Daya tidak bisa berhenti memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya. Sesekali diputarnya cincin itu hanya untuk merasakan bahwa semua ini nyata, bukan khayalan belaka. Sementara di kursi pengemudi, tak henti Ezra memandangi wajah cantik Daya yang tersenyum berkali – kali sambil mengelus cincin yang ia kenakan dengan mata berbinar. Suara Troy yang terlelap menyela hening yang sempat menguar di antara mereka. Ezra menolehkan kepala ke belakang sebentar dan kembali fokus pada jalanan. “Lha, tidur.” Ujarnya. Daya ikut menoleh dan tersenyum melihat Troy yang sudah tertidur dengan posisi melintang di kursi belakang. Kepalanya ditumpukan di atas bantal kecil yang selalu tersedia dalam mobil. “Kamu sih cuekkin dia.” Sahut Daya, Ezra menaikkan kedua alisnya dan menggeleng kecil. “Be

