5

860 Kata
Udara di kota ini masih terasa sama—dingin, angkuh, dan penuh rahasia. Namun, bagi Aria, setiap tarikan napas terasa seperti sedang menghirup pecahan kaca. Ia berdiri di lobi hotel bintang lima, menggenggam erat tangan Leo. Putranya itu sedang asyik memandangi air mancur kristal di tengah lobi, tidak menyadari bahwa beberapa kilometer dari sana, pria yang meminjamkan warna matanya sedang memerintah kerajaan bisnisnya. "Mommy, kenapa tangan Mommy basah?" tanya Leo sambil menatap Aria dengan polos. Mata abu-abu itu—begitu tajam, begitu Dante—menatapnya penuh selidik. Aria tersentak, segera menyeka telapak tangannya yang berkeringat ke sisi celananya. "Hanya sedikit gugup, Sayang. Ini proyek besar pertama Mommy di sini." Aria segera membawa Leo menuju kamar suite mereka. Ia telah mengatur segalanya dengan rapi. Selama ia bekerja, Leo akan dijaga oleh pengasuh terpercaya dari agensi elit yang sudah ia sewa. Aria berencana untuk menyelesaikan proyek ini dalam enam bulan, lalu kembali ke London secepat mungkin. Enam bulan. Hanya enam bulan, dan aku akan aman, batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri. Keesokan Harinya... Gedung Moretti Group berdiri menjulang seperti menara obsidian yang mencakar langit. Aria menatap bangunan itu dari dalam taksi. Ia mengenakan setelan blazer berwarna emerald dan celana kain senada, rambut pirang gelapnya disanggul rapi—sebuah tameng profesional yang sempurna. "Selamat pagi, saya Aria Watson dari Exeter Architects. Saya memiliki janji temu dengan departemen pengembangan properti," ucap Aria di meja resepsionis. "Ah, Nona Watson. Anda sudah ditunggu di lantai 40. Namun, ada perubahan jadwal. Presentasi Anda akan langsung ditinjau oleh CEO kami," jawab resepsionis itu dengan senyum kaku. Jantung Aria seolah merosot ke perutnya. "CEO? Bukankah seharusnya saya bertemu dengan Direktur Teknis, Tuan Henderson?" "Tuan Moretti memutuskan untuk mengawasi proyek Waterfront ini secara pribadi, Nona. Silakan, lift di sebelah kanan." Aria melangkah masuk ke dalam lift kaca itu dengan kaki yang terasa seperti timah. Kenangan malam itu di lift pribadi Dante tiba-tiba membanjirinya. Rasa hangat tangannya, aroma parfumnya... Aria menggelengkan kepala dengan keras. Profesional, Aria. Dia bahkan tidak tahu namamu. Pintu lift terbuka. Lantai 40 adalah perpaduan antara kemewahan minimalis dan teknologi canggih. Seorang sekretaris pria menyambutnya dan membawanya menuju pintu ganda besar dari kayu ek hitam. "Nona Aria Watson sudah tiba, Tuan." Pintu terbuka. Ruangan itu sangat luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota. Di balik meja mahagoni yang masif, seorang pria sedang membelakanginya, menatap ke luar jendela. "Letakkan dokumennya di meja dan mulai presentasimu," suara bariton itu terdengar. Lebih dalam, lebih dingin, dan lebih berwibawa daripada lima tahun lalu. Aria mengatur napasnya. "Selamat pagi, Tuan Moretti. Saya Aria Watson. Proyek Waterfront yang kami rancang mengedepankan integrasi antara estetika modern dan kelestarian lingkungan—" "Aku tidak membayar jutaan dolar untuk mendengar ceramah tentang lingkungan, Nona Watson," potong pria itu. Ia memutar kursinya perlahan. Dante Moretti duduk di sana. Wajahnya tampak lebih tirus, dengan garis-garis tegas yang menandakan kekuasaan dan tekanan. Namun, matanya tetap sama—abu-abu gelap yang seolah bisa menembus jiwa siapapun yang ia tatap. Dante terdiam. Tatapannya terkunci pada wajah Aria. Ada kilatan pengenalan yang sangat cepat di matanya, sebelum kembali menjadi dingin dan datar. Aria merasa seluruh oksigen di ruangan itu menghilang. Ia berdiri tegak, menolak untuk terlihat gemetar. "Kami menawarkan efisiensi ruang tanpa mengorbankan nilai seni, Tuan. Jika Anda melihat pada halaman ketiga—" "Suaramu," sela Dante tiba-tiba. Ia berdiri, berjalan mengitari mejanya dengan langkah predator yang lambat. "Sangat familiar." Aria memaksakan senyum profesional yang kaku. "Mungkin Anda pernah mendengar saya dalam seminar arsitektur di London, Tuan Moretti." Dante berhenti tepat di depan Aria. Jarak mereka hanya satu meter. Aroma maskulin yang sama—*sandalwood* dan sedikit aroma laut—menyerang indra penciuman Aria. Dante menyipitkan matanya, menatap setiap inci wajah Aria seolah sedang memecahkan teka-teki rumit. "London, ya?" Dante bergumam. Ia mencondongkan tubuhnya, membuat Aria terdesak ke arah meja. "Lalu kenapa aku merasa pernah melihatmu di kota ini, lima tahun yang lalu, mengenakan gaun pengantin yang robek?" Aria menelan ludah. Ini dia. Momen yang paling ia takuti. "Maaf? Saya rasa Anda salah orang, Tuan Moretti. Lima tahun lalu saya sedang menyelesaikan gelar Master saya di Inggris." Dante tersenyum tipis—senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia mengambil selembar kertas dari laci mejanya. Itu adalah catatan lama yang sudah lusuh, dilindungi oleh plastik bening. "Simpan saja uangmu." "Tulisan tangan di draf proyekmu dan tulisan di kertas ini... memiliki kemiringan yang sama," bisik Dante, suaranya terdengar seperti ancaman sekaligus janji. "Jangan coba-coba membohongiku, Aria. Aku telah menghabiskan lima tahun untuk mencari pemilik tulisan ini." Aria mengepalkan tangannya di balik punggung. "Saya di sini untuk bisnis, Tuan Moretti. Jika Anda tidak tertarik dengan desain saya, saya bisa pergi sekarang juga." "Duduk," perintah Dante. Itu bukan permintaan. Itu adalah perintah Alpha. "Kita akan membahas desainmu. Dan setelah itu, kita akan membahas semua hutang penjelasan yang kau bawa." Tepat saat itu, ponsel Aria di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala, memperlihatkan foto seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera. Dante melirik ke arah ponsel itu. Matanya terpaku pada foto Leo. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Aria segera menyambar ponselnya, tapi ia tahu ia sudah terlambat. Dante menatapnya dengan tatapan yang bisa menghancurkan dunia. "Siapa anak itu, Aria?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN