Chap. 23 || His Nightmare

1113 Kata
Raka berlari cepat kembali ke kelasnya. Dia bahkan tidak peduli saat ada guru yang menegurnya karena berlari-lari di koridor. Begitu ada di depan kelas, Raka masuk dengan menjeblak pintunya hingga terbuka lebar.             Bintang yang sedang bicara, diikuti teman sekelasnya yang lain, spontan menoleh melihat Raka yang deru nafasnya tidak teratur. Mereka terkejut karena tiba-tiba pintu kelas mereka terjeblak terbuka lebar, padahal suasana tadi lumayan hening karena mereka sedang memperhatikan Bintang yang tengah bicara tentang penampilan kelas mereka di pentas seni nanti.             Tidak memperdulikan tatapan penasaran mereka semua, Raka mendekati Bintang, membisikkan mengenai apa yang tadi dilihatnya.             Mata Bintang membulat tak percaya. Setelahnya Bintang langsung berlari meninggalkan kelas, tidak peduli pada tatapan aneh temannya dan pertanyaan ‘ada apa?’ dari teman-temannya.             Yang dia pedulikan sekarang adalah keadaan Ana.             Mereka semua bingung melihat Bintang yang langsung berlari secepat itu. Lalu pandangan mereka mengarah ke Raka yang kini mengusap wajahnya, sangat frustrasi. Dia jadi menyesal tidak bisa langsung menolong Ana. Raka merasa dia bego di detik ini juga.             “Ka, lu kenapa?” tanya Raffa berdiri dari bangkunya, Bobby juga.             Raka menatap dua temannya itu. Tanpa mengatakan apapun, Raka berlari lagi keluar kelas, hendak menyusul Bintang.             Kini Raffa dan Bobby saling bertatapan. Tanpa punya pilihan lain, mereka juga ikut berlari menyusul ke mana Bintang dan Raka.             “Eh... lo mau ke mana?” tanya Robert. “Ada apaan sih, sampai kalian itu panik banget. Kayak ada sesuatu yang buruk aja.”             Raffa yang baru berlari sampai di pintu kelas, berbalik. Dilihatnya Bobby yang meninggalkannya karena mengejar Raka.             “Gue juga gak tau ada apa. Tapi gue minta sama lo, Bet. Sebagai wakilnya Bintang, lo pimpin dulu acara diskusi kelas kita. Jangan ada yang susul kita.”             Aura serius menguar dari diri Raffa yang biasanya suka bercanda. Kini mereka tahu kalau Raffa tidak main-main. Mereka diam membiarkan Raffa pergi.  Melihat itu, membuat Raffa tersenyum tipis. Dia menutup pintu kelas lalu berlari, dan menyusul tiga temannya.             ***             Kali ini Bintang tidak pedulikan apapun selain Ana. Seumur hidupnya, ia baru sekarang berlari secepat ini. Bintang entah kenapa merasa marah. Apa yang tadi Raka bisikkan langsung membuatnya emosi, sangat emosi.             Bintang juga tidak tahu kenapa. Dia yang membenci perempuan, kenapa juga harus repot-repot peduli Ana? Bahkan dengan teman perempuan di kelasnya, rasa-rasanya Bintang tidak pernah sepeduli ini, sekhawatir ini.             Begitu sampai di tempat yang tadi di bisikkan Raka, Bintang gelap mata. Seluruh emosi berkumpul dalam dirinya. Terlebih ketika dia melihat kemeja Ana sudah terlempar entah ke mana.             Langsung Bintang menghampiri Jordhy, dan menojok laki-laki itu sampai Jordhy terjatuh. Bukannya berhenti, Bintang terus memberikan tonjokan di wajah seniornya itu. Tidak diberi kesempatan bagi Jordhy untuk melihat dengan jelas siapa yang kini sedang menonjoknya.             “b******k!” umpat Bintang. Dia mengangkat kerah Jordhy, dan menonjok wajahnya lagi dan lagi. “k*****t! Lo bener-bener b******k!”             Merasa itu masih kurang, Bintang memberdirikan Jordhy, dan membentur kepala seniornya itu ke pilar di lorong yang sepi ini. “Apa yang lo lakuin ke Ana b******k! Jawab gue!”             Saat Jordhy hendak menjawab, Bintang kembali menonjok wajahnya, lalu menendang perut laki-laki itu dengan lututnya. “Sialan! Lo bener-bener sialan!”                 Raka, Bobby, serta Raffa, sampai di lokasi. Mereka terkejut melihat apa yang sudah terjadi. Bintang yang kalap menonjok Jordhy, dan Ana...             Gadis itu sudah duduk memeluk lutut sambil menangis. Kemeja seragam Ana yang sudah terlempar entah ke mana, membuatnya malu dan ingin tenggelam ke dalam lautan sekarang juga.             “Kak Arniana...” Panggil Raffa. Dia tahu nama Ana, karena Bobby pernah cerita ke mereka semua siapa teman sebangku Bintang saat UAS waktu itu, dan UKK yang baru saja selesai kemarin. Raffa mendekat ke Ana dan bertanya, “Kak, lo baik-baik aja?” Raffa meringis akan pertanyaannya. Tentu saja Ana tidak baik-baik saja sekarang.             Ana tidak menjawab. Dia makin memeluk lututnya erat.             Untungnya Bobby memakai jaket. Bobby yang peka, langsung melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di tubuh Ana. “Kak, lo jangan takut. Lo sekarang aman sama kita.” Sahut Bobby menenangkan.             Meski sudah ada yang menolongnya, tetap saja Ana merasa takut. Kini ia benar-benar kotor. Ana jadi malu pada dirinya sendiri.             Kini Raka menatap Ana dengan rasa bersalah yang amat besar. “Kak, gue minta maaf...” Tapi Ana masih tetap menangis dan tidak mau mendongak untuk melihat apa yang terjadi sekarang.             “b******k!” Maki Bintang entah sudah yang keberapa kali. Dia masih saja menonjok Jordhy, bahkan laki-laki itu kini sudah tidak sadarkan diri.             Melihat keadaan senior mereka yang sudah pingsan, membuat Raka serta Raffa mendekat, berusaha mencegah Bintang yang kembali ingin menonjok dan menghajar Jordhy. Bahkan wajah Jordhy sudah tak terbentuk sekarang.             “Sadar, Bin!” Teriak Raka supaya Bintang tersadar.             Bintang masih memberontak. Di matanya ada pancaran emosi yang masih belum terselesaikan karena dia masih ingin menghajar Jordhy. Membuat laki-laki itu mati kalau bisa.             “Diem lo!” Bintang berontak. “Nggak usah nyegah gue! Dia k*****t!”             “Lo harus sadar dan liat keadaan Kak Arniana! Dia ketakutan! Lo harus berhenti Bintang!” Teriak Raffa emosi.             Tiba-tiba Bintang tersentak. Mereka benar.             Pergerakkan Bintang yang berontak kini melemah. Melihat Bintang yang kini diam dengan pandangan kosong, membuat Raffa serta Raka menjauh sedikit. Memastikan jika kesadaran temannya itu kembali.             Bintang menengok ke belakang. Entah kenapa dia merasa perih. Bintang melihat Ana yang masih duduk memeluk lutut menangis, dengan Bobby di sampingnya tengah mengusap bahu gadis itu memberikan ketenangan. Bahkan rasa perih itu sama seperti masa lalu yang dia rasakan. Tiba-tiba Bintang merasakan dadanya sesak, sesak sekali. Ketika melihat tangannya, Bintang terkejut karena kini tangannya gemetar hebat. Apa yang dia alami sekarang, mengingatkannya kalau dulu dia juga pernah mengalaminya. Deru nafas Bintang tidak teratur saking sesaknya. Kepalanya pusing dan banyak bayangan masa lalu yang melintas di pikirannya, membuat keadannya jadi lebih buruk. Bintang kira dia tidak akan mengalami ini lagi. Tapi kini dia kembali mengalaminya. Mimpi buruk yang muncul lagi setelah bertahun-tahun lamanya. “Papa gak pernah ajarin kamu untuk menonjok orang!” “Mama gak sudi punya anak kayak kamu!” Bugh! Bugh! “Papa jangan pukul Bintang...” “Mama bilang kamu itu belajar Bintang...! Belajar! Kamu itu nangis dan nangis terus! Mama gak mau punya anak dengan nilai jelek!” “Papa gak pernah nganggap kamu anak keluarga Mahardika!” Bugh! “Mama sakit... jangan pukul Bintang pakai rotan. Sakit, ma... Maaf kalau nilai ulangan Bintang gak sempurna.” Semua bayangan itu sukses membuat kepala Bintang pening. Dia bahkan merasa dunianya gelap sampai dia tidak bisa melihat apapun. Ketiga temannya mulai was-was karena melihat Bintang yang seperti tidak fokus sekarang. Tanpa mereka duga, Bintang tiba-tiba ambruk, jatuh tak sadarkan diri. Bintang tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi ia bisa mendengar ketiga temannya meneriakinya. Mereka mengurumuninya karena panik.             “Bintang...!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN