Aku tergagap ketika merasakan seseorang merangkulkan lengannya di pundakku dari belakang, lengan kekar dengan seikat mawar merah di genggamannya. "Maaf, ya. Nunggu lama." bisiknya di telingaku, rasa terkejut membuatku hampir terpekik jika tidak segera teringat kini kami sudah menjadi suami istri. Rasa kaget segera berubah menjadi malu saat melihat Marisa tersenyum malu-malu melihat kami lalu segera mengalihkan pandangan pada buku yang tengah ia baca. Aku menjauhkan lengan Bang Aldo dari tubuhku, "Malu," ujarku sambil melirik Marisa yang masih mengulum senyum entah karena ulah Abangnya atau buku yang ia baca menceritakan kisah lucu. "Enggak usah malu dong, Sayang. Udah halal 'kan!" selorohnya sambil menyodorkan bucket bunga yang wangi lembutnya terasa menenangkan. Aku meraihnya. "T

