Chapter 8 : Pendekatan

2723 Kata
Chapter 8 Pendekatan *** Sudah beberapa hari ini Mika beriam diri di kamar. Beruntung, Lord Mikhalios tidak memberi keputusan bahwa ia haru tinggal sekamar dengan Lord Aegis. Entah mengapa ia memilih untuk menghindari Lord Aegis, ia seakan belum siap menemui pria itu. Ia melangkah ke jendela. Melihat keluar, maniknya terarah pada taman yang indah. Pemandangan bunga yang berguguran membuatnya kembali teringat pada hari-harinya yang damai.Merindukan masa-masa memetik bunga di kebun bunga ibunya. Jika ia bisa memilih, pastinya ia memilih untuk tetap hidup di desanya dengan damai. Dengan begitu, suatu saat ia akan bertemu dan menikah dengan pria yang ia cintai. Membangun keluarga kecil yang sederhana dan hidup damai di desa perbatasan. Jika membahas tentang keluarga, pikirannya kembali teralih pada sosok Lord Aegis. Jujur, Mika tidak membencinya. Ia bahkan merasa nyaman di dekat Lord Aegis, tapi mengapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati? Hatinya mengataka bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Menghela napas, Mika kembali memfokuskan pandangan pada padang bunga. Namun, kini perhatiannya malah beralih pada pemandangan nun jauh di sana. Ia melihat sebuah gundukan rendah yang tak jauh dari benteng Phartenos. Jika dilihat dari ukurannya, Mika rasa itu adalah bukit.Entah mengapa, tiba-tiba ia sangat ingin mengunjungi bukit itu. Mengingat ia sangat sering pergi ke bukit, karena kebun bunga ibunya ada di bukit. Tersenyum, gadis itu pun memutuskan untuk berkunjung. Mungkin saja, suasana hatinya akan menjadi lebij baik setelah berjalan-jalan. Tak butuh waktu lama bagi Mika untuk menyelinap ke istal. Elgris telah mengajarinya berkuda dengan baik, jadi ia tak perlu khawatir saat berkuda. Ia beruntung karena tidak terlalu banyak orang berkeliaran di benteng ketika hari menjelang siang. Ia pun mengambil salah satu kuda dan membawanya. Mungkin meminjamnya sebentar tidak akan menjadi masalah. Tersenyum, sang gadis pun memacu kudanya. Berharap ia menemui padang bunga di temapat yang akan ia kunjungi. *** Seperti biasa, Lord Aegis mengerjakan dokumen-dokumen penting dari wilayah selatan dan tenggara Phartenos. Ia bertanggung jawab atas wilayah selatan dan tenggara. Pria itu memang diberi dua kekuasaan sekaligus karena Lord Mikhalios tahu, anak kesayangannya dapat dipercaya dan mampu mengerjakan tugas yang diserahkan padanya. Di sela keheningan, tiba-tiba suara pintu ruang kerja yang diketuk, menginterupsi. Manik kelamnya pun beralih pada pintu masuk. "Masuk," ia berkata singkat, pintu itu pun terbuka dan menampakkan wajah yang sangat familiar. Elgris melangkah masuk dengan senyumnya yang terlihat memaksa. Lord Aegis mengernyitkan alis, ia tahu ada yang tidak beres. "Ada apa?" tanya Lord Aegis. "Kakak, aku mencari Mik. Apa kau melihatnya?" Saat nama Mika disebut, Lord Aegis langsung mengalihkan perhatian pada Elgris. Alisnya bertahut, hingga akhirnya ia menggeleng dengan wajah bingung. "Bukankah Mika ada di kamarnya?" Elgris menggeleng pelan. "Tidak ada. Di kamar ibunya pun tidak ada. Ibunya bahkan menanyakan padaku tentang keberadaan Mika." Saat melihat senyum masam sang adik, rasa khawatir pun menyeruak. Semua pikiran negatif langsung bergentayangan di pikirannya. Lord Aegis langsung bangkit dengan wajah panik. "Aku akan mencarinya.” ucap Lord Aegis sembari bergegas keluar dan meninggalkan Elgris yang masih membeku. Mika tidak mungkin kabur. Jika gadis itu kabur, ia pasti akan mengajak ibunya. Lalu kemana Mika pergi? Lord Aegis terus berpikir sembari melewati lorong-lorong benteng dengan pikiran yang kacau. Jangan sampai Mika keluar dari wilayah benteng, karena itu sangat berbahaya. Lord Aegis pun mempercepat langkahnya menuju penjaga gerbang benteng. Ia harus memastikan Mika masih berada di area benteng. *** Mika telah sampai di kaki bukit itu, benar saja pemandangannya sangat indah dengan bunga yang sangat banyak dan berwarna-warni. Beranjak dari punggung kuda, gadis itu pun langsung melangkah gembira. Seketika, Mika menjelajahi tempat. Memindai semua yang ada sesekitarny.a "Wahhh! Indahnya!" tanpa basa-basi Mika langsung menceburkan kakinya di danau itu, dengan hati-hati ia mengangkat pakaiannya yang lumayan panjang agar tidak basah. "Seharusnya aku memakai yukata pendek tai." ia menggumam pelan. "Tapi biarlah, " bisik Mika. Mika duduk di pinggir danau dan mencelupkan kakinya. Ini sangat membuatnya merasa nyaman. Ia pun menutup matanya dan menikmati indahnya alam. Namun, tak lama kemudian ia mendengar sesuatu yang mendekat dari balik semak-semak. Ia tersentak ketika ia ingin beranjak mencari tempat sembunyi, dan akhirnya ia pun terpeleset dan jatuh ke danau. Alhasil, semua bajunya basah. Ia pun mengaduh kesakitan karena tubuhnya jatuh tepat di atas batu. "Anda baik-baik saja, Nona?" suara asing menyapa. Mika langsung mengarahkan pandangan pada sumber suara, ia melihat ke atas dan melihat pemuda dengan rambut dan manik sewarna perak. Mika memandangnya lekat-lekat. Entah mengapa, pemuda itu terasa familiar. Ia sangat tampan tapi ada aura yang aneh pada pemuda itu. Pemuda itu mengulurkan tangan. Tak butuh banyak pertimbangan bagi Mika untuk menerima bantuam n dari sang pemuda. "Terimakasih," ucap Mika dengan senyum yang manis. Pemuda itu membeku namun ia tetap membalas senyum Mika. "Sama-sama, Nona." Entah mengapa, Mika merasakan sebuah kejanggalan saat ia melihat sang pemuda bermabut perak. Tak berbda dengan Mika. dalam benak pemuda Itu pun berkecamuk banyak hal. Ia hanya iam dan memandang Mika lekat-lekat.  "Apa Nona penduduk Phartenos?" pemuda itu bertanya sembari membuka jubah terluarnya. Mika lumayan bingung bagaimana ia harus menjawabnya. Ia pun hanya mengangguk. Pemuda itu lalu membungkus tubuh Mika yang basah kuyup dengan jubahnya. Hal itu tentu saja membuat Mika kaget. "Tu-Tuan tidak perlu repot-repot," Mika terlihat sangat gugup. Namun pemuda itu memaksanya. "Tidak, Nona. Anda bisa sakit kalau dibiarkan,” ia tersenyum manis. Berbeda dengan Mika, pikirannya langsung tertuju pada Lord Aegis. Ia tidak mengatakan apa pun saat pergi dari benteng, bahkan ia mengelabuhi penjaga agar ia bisa keluar dari benteng. Oh Dewa! Lord Aegis pasti akan sangat khawatir jika mengetahui dirinya tidak ada di benteng! "Siapa nama Anda, Nona?" Pemuda itu duduk di salah satu batu di pinggir danau. Mika tersentak dari lamunannya dan menatap pemuda itu. "Mika...." ia menjawab singkat. "Tuan, sepertinya saya harus pulang."  Raut panik tergambar jelas, tangannya pun membuka jubah yang membungkus tubuh mungilnya. Namun, sang pemuda langsung menghentikannya. "Tidak. Jangan dilepas. Nona bisa kedinginan kalau berkuda nanti. Sayang sekali, padahal aku ingin mengobrol lebih banyak dengan Nona. Apa seseorang sedang menunggumu di rumah?" pemuda itu tersenyum manis. Mika rasa ia bukan orang jahat. Ia pun menuruti sang pemuda untuk tidak memnuka jubah. "Saya keluar tanpa pamit. Kalau tunangan saya tahu ia pasti sangat khawatir." Lord Aegis mungkin bisa dikatakan calon suami. Karena Mika belum siap menyebutnya seperti itu, dan itu terlalu memalukan, jadi ia menyebut Lord Aegis tunangannya. Mika merasa pemuda itu lumayan terkejut dengan jawabannya. Entah mengapa ekspresinya manjadi lebih menakutkan. "Tunangan?" ia mendesis. Mika hanya mengangguk, ia rasa ia harus segera kembali. "Maaf, tuan, saya pamit. Saya takut ia akan mencari saya. Permisi." Mika sedikit membungkuk dan berlari kecil menuju ke tempat kudanya. "Jika kau butuh sesuatu, datanglah kemari," pria itu tersenyum pada Mika yang telah berada di punggung kudanya. Gadis itu  tersenyum dan mengangguk lalu memacu kudanya. Pemuda itu hanya memandang punggung rapuh Mika yang semakin menjauh. "k*****t kau, Aegis! berani-beraninya ia merebutnya dariku!!" ia menghujat dan meninju batu besar di sebelahnya dengan kuat sampai hancur berkeping-keping. "Dia Irina! Aku tahu itu!! Dan dia milikku!! Hanya milikku!" *** "Buat apa mata kalian?! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Mika, aku tidak akan segan-segan memenggal kalian semua!!" Elgris hanya tersenyum kecut melihat para penjaga yang berbaris rapi untuk menerima murka dari Lord Aegis. Baru kali ini kakaknya murka, Lord Aegis sebenarnya orang yang bisa mengendalikan emosi, tapi sekali ia marah, habislah sudah. "Kakak, tenanglah. Mika pasti baik-baik saja. Kalau kakak memenggal mereka, siapa yang akan menjaga benteng?" Elgris mencoba menenangkan Lord Aegis. Lord Aegis iam namun tetap mengepalkan erat tangannya. Tatapannya tajam memindai semua penjaga yang tertunduk ketakutan. Baru kali ini mereka melihat Lord Aegis murka. Lord Aegis tidak mengatakan apapun, namun tatapannya seakan melayangkan seribu pedang yang siap menusuk siapa saja. "Ada apa ini?" "Mika menghi—" Lord Aegis melebarkan mata dan berbalik, menyadari itu adalah suara yang ia cari dari tadi. Benar saja, Mika sudah berdiri di belakangnya dengan kondisinya yang basah kuyup, dan berbalut jubah hitam. Mika memiringkan kepalanya kebingungan. Lord Aegis langsung mendekapnya erat, menghapus semua kekhawatiran yang menghantuinya. Elgris tersenyum lega, begitu juga para penjaga yang dari tadi ketakutan, setidaknya tidak jadi ada pembantaian di benteng. "Mika.... Mika...." Lord Aegis membisikkan nama Mika dengan ketakutan. Mika mengernyitkan alisnya dan membalas pelukan Lord Aegis. "Ada apa tuan?" Ia bertanya polos, Lord Aegis melepaskan pelukannya, lalu menelangkup kedua pipi Mika dengan kedua tangan kekarnya. Mika tahu ada ketakutan di mata Lord Aegis. "Kau kemana saja?? Kenapa kau basah kuyup??" Lord Aegis memindai seluruh tubuh Mika, sepertinya tidak ada yang aneh. ia pun bernapas lega. Mika tersenyum kecut, haruskah ia jujur? "Aku jalan-jalan tadi, dan aku terpeleset di danau. Tapi aku tidak apa-apa,tenang saja." Mika tertawa riang, Lord Aegis bisa bernapas lega. Ia pun mendekatkan wajah. Merunduk, menempelkan dahinya dan dahi Mika. Hingga kedua hidung mereka bersinggungan. Namun, tidak untuk bibir. Walau begitu, semua itu cukup membuat jantung Mika berdegup kencang. Wajahnya pun kini serupa udang rebus. "Jangan ulangi lagi...." Lord Aegis berbisik lirih. Mika hanya iam, ia tidak bisa mengangguk maupun menjawab, wajah mereka terlalu dekat, bahkan ia bisa merasakan embusan napas Lord Aegis. Mika merasa lemas. Ia gugup. "Aheemmm, kak, kau tahu? Berpuluh-puluh pasang mata sedang melihatmu sekarang, drama dimulai~" Elgris terkekeh menyadarkan Lord Aegis. Lord Aegis yang baru sadar pun menarik wajahnya dan berbalik menatap para penjaga yang masih berbaris rapi dengan wajah yang merona dan pura-pura tidak melihat tuan mereka yang sedang b******u ria dihadapan mereka. Sial. Pria itu mengutuk dirinya sendiri karena kelalaiannya. Ia terlalu cemas pada Mika dan tak mempedulikan sekitar. Dehaman pun terdengar, menghilangkan kecanggungan. "Karena Mika baik-baik saja kalian boleh melanjutkan tugas. Tapi ingat! Jika kalian lalai, aku akan menggantung kepala kalian di depan benteng. Paham?" Kali ini Lord Aegis tidak menggunakan amarah, tapi tetap saja kalau Lord Aegis yang mengatakannya semua terasa horror. "Baik, Tuan!!" semua penjaga berteriak serentak. Lord Aegis segera menarik tangan Mika dan membawanya pergi. Elgris hanya geleng-geleng dengan kelakuan kakaknya. "Dasar om-om sialan, tapi tingkahnya masih seperti remaja saat jatuh cinta. Oh! Dewa!" Elgris memutar bola matanya dan berlalu. *** Mika masih mengikuti Lord Aegis yang menyeretnya ke kamarnya.  "Mika...." Setelah mereka sampai di depan kamar, Lord Aegis memanggilnya pelan. Sang gadis cantik pun menoleh ke arah tuannya. Sebelum ia membuka pintu kamar. "Ada apa, Tuan?" Lord Aegis menatapnya penuh selidik. Lalu ia menghela napas. "Jubah itu, bisa kau berikan padaku?" Tatapan manik kelam itu sama sekali tak menyiratkan emosi. Walau begitu, Mika tetap merasa ragu. Karena jubah itu bukan miliknya, melainkan barang pinjaman. "Mika, siapa yang kau temui selama kau berjalan-jalan?" Lord Aegis masih dalam ekspresi biasa, ia bahkan tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Dalam hati, Mika tak berhenti bertanya. Bagaimana bisa Lord Aegis mengetahui semuanya?! "Mika, yang memakai jubah hitam di Phartenos hanya aku. Dan itu bukan jubahku, lalu siapa yang kau temui?" Mika tersentak kaget, Lord Aegis masih tetap tenang. Walaupun di hatinya ia ingin sekali menghancurkan tembok kokoh benteng Phartenos sebagai pelampiasan. Karena ia tak mungkin memakai kekerasan pada Mika. Ia tahu, memakai jubah hitam itu terlarang kecuali keluarga Phartenos. Dan keluarga Phartenos bahkan jarang menggunakan jubah hitam, Mikhalios dan Elgris lebih suka warna terang, hanya dirinya yang memakainya. Karena hitam identik dengan kerajaan Ikaros, sebenarnya Lord Aegis memakai jubah hitam untuk mengingatkannya tentang seseorang yang sangat ia benci. Seseorang yang selalu memakai jubah hitam. Ia tahu betul orang itu. "Siapa namanya?" Lord Aegis sedikit mencuramkan alisnya. Mika pun terkejut. "A-aku belum sempat bertanya. Ia hanya membantuku saat aku tercebur ke danau. Lalu memberiku jubahnya." Mika pun melepas jubah hitam itu dan menyerahkannya pada Lord Aegis. Lord Aegis menerimanya dan mengamatinya sebentar. "Mika, aku harap kau tidak menemui orang asing itu lagi." Tatapan Lord Aegis berubah sendu. Mika hanya mengangguk dalam iam.  "Cepatlah ganti baju, nanti kau sakit" Lord Aegis mempelai rambut Mika yang setengah basah. Mika pun tersenyum dan mengangguk sebelum ia masuk ke dalam kamar. Lord Aegis masih mematung di depan kamar. Ekspresinya berubah drastis, kini ia seakan-akan ingin memakan mangsanya. Iamatinya jubah itu lagi, dan ada simbol disana. Simbol kerajaan Ikaros. Lord Aegis mencengkeram jubah itu, lalu pergi dengan tergesa-gesa. Ia tak menyangka semua ini akan terjadi. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak akan mencampakkan Mika lagi. Ia akan terus mendekati Mika dan mengawasinya. Sebelum orang itu bertindak lebih lanjut dan merebut Mika darinya. *** "Selamat pagi,Mika" Mika yang sedikit mengantuk itu perlahan membuka matanya. Ia langsung membelalakkan mata ketika ia tahu yang menyapanya adalah Lord Aegis. Ia duduk di tepi ranjang dan membelai rambut hitam lurus Mika dengan lembut. Mika membeku dengan pipi memerah. Haruskah Lord Aegis datang pagi-pagi buta dan melihatnya dalam kondisi paling acak-acakan?? "Tu-Tuan?" "Hm?" Lord Aegis masih di posisinya dan membelai Mika. Membuat Mika memerah. Padahal sebelumnya, saat mereka tidur di kamar Mika, ia tidak secanggung ini. "A-Apa yang Anda lakukan??" Mika berusaha untuk bangkit. Ia pun duduk berhadapan dengan Lord Aegis. "Membangunkanmu," Lord Aegis menjawab enteng. Mika menaikkan alisnya. "Mungkin mulai besok kau harus pindah ke kamarku." Lord Aegis berkata sembari menimbang-nimbang. Mika langsung membelalakkan matanya. Ia menelan ludah. "Ke-Kenapa Anda tiba-tiba berubah pikiran, Tuan?" Mika bertanya dengan gugup. Lord Aegis menatapnya lalu memegang tangan Mika. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang. Perasaanya tidak seperti waktu ia bertemu Lord Aegis untuk pertama kali, ini berbeda. "Aku pikir kau akan selalu berada di bawah pengawasan ku jika kau mau-" "Maafkan aku, Tuan. Tapi—" "Baik aku mengerti." Lord Aegis menarik tangannya yang memegang tangan Mika lalu ia berdiri. Mika merasakan adanya kekecewaan di mata Lord Aegis. "Mandilah, Mika. Aku ingin mengajakmu berkencan." Lord Aegis berkata dengan tenang, berbeda dengan Mika yang langsung terlonjak kaget. Mika menautkan kedua alisnya dengan tatapan bingung. "Berkencan?" Ia tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut seorang Lord Aegis. Bukankah ia banyak kerjaan? Mika menatapnya heran. Lord Aegis mengangguk. "Satu hari penuh aku akan bersamamu, aku akan mengajakmu kemanapun kau mau"  Mika semakin heran, aneh? Ya, tentu. "Pekerjaan Anda?"  "Bawahanku sangat bisa iandalkan, jangan khawatir." Lord Aegis masih dengan wajah yang tanpa ekspresi. Mika masih terheran-heran dengan apa yang merasuki Lord Aegis. Namun, ia hanya mengangguk paham. "Aku tunggu di taman" Mika hanya menatap punggung kokoh Lord Aegis yang perlahan menjauh, dan menghilang di balik pintu. Mika masih duduk di tempat tidur. Tak habis pikir Tuannya akan begitu bersemangat dengan acara dadakan mereka. "Sudahlah, mungkin Tuan juga butuh hiburan untuk melepas lelah." Ia pun beranjak untuk mandi dan mempersiapkan diri. Mungkin Mika memang terlalu lugu untuk peka terhadap perasaan Lord Aegis. *** Kastil Dielos, Kerajaan Ikaros. Bathory terlihat sangat muram. Kagari hanya bisa iam agar tidak menyulut emosinya. "Irina.... Ia bahkan tidak mengingatku...." kata-katanya sangat pilu, Kagari mengamatinya sejenak. Baru kali ini Bathory sekacau ini, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ia mencintai Irina, tentu saja.  "Yang Mulia...." Kagari hanya bisa menyentuh pundak kakaknya, membuatnya menjadi lebih baik. "Ia bertunangan dengan Aegis. Aku tidak percaya ini! Bagaimana bisa ia mengikat hubungan dengan orang macam Aegis!!" Bathory terlihat sangat marah dan menggebrak meja yang ada di depannya. Ia berada di ruang kerjanya. "Ini ulah ular licik itu!! ia selalu menghalangi jalanku!!" Kagari langsung terlonjak kaget dengan Geraman kakaknya itu. Sungguh mengerikan jika seorang Bathory murka. Ia hanya menghela napas pendek. "Yang Mulia, Anda sebaiknya mengirim mata-mata untuk mengawasi Aegis dan Irina, dan kita bisa menyusun rencana untuk menggagalkan hubungan mereka." Kagari akhirnya menyuarakan pendapatnya. Bathory meliriknya sebentar. Benar kata Bathory, tapi ia tidak terlalu yakin dengan mata-mata. "Aku akan pergi sendiri" Bathory berkata sembari berdiri dari kursinya. Mendengar keputusan kakaknya Kagari langsung tersentak. "Tidak boleh!! Hari ini saja Ayahanda memarahi Anda karena Anda diam-diam keluar dari istana! Apalagi jika mendengar rencana ini!?" Kagari mendelik geram, hanya ia yang bisa mengatasi kecerobohan kakaknya. Bathory menatapnya tajam. "Aku tidak peduli dengan Ayahanda!! Ia ingin Irina kembali dan membunuhnya perlahan! Aku membawa Irina kembali untuk menikahinya, aku mencintainya!" Dengan kata-kata tajamnya itu Bathory melangkah keluar dari ruangannya. Ia sebenarnya sangat senang bisa bertemu dengan pujaan hatinya, Irina. Ia senang Irina baik-baik saja. Tapi hatinya juga hancur ketika mengetahui Irina sudah bertunangan. Ia melangkahkan kakinya ke sebuah kamar yang bernuansa putih dan merah jambu. Ia melangkah masuk. Suasananya masih seperti sepuluh tahun lalu. Ia memandang kesemua penjuru, menikmati aroma yang tak pernah lekang oleh waktu. Aroma manis Irina selalu berada di kamar itu, kamar Irina saat ia kecil. Ia melangkah ke tempat tidur yang bernuansa merah jambu dan merebahkan dirinya di kasur yang empuk. "Irina...." Ia berkata seakan merapalkan doa. Ia tak peduli pada mitos-mitos gila jaman dahulu. Ia tidak peduli dengan Dielos dan Istiya! Ia bukan Dielos dan Irina bukan Istiya! Bathory geram, dengan semua ocehan tak masuk akal Ayahnya. Ia ingin membunuh Irina demi menyelamatkan Ikaros dari kegelapan? Baginya, Ikaros yang terbebas dari kutukan tanpa Irina di sampingnya akan sama saja, hampa dan gelap. Irina adalah mataharinya. Irina-lah yang selalu tersenyum padanya, Irina-lah kebahagiaannya. Ia sangat bersyukur ketika mendengar Irina akan menjadi Ratunya di masa depan. Tapi itu musnah ketika Ayahnya berkata lain. Irina adalah Ratumu di masa depan, dan setelah itu, ia akan menjadi tumbal untuk menyelamatkan Ikaros. Bathory geram, ia tak akan membiarkan itu terjadi! Irina miliknya dan hanya miliknya seorang!! Tak boleh ada yang menyentuh dan menyakitinya!! Entah itu Aegis Phartenos atahupun Zephiry Alezar, semua yang menjadi penghalang akan ia musnahkan!! "Tunggulah aku, Irina. Aku mencintaimu." ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN