kakinya kembali menginjak tanah kelahirannya. Ia kembali bukan sebagai pengantin yang hancur, tapi sebagai kepala arsitek untuk proyek prestisius di kota ini.
Ia merasa aman. Lima tahun telah berlalu. Dante Moretti pasti sudah melupakannya.
Namun, saat ia melangkah keluar dari bandara, sebuah papan iklan digital besar menampilkan wajah yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Moretti Group: Membangun Masa Depan di Bawah Kepemimpinan CEO Dante Moretti."
Aria menatap mata abu-abu di papan iklan itu. Mata yang persis dengan mata putranya.
"Permainan dimulai, Dante," bisik Aria lirih, sambil mempererat genggamannya pada tangan Leo.