Pak Dhito ternyata baik juga. Kasus kaburnya Bintang, tidak jadi masalah besar. Perkiraan mereka tadinya, Pak Dhito akan menyeret Bintang untuk berdiri di tengah lapang, dimarahi habis-habisan oleh kepala sekolah. Untungnya, itu semua tidak kejadiaan karena Pak Dhito hanya menyuruh Ana bawa Bintang ke UKS untuk diobati luka-lukanya. Guru galak itu punya hati yang baik juga.
Saat Ana hendak memapah Bintang karena jalan laki-laki itu yang sedikit pincang, suara dingin Bintang menginterupsi,
“Gak usah dipapah. Lo pendek lagian...”
Alhasil tangan terulur Ana kembali bersedekap di sisi-sisi tubuhnya.
Mereka jalan bersisian ke UKS. Tergelitik di benak Ana, penasaran juga kenapa Bintang berniat untuk bolos. Padahal, ini baru hari pertama MOS. Jikalau ditanyakan juga, seratus persen Ana yakin Bintang kembali judes padanya.
“UKS jauh amat sih, nggak nyampe-nyampe,” celetuk Bintang mengeluh sambil menendang kerikil-kerikil di setiap langkahnya.
Dengusan geli keluar begitu saja. Buru-buru Ana menutup mulutnya, agak takut Bintang kembali ngomel-ngomel. “Kamu belum kebiasa di sini kali. Ini rute terdekat dari gerbang ke UKS tau.”
“Oh, ya?” tanya Bintang penasaran. Ana merasa aneh melihat ekspresi dia yang terlihat berbinar-binar. Saat keanehan itu belum reda dari diri Ana, ekspresi Bintang sudah kembali judes lagi. “Gue gak nanya padahal...”
Sudah diduga.
Tak lama, mereka sampai di UKS. Di ruangan ini tak ada siapapun kecuali para siswa yang tidur setelah sadar dari pingsan.
Bintang duduk di kursi kosong yang tersedia. Sementara Ana berkutat ke lemari, mengambil peralatan medis.
“Cuci dulu lukanya di kamar mandi.” Ana menunjuk sebuah pintu di UKS dengan kepalanya karena kedua tangannya membawa peralatan. Bintang menurut.
Ana berdecak melihat di wajah Bintang ada memar kebiruan, kemeja putih seragamnya kotor, celana biru dongker yang sobek di bagian lutut, ditambah pula di sekujur tangan kanannya ada luka melintang yang berdarah.
Perempuan di depannya berdecak, sedikit membuat emosi Bintang naik. “Lo gak usah berdecak kayak gitu.”
Tidak menggubris, Ana sibuk menetesi betadine ke kapas. Dia menekuk lutut di depan Bintang yang sudah kembali duduk. Kali ini Bintang memberikan tangannya untuk diobati.
“Tahan ya, ini gak akan perih, kok.”
“Gue bukan anak kecil...” Desis Bintang.
Ana mendongak. Dia mendapati Bintang yang sedang memalingkan wajah darinya. Terihat kerutan di dahinya, tanda jika dia tak suka.
“Kenapa tadi pengin kabur?” tanya Ana pelan. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya juga akhirnya.
Bintang terdiam beberapa saat. Ana sebenarnya yakin Bintang tidak akan sudi menjawab pertanyaannya yang mungkin privasi.
“Bukan urusan lo.”
Tiba-tiba pintu UKS terbuka. Ada Rena dan Thena membawa tas besar berisi peralatan PMR. Begitu masuk keduanya mencicit, membuat Ana maupun Bintang melihat mereka heran.
Rena menyenggol Thena. “Berondong ganteng, Then...” Thena juga sudah tersenyum-senyum sendiri. “Iya, ganteng banget.”
Atensi Ana kini kembali mengobati Bintang. Saat hendak mengobati luka memar di pipinya, Thena menepuk bahunya.
“Lo, taro tas PMR ini di atas lemari. Terus, ambil termos sama gelas-gelas buat dibawa ke lapangan. Apel pagi bakal berakhir, mereka pasti ada yang pusing atau apa. Minyak kayu putih sama aroma terapi semuanya ada di Theo.”
“Tapi, aku lagi ngobatin...”
“Kita aja yang ngobatin dia,” sela Rena cepat. “Cepetan sana, jangan lupa juga lo beri roti di Kantin, ya. Pake duit lo dulu.”
Ana menatap Bintang ragu. Lalu dia menuruti titah dua temannya.
Entah kenapa Bintang merasa terusik. Dia agak kesal saat dua cewek anak PMR ini, malah mengusir Ana dan menyuruhnya ini-itu. Seakan-akan Ana adalah babu mereka. Dan cewek itu malah iya-iya aja nurut.
Pintu UKS tertutup karena Ana sudah keluar, dua cewek ini kini berteriak kecil entah karena apa. Yang pasti terdengar genit dan centil.
“Dek, kenapa ganteng banget, sih?” Tanya perempuan yang rambutnya terurai panjang sepunggung berwarna semi cokelat. Thena.
Bintang masih menatap pintu UKS. Tanpa sadar tangannya mengepal.
“Dek, kelompok Mos-nya apa? Biar kakak bisa samper dan pantauin juga takut kamu ada apa-apa.” Tanya perempuan berbibir merah gincu. Rena. Mereka berdua sekarang malah senyum-senyum genit.
Karena kesal dan jijik, Bintang berdiri. Tubuhnya yang menjulang tinggi, membuat dua cewek ini terintimindasi. Ditambah lagi raut wajah Bintang mirip dengan orang yang pengin nonjok orang.
“Kerja lo gak becus dibanding dia.” Setelahnya Bintang keluar dari UKS, tidak peduli jika debaman keras pintu ulahnya membuat murid lainnya bangun.