1. 90 Hari
Drrt… Drrt…
Berulang kali sebuah panggilan masuk dengan nama kontak yang tertera—‘suami’ dibubuhi pula emoji hati. Ponsel itu hanya bergetar di atas sofa dalam ruangan yang agaknya cukup bising. Terdengar suara tawa yang menyeruak.
Tampak pula si pemilik ponsel sedang dibantu oleh tim tata rias menghapus riasannya di depan cermin sambil berbagi cerita seru.
“Arin!”
Perempuan manis yang tetap menawan walaupun riasan telah hirap dari wajahnya itu menyambut dengan sangat ramah perempuan lain yang datang.
“Kak Bunga!”
Penyanyi senior itu mendekati Arin. “Makasih, ya, udah nyempetin datang buat ngisi video klip aku.”
“Sama-sama, Kak! Aku juga seneng banget.”
“Aku nggak enak, padahal katanya kamu nggak mau ambil job di weekend.”
“Santai aja kali, Kak!” Arin terkekeh sambil rambutnya ditata rapi dan santai lagi oleh tim tata rias.
“Mau langsung pulang Jakarta?”
“Enggak. Kebetulan suamiku di Puncak duluan.”
“Oya. Ya, udah, deh. Aku balik dulu, ya.”
Mereka pun berpamitan manis. Saling mengecup pipi kanan dan kiri. Bahkan Arin mengantar penyanyi tersebut ke mobil menuju kegiatan berikutnya yang sangat padat.
Kini, Arin pun juga dapat menyusul sang suami dengan penuh suka cita. Rasanya tidak sabar bertemu dengannya walaupun sejatinya setiap hari memang bertemu. Tapi, akhir pekan menjadi rumah bagi keduanya setelah melewati hari-hari yang padat.
Arin mengemas barangnya, termasuk ponsel yang tadi ia tinggalkan begitu saja. Selepas berpamitan dengan staf, perempuan pemilik senyum cerah itu berjalan menuju mobil sambil membuka ponsel.
“Uhm?” Matanya membulat saat melihat betapa berulang sang suami meneleponnya.
Lalu Arin membuka pesan singkat dari sang suami—Iko.
From: Suami
Sayang? Kamu masih lama? Nggak usah keburu, santai aja. Aku juga mau keluar bentar ini.
Pipi Arin bersemu. Ia tak bisa menahan senyum, lalu menyusulnya dengan balasan.
To: Suami
Ini udah selesai, Sayang. Maaf, ya, aku nggak sempat balas. Kamu mau ke mana atau habis dari mana? Katanya udah di rumah kayu.
Arin tak menunggu jawaban. Ia segera masuk ke dalam mobil. alih-alih antusias dengan jawaban Iko, Arin lebih tak sabar lagi untuk bertemu dan menghabiskan akhir pekan bersamanya di rumah kayu. Sebuah rumah impian yang belum bisa mereka tinggali setiap hari lantaran padatnya pekerjaan di Ibu Kota.
Kebetulan lokasi syuting video klip berad di Bogor kota, sehingga Arin tidak perlu memakan banyak waktu untuk sampai ke rumah kayu yang lokasinya berada di Puncak, Bogor. Hanya saja memang selalu macet.
Biasanya, Arin dan Iko berangkat ke rumah kayu pada jumat sore atau justru pagi buta pada sabtu. Tergantung pekerjaan mereka—yang jelas, Arin dan Iko menjalani tiga bulan pernikahan dengan sangat santai. Mereka sungguh menikmati momennya.
Arin mengendarai mobilnya sendiri menuju kabut pegunungan, merdu kokok ayam, gemericik sungai kecil, tetes bening air jatuh dari ujung dedaunan—sebuah rumah kedamaian. Di sana, sepasang suami-istri itu menyemai cinta. Merajut kasih.
Hhh… Hentakan napas Arin begitu bertenaga saat terjebak macet. Tapi apa mau dikata, inilah risiko demi membangun sebuah cinta abadi. Masing-masing harus berjuang—puncak dan akhir pekan memang tak lekang oleh kemacetan.
Arin menyempatkan waktu untuk menelepon suaminya. Mengarahkan ponsel ke telinga. Menunggu dalam beberapa waktu sehingga membuat kening perempuan berambut sebahu itu mengerut. Ia pun menjauhkan ponsel, memastikan keterangannya.
“Menghubungkan…?”
Ya, itu bisa terjadi. Sebab, di pegunungan, sinyal tidak selalu stabil. Tapi Arin tidak menyerah. Ia mencoba menghubunginya lagi sambil sesekali melajukan mobilnya saat ada pergerakan lalu lintas.
“Dia di mana, sih?” gumam Arin.
Kemudian ia memilih untuk mengirim pesan dan sejenak baru tersadar bila pesan yang ia kirim tadi hanya menghasilkan satu centang. Tapi itu bukan sesuatu yang mengherankan.
To: Suami
Sayang, kamu di mana? Ini aku kejebak macet. Tunggu, ya. Ini juga lagi hujan.
Setidaknya dengan mengirimi pesan tentang keberadaan Arin saat ini akan lebih baik. Lantas fokus pada jalanan.
Namun, Arin menjadi semakin gelisah karena ini sangat tidak masuk akal jika dirinya telah terjebak macet selama 3 jam. Bahkan Arin tidak berangkat dari Jakarta, tapi ia merasakan macet yang sangat padat di tanjakan seperti itu.
“Bisa gila gue!” Arin mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Mana hujan.” Ia menatap langit abu.
Samar-samar ia mendengar suara sirine yang membuatnya terhenyak. Ia pun menoleh ke berbagai arah sambil bertanya-tanya.
“Ada apaan, sih?”
Arin juga melihat beberapa warga tampak mengatur lalu lintas. Ia yang dililit rasa penasaran pun membuka kaca.
“Ada apaan, A?” seru Arin.
“Oh… di depan ada kecelakaan, Neng!”
Arin tertegun sambil mengangguk-angguk pelan. Kemudian memajukan sedikit mobilnya saat ada jarak tersisa. Ia mencoba untuk bersabar, lalu menyempatkan waktu lagi untuk mengirimi pesan pada suaminya.
Sayang, ada laka lantas. Jadi macet banget ini. Maaf ya kamu jadi nunggu lama.
Arin pun memiringkan sejenak kepalanya menatap layar ponsel. “Hape-nya ditaruh di mana, sih? Kok centang satu?”
Prit!
Saat pengatur lalu lintas meniupkan sempritan, mobil-mobil kembali melaju perlahan-lahan menyesuaikan kondisi arus lalu lintas. Namun saat mencapai belokan yang menanjak, tak sengaja Arin melihat sekilas keramaian di tepi jurang.
Ia pun melihat mobil yang baru diangkat. Sebuah mobil berwarna maroon metallic di antara hujan sedang yang membuatnya tercekat.
Arin mengerjap, berusaha menyingkirkan kecurigaan tak berdasar itu. Tapi di sisi lain sangat penasaran sehingga akhirnya ia memilih untuk menepi ke warung. Lantas keluar mobil, menerjang hujan yang membasahi rambut panjang blouse putih lengan pendek yang pas sekali dengan badan langsingnya, serta celana jeans longgar.
Arin hanya ingin memastikan hingga akhirnya jatungnya nyaris menggelinding saat melihat dengan jelas mobil tipe sedan berwarna maroon metallic yang sangat ia kenali. Bahkan plat nomornya… Arin hapal betul.
Tapi ia berusaha tetap menerjang segala asumsi liarnya itu untuk semakin mendekat.
“Jangan dekat-dekat, Neng! Bahaya. Ayo, minggir!”
Seseorang menahannya. Arin pun menurut untuk menyaksikan proses evakuasi tersebut lebih lanjut.
“Hah?!” Arin membungkam mulutnya yang melebar saat dapat memastikan bahwa mobil itu adalah mobil yang sangat ia kenali.
Arin menggeleng keras. “Nggak… nggak mungkin…”
Tak lama petugas mulai naik membawa tandu yang terdapat seseorang yang sudah ditutupi kain secara penuh.
Mata Arin membelalak tegang. Ia ingin menerobos, tapi selalu ditahan sampai akhirnya tangan dari sosok tersebut terhempas lemas ke bawah sehingga Arin dapat menyaksikan sebuah jam tangan yang juga sangat dikenalinya. Jam tangan analog berwarna cream yang saat ini serupa dengan yang Arin kenakan.
“I-Iko…?” Arin menerobos petugas.
“Minggir! Aku mau lihat!” pekik Arin melawan petugas yang menghadang.
“Situasi belum kondusif, Neng!”
“Minggir!” Arin menjerit bersama derai air mata yang sudah melebur bersama hujan hingga akhirnya tenaganya mendadak semakin kuat dan dapat menerobos petugas.
Arin pun berlari dan menarik kain yang menutupi sosok di atas tandu hingga dirinya pun terkurai lemas seolah tak memiliki penyanggah. Semua lemah. Persendian, otot. Semua mendadak kehilangan fungsi mereka dan tiada sadar jika beberapa orang berusaha menolongnya.
Tampak di jurang sana, petugas memungut barang-barang dan serpihan. Salah satunya bucket bunga yang sudah penyok, serta terlihat ada kue ulang tahun yang sudah tak berbentuk. Lalu di tempat lain terdapat sepucuk surat di kertas tebal yang tintanya sudah luntur namun masih dapat terbaca: Happy Birthday to My Hazel.