Aku masih setia mendengarkan cerita Bang Aldo sampai akhirnya mobil yang ia kendarai berbelok meninggalkan jalan pantura, sepertinya kamu hampir sampai. "Nah, Dina, semua yang abang ceritain itu tentang kota Pekalongan. Tapi nanti kita enggak akan tinggal di sini." Pungkasnya. "Terus?" tanyaku penasaran. "Kita tinggal di kabupaten Pekalongannya. Tepatnya di Kajen. Tempatnya sejuk, dan asri, pokoknya kamu pasti betah," terangnya, aku hanya mengangguk berusaha memahami. Sampai mobil kami berhenti di pelataran sebuah rumah mungil, berbeda dengan Jakarta rumah-rumah di sini memiliki halaman-halaman yang luas. "ini rumah, ibu abang. Ibu kandung Rayisa, istri kedua papa." Ada kegetiran yang terasa. Aku melihat seorang wanita keluar dari dalam rumah itu, belum terlalu tua, bahkan mungk

