bab 1 Pondok pesantren hijratul qolbi
Beberapa bulan sebelumnya ziza adalah seorang anak perempuan yang bandel banget dan suka melawan perintah orang tuanya, akan tetapi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dan teman-temannya sewaktu pulang dari tempat nongkrongnya dia berubah drastis menjadi sosok yang alim dan penurut..
Pondok Pesantren Hijratul Qolbi, yang terkenal dengan nama Al–Hijrati, merupakan surga dunia terindah yang pernah ku temui. Tempat di mana segala pertanyaan akan terpecahkan dan tempat dimana jawaban itu sendiri tinggal. Tempat yang akan membantuku menemukan arti dan makna dari namaku "Nur" yang dalam Bahasa Arab berarti "Cahaya".
"Ibu, kapan kita berangkat?" gerutuku pada ibu, dengan kegelisahan yang menerus datang.
"Setelah bapak pulang dari ladang. Sabar ya, dek. Siap-siap dulu sana. Sudah mandi, kah? Sudah dikemas semua barang-barangnya? Pastikan tidak ada yang tertinggal, dek.." jawab ibuku santai.
"Hehe ... belum. Baiklah, bu. Zizi mandi dulu, lanjut berkemas.." jawabku lirih.
"Dasar adek. Mandi aja belum, pengen keburu berangkat.." ejek kakakku.
Daripada mendengarkan ejekan kakak, segera ku raih handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Wah, ku rasa ini terakhir kalinya mandi di rumah sebelum aku pergi. Ingat-ingat sebentar lagi aku harus membiasakan diri di lingkungan baru. Selesai mandi, ku pakai baju batik hijau kesukaanku. Dengan rok levis dan kerudung hitam segi empat favoritku. Kata salah satu temanku SMP dulu, aku sangat cocok pakai baju ini. Ya sudah, siapa tau menjadi keberuntunganku. Kemudian, ku kemasi barang-barang kebutuhan sebagai bekal di pesantren nanti. Baju, rok, kerudung, mukena, peralatan mandi, peralatan tidur, dsb. Semua tertata rapi dan tak ada satupun yang ku tinggalkan.
Detik demi detik berlalu, sambil memandangi jarum jam yang berdentang sangat lambat. Serasa ingin ku putar sendiri jarumnya agar penantian ini segera berlalu. Aku sudah tak sabar menempati rumah baruku itu. Namun juga gugup untuk memulai semuanya. Terbayang oleh teman-teman yang selalu menemani hariku, dan malaikat-malaikat baik yang akan menjagaku setiap waktu. Bertilawah ayat-ayat suci Al-Qur'an dan bercerita tentang makna kehidupan.
Aku ingat punya sahabat kecil di sana. Kami tak pernah bertukar kabar sejak lulus SMP. Namanya Izza, lengkapnya Nisya Mu'izza. Masih seangkatanku sih. Dia nyantri di Al-Hijrati sejak lulus SMP. Berarti, sekitar 3 tahun dia di sana. Izza itu pintar, baik hati, berparas cantik, dan sangat menjaga hijabnya. Tak terbayang jika siswa SMP nakal sepertiku berhijrah sepertinya, menjadi perempuan sholihah perindu Surga. Yang perlu dicatat, bahwa aku nyantri bukan hanya karena Izza, atau orang tuaku. Melainkan keinginan kuat yang menuntunku ke jalan pesantren ini. Tiba-tiba pengen nyantri aja. Di balik tekadku itu, tentu saja aku juga takut dengan rumor-rumor pesantren yang katanya selalu disuruh hafalan banyak, mencuci sendiri, masak sendiri, jarang libur, jauh dari HP, jauh dari kaum adam, angker, hantu dimana-mana, dsb. Namun, kembali lagi bahwa Allah-lah yang berhak merencanakan segalanya. Semua milik Allah dan aku juga makhluk-Nya. Dan aku sangat percaya dengan skenario Allah. Itulah prinsip utama yang selalu menjadi pedomanku. Salah satu motto hidup lah istilahnya.
"Bismillaahirrahmaanirrahiim.." do'aku ketika akan berangkat. Aku diantar orang tua dan kakakku yang menyebalkan itu tentunya. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai pesantren.
"Ya Allah, ku pasrahkan semua pada-Mu. Niatku menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Mudahkanlah setiap jalan yang ku tempuh. Jadikanlah nanti ilmuku ilmu yang bermanfaat dunia akhirat kelak untukku, orang tuaku, keluargaku, dan juga orang lain. Berikanlah perisai yang kuat yang bisa melindungi keluargaku dimanapun mereka berada. Mudahkan selalu urusan mereka, berkahilah selalu kesehatan dan keselamatan, dan karuniailah mereka rezeki yang halalan toyyiban, amin.."
Ku injakkan kakiku tepat di halaman pesantren. Kami disambut baik oleh santri laki-laki yang istilahnya "mudabbir" di pesantren ini. Mereka mempersilahkan kami untuk menunggu di ruang tamu. Kemudian, mudabbir itu memberikan buku pendaftaran berwarna hijau beserta kwitansinya pada bapak. Kemudian, bapak mendaftarkanku dan mencantumkan identitasku di sana. Tak lama kemudian, Abah Yai rawuh menghampiri kami.
"Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, ada santri baru ternyata. Siapa namamu, nak?" tanya Abah Yai dengan menatapku lembut.
"Annisa Nuraziza.." jawabku gugup.
"Subhanallah, nama yang indah. Maknanya bagus pula. Kok malu-malu kucing. Mulai detik ini, anggap saja pesantren adalah rumah sendiri, rumah keduamu. Semoga cepat kerasan di sini ya, nak. Di sini kawannya baik-baik, kok. Tak perlu khawatir, Abah Jamin kamu pasti nyaman. Semangat ya, nak. Jangan lupa niat tholabul ilmi nya ditata dengan mantap.." dawuh abah yai.
"Insyaallah ... pak yai"
"Lebih baik dengan sebutan Abah Yai saja, nak. Saya lebih enak dengan nama itu.."
"Injih, Abah Yai.."
Setelah berbincang-bincang lama, bapak menyerahkan dan memasrahkanku pada Abah Yai, pengasuh pesantren ini. Selesai itu, aku dipersilahkan untuk istirahat dan menuju pondok putri untuk menaruh barang-barangku. Setelah semuanya selesai, seluruh keluargaku pamit pulang. Aku bersalaman dengan mereka, meminta restu dan do'a mereka tentunya.
"Ya Allah, apa aku bermimpi? Ini adalah kali pertama aku merasakan betul akan jauh dari orang tuaku. Tidur, makan, mencuci, belajar, sholat, mengaji tanpa orang tua dan kakakku. Dan saat ini, aku sedang merasakan kehangatan tangan kedua orang tuaku untuk perpisahan ini. Benarkah aku akan berpisah dengan keluargaku? Mimpi atau kenyataan? Rasanya sangat berat, Ya Allah.." batinku.
"Jaga diri baik-baik. Manut Abah Yai dan taati peraturan pesantren, dek.." pesan bapak.
"Sabar dan ikhlas, nak.." pesan ibu.
"Tahajudnya jangan lupa, dek. makan juga jangan lupa loh.." pintal kakakku.
"Insyaallah.." jawabku berat.
Setelah bersalaman, keluargaku pamit pulang. Aku mengantar mereka sampai halaman pesantren. Tak sadar, air mataku menetes begitu saja ketika bapak menyalakan motor, yang tadi kunaiki bersama bapak. Untung saja aku bisa menahan air mataku lebih sering, dan tersenyum sejenak ketika bapak ibuku melihatku. Aku tak mau mereka melihatku dalam keadaan sedih seperti ini. Apalagi kakakku. Aku harus bisa menenangkannya dengan senyuman, walau itu palsu. Setelah mengantar mereka, aku ke pondok putri untuk menanti datangnya malam. Malam yang ku nanti di pesantren, pasti sangat berbeda dengan malam yang ada di rumah.
Haripun berganti malam. Mentari yang mengiringiku tadi, melangkah pergi bersama langkah kaki kepergian keluargaku. Bergantian dengan sang rembulan yang menyorotkan cahayanya, menemaniku duduk di teras pondok. Aku termenung dan memikirkan segalanya.Tiada setetespun air mata yang keluar dari kelopak mata atas kegelisahan ini. Karena sudah ku kuras habis tadi siang. Aku tak tau apa yang akan terjadi padaku esok. Alhamdullillah, Allah segera menjawab semuanya. Bersuasanakan langit malam bertabur bintang yang bersholawat menyambut kehadiranku di pesantren ini.
"Selamat datang wahai mukjizat yang baru berhijrah. Sang pemancar cahaya yang lebih terang dari apa yang ku miliki.." kata bintang.
"Akulah tempat di mana mentari akan selalu menemani harimu. Tempat rembulan selalu menyorot kemilau indahnya, dan tempat dimana bintang-bintang selalu bersholawat bersamamu, dan untukmu. Akan ku buat diriku senyaman mungkin bagai rumahmu sendiri. Jadi, tengoklah ke atas dan pandanglah aku ketika kamu sedih, punya masalah, dan merindukan rumah. Maka, sebisa mungkin aku akan menenangkanmu. Dan jika kamu sedang berbahagia, berceritalah padaku. Aku pasti akan ikut merasakan bahagiamu.." kata langit.
"Aku akan selalu menghampirimu, mengisi pernapasan dan aliran darahmu, agar tubuhmu terasa segar selalu. Dan aku juga akan membawa penyakitmu keluar.." kata udara.
"Akulah sumber kehidupanmu. Berwudhulah denganku agar kau tenang.." kata air.
"Aku tempatmu berpijak. Kaulah pupuk ajaib yang selalu menyuburkan. Sebagai rasa terima kasih, aku akan menumbuhkan buah-buahan segar untuk menemanimu.." kata tanah.
"Aku akan selalu mendampingimu kapan dan dimanapun. Kau ingatkan? Pertama kali aku melihatmu dari atas langit, ketika pertama kalinya kau berpijak di pesantren ini. Ku harap, disinilah persahabatan kita dimulai. Aku berjanji, akan selalu ada untukmu, Zizi.." kata mentari.
"Assalamu'alaikum, wahai perempuan bercahaya yang dikarunia Allah. Inilah tempat yang tepat untuk mencari cahaya hijrahmu. Aku bersyukur, ditempati oleh cahaya istimewa sepertimu. Aku yakin, kau akan segera menemukan jawaban atas segala pertanyaanmu itu.." kata pesantren.
Aku sangat senang, mendapat sambutan baik dari mereka semua. Apalagi, mereka menyatakan bersedia dan ingin sekali mendampingiku di pesantren ini. Dan perkenalkan, mentari adalah sahabat baruku. Setelah kami saling berkenalan dan bertukar cerita, aku mengajak mereka semuanya bermain dan berjalan-jalan, ke alam mimpi.
Bersambungg...