Chapter 7 : Hati yang Bergetar

2382 Kata
Mika duduk di pinggir ranjang empuk, matanya masih lekat pada lukisan wanita cantik yang tak lain adalah Ibunda Lord Aegis. Maniknya mengamati dengan saksama. Jika dibanding dengan sang ayah, Lord Aegis memang lebih mirip ibunya. Mata dan rambut kelam Lord Aegis tentu diturunkan dari ibunya. Mika baru menyadari, ibu Lord Aegis malah lebih mirip penduduk Wilayah Timur dari pada Wilayah Barat. Namanya pun terdengar sangat khas di timur. "Apa Ibunya Tuan itu orang timu, ya?" Mika menggumam. Ia pun mengalihkan perhatiannya ke sebuah rak buku di ujung kamar,  tak jauh dari sofa yang ia gunakan untuk bersantai. Gadis itu pun melangkah, mendekati rak buku. Manik kelamnya pun menyisir buku-buku yang berjajar rapi. Buku-buku itu begitu tebal dan ditulis dalam bahasa barat. Mika sendiri tak terlalu kesulitan membacanya. Karena ia dan Ibunya tinggal di perbatasan, mereka mengerti bahasa timur maupun barat. Tak disangka ternyata Lord Aegis gemar membaca buku. Rak itu lumayan besar dan hampir penuh oleh buku. Mika membaca satu per satu judul buku. Semua tema buku itu hanya tentang cara berperang, berpedang, taktik berperang dan semua yang berkaitan dengan peperangan. Ada juga beberapa buku panduan sihir lengkap. Sebagian lainnya adalah buku pengetahuan kenegaraan. Apa yang dipikirkan Lord Aegis hanya berpedang, perang, dan negara? Saat memikirkan hal tentang sang Tuan, Mika mengernyi. Gadis itu memang tidak terlalu mengerti cara berpikir seorang pria, karena seumur hidupnya ia jarang berhubungan dengan seorang pria. Memecah pikiran, Mika kembali memfokuskan pandangan pada rak buku. Matanya pun menangkap buku yang unik, dengan sampul keemasan dan sangat tebal. Tidak ada judul buku di halaman awal. Ia pun penasaran, ia membungkuk dan mengambil buku itu. Ia mengamati sebentar lalu membuka buku itu. "Ei Einquu Elov" Mika menggumam pelan. Ei Einquu Elov : Cinta yang unik. Mika berpikir sebentar. Dongeng? Cerita fiksi kah? Apa Lord Aegis juga membaca buku itu? Ia pun tak sabar dan mulai membaca dari awal bagian cerita. "Rof Mai bed-elov alegn Ay ilw enerv efgior yor,  Ay ilw ceom adeomsy ot onw yor!" ( Untuk Malaikatku tersayang, Aku tidak akan memaafkanmu, Aku akan kembali untuk membuatmu menjadi milikku! ) Mika mengerutkan dahinya.Entah mengapa, kisah cinta pada dongeng itu terasa begitu aneh. Ia pun membuka lagi ke lembaran berikutnya. Ia mulai membaca dan terus membaca.Perlahan, ia mulai mengerti. Dongeng itu mengisahkan tentang kisah cinta antara dua makhluk yang berbeda dunia, iblis dan dewi. Mika pun memutuskan untuk beranjak, duduk di ranjang empuk lagi dan melanjutkan membaca. Posisinya memang nyaman, ia juga sedang membaca dengan serius sampai-sampai ia tak memperhatikan sekitarnya. Ia begitu mendalami isi cerita. Ia bahkan tak menyadari Lord Aegis membuka pintu dan sekarang ia ada di sampingnya. Pria itu menatap Mika dengan tatapan sayu. Entah mengapa, rautnya benar-benar menyiratkan sebuah kekhawatiran. Perlahan, tangannya pun mendekat dan menepuk lembut bahu Mika. "Mika...." Reaksi Mika sungguh tak terduga, gadis itu meloncat kaget dan terjatuh dari ranjang yang empuk. Ia mengaduh kesakitan ketika tubuh mungilnya membentur lantai. Lord Aegis pun tak kalah kaget. Terlihat manik kelamnya kini melebar sempurna. Mika mengamatinya sejenak, sambil mengatur napas dan jantungnya. Ia lumayan lega karena ternyata itu hanya Lord Aegis. "Ya ampun, Tuan. Anda mengagetkanku." Mika tersenyum kecut. "Maafkan aku...." Lord Aegis menatap ke arah lain, sekarang ia bahkan tak berani menatap Mika secara langsung . Mika mempertanyakan sikap Lord Aegis yang memang semakin hari bertambah aneh. "Tuan? Anda baik-baik saja?" Lord Aegis hanya mengangguk lesu. Ia lalu berbalik. "Ayah ingin bertemu denganmu..." *** Dan akhirnya Mika kembali lagi ke ruang pertemuan, Ia menemukan Lord Mikhalios yang tersenyum ramah padanya, serta Ibunya yang duduk di seberang Lord Mikhalios dengan wajah yang nampak pucat. Mika mengangkat alisnya bingung. Ada yang mereka sembunyikan, Mika yakin akan hal itu. Namun, ia tidak mempunyai kuasa untuk menyuarakan pertanyaannya. Ia membungkuk hormat, lalu tersenyum pada Lord Mikhalios. "Kalian berdua, duduklah." Lord Mikhalios meminta Lord Aegis dan Mika untuk mengambil tempat duduknya. Mika duduk di sebelah ibunya dan Lord Aegis duduk di sebelah ayahnya. Gadis itu menatap Lord Aegis yang terlihat pucat. Entah mengapa, pria itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Saat ia ingin mengetahui lebih lanju tentang masalah Lord Aegis, dehaman pelan menginterupsi. Beralih, kini perhatiannya tertuju pada Lord Mikhalios. "Mika, sebenarnya aku mempunyai beberapa permintaan untukmu." Lord Mikhalios terenyum ceria, sementara Mika hanya mengangguk. "Permintaan apakah itu,Tuan?" Mika membuka mulutnya, ia merasa ada yang aneh di antara mereka. "Apa kau janji tidak akan menolak permintaanku?" Manik Lord Mikhalios terlihat begitu serius. Mika pun mengangguk dan tersenyum. "Apa aku harus membuat perjanjian tertulis?" Mika menyahut, santai. Membuat Lord Mikhalios tersenyum lagi. Namun tidak untuk ibunya yang memandangnya cemas. Ada apa sebenarnya? "Baiklah, kesimpulannya, kau tidak akan menolak bukan? Aku sangat senang kau mengerti!" Lord Mikhalios tertawa riang. Mika hanya tersenyum, lagipula ia tak memiliki kuasa untuk menolak Lord Mikhalios. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan permintaan Lord Mikhalios. Namun ia percaya Lord Mikhalios tidak akan memintanya melakukan hal yang diluar batas kemampuannya. "Lalu, apa permintaan itu, Tuan?" Mika sangat penasaran dengan apa yang akan Lord Mikhalios minta. Terlihat jela, Lord Aegis menghela napas dan terlihat cemas. Namun, Mika mengabaikan semua itu dan tetap memfokuskan perhatian pada Lord Mikhalios. "Berjanjilah untuk tidak menolaknya, mengerti?" Mika mengangguk paham. Lord Mikhalios mengambil napas lalu tersenyum. "Menikahlah dengan Aegis." Tiga kata yang berhasil membuat Mika membeku. Apa? Mungkin ia salah dengar? Mika mengerjapkan mata dan tersenyum, mencoba untuk tenang. "Maaf?" Gadis itu pura-pura tidak mendengar. Tidak, lebih tepatnya ia yakin bahwa telinganya salah dengar. Mengerti akan kecanggungan Mika, Lord Mikhalios pun tertawa. "Kau mendengarnya bukan? Aku ingin kau menikah dengan anakku, Aegis. Kau sudah berjanji untuk tidak menolak, bukan?" Wajah Mika memucat. Oh Dewa! Ia sama sekali tidak ingin mempercayai semua ini. Ia melirik ke Lord Aegis, tentu saja dia mempunyai ekspresi yang sama dengan Mika. Tak jauh berbeda dengan ibu Mika. Sang gadis berambut kelam hanya bisamenelan ludah. Tenggorokkannya terasa kelu. "Aku tahu, semua ini sangat mendadak. Tapi, aku melakukan ini untuk melindungi nyawa sese— maksudku, banyak orang di Phartenos! Aku ingin kau memikirkan dan mempertimbangkan penwaarankuini, Mika."  Senyum kecut pun merekah. Bagaimana ceritanya semua orang bisa terselamatkan karena ia setuju menikah dengan Lord Aegis? Apa Lord Aegis terlibat perselisihan cinta? Mika memberanikan diri melirik Lord Aegis, bahkan pria itu pun terlihat begitu terkejut hingga tak bisa berkata apa pun. Sayangnya, mereka berdua tak mempunyai kuasa untuk menolak. Orang yang ada di depan mereka bukanlah orang sembarangan, Great Knight pertama yang memerintah seluruh Phartenos! Orang yang juga mengambil peran penting di wilayah barat! Menentang Lord Mikhalios sama saja bunuh diri, tapi Mika juga tidak bisa menerimanya begitu saja. Ia memang nyaman dengan Lord Aegis, tapi ia sama sekali tidak berpikir untuk menikah dengan Lord Aegis. Ia belum mengenalnya dengan pasti. Lord Aegis pria yang baik. Namun, ia tak mungkin menerima tanpa persetujuan Lord Aegis, pria itulah yang seharusnya menjawab semua ini. "Tuan, bukankah.... Saya tidak mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat di sini?" kata-katanya sama saja dengan bunuh diri. Mika melihat ke arah Lord Mikhalios yang masih tersenyum. "Aku tidak bisa menerimanya tanpa keputusan Tuan Ae-" "Dia sudah setuju!" Lord Mikhalios tertawa riang, sedang Lord Aegis hanya mendelik geram. Mika mengernyit, ia tahu itu bohong. Lord Aegis tak mungkin menerimanya sebagai calon istri. Apa yang bagus dari Mika? Cantik? Bahkan wanita di Phartenos lebih cantik dari dirinya. Pintar? Tidak, kepintaran hanya rata-rata. Elegan? Anggun? Kuat? Semuanya tidak ada yang spesial darinya. Mungkin setelah ia menikah bisa saja Lord Aegis mencampakkannya lalu membuangnya begitu saja. Entah mengapa, membayangkannya saja membuat dadanya tercabik. Gusar, gais itu ,berusaha menampik kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa depan. Di sisi lain, Lord Aegis mengamati Mika dengan kecewa. Ia memang tidak setuju dengan usulan ayahnya, tapi bukan berarti ia tidak menyetujui sepenuhnya. Ia malah sangat ingin menikah dengan Mika. Namun, bukan begini caranya. Ia tahu Mika memang belum mengerti perasaanya, ia sangat ingin membuatnya mengerti. Ia yakin, saat ini Mika pasti memikirkan hal yang tidak-tidak. "Mika," Lord Aegis memanggilnya. Mengerjap, gadis itu pun menoleh dan menatap manik tajam sang pria berurai kelam. "Aku akan memberimu apapun yang kau mau, menjamin kebahagiaan dan hidupmu. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak." Setelah mendengar semua perkataan Lord Aegis, gadis itu pun tersentak,. Apa maksud perkataan Lord Aegis? Apa itu artinya dia menerima semua ini? Mika menatap ke arah meja kayu di depannya. "Aku … sebenarnya … tidak terlalu keberatan, tapi … aku butuh waktu...." Pipi Mika bersemu merah. Ya, ini memang cara yang lebih baik. Lord Mikhalios pun tersenyum, ia tahu dan maklum. "Baiklah, aku beri kau waktu satu bulan untuk mengenal satu sama lain." Mika dan Lord Aegis mengangguk. Mika sebenarnya merasa heran, kenapa harus dia? Bukankah dia hanya orang asing? Dan baru saja menjadi bagian dari Phartenos, bukankah ini aneh? Mika memang tidak sebodoh yang mereka kira, ia harus mencari tahu apa yang mereka sembunyikan. Sialnya lagi, sepertinya ibunya dan Lord Aegis sudah tahu apa yang terjadi. "Itu permintaanku yang pertama, permintaanku yang kedua…." Lord Mikhalios menambahkan, Mika tersentak. Ya Dewa! Masih ada permintaan ke dua?! Yang pertama saja sudah membuatnya depresi!! Tak menutup kemungkinan yang kedua akan bersangkutan dengan yang nomor satu dan mungkin akan … lebih berat. Mika memusatkan perhatian pada Lord Mikhalios. "A-apa permintaan Anda yang kedua, Tuan?" Mika bertanya dengan terbata-bata. Sungguh ia ingin menutup telinganya dan lari dari sana secepat mungkin. Sayangnya, ia tidak bisa. "Ini permintaan untukmu dan Aegis." Lord Mikhalios tersenyum manis. Bukan!! Itu bukan senyum manis!! Di balik senyumnya ada ribuan pedang yang siap menusuk jantung Mika kapan saja!! Mika yakin kata-kata Lord Mikhalios nanti akan menimbulkan serangan jantung!! "Setelah menikah … aku harap kalian akan segera memberiku keturunan." Nyawa Mika bagai ditarik oleh malaikat pencabut nyawa, dia mematung dan nafasnya terasa sesak. Ia pikir ini pernikahan biasa yang hanya menghapus kelajangan Lord Aegis tapi ternyata … ini sungguh tidak masuk akal. Bahkan dirinya hanya gadis kampung biasa, kenapa Lord Mikhalios sangat tertarik dengan Mika, bukankah darah Mika kan mencemari darah biru Phartenos jika semua itu terjadi? Lord Aegis, di sisi lain, tetap diam tapi tak berhenti mengutuk dalam hati. Mengutuk ayahnya yang bertingkah seenak jidatnya. Bisa-bisanya ia mengatakan semua itu secara gamblang! Dia bahkan tidak mempunyai muka untuk menatap Mika sekarang. Ayahnya memang troublemaker sejati. "Dia masih tujuh belas tahun, Tuan," Ibu Mika yang sedari tadi menutup mulut akhirnya bersuara, matanya berkaca-kaca melihat Mika yang begitu shock. Ia tak kuasa melihat Mika. Lord Mikhalios hanya mengangguk paham. "Maaf, Mika. Tapi ini untuk kebaikanmu sendiri.” Mika menatap pria itu dengan wajah sayu. Kebaikannya? Dari mana ide gila itu demi kebaikannya?? Ini justru seperti hantaman palu besar untuknya!! Mika tersenyum lemah. Ia tak menyangka juga Lord Aegis tidak menyuarakan pendapat sama sekali. Apa yang terjadi padanya? "Baiklah, cukup untuk hari ini, kalian bisa beristirahat, selamat malam." Lord Mikhalios melenggang dengan santai dan meninggalkan mereka bertiga yang masih membeku. Tiba-tiba Mika memeluk ibunya dan terisak. Entah mengapa ia menangis, ia hanya takut … jika ada sesuatu ang akan terjadi di masa depan. Ibu Mika hanya bisa membelai rambut anaknya tercinta dan menitikkan air mata. Lord Aegis sangat terpukul melihat Mika. Apa dia begitu tidak menyukai Lord Aegis? Itu menyesakkan … Sungguh sangat menyesakkan. Ia tahu Mika tak mungkin memiliki perasan yang sama dengannya. Dia hanya gadis kecil yang tak tahu apa-apa. Dan ia terpaksa terjerumus dalam kegelapan karena ulah ayahnya. *** Lord Aegis tidak menggunakan kimono atau hanfu, melainkan baju khas wilayah barat yang biasa ia kenakan karena ia tidak bisa mengenakannya tanpa Mika. Kali ini lebih santai dan tidak terlalu formal. Ia melangkahkan kaki di lorong yang panjang dan berhenti di depan pintu. Itu adalah ruang kerja Lord Mikhalios. "Yang Mulia...."                                                                          Pagi itu Lord Aegis langsung menemui ayahnya, ia sangat geram. Ia tak memanggilnya "Ayah" jika dia sedang kesal. Lord Mikhalios mengangkat wajahnya dari dokumen yang ada di meja, ia menatap Lord Aegis yang sedang berdiri tak jauh di depan mejanya. Ekspresinya begitu suram. Lord Mikhalios mengerti, dan bisa menebak apa yang akan dia katakan. "Apa yang membuat Anda kemari, Lord Aegis?" Lord Mikhalios, tentu saja tidak mau kalah. Ia memandang Lord Aegis dengan senyum nakalnya. "Aku masih tidak setuju dengan idemu." Lord Aegis masih menatap Ayahnya dengan tajam. Lord Mikhalios tertawa. "Hee~ kau tidak setuju? Bukankah ideku sangat menguntungkamu? Kau juga ada rasa dengannya kan?" Lord Mikhalios tertawa, Lord Aegis tetap diam. Dia memang tidak memungkiri kalau dia memang mempunyai hati untuk Mika. Tapi cara ayahnya menjadikan Mika miliknya-lah yang membuatnya geram. "Kenapa kau terburu-buru? Mika masih kecil, aku tidak mau membuat kesalahan yang berujung dia membenciku. Aku ingin menikahinya, saat dia benar-benar mencintaiku" Lord Aegis memang jarang mengucapkan hal seperti ini, dia sangat tertutup dengan perasaannya, bahkan pada ayahnya sekalipun. Namun kali ini tidak, dia memilih untuk mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Lord Mikhalios tersenyum mengejek. "Kau tahu? Alezar bergerak, mereka tak akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari keberadaan Mika. Apa kau tetap mau menundanya? Bagaimana kalau Mika tidak bisa mencintaimu? Atau yang terburuk kalau ia bertemu dengan Bathory, dan ia malah jatuh hati padanya. Kau tau Dewi Istiya juga menaruh hati pada Dielos bukan? Dan kau tau bukan hubungan Mika-maksudku Irina dan Bathory di masa lalu sangat kuat? Pikirkan Aegis." Lord Aegis terlibat tersentak, memang benar yang dikatakan ayahnya. Tapi dia bukan Dewi Istiya ataupun Irina! Dia Mika!! "Dia bukan Dewi Istiya maupun Irina, dia Mika! Dia Keiko Mika anak dari Sisilia dan ia hanya seorang petani bunga di perbatasan Phartenos!" Lord Aegis geram, Ia tak peduli dengan masa lalu Mika. Baginya, Mika adalah Mika, ia hanya ingin mengenal Mika sebagai Keiko Mika yang sekarang. Lord Mikhalios tertawa. "Ya, aku tahu itu. Tapi apa kau tahu? Jika ingatannya kembali ia akan berpaling dan memilih Bathory. Apa kau siap?" Lord Aegis diam, tapi ia yakin pada Mika. "Tinggal menikah dengannya, lalu buat dia hamil. Apa susahnya? Kau laki-laki kan? Normal kan? Apa jangan-jangan—kau tidak tahu caranya?!" Lord Mikhalios melebarkan matanya dan ia menatap Lord Aegis penuh selidik. Lord Aegis menatap ayahnya dengan jijik. "Mudah untukku, tidak mudah untuk Mika. Aku tidak akan menyentuhnya kalau dia tidak benar-benar siap." Lord Aegis menghela napas berat. Lord Mikhalios mendengus kesal. Andaikan Lord Aegis itu Elgris, pasti semua rencananya tak sesulit ini. "Aegis, kita terdesak waktu, kau tidak akan pernah tau kapan Alezar merebutnya darimu." Lord Mikhalios mencoba menjelaskan dengan tenang. Menunggu Mika siap itu memang bijak, namun jika kondisi mereka seperti ini apa dia akan terus menunggu? Kemungkinan Mika mempunyai perasaan kepada Lord Aegis bahkan belum bisa diprediksi. Entah bagaimana jalan pikiran anak kesayangannya itu. "Aku hanya perlu melindunginya jika itu terjadi." Setelah melayangkan kata-katanya, Lord Aegis melenggang keluar meninggalkan Lord Mikhalios yang masih kesal. Ia tak pernah Ayahnya akan menyuruhnya berbuat sesuatu yang sangat tidak manusiawi. Ia tidak seperti Elgris yang bisa tidur dengan gadis mana saja tanpa memikirkan perasaan mereka. Membayangkan itu saja membuatnya mual. Ia tidak akan menyentuh Mika jika Mika memang keberatan, itu keputusan akhirnya. ***          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN