Chapter 9
Kencan
Seperti biasa, Mika menggunakan kimono khas Wilayah Timur. Menatap ke kaca, ia pun berputar ke kiri dan ke kanan, melihat apakah ada yang kurang. Ia merasa bodoh jika berurusan dengan penampilan. Ia jarang berdandan. Ah, Tidak. Lebih tepatnya, ia tidak tahu cara berdandan. Tentu saja, ajakan Lord Aegis untuk berkencan adalah hal yang membuatnya bingung tak terkira. Jangankan kencan, bertemu dengan pria saja ia jarang. Mika takut jika ia malah mengacaukan kencan pertama mereka.
Mika menggeleng-gelengkan kepala. Entah mengapa kini pipinya memerah. Ia tak pernah seperti itu sebelumnya. Dan demi dewa! Ia merasa sangat canggung jika berhadapan dengan Lord Aegis. Rasanya ada sesuatu yang salah dengannya.
"Mikaaaa~"
Tanpa permisi, Elgris langsung masuk ke ke kamar Mika. Membuat sang gadis tersentak dari lamunan. Manik indahnya pun beralih menatap pintu, dan yang ia dapati hanyalah calon adik ipar yang menyeringai nakal padanya.
Seketika, ia menggembungkan pipi. "Ya Dewa! Kau membuatku kaget!"
Elgris tertawa terbahak-bahak ketika melihat ekspresi marah Mika yang jelas-jelas meniru gayanya. Tentu saja, kini Elgris tahu mengapa sang kakak yang terkenal begitu dingin kini mulai meleleh. Tanpa sadar, Mika memang mempunyai pesona yang begitu memukau. Jika ditambah dengan kepolosan dan wajahnya yang imut, pria mana yang mampu menolaknya?
Sayangnya, gadis polos di depannya memang perlu sedikit latihan khusus. Manik birunya kini memindai sang calon kakak ipar. Cantik, tapi Elgris merasakan hal yang kurang dari dandanan Mika kali ini.
"Ada apa?" Menyadari Elgris yang dari tadi mengamatinya, Mika pun tak kuasa untuk bertanya.
Tentu saja, Elgris tahu bahwa kepolosan Mika kadang berubah menjadi kebodohan. Gadis macam apa yang menggunakan kimono berlapis saat kencan pertama mereka? Singkatnya, Mika bahkan sama sekali tak mengerti apa yang para pria inginkan.
"Kau mau kencan atau berkemah di gunung salju? Lihatlah! Berapa lapis baju yang kau kenakan?" Elgris berkata dengan sedikit tidak suka.
Mika mengernyit, memangnya apa yang salah dengan bajunya? Bukankah seorang gadis harus menutup tubuhnya? Kimono-nya juga bermodel sama dengan kimono-kimono yang sebelumnya ia pakai. Ia memiringkan kepalanya dengan heran.
Elgris pun menepuk dahinya frustasi.
"Dengar Mika! Kau itu calon istri si om-om sialan itu, dan sekarang ia mengajakmu kencan, kau harus bisa membuatnya terpesona!" Elgris terlihat sangat bersemangat. Mika sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang ia maksud. Elgris menepuk tangannya dan memanggil seseorang.
"Ferris!!"
Seketika itu juga seseorang datang, ia terlihat familiar. Mika mengamatinya sebentar setelah Ferris masuk ke kamar. Ia adalah salah satu Boneka yang dibawa Lord Aegis saat ia dan Lord Aegis bertemu pertama kali. Elgris berdeham sebentar.
"Kau pasti sudah sangat familiar dengannya. Dia salah satu kaki tangan kakakku, Ferris. Dia ini perempuan. Mulai sekarang kalau kau butuh apa-apa carilah dia. Yang satunya lagi, Erris, dia tidak disini. Erris yang melayani kakakku sehari-harinya." Elgris menjelaskan dan Mika hanya mengangguk-angguk paham.
Gadis itu mengamati Ferris sebentar, mata violet-nya tampak "tak hidup" . Tapi ia tetap cantik, bahkan lebih cantik dari perempuan-perempuan manusia. Poni pirangnya menutupi dahinya, dan rambutnya yang panjang ia sanggul ke belakang tapi masih menyisihkan anak rambut yang menggantung di sekitar lehernya. Ia sangat memesona.
Namun, Mika heran. Banyak manusia, tapi kenapa Lord Aegis memilih boneka sebagai kaki tangannya?
"Mika, sekarang Ferris adalah pelayan pribadimu, ia akan mengikutinya kemanapun kau pergi."
Mika langsung tersentak. "Ke kamar mandi??"
Elgris menyeringai, lalu menatap Mika dengan nakal. "Itu termasuk tugasnya juga, Mulai sekarang ia juga yang akan memandikanmu."
Mika melebarkan matanya lalu menatap ke Ferris yang masih tak berekspresi.
"Saya akan sangat senang jika saya bisa membantu Nona." ucapnya singkat, tanpa senyum maupun ekspresi.
Ini pertama kalinya Mika mendengarnya berbicara. Suaranya lembut bagaikan malaikat. Mika menelan ludah dengan sedikit ketidak nyamanan.
"Aku bisa mandi sendiri, aku bukan anak kecil!" Ia berteriak pada Elgris dan Ferris. Elgris lalu tertawa.
"Kau pikir kau siapa? Kau calon istri Aegis Phartenos, orang kedua terhebat di Phartenos! Itu berarti kau juga butuh pelayanan seperti seorang Putri!" Elgris masih tertawa riang, tapi tidak untuk Mika. Itu terlalu berlebihan bukan?
"Ini titah dari Lord Aegis Phartenos langsung, apa kau mau menolak? Kau mau Ferris di penggal?" Elgris menatap Mika dengan tajam.
Tentu saja Tidak! Kenapa Ferris dilibatkan?? Mika pun menghela napas berat. Mungkin gara-gara kejadian kemarin. Ya Dewa! Kenapa Lord Aegis jadi sangat overprotektif seperti ini?? Akan sangat susah bergerak juga kalau begini caranya. Mika harus memikirkan cara lain untuk menyusup keluar benteng. Ya, walaupun ia nyaman di benteng tapi ia butuh pemandangan di luar juga, bukan?
"Baiklah. Tapi aku juga butuh waktu sendiri. Jadi tolong beri waktu untuk privasiku." Mika terlihat kesal, tapi Elgris malah tertawa puas. Ia memang sangat senang jika ia berhasil membuat seseorang kesal, terutama kakaknya.
"Baiklah, sudah paham, kan? Ayo kita mulai dengan membenahi bajumu yang terlihat sangat tidak memesona itu." Elgris menjentikkan jarinya dan beberapa kimono muncul entah dari mana. Mika pun membelalak kaget sekaligus kagum. Kimono itu tersusun rapih di atas tempat tidurnya.
"Jangan heran, aku ahli sihir, sihir teleportasi benda mati itu sangat mudah untukku."
Elgris tersenyum puas, Mika hanya mengangguk-angguk paham. Walau sebenarnya gadis itu masih kagum dengan apa yang baru saja terjadi. Sebenarnya Sihir itu hanya bisa digunakan Elgris pada benda yang berada di magic field-nya dan ia ingat posisi benda itu dimana, berhubung hampir seluruh bagian benteng sudah ia klaim sebagai magic field-nya. Hingga bocah itu pun bisa leluasa menggunakan kekuatan tersebut. Kecuali peraduan pribadi Lord Aegis dan Lord Mikhalios, karena Elgris tidak berani memasuki area mereka berdua.
"Keren!" Mika berkata dengan mata yang berkilauan.
Elgris terkekeh geli. "Sudah, ayo kita coba kimono-kimono ini."
***
Dan sekarang beginilah jadinya Mika, ketika tangan Elgris ikut campur. Mika melihat dirinya sendiri di depan cermin, kimono dengan model yang tidak seperti umumnya. Ya, lengan kimono itu tidak membalut bahunya, malah melorot sampai ke lengannya. Alhasil, bahu mungilnya yang putih tak ternoda terekspos seluruhnya. Bahkan kimono aneh itu juga mengekspos bagian atas dadanya. Elgris terkekeh dengan puas.
Lihat saja kak, aku akan membuatmu gila! Hahahaha, apa ia bisa mengendalikan diri kali ini?
Elgris menyeringai kejam. Ini memang rencananya dari awal, biarlah Mika menjadi santapan kakaknya. Ia tidak sabar bagaimana akhirnya. Ah! Sebenarnya Lord Mikhalios yang menyarankan semua ini. Biasa, ayah-anak yang satu ini sangat hobi mengerjai Lord Aegis. Sampai kadang Lord Aegis pusing dengan Ayah dan adiknya. Mereka terlalu kompak kalau mengenai mengerjai Lord Aegis.
Mika kembali melihat dirinya, bibirnya yang mungil sekarang menjadi merah dan padat, tentu pria yang melihatnya akan sangat tergoda untuk melumat bibir indah Mika. Bagaiman dengan Lord Aegis? Kita lihat saja nanti.
Mika mengamati wajah yang memerah, bagaimana tidak? Kimono yang ia kenakan begitu ... luar biasa. Ia melihat ke bawah, kimono itu memang panjang, tapi belahan sampingnya pun juga lebih panjang, sampai mengekspos pahanya yang mulus. Melihat semua itu, sang gadis hanya mengernyit bingung.
Elgris mengakui, Mika memang sangat menawan. Beruntung sekali kakaknya mendapatkan gadis seperti Mika. Lugu, lembut, cantik, penurut, terlalu penurut sampai ia pun tidak tahu sekarang ini ia sedang dikerjai oleh bocah imut yang berdiri di belakangnya. Elgris kembali terkekeh. Mika memang terlalu lugu dan sangat mudah di bodohi.
"Elgris, apa kimono ini tidak terlalu—"
"Ah! Tentu saja tidak! Itu sangat pas dan cocok untukmu! Kau sangat cantik!" Elgris memotong dengan cepat.
"Tapi—”
Elgris langsung mendorong Mika keluar kamar dan menggiringnya ke gazebo taman, dimana Lord Aegis telah menunggunya dari tadi. Jantung Mika berdebar hebat, ia memang canggung ketika melihat Lord Aegis, belum lagi baju yang tidak nyaman itu.
"Kakak sudah menunggumu, pergilah...." Elgris berkata sembari tersenyum. Ia dan Ferris mengantarkan Mika sampai ke depan taman. Entah mengapa, Mika menoleh ke arah Elgris dengan ragu.
"Tapi, a-aku...." Wajahnya memerah, berbagai macam perasaan ada di benaknya.
"Sudahlah, kau tidak mau kakak menunggu lama, bukan? Pergilah." Elgris meyakinkan dengan senyum manis, berbeda dengan benaknya yang menyimpan seringai kepuasan.
Mika diam. Tak lama kemudian ia mengangguk lalu berbalik, menatap gazebo yang ada ditengah taman dengan hati berdebar. Ia pun memberanikan diri melangkahkan kakinya ke gazebo itu.
Elgris baru menampakkan seringai kejahatan ketika Mika mulai melangkahkan kaki ke gazebo.
"Nah, Kakak. Aku harap kau suka dengan kejutan yang aku berikan." Bocah itu terkekeh puas lalu berbalik meninggalkan taman. Tak lupa ia memasang sihir pengintai agar ia bisa menonton perkembangan kakaknya. Ferris pun mengikuti langkahnya.
***
"M-Maaf membuat Anda menunggu lama, Tuan."
Mika menunduk dan berdiri di depan gazebo, Lord Aegis duduk membelakanginya dan menatap hamparan bunga di taman. Ketika pria itu mendengar suara Mika, ia pun tersentak dari lamunannya dan berbalik.
"Tidak apa-apa, Mi ... ka?" Matanya terbelalak kaget ketika mendapati sosok Mika yang berdiri di depan gazebo. Tatapan pria itu pun menyiratkan rasa bingung sekaligus heran. Bertanya-tanya dalam hati, apakah gadis yang ada di depannya benar-benar Mika?
"Mika?" Lord Aegis memanggilnya lagi seakan tak percaya dan yang ia lihat adalah hantu. Mika lalu menatap mata kelam milik Lord Aegis yang sedang memancarkan ketidak percayaan.
"Ya,Tuan?" Mika menjawab lembut. Lord Aegis tersadar dan berdeham.
"Duduklah."
Mika pun duduk di depan Lord Aegis yang masih terlihat bingung. Ia mengamati gadis itu lagi, sejak kapan ia memakai kimono yang tidak senonoh seperti itu? Namun, bukan itu yang Lord Aegis pikirkan, tapi wajah Mika yang sangat familiar. Mika memakai make-up kali ini, dan ia sungguh sangat mirip dengan seseorang di masa lalu Aegis.
"Lady Airi...." Lord Aegis berbisik lirih.
Mika pun mengerjapkan matanya. Mencoba menenangkan apa yang barusan Lord Aegis katakan.
"Ada apa tuan?"
Lord Aegis tersadar dari lamunannya dan menatap Mika lagi. "Tidak. Tidak apa-apa."
Mendengar jawaban Lord Aegis, Mika tampak heran. Apa ada yang salah dengan penampilannya??
"A-apa ada yang salah denganku?"
Lord Aegis menatapnya sejenak. Memang ada yang salah dengannya, dan itu kesalahan fatal. Lord Aegis tidak suka dengan kimono Mika yang terlalu mengekspos tubuh mungil nan indahnya. Bahunya yang terlihat rapuh itu seakan mengundang untuk mencicipinya. Bahkan bagian d**a atas Mika terekspos dengan jelas. Membayangkan jika obi kimono itu lepas membuat Lord Aegis mencuramkan alisnya. Bahkan bagian bawah kimono itu disertai dengan belahan sepaha. Ketika Mika duduk, separuh aset berharganya terekspos secara cuma-cuma.
Lord Aegis tidak suka, sangat tidak suka.
Mika-nya yang berharga, tidak boleh memakai pakaian seperti itu! Untung saja di gazebo hanya ada dirinya dan Mika. Jadi, yang mendapat penghargaan atas kecerobohan Mika hanya Lord Aegis seorang. Namun, bayangkan jika Mika berjalan di benteng dengan baju seperti itu, membayangkan saja membuat Lord Aegis geram.
"Mika...." Panggil Lord Aegis.
Saat manik mereka bersinggungan, Lord Aegis yang sedang membuka rompinya yang paling luar.
"Ya, Tuan?"
Lord Aegis berdiri dan berjalan ke samping Mika, lalu membalut tubuh Mika dengan haori-nya .
"Mika, lain kali pakai saja pakaian yang biasa. Jangan pakai kimono aneh ini. Mengerti?" Lord Aegis menatapnya dengan lembut. Mika hanya mengangguk paham.
"Sebenarnya aku juga ingin memakai kimono yang biasa, kata Elgris—"
"Elgris??" Maniknya sedikit melebar. Pantas saja Mika menggunakan kimono kurang bahan itu. Ternyata bocah itu dalang dibalik semua ini. Lord Aegis terlihat sangat kesal.
"Elgris yang membantuku memilih kimono," ucap Mika dengan senyum menawan.
Lord Aegis iba padanya. Bisa-bisanya Elgris menjahili gadisnya, ia akan membuat pelajaran untuk Elgris nanti.
"Jangan percaya pada Elgris, ia itu sesat. Paham?"
Lord Aegis berkata sembari membelai rambut Mika yang lembut dan mengkilat. Mika menatapnya bingung. Ia hanya mengangguk pelan sebagai respon. Lord Aegis menghela napas lega.
"Kemarilah...."
Pria itu menarik tubuh mungil Mika dan mendekapnya. Kepala Mika bersandar di d**a , sekali lagi ia mendengarkan irama detak jantung Lord Aegis yang membuatnya tenang. Juga aroma mint dari Lord Aegis yang selalu membuatnya nyaman. Mika menutup matanya menikmati sensasi pelukan dan belaian Lord Aegis.
"Mika, apa kau membenciku?" Lord Aegis melontarkan pertanyaan itu begitu saja. Membuat mata Mika kembali terbuka lebar, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mendongakkan kepalanya melihat ke wajah Lord Aegis di atasnya.
"Kenapa Anda bertanya seperti itu?" Mika menaikkan alisnya heran, Lord Aegis masih mendekapnya erat. Ia juga tak tahu kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Tidak. Aku hanya heran ketika waktu itu ... kau menangis." Lord Aegis melihat ke arah lain, sebenarnya ia tak sanggup melihat ke mata Mika langsung.
Mika terkekeh geli. “Aku hanya shock, karena tiba-tiba Ayah Anda memintaku menjadi istri Anda.” Mika sempat merasakan pipinya mulai memanas.
Dalam hati Lord Aegis merasa lega. Mika tidak membencinya.
"Apa kau menyesal? Akan menikah denganku?"
Ya, Lord Aegis ingin mengetahui pendapat Mika tentang pernikahan mereka yang tak lama lagi akan dilangsungkan. Lord Aegis tidak ingin gadis mungil yang ada di dekapannya sedih, ia akan mengusahakan sekuat tenaga untuk memberikan apa yang Mika minta.
Gadis itu pun mengernyitkan dahinya. Aneh, pertanyaan yang aneh. Ada apa dengan Lord Aegis?
"Tuan, sejujurnya ... aku tidak keberatan. Justru tuan-lah yang kucemaskan, apa tuan tidak apa-apa menikah dengan gadis desa sepertiku? Bukankah aku hanya akan menodai darah biru Klan Phartenos nantinya?" Mika berbicara dengan gugup dan perlahan melepaskan pelukan Lord Aegis. Ia merasa kalau dirinya tidak pantas bersanding dengan orang terhormat seperti Lord Aegis.
"Kau bicara apa? Tentu saja aku tidak keberatan, menikah denganmu adalah anugerah untukku."
Mika mengernyitkan alisnya. Anugerah? Sepertinya ada yang salah. Apa maksudnya? Lord Aegis mengerti Mika sedang kebingungan. Ia menyentuh tangan Mika dan membelainya lembut.
"Kau gadis suci, cahaya Phartenos selalu menyinarimu. Aku sangat beruntung aku bisa mendapatkanmu, bagiku kau adalah cahayaku, Mika."
Senyum simpul Lord Aegis, membuat hati Mika meleleh. Lord Aegis tersenyum, ia benar-benar tersenyum!! Mika menatap pria di depannya tanpa berkedip. Pria itu sangat tampan.
Lord Aegis sendiri tidak menyadari kalau dirinya telah tersenyum. Ya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Mika, satu nama yang membuatnya begitu berbeda. Entah mengapa diantara ribuan gadis yang telah ia temui di berbagai belahan dunia, hanya Mika-lah yang dapat mencuri apa yang telah ia sembunyikan rapat-rapat, "hatinya".
Bukan karena ia anak dari Lady Airi atau karena ia sangat mirip Lady Airi. Ia jatuh hati saat pandangan pertama. Ya, pria itu tahu, Mika gadis baik-baik, gadis polos yang bahkan tangannya pun tak ternoda, apalagi tubuh dan pikirannya. Ia sangat kagum dengan Mika, saat ia mengetahui Mika adalah anak Lady Airi, ia pun semakin mantap untuk melindungi dan mencintai gadis mungil di depannya.
"Tuan...." Mika menyadarkan Lord Aegis dari lamunannya.
Manik kelam menatap wajah Mika yang begitu menggemaskan. Pria itu masih membelai tangan Mika dengan lembut.
"Mika … aku ingin memilikimu … seutuhnya."
Mika langsung membelalakkan matanya, apa itu perintah? Atau pengakuan? Entahlah. Namun kini, Lord Aegis mendekatkan wajahnya pada wajah Mika. Mika menelan ludahnya dan jantungnya berdetak kencang. Ia tak tahu harus bagaimana, ia pun menutup matanya dengan sedikit rasa ketakutan.
Pria itu memang berencana mencium Mika, ia sungguh tidak bisa menahan perasaannya. Lord Aegis harus mengatakannya atau ia akan menyesal. Namun, belum sempat bibir itu bersinggungan ia membelalakkan matanya dan menarik pedangnya secepat kilat untuk menangkis serangan dadakan.
Traaanggggg!!!!!
Suara pedang yang beradu membuat Mika tersentak dan membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat Lord Aegis ada di depannya dan menangkis pedang yang di genggam erat oleh seorang pemuda berkulit gelap. Sampai Lord Aegis memberikan dorongan yang kuat untuk memaksa pemuda itu untuk mundur. Mereka pun bertatapan sejenak.
"Tuan!" Mika berbisik dengan khawatir.
Lord Aegis sekarang berdiri dan memandang pemuda itu. Mika pikir pemuda itu akan melancarkan serangannya. Namun tidak, ia membaringkan pedangnya dan berlutut.
"Great Knight ke-empat, Karna Ashoka, menghadap.”
Mika langsung membelalakkan mata ketika pemuda itu mengakui dirinya sebagai salah satu Great Knight. Ia langsung menoleh ke arah Lord Aegis yang sekarang menghela napas dan menggeleng frustasi.
"Sapaan macam apa itu, Karna? Siapa yang memberi ide penyambutan itu?" Pemuda berambut perak dengan kulit gelap itu mengangkat wajahnya dan menatap Lord Aegis.
"Maaf , Tuan Aegis. Tuan Kratos meminta saya untuk tidak memberitahu Anda kalau ia yang menyuruh saya menyerang Anda secara mendadak."
Karna kembali menunduk. Lord Aegis menghela napas lelah, satu lagi pengganggu muncul. Salah satu kelemahan Karna adalah tidak bisa berbohong. Jujur, Mika sempat ingin tertawa ketika mendengar jawaban Karna. Ia baru saja mengatakan siapa yang menyuruhnya, bukan? Lord Aegis memang tidak bisa bergerak bebas ketika tujuh Great Knight berkumpul, karena banyak sekali pengganggu yang akan mengusiknya.
"Hei, Karna! Sudah aku bilang jangan bilang Aegis kalau aku yang menyuruh!! Dasar!!"
Pemuda berambut pirang muncul tiba-tiba dari balik semak. Dan ia langsung mengomel pada Karna. Lord Aegis menghela napas dan melangkahkan kaki, berjalan menuju mereka berdua.
"Kratos, kapan kau kembali?" Ia bertanya enteng, melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Kratos mengalihkan perhatian pada Lord Aegis lalu tertawa terbahak-bahak.
"Demi Dewa!! Kau seperti Kaisar Timur!! Sejak kapan kau memakainya??"
Lord Aegis hanya diam, lalu menoleh ke belakang. Menatap Mika yang masih membeku di gazebo. Ia mengisyaratkan Mika untuk bergabung dengan mereka. Mika pun menurut dan Ia berdiri di belakang Lord Aegis.
"Ah, aku baru saja datang, aku bertemu dengan Karna dan kami berdua mencarimu. Saat kami menemukanmu kami sangat terkejut ketika kau bersama nona cantik dan bermesraan di gazebo taman. Kau tahu? Aku tidak akan membiarkanmu mendahului langkahku jadi aku meminta tolong pada Karna." Kau terkekeh geli, tapi Lord Aegis terlihat kesal.
Rencananya hancur, selamat untuk para troublemaker. Mika masih berdiri dan bersembunyi di belakang Lord Aegis dengan malu-malu. Kratos yang mengetahui Mika langsung menyapanya.
"Nona, kau tidak perlu malu-malu, kami nantinya juga akan menjadi keluargamu. Selamat datang di Phartenos!!" Kratos mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
"Aku Great Knight ke-tiga, Kratos Olympios, senang bertemu denganmu, Nona." Kratos tersenyum dan membuat Mika tersenyum.
"Keiko Mika." Mika juga tersenyum tulus, Lord Aegis yang tidak terlalu suka dengan kelakuan Kratos yang terlihat sangat dekat dengan Mika langsung berdeham.
"Tanganmu, jangan menyentuh Mika. Ia bisa infeksi." Lord Aegis berkata ketus, membuat Kratos tertawa puas. ia pun melepas jabatan tangannya pada Mika.
"Whooaa, calon suaminya marah. Oh, maafkan senyum saya yang bahkan membuat calon istri Anda terpesona, Yang Mulia Aegis Phartenos."
Kratos terkekeh geli melihat Lord Aegis mendelik geram padanya. Mimpi buruk, jika ada Kratos, Elgris dan Lord Mikhalios menyatukan pikiran mereka untuk menjahili Lord Aegis. Ini mimpi buruk untuknya.
Dan pada Akhirnya pun kencannya dengan Mika hancur gara-gara Kratos dan Karna.
***
Malam itu Mika berdiri di atas gerbang benteng, ia menatap ke langit gelap tanpa bulan. Namun banyak sekali bintang yang bertabur. Ia mengamati bintang-bintang itu dengan kagum. Indah. Satu kata yang ada di benaknya.
"Ah! Nona Cantik ada disini?" Suara familiar itu berbicara padanya, Mika menoleh ke kiri dan menemukan Kratos yang menaiki tangga dan berjalan kearahnya. Mika pun tersenyum. Walaupun mereka baru saja bertemu namun Mika lebih nyaman berbicara dengan pemuda blonde itu.
"Aku mencari angin sebentar,” ucap Mika sembari menoleh ke arah Kratos. Kratos masih tersenyum dan mengangguk paham. Sunyi, tidak ada yang memulai percakapan. Akhirnya Kratos pun menghancurkan keheningan.
"Jujur, aku sempat kaget ketika mendengar Aegis akan menikah." Kratos membuka percakapan.
Mika melihat Kratos yang berdiri di sampingnya, gadis itu pun menatap bingung.
"Kau tahu, Aegis itu bagaikan bongkahan es yang abadi. Ia tidak akan menoleh ataupun terpikat walaupun wanita paling cantik lewat di depannya. Ia itu unik." Kratos terkekeh geli ketika membayangkan wajah Lord Aegis yang tak memiliki ekspresi.
"Aku sempat khawatir, ia tidak akan menikah. Karena ia pewaris tahta Lord Mikhalios, ia berkewajiban untuk meneruskan generasinya, bukan?"
Mika hanya mengangguk-angguk mengiakan pertanyaan Kratos.
"Aku pikir, pernikahan ini titik akhir saat Lord Mikhalios yang frustasi karena Aegis tidak kunjung mempunyai istri. Tapi ternyata aku salah." Kratos memejamkan matanya sebentar, ia menyunggingkan senyum tulusnya. Mika mengerutkan dahinya mencoba mencerna maksud Kratos.
"Apa maksud, Anda?" Mika bertanya heran. Gratis menatap Mika dengan saksama.
"Nona Mika, jawablah dengan jujur, bagaimana perasaanmu terhadap Aegis?"
Mika semakin bingung dengan kata-kata Kratos. Ia sendiri bingung dengan reaksinya sendiri ketika bersama Lord Aegis. Mika menundukkan kepalanya.
"Entahlah. Aku selalu gugup ketika berdekatan dengan Tuan Aegis, dan jantungku berdebar kencang. Aku pikir, aku selalu sakit ketika berada di dekatnya, dadaku terasa sesak dan panas." Mika menjawab sejujurnya.
Sang pria berambut pirang hanya terkekeh geli. Sungguh gadis yang aneh, ia semakin percaya pada Mika, kalau ia bisa membawa kebahagiaan untuk Lord Aegis.
"Ah, aku paham. Nona, kau itu sedang menderita penyakit yang sangat parah!"
Mika membelalakkan matanya dengan ketakutan, Kratos tersenyum puas melihat ekspresi Mika.
"A-apa maksud Anda?? Apa itu penyakit yang mematikan??" Mika terlihat sangat ketakutan, tentu ia tidak ingin mati di masa mudanya!
"Ya, tentu saja bisa."
Pria itu kembali membuat Mika terkejut.
"A-apa penyakit itu bisa disembuhkan? Bagaimana caranya??"
Kratos semakin menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Ia kembali menjahili Mika
"Tentu ada obatnya. Jangan khawatir." Kratos menepuk-nepuk pundak Mika yang terlihat begitu rapuh. Mika tersenyum lebar.
"Apa itu? Apa obatnya??" Mika terlihat bersemangat.
Kratos tidak menyangka Mika mempercayainya. Ia pun semakin menjadi-jadi.
"Obatnya. Kau harus mencium Aegis. Dijamin, penyakitnya akan sembuh" Kratos tersenyum nakal, sementara Mika terhenyak dan terlihat bingung.
"Tuan Kratos, apa hubungannya dengan Tuan Aegis?" Ia memiringkan kepalanya bingung.
Kratos melingkarkan tangannya yang kokoh ke leher Mika lalu berbisik di telinganya.
"Kau bilang, penyakitnya itu muncul ketika bersama Aegis, bukan? Di Phartenos memang ada penyakit kutukan seperti itu, dan satu-satunya obat itu adalah mencium orang yang membuatmu sakit." Kratos mengarang indah, sementara Mika hanya bisa diam dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Ia semakin ketakutan.
"Bagaimana kalau aku tidak melakukannya? "
Kratos terkekeh ketika mendengar pertanyaan Mika. "Kau akan mati, begitu juga orang-orang yang kau cintai!"
Pembohong besar memulai aksi dan Mika hanya membeku ketakutan dan gemetar. Penyakit kutukan yang menakutkan!! Gadis itu pun menelan ludahnya, lalu melepaskan diri dari tangan Kratos
.
"Hanya menciumnya kan? Di pipi? Cuma sekali kan?" Mika bertanya gugup, memikirkan apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang ia sayangi kalau ia tidak melakukannya.
"Tidak di pipi, tapi di bibir. Itu tergantung, penyakitmu sudah sembuh atau belum. Kalau belum kau harus melakukannya lagi. Dan pastikan kau melakukannya selama mungkin."
Kratos tersenyum manis, tapi di hatinya ia tertawa terbahak-bahak. Entah bagaimana jadinya jika Mika benar-benar melakukannya. Sungguh suatu keberuntungan baginya, Mika bukan dari Phartenos, jadi Kratos bisa mengarang mitos-mitos palsu atas nama Phartenos.
Mika menatapnya dengan pasti laku mengangguk.
"Baiklah, aku akan mencoba."
Gadis itu pun langsunh beberbalik dan berlari mencari Lord Aegis. Sementara Kratos, langsunh melepaskan kekehannya.
Ya Dewa, aku tidak bermaksud jahat, jadi tolong jangan hukum aku atas kebohonganku. Setidaknya ini balasanku atas interupsi tadi siang, aku rasa Aegis sangat kesal ketika Karna muncul ketika ia hampir mencium Mika.
Entah bagaimana reaksi Lord Aegis jika semua itu berjalan sesuai rencananya.
"Persetan. Toh, Mika juga calon istrinya. Cuma berciuman tidak masalah, bukan?" Kratos berbalik dan pergi. Merasakan kepuasan di hati.
***