Hening. Sang surya sudah menyerah pada putaran waktu, tenggelam menyisakan semburat jingga di kaki angkasa. Sebuah botol air mineral tersodor di hadapanku, tutupnya sudah terbuka menandakan Sang pemberi adalah seseorang yang penuh perhatian. Aku meraihnya meneguk pelan, di sela bahuku yang kadang spontan terangkat karena isakan. Bang Aldo bergeming membiarkanku menangis hingga puas, tanpa sedikitpun tanya terdengar. Ia pasti faham tidak mudah bagiku membagi cerita padanya, atau pada siapapun. "Bang, Abang enggak perlu nikahin aku. Abang bisa pergi jauh dari sini, aku juga akan pergi jauh. Kita enggak perlu ketemu lagi." ucapku spontan. "Kabur?," Bang Aldo terlihat menarik miring bibirnya, "Abang bukan pengecut, dan Abang juga tau, kamu enggak sepengecut itu." Bang Aldo mengucapkan

