8. KABUT - LALI JIWO

1341 Kata
Perjalanan mereka menuju ke puncak Welirang berjalan lancar, cuaca saat berada di puncak juga terlihat cerah. Hanya ada lima orang saja yang berada di puncak. Yoga, Ucok, Dian, Andik, dan Fendy. Mereka mengambil foto di atas puncak, sama seperti saat mereka di Arjuno. Setelah beberapa menit di sana, akhirnya mereka memutuskan segera kembali ke Pondokan. Posisi terdepan ada Dian, Andik, dan Fendy. Sedangkan Yoga bersama Ucok di belakang dengan jarak sekitar sepuluh meter. Tiba-tiba saja kabut datang, Ucok berada  di depan Yoga dengan jarak lima meter. Kabut melewati mereka, dan saat kabut menghilang, Yoga tersadar jika Ucok meninggalkannya. “Kampreet, dia ninggalin aku,” gumam Yoga. Yoga segera berlari menyusul yang lain, dan saat bertemu dengan Dian. Ternyata Ucok tidak ada di sana. Ucok masih belum sampai di tempat Dian berada. Tentu hal itu membuat Yoga khawatir, hingga dia harus naik lagi bersama Dian untuk memastikan posisi Ucok berada. “Woi! Ucok! Nggak lucu! Buruan balik!” teriak Yoga. “Ucok! Lu dimana?” teriak Dian. “Di, kamu anter anak baru sampai di Pondokan. Aku mau cari Ucok dulu.” “Oke.” Akhirnya mereka berpisah, Yoga kembali berjalan ke tempat mereka berhenti karena adanya kabut yang datang. “Kok nggak ada jejak? Ini sepatu Ucok cuman sampai di sini aja.” Yoga melakukan rekam jejak, dan dia mulai mencari benda atau petunjuk meski kecil kemungkinan untuk bisa menemukannya. Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya Yoga kembali ke Pondokan. Di sana, teman-teman lainnya sudah siap untuk turun. Mereka sudah mengemas tenda dan barang lainnya. “Gimana, Yo?” tanya Dian. “Nihil, Di. Aku harus lapor ke bawah.” “Kamu duluan aja, kita jalan pelan-pelan,” ujar Dian. “Di, kamu cari barengan aja, tunggu ada pendaki yang turun,” ujar Yoga. “Iya. Aku tahu kok, siapa tahu nanti Ucok ketemu pas kita pelan-pelan,” ujar Dian. “Oke. Pantau terus ya, Di. Aku lapor ke Mas Midas sama Chandra.” “Oke. Hati-hati.” Yoga berlari menuruni jalur menuju ke Pos Perijinan. Sedangkan Dian dan pendaki lainnya berjalan perlahan untuk sampai di bawah. Mereka juga mendapatkan teman untuk perjalanan sampai di bawah. Dalam waktu dua jam, akhirnya Yoga sampai di Pos Perijinan. Dengan napas tersengal, Yoga menceritakan mengenai hilangnya Ucok. Setelah info itu turun, akhirnya pendakian ditutup sementara. Yoga dibantu dengan tim SAR yang sudah terlatih mencari keberadaan Ucok. “Ucok pakai baju apa, Yog?” tanya Chandra. “Fotonya ada di hape anak-anak. Nanti aku suruh kirim ke kamu. Dia nggak ada bawa apa-apa, karena semua tas ada di Pondokan,” jelas Yoga. “Dia bawa botol minum atau lainnya, nggak?” tanya Chandra lagi. “Bawa, dia juga bawa hape, cuman aku gak jamin nyala karena terakhir dia ngeluh lowbat.” “Oke, kita akan mulai dengan area kejadian tempat Ucok hilang.” “Oke.” Semua berkumpul untuk rapat pencarian hilangnya Ucok. Yoga sudah menghubungi keluarga mengenai hilangnya Ucok. Beberapa menit kemudian, sudah banyak orang yang datang untuk mencari keberadaan Ucok. “Kalau cuaca bagus, kita lanjut cari di area ini. kemungkinan dia bakal ke arah ini,” jelas salah satu anggota perhutani yang sudah sangat paham dengan area gunung Welirang. “Yog, kamu sudah lihat ke bawah waktu jejaknya hilang?” tanya pria dengan baju seragam hijau. “Sudah, nihil, Pak,” jawab Yoga. “Oke, tim yang jemput Dian sama temannya yang sakit mana?” tanya pria itu. “Sudah berangkat, katanya mereka sudah sampai di Pet Bocor,” sahut seseorang. “Oke, jadi gini … pencarian akan kita lakukan selama tujuh hari, semoga sebelum waktu yang ditentukan, Ucok sudah ditemukan,” ujar pria itu. “Tim satu ada di Welirang, tim dua jangan lupa untuk di sekitar alap-alap. Terus tim tiga Kokopan, tim empat di Pondokan.” “Siap.” “Pak, keluarga dari saudara Ucok sudah datang,” ujar Chandra. “Baik, saya akan menemuinya. Persilakan untuk menunggu di rumah.” “Baik.” “Yo, yang dateng Adik sama Papa-nya,” terang Chandra. “Oke.” Yoga nampak cemas dan juga panik, sudah beberapa kali Ucok memberikan tanda, hanya saja dia tidak tahu jika akan terjadi di sana. Wajah Yoga tidak bisa tenang barang satu detikpun. Semua informasi dari mereka yang sudah berada di atas selalu didengarkan dengan baik. Harapan besar untuk bisa menemukan Ucok masih sangat banyak. “Mas, kita nemu ada tali kuning,” suara dari HT terdengar jelas. “Yog, kamu dengar? Ucok bawa tali?” tanya pria dengan pakaian hijau. “Dian yang bawa, bentar … mungkin juga Ucok bawa,” ujar Yoga ragu. “Oke, coba ikutin. Ini dimana?” “Bawah puncak, Mas. Tapi nggak ada tanda-tanda lain selain satu pita ini, dan kalau kita ke kanan jurang, ke kiri juga Nihil.” “Oke lanjut, coba panggil siapa tahu nyahut.” “Siap.” Yoga berdiri dan ingin kembali ke atas. “Mau kemana?” tanya Midas. “Naik.” “Tunggu, ada tim yang naik bentar lagi. Mereka masih bersiap.” “Iya.” Yoga berjalan menuju ke Pos yang ada di depan. Dia bertemu dengan Dian dan juga timnya saat pendakian awal. “Yog, gimana?” tanya Dian. “Masih belum, Di. Oya. Kamu pandu mereka buat pulang ya. Aku di sini dulu sampai selesai.” “Iya, aku balik kalau mereka sudah sama keluarga.” “Makasih, Di.” “Yog, jangan terlalu dipikir. Ucok pasti ketemu.” “Iya, aku tahu.” Setelah percakapan itu, Yoga berpesan pada mereka yang akan pulang untuk berhati-hati di jalan. Yoga juga bertemu dengan orang tua dan adik Ucok di rumah. “Mas Yoga,” panggil Cici, adik Ucok. “Eh, Cici.” “Kok bisa sih, Mas? Katanya waktu turun sama Mas Yoga?” “Iya, ada kabut datang.” “Yoga.” “Om.” “Kamu gapapa?” “Baik, Om. Maafin aku ya, Om.” “Sudah, kamu nggak salah. Nggak ada yang mau hilang di gunung. Pasti Ucok juga nggak nyangka akan seperti ini.” “Ucok udah aneh sejak rencana nanjak, kalau saja aku peka, mungkin kita juga nggak akan naik.” “Sudah, penyesalan memang selalu datang terlambat. Semoga saja Ucok bisa sadar dan kembali.” “Iya, Om. Yoga pamit nanjak buat cari Ucok dulu ya, Om.” “Iya, terima kasih ya.” “Iya, Om. Yok, Ci … duluan.” “Iya, Mas.” Yoga berjalan menghampiri tim yang akan mulai penjarian. Karena hari sudah petang, mereka akan mendirikan tenda di atas. Perjalanan dimulai, dengan tas kecil yang di bawa. Yoga terlihat berharap tinggi untuk keselamatan Ucok di atas sana. Doa terus dipanjatkan oleh mereka yang mengetahui posisi Ucok saat ini. Hilang di gunung bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan pencarian. Apalagi ada area yang tidak bisa di jangkau oleh manusia. Sampai di Pondokan. Hari sudah gelap, dan Yoga masih terjaga di depan api unggun. Bersama seorang anggota SAR, dia duduk seperti melamun. “Mas, jangan melamun.” “Iya, maaf.” “Kalau capek atau ngantuk, tidur aja. Biar saya yang jaga di sini.” “Gapapa. Aku cuma kepikiran temen.” “Sahabat ya, Mas?” “Iya, kemana-mana selalu berdua. Kita udah lintas Jawa Bali berdua.” “Hebat ya.” “Nggak juga, Mas.” “Baru kali ini ,Mas?” “Dulu pernah, tapi ketemu karena kita berdua.” “Oh.” SRAK … Terdengar suara seperti ada sesuatu yang bergerak di rerumputan. Yoga terlihat terkejut dan menengok ke asal suara. Sayangnya, tidak ada apapun di sana. Hingga dia melihat sebuah bayangan hitam yang terlihat seperti seorang pendaki. Yoga yakin jika itu Ucok, dia pun memanggil nama Ucok dan berusaha untuk mendekat. Sayang … setelah mendekat, ternyata hanya pohon yang berdiri tinggi. Yoga terlihat sangat menyesali pendakian kali ini. tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain menunggu hingga matahari muncul. “Mas, ada apa?” “Nggak ada apa-apa.” “Udah malam, pasti capek. Tidur aja,” ujar pria yang bersama Yoga. “Iya.” Yoga masuk ke dalam tenda dan dia mulai memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN