bab 2 Menara Putih Pesantren

1010 Kata
Keesokan harinya, sorot cahaya menyilaukan pelupuk mataku. Tentu saja sahabatku mentari datang membangunkaku. Ku usap mataku dan melihat mentari menari tepat di depanku. Halah.. ternyata dia yang mengajakku keluar dari alam mimpi, dan menggandengku kembali ke dunia nyata. "Zizi, ayo lihat keluar! Matahari memancarkan sinarnya. Sinar pagi yang penuh dengan keceriaan dan berkah Allah.." ajak mentari. Aku pun keluar dan duduk di teras pondok. Ku pandangi sahabatku yang sedang memancarkan sinarnya. Mengguyurku dengan vitamin D yang segar tentunya. Mentari selalu tersenyum padaku dan memberikan sinar hangatnya itu setiap pagi. Tak lama kemudian, pandanganku terpaku pada gerbang hijau pesantren. Ku lihat gadis berkerudung almamater putih melangkahkan kakinya ke arahku. Akhirnya, Izza datang juga. "Hei sobat, kapan datang?" sapa Izza dengan semangatnya. "Baru kemarin, Za.." balasku ceria. "Capek, Zii. Naik bis 3 jam dan pengap sekali. Agak nggak vit nih. Maaf ya.." sambungnya. "Istirahat saja dulu, Za. Nanti aku jalan-jalan sendiri saja dulu. Gak bakal hilang kok wkwk.." "Kamu gak papa sendirian? Tak enak lah aku.." "Tak apa. Istirahat dulu sana. Cepet pulih, biar bisa temenin aku jalan-jalan lain kali.." "Siap, bu boss!.." Akhirnya, aku tak sendirian lagi. Karena Izza sudah datang. Tapi, kelihatannya Izza butuh istirahat sekarang. Mungkin, aku akan jalan-jalan sendiri dulu mengelilingi pesantren. Tak apalah tanpa Izza. Untung-untung uji nyali sambil menghapal jalan. Langkahku terhenti saat mendapati sebuah bangunan yang sangat menakjubkan. Menara putih bersih yang menjulang ke langit. Subhanallah, Maha Suci Engkau yang memberiku kesempatan memandang menara ini secara langsung. Rasanya, ingin sekali berada di puncak menara itu. Tapi, mungkin tak bisa untuk sekarang ini. Andai saja ada seseorang yang mau mengajakku naik ke atas sana. Pasti aku sudah bisa memandangi seluruh kota dari atas sana. Tentu saja menara itu adalah bangunan keagungan di pesantren ini. Di seluruh pesantren, hanya disinilah menara pencakar itu berada. Ketika aku sedang asyik memandangi menara itu, datanglah seorang santri putri dari sisi seberang. Dia melihatku sedang mengagumi menara itu. "Hei, jangan melamun! Bahaya loh hehe.." sapanya. "Eh iya, mbak.." jawabku lirih. "Kamu santri baru ya?" "Betul, mbak. Saya Annisa, santri baru di sini.." Sejenak, dia menatapku dengan tatapan tajam mendalam. Dia yang malah ganti melamun menatap bola mataku. Anehkah? "Subhanallah, keistimewaan di mata Allah tak memandang siapapun makhluk-Nya. Aku melihat dengan jelas cahaya yang mencorong dari matamu. Beruntung karunia yang datang ke pesantren ini.." katanya lirih. "Maaf, mbak. Ada yang aneh kah?" jawabku segera. "Sudahlah, mari kutunjukkan hal lain yang ada di pesantren ini! Kamu perlu tahu banyak hal di sini, bukan?" ajaknya. "Oh, ya. Namaku Farida Zahra. Semua memanggilku Ukhti Rida. Saya ketua pondok putri di pesantren ini. Titisan Aisyah binti Muhammad, sang wanita yang murni itu, loh hehe.." candanya santai. "Ya begitu lah. Salam kenal ya. Semoga cepat kerasan di sini.." tambahnya. Ukhti Rida baik. Dia sangat cantik dan juga sholihah. Di manapun dan kapanpun dia datang dengan senyuman manis, pose andalannya. Aku, belum pernah melihat muslimah sesempurna ukhti Rida. Seperti melihat langsung bidadari yang turun dari surga. Dia juga mengajakku jalan-jalan bersamanya. Murah hati dan juga murah senyum tentunya. Di tengah perjalanan, ada seorang santri putri mendekat ke arah kami. Sepertinya, dia juga pengurus di sini. Kelihatan sekali dari gerak-gerik dan cara bicaranya. Dan, dugaanku benar. Dia adalah Ukhti Alif, Alifa Fauziya lengkapnya. Dia adalah koordinator departemen keagamaan yang pandai berbahasa asing, pandai mengaji, sangat tegas, dan disiplin dalam urusan agama. Kepintaran dan kesopanannya tersebar ke seluruh pesantren. Tak seperti Ukhti Rida, Ukhti Alif cenderung kaku dan jarang senyum. Dia bilang, aku akan bertemu dengannya sore nanti. Ada urusan katanya. "Siapa, ukhti?" tanya Ukhti Alif pada Ukhti Rida. "Santri baru. Annisa namanya.." jawab Ukhti Rida. "Hai, Annisa. Kamu pasti bertemu denganku sore nanti. Siap-siap ya! Pasti seru pas ada santri baru.." kata Ukhti Alif padaku. "Iya, Ukhti.." jawabku gugup. "Duh mulai lagi. Jangan menggodanya lah, Ukh.." tegur Ukhti Rida. "Iya iya maaf, hehe.." jawabnya santai. Sore harinya, aku mengikuti kegiatan ngaos Al-Qur'an. Dan benar katanya, Ukhti Alif langsung yang mengajariku. Ternyata ini pertemuan dengannya yang dimaksud. Haduhh ku kira apa, bakal dikerjain atau dihukum. Ukhti Alif itu unik dan kreatif orangnya. Penglihatannya sangat teliti. Tiada satupun huruf yang terlewat oleh pandangannya. Aku takut, karena belum bisa mengaji dengan baik. Alhasil, dugaan buruk pun benar. Setelah aku ngaos, Ukhti Alif menegur dan juga menasehatiku. Katanya, bacaanku banyak yang kurang tepat. Aku perlu bekerja keras untuk mempelajari setiap huruf hijaiyah. Aku diberi waktu 1 bulan full agar segera mendatangi Ukhti Alif untuk setoran. Setelah ngaos, aku pindah dan duduk di kursi baris 4, sambil membaca berulang-ulang huruf hijaiyah itu satu per satu. Sungguh, terasa sangat sulit untuk melafadzkannya dengan benar. Di sela-sela itu, mulutku terhenti ketika mendengar lantunan Al-Qur'an yang sangat merdu dan juga fasih tentunya. Pandanganku berkeliling mencari sumber suara. Di pojok ruangan, aku melihat seorang santri putri yang tinggi, putih, dan biru bola matanya. Sepertinya santri asing. Ia tau aku sedang melihatnya. Lalu, ia pun mendekat ke arahku. "Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.." sapanya penasaran. "Yah, kamu benar. Aku santri baru di sini. Namaku Annisa Nuraziza. Bisa dipanggil ... " jawabku. "Annisa, kan?.." selanya. "Iya, bisa" "Baik. Hai, Nis! Aku Ferissca Distya. Kamu bisa panggil Feris. Aku orang Prancis.." "Wow, itu jauh sekali, Fer!" "Ya ... memang Prancis itu jauh dari Indonesia. Kamu pasti terheran. Tapi sudah takdir, mau gimana lagi? Lagian, ini sudah keinginanku sendiri, Nis.." Kami berdua pun mengobrol tentang kehidupan pribadi masing-masing dari kami, masa-masa ku dari sekolah dan kehidupan ku sebelum aku masuk ke dalam pesantren hijratul qolbi ini.." hehehe namanya juga baru kenal dengan orang baru pasti kita kan akan kepo dengan dia " kata hatiku... Setelah beberapa saat kemudian setelah mengobrol tentang kehidupan pribadi masing-masing kami memutuskan untuk kembali ke pondok berencana Istirahat saja, aku sambil belajar membaca Alqur'an sendiri sajaa karena kebetulan di dalam kamar cuman aku sendiri, teman yang lain aku tidak tau lagi pada kemana.. Kali ini aku akan belajar lebih giat lagi untuk bisa membaca Alqur'an seperti Ferisca agar orang tua ku juga bangga dengan anaknya "kan anaknya juga bisa fasih dalam membaca Alqur'an orang tua mana coba yang nggak akan bangga" kataku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.... Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN