8

979 Kata
Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang tidak karuan rasanya. Aku begitu sakit hati dan tidak bisa mengendalikan diri atas sikap sombong dan penuh gaya Erika. Aku tahu sebuah perselisihan bukankah jalan yang baik apalagi sampai bergelut dan saling menyakiti Namun karena hari ini sudah berlalu terlarut dan menyakitkanku berhari-hari maka aku tidak bisa menahan diri lagi. Kuhempaskan tubuh ke sofa lalu kulempar tas dan sepatu sekenanya kemudian kurebahkan diri melepaskan rasa lelah sesak dan sakit hati yang menghimpit di dalam d**a. Putriku tiba-tiba turun dan menyusulku. " Mama dari mana aja?" tanyanya. "Mama dari arisan," jawabku pelan. "Ini kok, sepatunya dilempar sembarangan aja, ada apa Ma? apa Mama punya masalah?" "Nggak, nggak ada," jawabku. Aku lalu bangkit memungut barang-barang yang kulempar tadi lalu beranjak menuju kamar untuk beristirahat. "Papa belum kembali tanyaku?" kepada Laila ketika kembali teringat tentang Mas Danu. "Belum," jawabnya singkat, "tapi seingatku Papa udah kembali lalu kemudian dia menerima telepon dan pergi lagi." "Kemana kira-kira papa?" "Aku nggak tahu, ma, kan aku lihat dia buru-buru," jawab putriku. "Oke kalau gitu, kamu istirahat aja, Nak," kataku padanya. "Mama udah makan? "Kamu sendiri sudah makan?" Aku balik bertanya. "Belum, aku nungguin Papa." Kuperhatikam wajah manis penuh harap putriku, ia terlihat mengantuk tapi menunggu orang tuanya untuk makan malam bersama. "Oke kalau gitu Mama yang temani, ayo kita makan bersama," imbuhku yang langsung mengarahkannya menuju meja makan. "Kok akhir-akhir ini Mama sama Papa jarang ketemu di rumah sih? kita udah lama gak makan malam bersama," cetus Laila sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. "Uhm, mungkin papa terlalu sibuk," jawabku sekenanya. "Tapi walau sibuk gak segitu juga kali, Ma. Biasanya juga selama ini papa selalu nyempatin waktu untuk kita bersama." Ia menyatakan keberatannya. "Ya, mungkin sekarang kesibukan papa udah bertambah Nak." "Sibuk atau nggaknya yang jelas aku merasa kita sudah agak berjauhan." "Bukannya Kakak juga sibuk, kan? selalu les, selalu keluar bersama teman-teman banyak kesibukan sekolah dan kelas tambahan, Kakak sendiri yang sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk orang tua," kataku sambil bercanda. Ia hanya mengangguk lalu tersenyum sekilas, "Aku berharap sesibuk apapun Papa dan Mama, kita tetap bersama, Aku merindukan kasih sayang dan kebersamaan sebagai anak dan orang tua, Ma." "Ia tentu saja hari Minggu depan kita rencanakan saja untuk liburan keluarga," kataku sambil mengelus bahunya. "Oke, terima kasih Ma." Dia tersenyum bahagia lalu melanjutkan makannya dengan semangat ** Pukul 4.30 pagi suamiku kembali. Ia membuka pintu dengan kasar dan langsung membangunkanku dari ranjang ia menarik selimut lalu lenganku dengan paksa. Saat itu, aku terkesiap seketika karena dia tidak pernah melakukan hal demikian kepadaku sebelumnya. Mas Danu menatapku dengan bola mata dan sorot yang sangat sulitku mengerti, sorot mata kemarahan atau entahlah. "Apa yang kamu lakukan di arisan sosialita?" tanyanya dengan napas memburu dan mencengkeram jari jemarinya. "Memangnya apa yang ku lakukan?" Aku balik bertanya. "Katanya ... aku dengar kamu dengar membuat keributan di sana, kau bertengkar dengan salah satu member klub arisanmu." "Katanya? Kata siapa? ... siapa yang memberitahu?" kataku dengan nada sinis. "Berita bisa datang dari mana saja!" bentaknya melotot. "Lalu apa hubunganmu dengan sikapmu saat ini yang membangunkanku paksa apa yang terjadi tanyamu?" Dengan penuh nada heran aku bertanya kepadanya. "Aku mohon, jaga sikapmu, aku melebarkan bisnis dengan cara menjalin hubungan pertemanan baik dengan banyak orang, tiba-tiba saja kau merusak segalanya, itu bisa membuat kita kehilangan relasi, membuat kita kehilangan kontrak kerja dan keuntungan yang sangat besar. Kau harus berpikir lebih panjang!" ungkapnya dengan nada yang begitu marah. "Apakah kau yakin ini murni hanya karena bisnis, Mas Danu?" tanyaku sambil memicingkan mata. "Apa maksudmu? kau menganiaya nyonya Erika dan kau bertanya seolah-olah mencurigai aku berbuat hal yang tidak-tidak." "Aku tidak mengatakan begitu, tapi kau sendiri yang mengatakan itu. Apakah sekarang kau merasa bahwa kau benar-benar memiliki hubungan rahasia dengan Erika?" cercaku langsung menyerang umpannya. "Jangan sembarangan menuduhku, Sarah. Aku tidak suka dituduh seperti itu." ia berteriak kepadaku. "Kalau memang tidak punya hubungan rahasia, lantas apa? apa yang menyebabkan dirimu berbuat sangat kasar malam ini?" "Sudah kukatakan alasannya! kau jangan bertengkar dan membuat aku malu." Teriaknya. "Cukup, anak kita bisa mendengar semua keributan ini. apa yang sudah aku lakukan dan apa yang telah terjadi tidak bisa dikembalikan lagi jadi ku mohon untuk tidak membahasnya lebih lebih jauh lagi, Mas." Kuangkat tangan sejajar wajah agar dia mengehentikan semua sikapnya. Aku tahu suamiku begitu marah dan emosi mendapati kekasihnya dipukul dan dibakar wajahnya, mungkin Erika belum memberitahu lebih detail jika aku sudah tahu tentang mereka sehingga Mas Danu tidak membahas masalah itu kepadaku. Entahlah saat ini aku hanya ingin melanjutkan tidur dan melepas lelah aku tidak ingin terlalu banyak memikirkan mereka karena itu akan menyita waktu dan membuat diriku lelah dan kesehatanku menurun. "Aku tidak ingin kau mengulangi lagi cara itu lagi." "Itu tergantung situasi dan kondisi, Mas." Aku menanggapi dari balik selimut. "Aku ingin tahu apa kira yang menyebabkan kau sampai bertengkar begitu hebatnya dengan wanita itu?" Ia masih penasaran. "Entahlah, aku tidak mengerti juga, dia yang lebih dulu memprovokasi membuatku emosi dan tanpa kusadari aku sudah begitu sangat marah kepadanya." "Sebagai istri dari seorang pengusaha yang baru merintis untuk melebarkan usahanya kuharap kau menahan diri, apa yang terjadi ini benar-benar sangat membuatku malu, Sarah. Aku khawatir bahwa semua rencana-rencana kita terhadap usaha kita akan gagal karena perbuatanmu ini." "Kalo begitu, mungkin kita bisa mencari usaha lain." Aku santai saja menanggapinya. "Arrgggg ...." Iya hanya menggeram dan mengacak rambutnya frustasi meninggalkanku sendiri di kamar. "Kau memang sulit ku ajak bicara," ungkapnya dengan nada yang begitu geram. Aku sadar aku harus menyiapkan diri jika suatu hari Erika memberitahu suamiku bahwa aku sudah tahu hubungan mereka. Aku harus siapkan langkah untuk mengantisipasi apa saja yang bisa terjadi. Maka daripada sibuk berusaha untuk memejamkan mata, aku memilih bangkit untuk memeriksa beberapa berkas-berkas penting di dalam lemari, buku tabungan, surat saham, berkas kepemilikahn rumah dan perusahaan yang semuanya mengatas-namakan anakku, aku akan mengamankan semuanya. Aku akan pindahkan dan menyimpan semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN