Kedua tangan Gabriel mengepal erat. Kepalanya pening, perutnya terasa mual melihat Vena berlari ke luar membawa cermin. Ia tidak menyangka jika seorang wanita secerdas Vena bisa kehilangan akal sehatnya,.dan lebih memilih untuk mengorbankan orang-orang tak bersalah daripada memgirbankan kecantikannya. Seandainya saja Vena tahu, ia jatuh cinta padanya bukan karena paras cantiknya. Seandainya saja Vena tahu ia tergila-gila pada mata indahnya yang tetap memesona meskipun tertutup kaca tebal, mungkin dia akan bersedia menyerahkan cermin itu padanya, bukan membawanya kabur seperti sekarang. Gabriel melangkah maju, bersamaan dengan Nick yang juga terlihat murka. Wajahnya memerah, rahang mengetat. Entah apa yang dipikirkannya. Gabriel berharap mereka memiliki keinginan yang sama. Dua langkah ke

