"Hei! Hei! Tunggu!" mendengar seruannya yang semakin keras, membuat langkah kakiku semakin cepat menghindar. Aku menyelusupkan tubuhku di antara banyak orang yang berlalu-lalang di jalanan ibukota yang sibuk walau senja segera tiba. Tak pelak membuat tiga orang berbadan kekar mempercepat pergerakannya. Jantungku berdebar sangat kencang, takut dan putus asa saat mengetahui mereka melihat keberadaanku. "Hei berhenti!" bukan suara itu yang membuatku menghentikan langkah, tapi sebuah tulisan GANG BUNTU yang ada di hadapanku. Aku terkepung, antara tembok tinggi di hadapanku. Pagar tinggi yang mengelilingi halaman belakang komplek perkantoran di sebelah kananku, dan sebuah sungai dalam berair hitam membentang di sebelah kiriku. Sedang mereka bertiga berdiri tegap bersiap menangkapku dari

