Grup WA Keluarga Suami
Bab 1
[Istrimu itu kapan kirim Ibu duit?] pesan dari Ibu mertuaku.
[Nanti ya Bu, aku minta pada Najwa] balas Mas Beni.
[Kak, aku juga mau belanja ke Mall. Mintain 2 juta ya!] pesan dari Sania adik Mas Beni.
Ternyata di grup keluarga, ini yang mereka bahas.
Untung saja Kak Marwah, Kakak sulung Mas Beni peduli padaku. Ia menscreenshot semua percakapan ini dan mengirimnya padaku.
Sebuah pesan masuk lagi. Kini Ibu mengirim foto wanita cantik, menggunakan hijab putih dan gamis berwarna Lilac.
[Ben, ini namanya Ririn. Dia mau taaruf denganmu, Ibu udah cerita tentang kerjaan dan gajimu.] tulis Ibu di pesan terbaru.
Ibu ternyata juga sibuk menjodohkan Mas Beni, dengan wanita lain.
[MasyaAllah cantiknya...] balas Sania memuji foto wanita bernama Ririn.
[Kapan kita ke rumahnya, Bu?] Mas Beni kembali membalas.
[Insyaallah dua hari lagi. Kamu suka tidak?] balas Ibu.
[Suka Bu, sangat elok parasnya. Cantik dan tampaknya berakhlak baik] balas Mas Deni memuji wanita itu.
Mereka selalu menikmati uangku, tapi mereka juga sibuk menjodohkan suamiku dengan wanita lain. Ya, selama ini aku yang membiayai hidup mereka, dengan gajiku yang lumayan dan posisi yang cukup bagus di kantor. Membuat Mas Beni terlalu bergantung padaku.
Sedangkan Mas Beni juga bekerja sebagai karyawan biasa, dengan gajinya hanya 5 juta perbulan hanya ia nikmati sendiri. Aku saja tak pernah ia nafkahi.
2 tahun pernikahan kami, dan belum mempunyai anak. Dulu aku menikah dengannya Mas Beni sangat baik dan cukup loyal. Mengerti agama juga, itu yang membuatku yakin. Tapi setelah menikah sifat dan tabiat aslinya muncul. Dia jauh dari kata baik, aku ibaratkan sudah terlanjur basah karena menikah dengannya.
***
"Najwa! Aku minta uang," Mas Beni menghampiriku yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Berapa?" tanyaku.
"5 juta saja!" jawab Mas Beni.
"Gak ada Mas, aku lagi butuh banget uang untuk-"
"Untuk apa?" potong Mas Beni.
"Apakah kamu harus tahu? Sedangkan kamu saja menyembunyikan banyak hal dariku!" aku berlalu meninggalkan Mas Beni.
Sania datang.
"Mbak, nebeng ya ke kampus!" pinta Sania saat aku mau masuk ke dalam mobil.
"Nebeng Mas Beni aja!" ujarku dan masuk ke dalam mobil.
Tampak Sania menghentakkan kakinya. Karena jika dia nebeng Mas Beni hanya naik sepeda motor.
***
Setibanya di kantor Kak Marwah kembali mengirim chat wa itu padaku.
[Beni, itu istrimu kurang aj*r banget! Gak mau beri tumpangan sama Sania. Dan uangnya gimana?] Ibu kembali membuka percakapan.
[Entah itu Najwa tiba-tiba berubah, coba nanti aku bujuk ya Bu.] Mas Beni membalas.
[Cepatan deh, Ibu mau bayar arisan besok 2 juta!]
Setahuku memang Ibu mengikuti banyak Arisan dengan jumlah yang lumayan besar.
[Ambil kunci mobilnya nanti Mas, mendingan kamu aja yang bawa mobil!] timpal Sania.
Enak saja dia bilang seperti itu, semua rumah dan mobil milikku. Awas kamu kamu Mas, aku akan datang di acara taarufmu besok.