Chap. 01 || Meet
SMAN 01 CAKRAWIGUNA
Jam lima pagi, di mana langit masih gelap, mungkin terlalu awal untuk ada di Sekolah. Tapi bagi Arniana Prameswari, yang biasa dipanggil Ana, wajar-wajar saja karena hari ini akan diadakan masa orientasi peserta didik baru. Sebagai dari bagian anggota PMR, dia berserta yang lainnya harus mulai mempersiapkan, jaga-jaga ada kejadiaan buruk saat acara jam tujuh nanti berlangsung.
Saat sampai di UKS, dia hanya bisa mendesah lesu karena rungannya yang masih dikunci dan kebetulan, temannya yang memegang kunci belum datang.
Dikeluarkannya ponsel, membaca chat di grup PMR. Banyak dari mereka yang mengatakan, ‘Besok jam 5 harus udah ada di Sekolah! Ngaret traktir gamau tau!’ Tapi nyatanya, di sini baru ada dirinya seorang.
Ana tidak kesal, memilih duduk di lantai, tepat depan ruangan UKS. Dia sebenarnya masih mengantuk. Mungkin tidak apa-apa dia tidur sebentar sampai anggota PMR yang lainnya bangun.
***
“Ana! Molor mulu kerjaannya!”
Senggolan di pinggangnya menggunakan kaki, membangunkannya. Ada Thena, salah satu anggota PMR, yang kini menatapnya kesal ketika dia tengah mengerjapkan matanya.
“Kalian udah datang? Sejak kapan?”
Thena mendesis, “Sejak lo molor di depan UKS kayak gembel! Cepetan lo ke lapangan, bantu-bantu yang lain! Adik kelas yang ospek aja jam segini udah di jemur, lo malah molor lagi.”
“Emang kamu datang jam berapa? Aku datang jam lima, belum ada siapa-siapa di sini.” Ana berdiri masih dengan tas di gendongannya.
Raut muka Thena malah bertambah kesal, dan marah.
Dia mendorong Ana sampai jatuh. “Jam enam,” sungutnya judes. “Tapi di sini intinya, lo bukannya nugas malah molor. Sana cepet ke lapangan bantu-bantu yang lainnya. Gimana sih, lo. Kagak tanggung jawab!” Setelah berteriak, Thena balik arah ke Lapangan.
Ana berdiri untuk menaruh tasnya di UKS, lalu berlari ke lapangan.
Saat di lapangan, Thena benar. Adik-adik kelasnya, sudah dijemur untuk disirami pidato dari kepala sekolah, guru, dan ketua OSIS. Banyak dari mereka—terutama perempuan—sudah jatuh pingsan dan diangkat dengan tandu oleh para petugas PMR.
Buru-buru Ana menghampiri tim lainnya untuk membantu mengangkat perempuan yang baru saja pingsan. Begitu Ana mau membantu,
“Udah nggak usah! Bantu yang lain aja!” Teriakan Rena sontak membuat Ana berjengit kaget. Tangannya yang terulur hendak membantu, malah tertahan.
Bahkan tiga rekannya yang lain, yang kini membantu Rena menggotong perempuan itu ke tandu, juga menatap sinis Ana, yang memang jelas-jelas sudah menyuruh Ana untuk pergi. Baru saja Ana hendak berbalik,
Theo, menepuk bahunya. Memberikan mangkuk yang berisi muntahan ke Ana. Ana tahu kalau Theo, meskipun dia laki-laki, sangat jijik sekali dengan yang namanya muntah.
“Lo bersihin muntahannya, abis itu mangkuknya balikin ke abang tukang bubur di depan sekolah. Bayar buburnya pake duit lo dulu.” Lalu Theo berlari ke UKS, untuk mengambil persediaan obat-obatan lainnya.
Ana menuruti titah Theo. Dia bahkan tidak peduli saat muntahan berasal dari mangkuk itu, kini mengenai tangannya.
Setelah mengembalikan mangkuk bubur, Ana kembali ke lapangan lewat jalur belakang karena aksesnya lebih dekat. Namun saat melewati sebuah pohon jambu yang banyak orang bilang ‘keramat’, ia melihat seorang laki-laki memakai seragam SMP sedang memanjat pohon, entah melakukan apa.
“Hei! Kamu ngapain?!” Teriak Ana spontan.
Sementara itu di atas pohon, seorang laki-laki mengumpat karena sudah terciduk. Dia melihat ke sumber suara, dan makin kesal karena ternyata yang tadi berteriak itu adalah anak PMR, terlihat dari topi yang dipakainya juga sebuah syal warna kuning di bahunya.
Padahal niatnya kabur dengan melompati dinding sekolah, sudah mulus tinggal satu tahap lagi sebelum Ana meneriakinya seperti tadi.
Ketika akan nekat tetap kabur, dia sama sekali tidak menduga jika kakinya terpeleset sehingga dia langsung jatuh dengan bebas begitu saja di atas tumpukan dedaunan kering yang sudah ditumpuk membentuk gundukan.
Demi apapun sakit banget rasanya...
Seakan belum kurang membuatnya kesal, Ana kini berlari mendekatinya. “Kamu gak apa-apa?” tanyanya khawatir.
Laki-laki itu sangat kesal karena perempuan ini, Ana, malah mendekat. Bertanya serta terlihat pura-pura khawatir di depannya. Laki-laki itu benci.
Bahkan laki laki itu menganggap Ana lancang karena sudah memegang tangannya yang berdarah, membuat tangannya tambah perih.
“Aku gak tahu kenapa kamu manjat pohon kayak tadi. Tapi tangan kamu luka. Ayo kita ke UKS.”
Laki-laki itu menepis tangan Ana yang menyentuhnya. “Gak perlu.”
“Eh, kenapa? Nanti infeksi.”
Saking kesalnya, bahkan gigi laki-laki itu sudah bergemeletuk. “Gue udah bilang gak usah, ya gak usah!”
Sontak Ana diam membatu. Laki-laki itu menunduk dengan nafas yang tak teratur, terlihat sekali bahwa dia sedang emosi. Tapi kenapa?
Tiba-tiba pandangan Ana tertuju pada pin nama di seragam laki-laki itu yang bertuliskan, Bintang Arkananta M. Untungnya Ana tidak terpergok oleh Bintang. Bisa-bisa dia cap aneh-aneh lagi.
“Bintang...”
Baru saja Ana mengucap namanya, Bintang menatapnya sengit. “Gak usah sebut-sebut nama gue!”
Kembali Ana diam. Andaikan dia punya keberanian...
“Kalian ngapain di pojok sana?!” Suara menggelegar Pak Dhito, membuat Ana menunduk. Baru kali ini dia mendapat bentakan Pak Dhito.
Sementara yang berbuat ulah, Bintang, buru-buru berusaha bangkit dan berlari sebelum guru galak itu mendekat, namun...
“Eh...eh! Kamu! Anak baru MOS udah buat ulah! Kabur ya kamu, di acara apel pagi? Teman-teman kamu dijemur ini malah kelayapan!”
Bintang yang akan kembali lari dengan sebelah kaki pincang, kini tak bisa mengelak ketika Pak Dhito mencengkram kerah belakang kemejanya.
“Ampun pak... ampun.” Racau Bintang yang kerahnya masih ditahan Pak Dhito. Guru galak ini berdesis kesal melihat kelakuan Bintang.
Pak Dhito memukul bahunya Bintang lumayan keras. “Kenapa kamu pakai acara kabur segala dari apel pagi, hah?!” Lalu tatapan guru galak yang terkenal di seantereo Cakrawiguna ini, menatap Ana dari atas ke bawah.
“Kamu! Anak PMR ngapain sama dia?!”
Ana mendadak gugup. “Itu pak, saya abis dari luar ngembaliin mangkuk bubur. Pas mau balik ke lapangan, ngeliat dia lagi manjat pohon gatau mau apa.”
Kini kepala Bintang yang ditoyor. “ Dasar! Hari pertama MOS udah mau kabur. Gak niat ya kamu, sekolah di sini, hah?!”
Bintang hanya diam. Pasrah saja mau diapakan juga.