Keheningan di ruangan itu terasa mencekik. Aria bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seperti genderang perang yang siap meledak. Ia menggenggam ponselnya begitu erat hingga buku jarinya memutih.
Dante masih terpaku. Bayangan anak laki-laki di layar ponsel itu seolah membakar retina matanya. Rambut hitam yang berantakan, bentuk hidung yang tegas, dan yang paling menyesakkan—mata abu-abu gelap yang merupakan cermin sempurna dari miliknya sendiri.
"Siapa anak itu, Aria?" Dante mengulang pertanyaannya. Kali ini suaranya lebih rendah, lebih berbahaya, seperti geraman serigala yang sedang mengunci mangsanya.
Aria menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali seluruh sisa keberaniannya. "Dia putraku. Dan aku rasa itu bukan urusan Anda, Tuan Moretti."
Dante tertawa, sebuah tawa dingin yang tidak mengandung humor sedikit pun. Ia melangkah maju, memperkecil jarak hingga Aria bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu. "Bukan urusanku? Kau menghilang lima tahun lalu setelah malam itu, dan sekarang kau muncul kembali dengan seorang anak yang terlihat seperti kloninganku. Kau pikir aku bodoh?"
"Dunia ini luas, Tuan Moretti. Banyak orang memiliki mata abu-abu," tangkis Aria, suaranya bergetar meski ia mencoba sekuat tenaga untuk tetap stabil. "Sekarang, jika presentasi ini sudah selesai—"
"Duduk!" Dante menghantam meja dengan telapak tangannya. Dentuman itu membuat Aria tersentak. "Jangan berani-berani melangkah keluar dari pintu itu sebelum kau mengatakan yang sebenarnya. Berapa usianya?"
Aria menelan ludah. Jika ia menyebutkan usia Leo yang sebenarnya, Dante akan langsung bisa menghitung mundur ke malam itu. "Dia... dia baru tiga tahun."
"Kau berbohong," desis Dante. Ia mencondongkan tubuh, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Aria. "Dia terlihat lebih besar dari tiga tahun. Dan kau tampak terlalu panik untuk seseorang yang tidak menyembunyikan apa-apa."
Dante meraih gagang telepon di mejanya. "Mark, batalkan semua jadwalku sore ini. Dan panggil tim keamanan. Aku ingin data imigrasi atas nama Aria Watson dalam satu jam. Aku ingin tahu kapan dia pergi ke London dan dengan siapa dia kembali."
"Anda tidak berhak melakukan ini!" teriak Aria, kemarahannya mulai mengalahkan rasa takutnya. "Anda tidak bisa menyalahgunakan kekuasaan Anda untuk mencampuri kehidupan pribadiku!"
"Di kota ini, aku adalah hukumnya, Aria," ucap Dante dingin. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya, menatap Aria dengan tatapan posesif yang mengerikan. "Kau pikir kau bisa memberikan catatan ketus itu, mencampakkan uangku, dan membawa pergi darah dagingku tanpa konsekuensi?"
"Dia bukan darah dagingmu!" Aria berteriak, air mata mulai menggenang karena rasa frustrasi. "Dia milikku! Hanya milikku! Kau hanyalah orang asing yang kutemui di saat aku hancur. Kau tidak punya hak atas Leo!"
Mendengar nama 'Leo' disebut, mata Dante berkilat. "Leo. Nama yang kuat. Nama seorang raja." Dante menyandarkan punggungnya, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang menyiksa. "Jika dia memang bukan anakku, kau tidak akan keberatan jika kita melakukan tes DNA, bukan?"
Wajah Aria memucat pasi. Tubuhnya mendadak lemas. Tes DNA adalah hukuman mati bagi rahasianya.
"Aku akan memberimu dua pilihan, Aria," Dante melanjutkan, suaranya kini terdengar sangat tenang namun mematikan. "Pertama, kau mengakui segalanya sekarang, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu tetap bekerja di proyek ini. Atau kedua, aku akan mengambil sampel DNA anak itu secara paksa, dan saat hasilnya terbukti positif, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihatnya lagi melalui jalur hukum tercepat yang bisa dibeli uang."
Aria jatuh terduduk di kursi di depan meja Dante. Ia merasa seolah dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Dante Moretti bukan hanya seorang miliarder; dia adalah monster yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kenapa?" bisik Aria parau. "Kenapa kau begitu terobsesi? Itu hanya satu malam bagi Anda. Anda pasti memiliki ratusan wanita lain."
Dante berdiri, berjalan mendekati Aria dan berlutut di depan kursinya. Ia mengambil tangan Aria yang gemetar dan mencium punggung tangannya dengan lembut—sebuah kontras yang membingungkan dari kekejamannya beberapa saat lalu.
"Karena sejak malam kau pergi, tidak ada wanita lain yang bisa membuatku merasakan hal yang sama," bisik Dante di depan bibir Aria. "Dan karena aku tidak suka kehilangan apa yang seharusnya menjadi milikku. Terutama jika itu adalah putraku."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Seorang pengasuh wanita masuk dengan wajah panik, menggendong seorang anak laki-laki yang sedang menangis.
"Nona Watson! Maafkan saya, tapi Leo terus menangis memanggil Anda, dia tidak mau ditinggal di hotel dan—"
Pengasuh itu terdiam saat melihat pemandangan di dalam ruangan. Leo, dengan wajah yang basah oleh air mata, mendongak. Matanya bertemu dengan mata Dante yang sedang berlutut di depan ibunya.
Seluruh ruangan mendadak membeku. Dante berdiri perlahan, matanya terpaku pada anak kecil di depannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dante Moretti merasa napasnya benar-benar terhenti.
"Daddy?" gumam Leo kecil, suaranya serak karena menangis, sambil menunjuk ke arah Dante.