Angin segar menyelimuti taman pesantren. Duduk di gazebo sambil menikmati kesejukannya. Gazebo ini berada di sebelah masjid agung pesantren. Damai sekali, bisa melihat masjid yang dijuluki "Rumah Allah" itu. Tak lama, aku dihampiri oleh seorang santri putri. Dia datang nylonong tanpa mengucapkan salam. Ku balas dia seperti menjawab sebuah salam yang baru saja ditujukan padaku. Lagian, dia tak seperti santri lain yang tawadhu' dan sopan.
Namanya Mazidatur Rahma. Panggil aja Zida. Dia udah nyantri di sini selama 3 tahun, sama seperti Izza. Memang kayak gini orangnya. Jadi, nyantai aja lah. Dulu, dia itu agak nakal. Dan pasti susah perubahannya. Hanya butuh proses. Walaupun baru kenal, dia sudah bisa sok akrab denganku. Tentu saja aku sudah mengenalnya setelah ngaos bersama Feris kemarin. Dan dia menjadi sahabatku juga akhirnya.
"Eh, Zii. Lihat 2 santri itu! Subhanallah.. Maximal sekali ...," kata Zida.
Oh iya, ketiga sahabatku, Izza, Feris, dan Zida memanggilku dengan sebutan Zii, pangilan kesayangan katanya.
"Yang mana Zid? Kanan atau kiri?," sahutku asal.
"Yang pakai sarung abu-abu itu loh. Tau gak, hampir seluruh santri putri suka sama mereka, terutama anak itu,"
"Hah? Masak iya? Anak kayak gitu jadi idaman santri? Gak mungkin banget,"
"Ini fakta, Zii. Kamu gak bisa lihat? Dia lumayan tampan juga loh. BTW, dia lebih tua 3 tahun dari kita. Dia baru saja lulus namun gapyear setahun. Belum mau lanjut kuliah dulu katanya," jelas Zida.
"Masa bodoh, wkwkwk ..."
"Kamu ini gimana sih? Jangan-jangan, ada masalah dengan penglihatan sahabatku ini? Atau masalah dengan kacamatamu? Waduh ... bahaya ini. Perlu diperiksakan. Lha memangnya tipemu macam apa sih? Pasti sangat detail. Dasar putri raja ...,"
"Emang iya,"
Terserahlah. Pendapat orang kan beda-beda. Kamu harus tahu, dia itu anak yang jahil. Pertama kali bertemu saat pulang ngaos kemaren. Ketika dia tau suatu tempat dimana di situ ada aku, dia pasti langsung menghampiriku, dan menggodaku gak jelas. Katanya dah lulus Aliyah, kenaapa masih kekanakan? Siapa yang gak gregetan coba? Rasanya ingin ku cekik sampai dia tak akan bisa lagi menjahiliku. Kalau masalah tampan, ya... menurutku sih, mendingan yang pake sarung hitam sebelahnya itu. Lumayan juga.
"Hus... jangan gitu Zii. Gething nyanding loh...," ejek Zida.
"Bodo...," sahutku asal.
Zida itu anak yang asyik. Aku beruntung punya sahabat sepertinya. Karena latar belakang kita yang hampir sama, jelaslah pendapat kami hampir selalu sama. Walaupun, dia masih sedikit nakal dan cuwawakan. Tapi, hal yang tak ku suka darinya, yaitu sering membicarakan anak bersarung abu-abu tadi di depanku. Dia selalu mencari bukti kegantengannya agar aku percaya kalau memang anak itu idaman banget. Untuk apa? Padahal, aku sangat tak suka dengannya. Lihat mukanya aja udah muak. Anak itu selalu menggodaku. Dan aku, tak suka digoda. Sudah lah, mungkin Zida hanya ingin bercanda. Tak apalah, jika cuman sesekali.
Hafidz Nur Fahmi, tenar dengan panggilan Fahmi. Itulah nama anak yang bersarung abu-abu tadi. Kalau aku lebih suka panggil santri jail itu dengan nama Hafidz sih. Lagian artinya juga bagus. Sayang banget gasesuai sama kelakuannya. Hingga detik ini, banyak sekali santri putri yang sedang membicarakannya. Kata mereka, dia itu sangat tampan dan juga pintar. Suami idaman semua orang katanya. Sayangnya, dia tak pernah tertarik dengan santri putri yang ada di pesantren ini. Kasihan sekali para fansnya. Di PHP berat ... manusia jahil dan suka PHP in perempuan, dialah Hafidz.
Denger-denger, asalnya dari luar Jawa. Anehnya, tak ada satupun yang tau, kabar dan kebenaran tentang ayah dan ibunya, bahkan sahabat terdekatnya sendiri. Udah PHP an, misterius lagi. Gitu aja katanya jadi idol. Aku aja tau semua seluk beluk idol korea yang ku suka. Iya, Kyungsoo EXO. Aku bahkan tau kehidupan dan juga asal keluarganya. Skip dulu ya kalau EXO, bisa gaberhenti kalau cerita tentang itu wkkwk. Padahal, semua santri putri mengerahkan segala cara untuk mencari tau tentang Hafidz. Kabarnya, abahnya adalah seorang kyai besar di luar Jawa, dan ibunya adalah seorang ning dari Jawa sendiri. Dasar, masak anak kyai kelakuannya masyaallah kayak gitu? Hafidz nyantren karena terinspirasi oleh abahnya katanya. Abah dan ibunya dulu berasal dari pesantren yang sama. Begitulah kata abahnya.
Dulu, abahnya Hafidz berperilaku sama persis dengan Hafidz yang sekarang. Biasalah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Fokus cari ilmu dulu di pesantren, menabung bekal yang banyak. Abahnya dulu juga banyak fans, banyak santri putri yang suka pada abah. Hebat sekali abah ini. Namun, beliau agak gengsi juga sih. Apalagi ketenaran itu nurun ke putranya. Kebetulan yang benar-benar aneh sih menurutku.
"Ada puluhan surat cinta seloker almari abah dari para santri putri. Tapi, semuanya abah acuhkan. Abah tak menyediakan ruang untuk berfikiran tentang santri putri. Bukannya sombong, tapi berjaga diri aja. Bayangkan, kalau pikiran abah ada santri putri, pasti kacau ilmu dan cita-cita abah. Suatu saat, abah melihat ibumu datang nyantren di sana. Baru kali itu, hati abah tergerak dengannya entah karena apa. Lalu, sampai di sini saja ceritanya, malu abah. Nanti kamu pasti merasakannya sendiri, nak. Intinya, alhamdulillah abah bisa ditakdirkan untuk menjadi imam ibumu seumur hidup abah. Kami bisa beribadah dan bahagia bersama sampai sekarang. Siapa tau, Hafidz dapat keberuntungan seperti abah. Dapat santri pondok, apalagi pondok yang sama, sudah pasti kualitasnya. Okelah," kata abah pada Hafidz.
Jika dilihat dhohirnya, memang benar sih, Hafidz itu tampan, tegas, disiplin, berwibawa, dan agak keren sih. Eh ... astaghfirullahaladziim ... TIDAK ... TIDAK ... Ya Allah, ampuni aku. Ku tarik kata – kataku tadi karena dia jail dan MISTERIUSA. Maaf, Ya Allah ... Ziza khilaf.
Kalau santri putra yang bersarung hitam tadi, namanya Fatahillah Aziz. Fatah adalah sahabat baik Fahmi. Mereka adalah couple yang sangat famous di pesantren ini. FAFA julukan mereka, yang merupakan gabungan dari nama Fahmi dan Fatah. Menurutku, Fatah itu baik, tegas, dan juga perhatian. Selangkah lebih baik lah dari Hafidz. Meskipun begitu kenyataannya, tetap saja aku tak tertarik dengan keduanya. Sama-sama nyebelin, bikin marah terus. Mereka berdua sama saja.
Sahabat empat serangkai. Kami mulai membangun sebuah persahabatan kecil di pesantren ini. Dengan personil yang luar biasa tentunya. Bahkan persahabatan kami nantinya akan tenar di seluruh pesantren. Zida, tetap saja sikapnya seperti itu. Santri paling malas di antara kami. Feris, bule cantik ini tetap fokus dengan Al-Qur'an dan tilawahnya. Sedangkan Izza, adalah yang paling lugu dan kocak di antara kami. Dari macam-macam karakter ini, kami akan tetap berusaha melengkapi satu sama lain. Do'akan ya kawan, semoga persahabatan ini bisa membuatku berubah jadi lebih baik. Akan ku mulai dari bawah, berusaha keras merangkak, naik ke level yang lebih tinggi lagi. Bersama dengan mereka. Mulai sekarang, aku akan bangun lebih awal untuk sholat tahajjud, membaca Al-Qur'an sambil menunggu jama'ah sholat subuh. Memperhatikan pelajaran ustadz dan ustadzah. Merubah sikap cuwawakan, dan ... belajar bahasa Arab dan Inggris juga.
Berhubung semua masih belajar, terutama aku sendiri, jadi bahasa Arabnya dikit-dikit aja dulu. Seng penteng kelakon dhisek.
"Jadi aneh rasanya kalau kamu berubah drastis gitu, Zii. Kearab-araban gitu wkkwwk," celetuk Zida santai.
"Maksudnya?? Ziza berubah jadi ... bahasa Arab ya?? Kok aneh?? Mana bisa manusia berubah jadi bahasa?," kata Izza dengan raut muka bingung.
"Aduuhh ... Izza ... Berubah sikapnya, jadi lebih baik. Ziza jadi suka bahasa Arab an gitu loh. Bukan Ziza berubah jadi bahasa Arab. Aneh kamu ...," balas Zida kesal.
"Yang sabar, Zid. Kalau ada yang mau berniat baik, harus kita support selalu. Keputusan Ziza sudah benar. Lagian, tujuan nyantren kan untuk mencari ilmu dan merubah sifat jadi lebih baik lagi. Untuk itu, ayo kita melangkah bersama-sama untuk berhijrah. Jika kita selalu berpegangan tangan satu sama lain, insyaallah rintangan akan mudah kita terjang," jelas Feris.
"O ... jadi kita bisa menghadapi rintangan apapun dengan bergandengan ... Seperti, ketika ustadz lagi marah-marah pada kita, kita cukup bergandengan tangan, lalu masalah selesai. Wah ... kalau gitu caranya, aku mau deh ... seru juga ... hehe ...," sahut Izza.
"Dasar Izza. Ya nggak gitu juga kali. Lama -lama nih anak nyebelin juga ya...," tambah Zida.
"Sudah-sudah. Intinya, kita harus mulai berusaha mulai detik ini juga, di pesantren ini. Bismillah ... semoga membuahkan hasil yang baik," ungkapku.
Mulai detik itu. Kami berjanji satu sama lain untuk terus belajar dan saling menguatkan. Anggap semua ini usaha resolusi kami untuk berjihad di jalan Allah dengan tholabul ilmi. Di samping dari persahabatan kami, aku juga mulai belajar dari yang lain. Aku sering menghapiri ukhti Rida untuk belajar akhlak, disiplin, dan mengenal lebih jauh lagi tentang pesantren ini. Aku juga sering menghampiri ukhti Alif untuk belajar ngaos dan bertilawah. Walaupun aku harus menyita sebagian waktuku. Tapi, semoga aku dapat hikmah yang baik untuk usahaku ini.
Hari demi hari ku lalui dengan kerja keras, dengan hati penuh keikhlasan. Dan aku, merasakan banyak perubahan dalam diriku. Tak seperti aku yang sebelumnya. Rambut ikal sebahuku telah ku bungkus rapat dengan kerudung segi empat sederhana milikku. Berpakaian alakadarnya anak pesantren. Hal yang baru, adalah ilmu nahwu dan bahasa Arab yang sedikit demi sedikit ku pelajari.
Ini adalah hari tepat 1 bulan terakhir kali aku mengaji pada ukhti Alif. Aku sedang mandi sekarang. Para sahabatku pasti sudah menunggu di depan. Mereka sudah pakai seragam. Mereka menyuruhku untuk cepat. Seperti biasa, sore hari adalah waktu untuk ngaos pada ukhti Alif. Kami berbaris menunggu giliran. Aku ada di baris pertama di antara teman-temanku. Semuanya gak mau di depan, takut katanya. Ya sudahlah.
"Annisa, silahkan maju dan baca!," gertak ukhti Alif.
"Baik, Ukhti," jawabku.
"Baca halaman 2!," perintahnya.
..........................................................
"Subhanallah ... Bagus, Nisa. Perkembanganmu sudah baik. Ternyata, santri yang dulu ku marahi habis-habisan, sekarang sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan fashih, tak kalah dengan Ferissca. Aku jadi sedikit menyesal pernah memarahimu. Aku suka usahamu, Nisa. Bagus ...," pujinya.
"Terima kasih, Ukhti. Terima kasih juga untuk ukhti yang selalu telaten mengajari saya,"
Aku seneng banget. Akhirnya, usahaku berhasil. Dan aku telah membuktikanmya pada ukhti Alif. Walau butuh proses panjang. Dan hasilnya, ku panen penuh sekarang.
Bersambung...